
Seno lalu membawa Putri ke dalam kamarnya. "Huuhh,kenapa juga harus ketemu dia lagi." Gumam Seno. Putri hanya menatap pamannya dengan tatapan bingung.
"Eh tunggu. Tadi dia bilang kalau aku sudah merugikan orang. Maksudnya apa ya." Seno masih berpikir. Dia mondar mandir di kamarnya sampai manik matanya menubruk barang elektronik di atas meja. Laptop.
Dia berjalan lalu menyentuh laptopnya. "Hmm,apa yang di maksud dia laptop ini ya?" Gumamnya.
"Hhh,sepertinya iya. Ternyata dia terpaksa membelikan aku laptop. Ah iya siapa yang ikhlas harus mengeluarkan uang sebanyak delapan juta hanya untuk membelikan orang lain laptop."
Seno mengeluarkan dompetnya lalu mengeluarkan ATMnya. "Hmm,di sini kan masih ada sembilan juta. Aku kasih ke dia delapan jutanya. Daripada dia berpikir seperti itu terus tentang aku. Dimana harga diriku sebagai seorang laki-laki." Seno terus menggerutu sendiri.
"Sayang,kamu ikut papa dulu ya. Paman ada urusan." Seno menggendong keponakannya lalu mengajaknya keluar dari kamar untuk memberikan Putri pada papanya.
"Hmm,mas Rey." Panggil Seno.
"Ya,ada apa?" Sahut Rey.
"Hmm,aku mau keluar sebentar,mas. Putri tidak aku ajak." Ucap Seno sambil menggaruk kepalanya.
"Oohh,sini Putri biar sama mas." Ucap Rey lalu mengambil Putri dari gendongan Seno.
"Seno pergi dulu ya mas." Pamit Seno.
"Pakai mobil mas atau mbak kamu saja." Tawar Rey.
"Hmm,pakai motor saja mas biar cepet." Tolak Seno yang bergegas meninggalkan Rey yang menatap heran ke arahnya.
"Mau kemana anak itu kok buru-buru?" Gumam Rey. Dia lalu mengajak Putri bergabung bersama adiknya.
Satu persatu tamu sudah pulang,termasuk anak yatim dari panti asuhan. Tinggal keluarga dekat dan kenalan saja yang belum pulang termasuk Cinta dan ayah bundanya.
"Putri main sama kakak Cinta ya." Ucap Rey lalu menurunkan Putri di dekat kakaknya.
"Putri sudah bisa berjalan ya pa?"
"Iya sayang,biar jadi teman main kamu. Kamu kan lama tidak main ke sini." Jawab Rey.
"Iya,Cinta ikut ayah keluar kota pa. Lama. Cinta tidak punya teman di sana." Keluhnya.
"Sudah lengkap anak buah ya pak,Rey." Seloroh ayah Cinta,Fadil.
"Hehee,iya dalam satu tahun langsung dapet 2." Jawab Rey sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa biar capeknya sekalian." Ucap Fadil.
"Pak Fadil nih kapan nambah lagi?"
"Kalau saya sih tergantung yang mau hamil siapnya kapan. Hahaa." Fadil tergelak sambil melirik istrinya.
"Heheee. Mumpung masih muda,gas saja!" Seloroh Rey.
"Hahaaa,pak Rey bisa saja."
Mereka lalu mengobrol kesana kemari berdua seperti dua sahabat yang lama tidak berjumpa.
Sementara Siti sedang sibuk di ajak ngobrol sama teman-teman mama sambil menggendong bayinya.
__ADS_1
"Jadi namanya siapa tadi jenk,lupa aku?" Tanya salah satu teman mama.
"Rafassya. Rafassya Putra Wibowo." Jawab mama.
"Oh Wibowo,nama opanya ya." Ucap salah satu teman mama yang lain.
"Iya." Jawab mama sambil tersenyum.
Tiba-tiba Putra rewel,Siti sibuk menenangkannya.
"Putra suara tangisnya kecil ya,jenk?"
"Iya,kenapa ya?"
"Apa karena premature?"
Teman-teman mama sibuk bertanya.
"Ah tidak juga kok. Waktu lahir malah lebih kecil dari ini suaranya."Jawab mama.
"Siti,kamu ajak Putra ke kamar saja,mungkin lapar." Titah mama.
Siti mengangguk. "Iya ma. Saya ke kamar dulu,ibu-ibu" Pamit Siti yang segera berlalu dari kerumunan ibu-ibu yang masih saja menatap heran Putra.
Siti hendak naik ke atas tiba-tiba ada yang memanggilnya. "Mbak Siti."
Siti menoleh. "Mbak Cyndia?" Sahut Siti.
"Putra kenapa rewel?"
"Oohh,dia lapar. Ya sudah bawa ke kamar saja mbak,biar nyaman." Ucap Cyndia.
"Iya mbak. Yuk,ikut ke kamar!" Ajak Siti.
Cyndia membulatkan matanya beberapa saat,lalu dia tersenyum. "Terimakasih,mbak. Kita tunggu di sini saja soalnya Faqih tidak bisa diem." Tolak Cyndia halus.
"Hmm,baiklah kalau begitu. Tapi jangan pulang dulu ya mbak." Pinta Siti.
"Iya mbak,kita nanti pulang pamitan sama mbak dulu kok." Ucap Cyndia.
"Baiklah,saya ke kamar dulu ya mbak." Pamit Siti yang di beri anggukan oleh Cyndia. Siti segera naik ke atas.
Sesampainya di kamar,Siti mencoba memberikan ASInya langsung.
"Alhamdulillah." Siti mengucap syukur saat bayinya antusias mengecap sesuatu yang ada di dalam mulutnya. Sampai matanya berkaca-kaca. Hal yang beberapa hari ini sangat dia nantikan.
Siti lalu mengusap lembut pucuk kepala bayinya dengan penuh kasih sayang. Dia menunggu sampai bayinya melepaskan diri. Setelah hampir setengah jam,isapan bayinya mulai melemah dan matanya mulai terpejam. Dalam hitungan detik saja,bayinya sudah melepaskan diri. Terdengar hembusan nafas halus dari mulut mungilnya.
Setelah bayinya benar-benar nyenyak,Siti keluar dari kamar lalu turun ke bawah. Masih ada beberapa orang teman mama yang masih asik mengobrol. Di ruang keluarga,Putri sedang bermain dengan kakaknya,Cinta. Di sampingnya ada bundanya yang menemani putranya bermain. Siti lalu menghampiri mereka.
"Adik Putra sudah selesai minum susu ya?" Tanya Cyndia sambil mengusap lembut kepala Putra.
"Alhamdulillah sudah mbak. Dia bisa minum ASIku langsung." Terang Siti dengan wajah semringah.
"Alhamdulillah ya mbak!" Ucap syukur Cyndia.
__ADS_1
Mereka lalu terlibat obrolan berdua sambil memperhatikan anak-anak mereka bermain.
Di bagian rumah yang lain terlihat Seno sedang mencari seseorang sambil tangannya memegang amplop coklat.
"Hmm,itu dia."Gumamnya saat melihat seseorang yang di carinya. Dia lalu berjalan mendekat.
"Bisa bicara sebentar." Ucapnya saat sudah berada di dekat orang yang di carinya.
"Hmm,ada apa?" Tanyanya ketus.
"Hey,Seno." Sapa dokter Layli yang berada di dekatnya.
Seno menggaruk kepalanya yang tidak gatal,bingung harus menjelaskan. "Hmm,dokter. Saya boleh bicara sama Dinda sebentar?" Tanya Seno.
"Hmm,tidak mau!" Tolak Dinda tegas.
"Sayang,tidak boleh begitu. Sana ngobrol sama Seno daripada kamu ikut obrolan ibu-ibu!" Titah dokter Layli pada putrinya.
Dengan wajah cemberut,Dinda terpaksa menurut.
"Terimakasih,dokter." Ucap Seno sambil menganggukkan kepalanya pada dokter Layli. Dokter Layli pun mengangguk sambil tersenyum
"Ayo ke sana!" Ajaknya pada Dinda yang terpaksa mengikuti langkah kaki Seno.
Sampai di taman belakang,Seno menghentikan langkahnya.
"Ngapain ajak saya kesini?" Tanya Dinda ketus. Dia mulai bertanya-tanya ada apa Seno mengajaknya ke taman yang tidak ada seorangpun di sana.
Seno langsung menyerahkan amplop coklat pada Dinda.
Dinda menatapnya bingung. "Hmm,apa ini?"
"Punya kamu!"Jawab Seno.
"Punya saya? Apa? Saya tidak ngerasa punya itu." Tolak Dinda.
"Uang kamu delapan juta,yang kamu pakai untuk beli laptop saya ada di sini!" Tunjuk Seno.
Deg. Dinda kaget lalu menatap Seno dan amplopnya bergantian.
"Ayo ambil! Dan jangan pernah lagi mengatakan kalau saya sudah membuat orang rugi!" Ucap Seno tegas.
"Hmm,a apa maksud kamu?" Dinda masih belum mengerti.
"Sudah tidak usah banyak bertanya! Ambil saja dan ingat untuk tidak lagi mengatakan saya sudah merugikan kamu!" Seno meraih tangan Dinda lalu menyelipkan amplop coklat ke tangan gadis itu. Dia hendak meninggalkan Dinda tapi langkahnya terhenti saat gadis itu memanggilnya.
"Hmm,Seno!"
Seno menghentikan langkah kakinya tapi dia tidak menoleh ke arah gadis itu. Dinda lalu berjalan mendekatinya. Dia meraih tangan Seno hendak mengembalikan amplop coklat itu.
"Kalian ngapain di sana?" Tanya seseorang yang tiba-tiba mengagetkan mereka berdua.
NEXT
0207/1626
__ADS_1