
Karena jalanan yang sangat macet,Dinda dan Seno baru tiba di rumah pukul tujuh malam,bahkan maghrib pun mereka tunaikan di masjid yang mereka lewati.
"Hhuuhh,capek nya. Baru sekali ini pulang jam segini." Keluh Dinda.
"Iya,memang jam-jamnya macet." Ucap Seno.
"Iya mas. Jangan lagi deh."
"Kamu mandi duluan sana. Pakai air hangat ya. Apa mau di temani?" Tanya Seno.
"Hmm,aku mandi duluan." Dinda buru-buru masuk ke dalam kamar mandi.
Seno hanya menggelengkan kepala. Dia lalu duduk di sofa sambil memainkan handphonenya.
Lima belas menit Dinda keluar dari kamar mandi lalu duduk di depan kaca,menyisir rambutnya yang basah. Seno lalu gantian masuk ke dalam kamar mandi.
Sepuluh menit Seno sudah selesai mandi.
"Turun yuk mas,kita makan malem." Ajak Dinda.
"Ini sudah hampir jam delapan,apa mami dan papi masih nungguin kita?"
"Kita makan berdua saja mas. Mami tau kita baru pulang kok jadi mereka pasti sudah makan duluan." Jawab Dinda.
"Ya sudah ayo,mas juga laper."
Mereka lalu turun ke bawah untuk makan malam.
"Mas,mau lauk apa?" Tanya Dinda yang berusaha melayani suaminya di meja makan.
"Samain saja sama kamu." Jawab Seno.
Mereka lalu makan hanya berdua. Sepuluh menit,mereka sudah selesai makan. Dinda membereskan alat makan mereka lalu membawanya ke wastafel.
Mereka kembali naik ke lantai atas,kamar Dinda.
"Kok tadi sepi ya?"
"Papi pasti sedang di ruang kerja. Kalau mami,biasanya sedang istirahat kalau tidak ada yang emergenci di klinik." Terang Dinda.
"Oh begitu. Kalau asisten rumah tangga kamu? Kalau malam,mas tidak lihat hanya saat pagi saja."
"Kalau malam mereka istirahat jam tujuh,mas. Habis subuh baru kerja lagi." Jawab Dinda.
"Kalau di rumah mas Rey,setelah makan malam,atau sarapan pasti ke ruang keluarga. Berkumpul sambil ngobrol atau nonton tv."
"Keluarga mas Rey kan ramai,mas. Makanya mami ingin aku cepat nikah agar cepat memberikannya cucu untuk meramaikan rumah yang sepi ini." Terang Dinda sambil tersenyum malu.
"Memberikan mami cucu ya?"
"Hmm,iya mas."
"Yuk." Ajak Seno.
"Hmm,tapi mas ini masih jam delapan loh."
"Yuk sholat isya. Memangnya yuk apa?" Goda Seno.
"Iiihh mas ini,nyebelin."
Mereka lalu sholat bersama. Yang biasanya hanya sendirian,berdua terasa berbeda. Seno yang mencium dahi Dinda dan Dinda yang mencium punggung tangan Seno setelah selesai sholat.
Setelah selesai membereskan alat sholat,Dinda mengambil handphonenya lalu berbaring di tempat tidur. Dia tersenyum-senyum sendiri. Seno langsung menyusulnya,duduk di sisi tempat tidur.
"Hmm,mas?" Dinda langsung duduk.
__ADS_1
"Kamu mau hubungi siapa kok main handphone malam-malam? Sambil senyum-senyum gitu,hmm?"
"Aku hanya lihat-lihat saja kok mas."
"Lihat apa?"
"Hmm,ini." Dinda menunjukkan handphonenya yang terlihat foto pernikahan mereka.
Seno tersenyum. "Kamu senyum-senyum sendiri lihatin foto kita?"
Dinda tersenyum malu.
Seno mengambil handphone Dinda lalu menaruhnya di atas nakas. Seno kembali menatap Dinda lekat-lekat. Dinda merasakan jantungnya mulai berdebar-debar.
Seno mendekatkan wajahnya ke wajah Dinda. Dinda menunduk takut suaminya hanya menggodanya saja. Seno lalu memegang dagu Dinda hingga Dinda mendongakkan kepalanya. Pandangan mata mereka bertemu. Seno menatap mata,hidung dan bibir Dinda. Lalu,cup. Seno mencium dahi Dinda,kedua matanya,hidung dan terakhir bibir.
"Hmm,mas." Lirih Dinda. Dia menjauhkan wajahnya yang bersemu merah.
Seno meletakkan kedua tangan Dinda melingkar di lehernya lalu dia menarik tengkuk Dinda. Wajah mereka saling mendekat. Lalu Seno mulai mencium bibir ranum istrinya itu dengan begitu menggebu. Dinda pun membalasnya hingga tanpa sadar mereka sudah berbaring di tempat tidur. Malam baru saja di mulai saat mereka terhanyut indahnya kehidupan pasangan suami istri.
Setengah jam kemudian. Di balik selimut. "Terimakasih istriku. . ." Bisik Seno mesra di telinga Dinda. Dinda hanya tersenyum lalu menyembunyikan wajahnya di dada Seno. Mas Seno makin mesra dan hangat. Apa dia sudah mulai mencintaiku? Kapan kamu mau mengatakan perasaanmu padaku,mas. Batin Dinda.
Hari menjelang pagi saat Dinda terbangun. Seno masih tertidur lelap sambil memeluknya. Gimana aku mau bangun ya. Batin Dinda.
Dinda bergerak perlahan agar suaminya tidak terbangun. Tapi sayangnya gerakan sekecil apapun tidak bisa membuat suaminya tetap terlelap. "Hmm." Gumam Seno lalu merubah posisi tidurnya makin erat memeluk Dinda.
Sudah jam berapa sekarang ya,kalau gini terus bisa kesiangan. Aahh,mas Seno sekalian di bangunkan saja. Batin Dinda.
Dinda melepaskan pelukan Seno,dia berusaha agar bisa duduk. "Kamu kenapa gerak-gerak dari tadi,hmm?" Gumam Seno masih dengan mata terpejam.
"Sudah pagi,mas." Ucap Dinda.
Seno membuka matanya. "Sudah pagi?" Tanya Seno kaget."Jam berapa?"
"Kamu jangan gerak-gerak terus? Nanti tanggung jawab loh."
"iihh mas. Dinda mau cari jam tangan Dinda."
"Lihat handphone mas saja. Tuh di atas nakas samping mas." Tunjuk Seno.
Dinda lalu mengambil handphone Seno. "Jam empat lebih,mas. Pantas masih ngantuk banget aku." Ucap Dinda lalu menaruh kembali handphonenya dan kembali berbaring. Tapi suaminya itu tidak membiarkannya tidur lagi
"Mas,iihh." Dinda menggeser tubuhnya menjauh.
"Tanggung jawab!"
"Tanggung jawab apa?" Dinda buru-buru membalik badannya membelakangi Seno.
"Dosa loh,membelakangi suami. Ayo tanggung jawab dulu,orang sedang enak tidur malah di ganggu!" Ucap Seno sambil terus menjahili Dinda.
"Iihh ngantuk,mas!" Tolak Dinda.
"Sebentar lagi juga subuh,kok tidur lagi. Salahnya sudah bangun."
"Tiba-tiba kebangun tadi." Alasan Dinda.
"Hmm,mas ini."
"Hmm. . ." Dinda tidak bisa berbicara lagi karena suaminya sudah menutup mulutnya. Dinda pun membalasnya. Sedetik dua detik. . .
"Hmm,mas. . ."
Setengah jam. "Aku mau mandi sekarang." Ucap Dinda lalu hendak turun dari tempat tidur.
"Ayo." Sahut Seno.
__ADS_1
"Mas,mandi sendiri." Tolak Dinda.
"Sudah berapa hari mandi sendiri,hmm?"
"Nanti telat kerja."
"Alasan kerja."
"Iya deh nanti kalau hari minggu Dinda libur."
"Beneran nih?"
"Iya mas. Iiihh sana dikit,aku mau bangun."
"Ya sudah tidak boleh bawa selimut ya ,nanti kotor di bawa ke kamar mandi."
"Iihh. Pakaianku semalam mana?"
Seno mengedikkan bahunya. "Mana mas tau."
"Loh,kan mas yang semalam. . . Hmm,mas taruh di mana? Mas asal lempar saja sih." Kesal Dinda.
"Hehee,mas lupa."
"Iiihh dasar."
"Salahnya tidak mau buka sendiri."
"Tau ah." Dinda makin kesal. Lalu dia melihat pakaian suaminya di dekat kaki. Cepat-cepat dia ambil lalu memakainya.
"Loh,kok pakaian mas di pake?" Protes Seno.
"Biarin. Hahaa." Dinda langsung lari ke kemar mandi.
"Awas kamu ya!" Seno ingin mengejarnya tapi pintu kamar mandi terlanjur terkunci dari dalam.
"Hmm,dasar anak mami." Seno balik lagi ke tempat tidur.
.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca π
.
.
.
.
.
0808/0707
__ADS_1