
Aaron masih setia menunggui abangnya yang sedang tertidur. Setidaknya abangnya sudah sadar. Aaron sudah sangat bersyukur. Setelah menunggu lebih satu jam,Aaron tertidur dengan posisi duduk di samping abangnya.
Menjelang sore,Aaron baru terbangun. Itu pun karena di bangunkan oleh suster yang hendak memeriksa Romi yang sudah terbangun dari tadi.
"Eh,iya sus." Sahut Aaron seraya mengucek-ucek matanya. Kemudian dia menoleh ke arah abangnya.
"Bang? Abang sudah bangun?" Aaron menatap abangnya yang terlihat muram.
"Hmm,saya permisi dulu ya. Sebentar lagi ฤokter visit." Pamit suster.
"Terimakasih,sus." Ucap Aaron.
"Bang,abang mau makan apa? Nanti aku belikan."
Romi hanya diam saja. "Bang?"
"Bisa tolong tinggalin abang? Abang ingin sendiri."
Wajah Aaron berubah sedih. "Abang tidak kangen sama aku? Aku selalu nungguin abang sadar dari koma." Ucapnya dengan terus menatap lekat-lekat ke arah Romi tapi justru Romi malah memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Hmm,bang. . " Tiba-tiba Aaron memeluk Romi lalu menangis sesenggukan. "Aku sayang sama abang. Maafin aku,bang!"
Perlahan,Romi membalas pelukan adiknya. "Abang juga sayang sama kamu. Maafin abang yang tidak bisa jadi abang yang baik untuk kamu!"
"Bang Romi adalah abang yang terbaik untuk aku. Sekarang,hanya abang yang aku miliki." Aaron lalu melepaskan pelukannya. "Aku janji akan membantu abang dan akan selalu ada untuk abang!"
Romi menatap wajah adik satu-satunya itu,lalu mengusap air matanya. "Kamu itu anak laki,tidak boleh cengeng!"
Aaron tersenyum. "Aku janji tidak akan cengeng lagi asal abang kembali sehat seperti dulu!"
"Hmm,oma mana? Bilang sama oma,abang sudah sadar dari koma."
"Hmm,nanti aku bilang sama oma ya!"
"Oma pasti sedih banget." Ucapnya.
"Tentu saja! Oh iya,abang pasti lapar kan? Mau makan apa ,aku beliin!"
"Hmm,abang ingin makan nasi goreng bikinan oma!"
Aaron diam,tidak tau harus mengatakan apa. Hhh. Aaron menarik nafas berat. "Abang kan baru sadar dari koma,pasti tidak boleh makan sembarangan!"
"Nasi goreng bikinan oma bukan makanan sembarangan!" Protes Romi.
"Hehee. Iya-iya tapi orang sakit kan harus makan bubur!"
"Hhhh,bubur ya. Hmm,ya sudah minta oma masakin bubur buat abang!"
Deg. Aku harus kasih alasan apa lagi? Batin Aaron. "Bang,oma sudah tua masa di suruh-suruh kan kasihan! Minta masakin sama bibi saja,ya?"
"Huuhhh,kamu itu! Ya sudah minta masakin sama bibi saja!" Romi terlihat kesal.
"Hehee,jangan marah donk bang. Nanti aku nangis lagi nih!" Guraunya.
"Huuhhh! Memang dari kecil,kamu itu cengeng kok!"
"Biarin! Hhmm,aku keluar dulu ya bang,mau telpon ke rumah!"
Romi mengangguk. "Iya."
Aaron lalu keluar dari ruang ICU. Ternyata di luar ada om Adit dan juga istrinya.
"Aaron,suster bilang Romi sudah sadar,ya?"
"I-iya om."
__ADS_1
"Om mau masuk,mau lihat dia." Ucap om Adit lalu menggandeng istrinya masuk ke ruang ICU.
"Om,tunggu!" Seru Aaron.
"Ada apa?"
"Hmm,jangan bilang sama bang Romi ya kalau oma sudah meninggal! Bang Romi belum boleh berpikir berat."
"Kenapa harus di tutupi segala? Romi memang harus tau!"
"Iya memang tapi belum sekarang,om. Dia baru saja sadar dari koma! Aku minta tolong ya om!" Tegas Aaron.
"Huuhh,kamu itu aneh-aneh saja!"
"Aku mohon,om. Kalau om sayang sama bang Romi!"
Adit dan istrinya memutar bola matanya jengah. Mereka mulai tidak suka dengan Aaron.
"Iya!" Ucapnya kemudian dengan terpaksa.
Aaron memperhatikan mereka sampai menghilang di balik pintu. Semoga saja om dan istrinya tidak bicara macam-macam. Batin Aaron.
Aaron lalu menoleh ke arah pakdenya. "Pakde,aku mohon jangan bicara yang membuat bang Romi sedih untuk saat ini."
"Iya,pakde mengerti nak. Kamu yang sabar ya." Ucapnya seraya menepuk bahu Aaron.
Aaron mengangguk sambil tersenyum. Alhamdulillah,pakde bisa di ajak kerjasama. Batin Aaron.
Dua jam kemudian saat Aaron sedang menunggu sambil rebahan di kursi panjang yang ada di ruang tunggu,bibi yang bekerja di rumah datang membawakan bubur pesanan Romi.
"Den Aaron,ini bubur yang den pesan." Ucap bibi dengan tangan terulur memberikan rantang berisi bubur.
"Terimakasih ya bi." Ucap Aaron.
"Sama-sama,den. Bibi ikut senang,den Romi sudah sadar."
"Iya,den. Terimakasih. Bibi pulang dulu." Pamitnya.
Aaron segera masuk ke ruang ICU. Om Adit dan istrinya sudah pulang dari tadi.
"Pakde,gantian aku yang jaga. Mau suapin bang Romi bubur." Ucap Aaron.
"Oohh,iya. Pakde keluar ya." Pamitnya.
Aaron lalu duduk di samping Romi. "Bang,ini buburnya,aku suapin ya?"
Romi mengangguk. "Terimakasih ya. Kamu sangat perhatian sekali sama abang. Ternyata sakit itu enak ya."
"Huuss jangan bilang gitu bang. Aku tetap mau abang sembuh! Toh dari dulu aku perhatian sama abang. Abang saja yang tidak peduli." Protes Aaron.
"Hmm,iya abang tau. Maafin abang."
"Sekarang yang penting abang sehat dulu. Aaa. . .!" Aaron menyuapkan satu sendok bubur hangat ke mulut Romi.
Lima menit,buburnya habis.
"Terimakasih ya."
Aaron mengangguk. "Sama-sama bang."
Tiba-tiba. . . "Kakiku?" Teriak Romi.
"Kaki abang kenapa?" Aaron jadi panik.
"Kaki abang. Kaki abang kok tidak bisa di gerakkan?" Romi terlihat frustasi.
__ADS_1
Aaron langsung memeluknya. "Bang,sabar ya. . ."
"Apa maksud kamu?"
Hhh,Aaron menarik nafasnya berat. "Hmm,kaki abang. Kaki abang lumpuh,bang!"
"Apa?" Romi sangat kaget.
"Sabar,bang!" Ucap Aaron yang makin erat memeluk Romi yang mulai terguncang.
"Lepasin!" Tolak Romi namun Aaron tetap memeluknya erat.
"Sabar,bang. Setelah abang sembuh,kita akan cari dokter terbaik buat sembuhin kaki abang ya. Aku janji akan merawat abang!"
Romi memaksa melepaskan pelukan Aaron. "Tolong tinggalin abang. Sekarang!" Tegasnya.
"Tapi bang?" Tolak Aaron.
"Abang ingin sendiri!" Ucap Romi dengan penekanan.
Aaron hanya bisa menatap abangnya dengan rasa iba dan rasa bersalah. Lalu keluar dari ruangan ICU dengan langkah gontai.
"Loh,kenapa keluar? Kamu mau pulang?" Tanya pakde Arman heran.
Aaron menggelengkan kepalanya. "Aaron akan jaga sampai pagi,pakde."
"Loh kenapa? Besok kamu kan harus kuliah. Pakde saja yang jagain Romi,toh pakde tidak ada pekerjaan."
"Tidak apa-apa,pakde. Kita jaga berdua."
"Ya sudah kalau begitu pakde mau masuk dulu kasihan Romi sendirian."
"Jangan pakde,bang Romi mau istirahat sendiri dulu." Cegah Aaron.
"Hmm,baiklah kalau begitu pakde ke masjid dulu ya." Pamitnya.
"Iya pakde." Jawab Aaron.
Hhh,semoga abang akan menerima dengan sabar keadaannya sekarang. Memang berat tapi semua sudah terjadi. Batin Aaron.
.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. ๐๐
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
0100