Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 115 ( S2 )


__ADS_3

Aaron langsung datang ke kantor Rey setelah kedatangan Rey menemui abangnya ke Rumah Sakit.


Tok tok.


"Masuk."


Ceklek. Pintu terbuka. Aaron berdiri di depan pintu.


Rey menoleh ke arahnya. "Aaron?" Ucap Rey kaget.


"Boleh saya masuk? Saya ingin bicara."


"Hmm,masuklah!"


Aaron masuk lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Rey.


"Ada apa?" Tanya Rey seraya menatap ke arah Aaron.


"Pak,saya ingin membicarakan tentang masalah abang saya. Jika benar dia telah membuat kak Ratna hamil,saya janji kalau abang akan mempertanggung jawabkan perbuatannya."


"Itu artinya kamu belum yakin." Ucap Rey yang kembali menatap berkas yang ada di hadapannya.


"Bukan begitu tapi saya ingin tau cerita yang sebenarnya seperti apa."


"Harusnya kamu tanyakan itu ke abang kamu. Saya sudah berusaha bersikap sabar karena melihat keadaannya tapi kalau dia tidak bisa di ajak kerjasama,ya sudah. Saya akan teruskan kasusnya. Bisa tiga kasus sekaligus!" Ucap Rey dengan penekanan.


"Saya mohon kasih saya waktu,pak. Saya janji akan membuat bang Aaron mau bertanggung jawab atas kehamilan kak Ratna." Tegas Aaron.


"Baiklah,saya pegang janji kamu! Mereka harus menikah secepatnya sebelum perut Ratna semakin besar!" Aku tidak ingin Ratna mengalami nasib seperti Cyndia,hamil tanpa suami. Penyesalan yang sampai saat ini masih aku rasakan. Batin Rey.


"Iya,pak. Saya akan mengurus surat-surat bang Romi secepatnya."


"Jangan lupa kabari keluarga kamu. Saya ingin keluarga kamu tau tentang pernikahan Ratna dan Romi."


"Baik,pak. Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Aaron.


Semoga Aaron bisa di percaya tidak seperti abangnya. Batin Rey.


***


Aaron tiba di Rumah Sakit saat ada dokter yang visit.


"Nah ini adeknya pasien." Terang pakde Arman.


"Dokter,ada apa dengan abang saya?"


"Begini,pasien besok sudah boleh pulang. Dan sudah saya jadwalkan untuk pasien menemui dokter syaraf dan dokter rehab medik hari ini. Jadi selanjutnya bisa konsultasi sendiri." Terang dokter.


"Terimakasih,dok." Ucap Aaron.


Dokter dan suster lalu keluar dari kamar.


Aaron langsung membawa Romi ke dokter syaraf. Setelah melalui beberapa pemeriksaan ternyata kerusakan syaraf motorik yang di alami Romi menyebabkan berkurangnya kekuatan motorik pada kakinya. Tapi masih sedikit bersyukur karena tidak sampai terjadi kelumpuhan total motorik. Jadi masih bisa di upayakan dengan latihan fisik dengan konsultasi ke dokter rehab medik.


Setelah dari dokter syaraf,Aaron membawa Romi ke dokter rehab medik. Kaki Romi yang lumpuh di periksa. Karena derajat kelumpuhannya tidak sampai total maka akan di upayakan dengan berbagai terapi latihan fisik untuk mengoptimalkan kemampuan syaraf yang masih ada. Seperti fisioterapi maupun okupasi.


Jadwal latihan fisik untuk Romi akan di mulai satu minggu lagi.


Setelah selesai konsultasi,mereka kembali ke kamar ranap Romi.


"Abang dengar kan apa kata dokter syaraf dan dokter rehab medik? Kaki abang tidak mengalami kelumpuhan total jadi ada kemungkinan untuk sembuh." Terang Aaron.


"Tapi tetap saja abang akan lama memakai kurai roda itu."


"Itu kursi roda Rumah Sakit. Nanti aku akan cari kursi roda yang terbaik untuk abang." Terang Aaron lagi.

__ADS_1


"Hhh,terserah kamu saja. Terbaik atau tidak tetaplah kursi roda."


"Hmm,abang mau makan apa siang ini? Makan makanan Rumah Sakit saja ya? Aku capek kalau harus keliling mencari makanan yang abang inginkan."


"Abang tidak suka makanan Rumah Sakit Aaron!"


"Hhh,lalu abang mau makan apa? Jangan yang aneh-aneh seperti kemarin. Hari ini aku sudah benar-benar lelah."


"Hhh,baru beberapa hari saja kamu sudah lelah mengurus abang. Bagaimana kalau abang tidak bisa lagi berjalan?"


"Aku memang lelah,bang. Tapi aku tetap lakukan. Tapi kalau harus keliling cari makanan yang abang mau,hari ini aku benar-benar tidak bisa. Atau aku suruh bibi masakin masakan yang abang mau?"


"Hh,terserah kamu saja." Jawab Romi malas.


"Ya abang mau makan apa?"


"Sedang tidak ingin makan."


Hhhh,Aaron menarik nafasnya berat. "Hmm,abang dua minggu lagi akan menikah dengan kak Ratna."


Mata Romi membulat. "Apa kamu bilang? Dua minggu lagi? Satu tahun lagi pun abang tidak sudi menikah dengan perempuan itu!"


"Tidak sudi menikah dengan kak Ratna tapi abang sudi menyentuhnya sampai dia hamil."


"Abang khilaf!"


"Khilaf abang bilang? Abang tidak hanya sekali menyentuh kak Ratna,abang bilang khilaf? Sungguh lucu." Ejek Aaron.


"Kamu tidak usah terus-terusan memojokkan abang,Aaron. Mentang-mentang abang lumpuh begini,kamu bisa semaunya mengatur!"


"Aku tidak memojokkan abang,aku hanya bicara apa adanya. Dan aku juga tidak mengatur abang karena abang lumpuh tapi karena kak Ratna sudah hamil,bang! Sudah tau tidak menyukainya tapi abang asal saja melakukannya. Semua yang kita lakukan pasti ada konsekuensinya,bang! Jadi berpikir dulu sebelum melakukan apa-apa."


"Ceramah lagi,kamu! Keluar sana! Lama-lama kepala abang bisa pecah mendengar ocehan kamu!" Usir Romi.


"Hhh,kepalaku juga mau pecah bang memikirkan masalah ini." Balas Aaron lalu segera keluar dari kamar.


***


Sementara Seno yang baru pulang dari kantor segera membersihkan diri. Dinda sedang memberikan ASI untuk putri mereka.


"Mas,kok pulang cepat?" Tanya Dinda.


"Iya,yank. Kan tadi siang mas tidak pulang jadi pekerjaan mas cepat selesai." Terang Seno.


"Oohh,pekerjaan mas lancar kan?"


"Alhamdulillah lancar,yank. Oh iya,mas sudah transfer jatah bulanan untuk kamu."


"Hmm,mas tidak perlu kok. Kan semua kebutuhanku dan Syafira mas yang beli."


"Perlu donk,yank! Apalagi kamu sudah tidak lagi bekerja. Kalian tanggung jawab mas! Kalaupun tidak terpakai,di tabung saja."


"Hhm,iya terserah mas saja."


"Kesayangan papa tidak rewel kan hari ini?" Tanya Seno seraya mengusap pipi merah bayinya.


"Alhamdulillah,Syafira tidak rewel asal aku rutin kasih ASI tiap dua jam,mas."


"Hmm. Oh iya yank,mas Rey bilang kalau mantan kekasih kamu akan menikah dua minggu lagi."


"Romi mau menikah dua minggu lagi?" Dinda kaget.


"Kenapa? Kamu sedih dia mau menikah,hmm?"


Dinda memasang wajah kesal. "Mas ngomong apa sih?"

__ADS_1


"Sampai kaget begitu dengar mantan kekasihnya mau menikah?" Ucap Seno lalu berbaring di tempat tidur dengan berbantalkan tangannya.


"Mas kenapa sih kok malah ngomong seperti itu?Aku sudah tidak ada perasaan apa-apa lagi sama dia! Orang kaget kok malah mikir seperti itu." Dinda berdiri lalu hendak keluar dari kamar.


"Kamu mau kemana?" Seno buru-buru menyusulnya.


"Tau ah. Ngomong saja sendiri sana!"


"Hhmm,ngambek ya?" Ucap Seno seraya memeluk Dinda dari belakang.


"Sana iih. Males ngomong sama mas!" Dinda melepaskan pelukannya.


"Hhmm,mas hanya bercanda sayang!"


"Kenapa harus bahas mantan? Kenapa tidak sekalian bahas mantan mas tercinta itu."


"Yank."


"Mas menyebalkan!"


"Mas kan bercanda. Maaf ya. Mas mau bilang kalau si Romi itu akan menikah dengan Ratna karena Ratna ternyata sudah hamil. Dan mas merasa sangat bersalah pada Ratna. Romi melakukan itu hanya untuk mencari cara membalas dendam sama mas karena menikahi kamu. Ternyata dia benar-benar tergila-gila sama kamu ya,sampai bisa berbuat sejauh itu."


"Hhmm,memangnya mantan mas tidak tergila-gila sama mas sampai nekat mendatangi kita berkali-kali bahkan tega mendorong aku yang sedang hamil."


"Hmm,maaf sayang. Sudah donk kesalnya."


"Siapa suruh bahas hal yang bikin mood ku jadi buruk."


"Maaf ya sayang. Entahlah mas takut kamu masih ada perasaan sama Romi."


"Hhmm,harusnya aku yang merasa begitu,mas. Mas kan dulu cinta banget sama. . ."


Seno buru-buru menempelkan jarinya ke bibir Dinda. "Mas hanya cinta sama kamu. Sekarang dan selamanya!" Tegas Seno.


Dinda mengerucutkan bibirnya. "Hhhmm,gombal!"


"Gombal itu buat ngepel kan,yank?" Seno ķembali memeluk Dinda dengan erat.


.


.


.


.


.


.


.


.


NEXT


Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. 😍😍


.


.


.


.

__ADS_1


1818


__ADS_2