
Siti keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk kimono. Lagi-lagi lupa membawa pakaiannya. Beruntung suaminya masih tidur dengan pulas.
Siti mencari pakaiannya yang masih di dalam koper dan langsung mengenakannya dengan terburu-buru. Dia ambil juga alat sholat lalu segera menunaikan ibadahnya. Tanpa dia sadari,suaminya telah bangun dan memperhatikan tiap gerak geriknya.
Selesai sholat Siti berniat keluar kamar. Dia terkejut saat melihat ke arah suaminya yang sedang menatapnya lekat.
"Mau kemana?" Tanya Rey sambil melipat kedua tangannya.
"Hmm,ke keluar." Jawab Siti lirih.
"Sudah hampir malam." Ucap Rey sambil menyingkap selimut lalu berdiri dan berlalu ke kamar mandi dengan cueknya. Dari sudut matanya bisa dia lihat istrinya itu dengan cepat menutup kedua matanya saat melihat dirinya yang masih polos. Dia pun tersenyum tipis lalu masuk ke kamar mandi tanpa menutup lagi pintu.
"Huuhh,dasar!" Ucap Siti dengan wajah kesal. Siti lalu duduk di sofa sambil melipat kakinya. "Masa di kamar terus,bosan sekali. Tak ada bedanya dengan di rumah." Gumamnya.
Tak lama Rey keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk. "Katanya mau keluar?" Tanyanya pada Siti sambil memakai pakaian.
Siti menoleh. "Hmm,tidak jadi." Ucapnya lalu memalingkan lagi wajahnya.
"Ya sudah kalau tidak jadi,saya keluar sendirian saja." Ucap Rey.
Siti kembali menoleh. Maksudnya apa? Tanyanya tapi hanya dalam hati.
"Kalau tidak mau keluar,jangan lupa pintu di kunci! Saya mau keluar sekarang." Ucap Rey lagi ketika istrinya itu hanya diam saja. Dia ingin istrinya yang minta ikut tanpa di minta. Tapi Rey lupa jika istrinya itu sangat pemalu. Rey berjalan melewati Siti yang masih menatapnya dengan wajah bingung.
"Pu lang kapan? Apa lama?" Tanya Siti malu-malu. Ingin ikut tapi suaminya itu tidak menawarinya.
"Hmm,tidak tahu. Bisa sebentar,bisa lama,bisa besok." Jawab Rey dengan cueknya.
"A apa? Besok?" Tanya Siti kaget lalu berdiri menatapnya.
Rey hanya mengedikkan bahunya lalu meraih handel pintu dan membukanya.
"Sa saya bagaimana?" Tanya Siti dengan suara bergetar. Wajahnya memerah antara kesal dan malu. Dia akan di tinggal sendirian lagi. Tega sekali. Ucapnya dalam hati.
"Ya terserah!" Jawab Rey sambil mengulum senyum demi melihat ekspresi istrinya itu.
Mereka sama-sama diam sesaat. Saling menunggu. Siti ingin suaminya yang menawarinya untuk ikut dan Rey ingin istrinya itu ikut tanpa dia harus menawari.
Siti duduk lagi di sofa dengan wajah menunduk. Tapi akhirnya dia menyerah. Dia menepiskan rasa malunya daripada harus di tinggal sendirian di tempat asing yang tak ada seorang pun dia kenal. "Ikut!" Ucapnya lirih tanpa menoleh ke arah suaminya.
__ADS_1
Rey tersenyum tipis." Ayo cepat!"
Siti bangkit dan berjalan ke arahnya masih dengan menunduk. Dia terlalu malu. Setelah sama-sama keluar kamar,Rey langsung mengunci pintu dari luar lalu berjalan keluar villa. Siti mengikuti dari belakang.
Ternyata di luar sudah hampir sore. " Kamu berdiri terus di belakang saya,tidak tanggung ya kalau ada yang nyulik!" Rey mencoba menggoda istrinya itu dengan menakutinya.
Reflek Siti mendongakkan kepalanya menatap Rey yang sedang menatap ke jalan. Dia langsung berdiri di samping suaminya itu. Saya ini istrimu,kenapa bersikap seperti ini? Siti hanya bisa mengeluh dalam hati.
Tak lama ada mobil yang masuk ke halaman villa dan berhenti tepat di depan mereka berdua. Lalu keluarlah seorang bapak-bapak dari pintu kemudi. " Mari pak. ." Ucap orang itu sambil menundukkan kepala lalu membukakan pintu mobil belakang. Rey berjalan di belakang orang itu di ikuti oleh Siti.
"Ayo masuk!" Titah Rey pada Siti. Siti menurut. Dia langsung masuk dan duduk di dekat pintu. "Geser!" Titah Rey lagi. Siti mendongakkan kepalanya lalu bergeser ke samping. Rey duduk di sebelahnya. "Jalan pak!" Titah Rey pada bapak sopir.
Mobil segera meninggalkan villa. Tak ada obrolan di dalam mobil. Siti menyandarkan kepalanya di sebelah kanan sambil menoleh ke jalanan. Sepi. Tak berapa lama dari kejauhan terlihat beberapa mobil sedang terparkir. Mobil yang Siti naiki pun ikut parkir di sana. Pak sopir turun lalu membukakan pintu untuk mereka. Rey turun,Siti pun ikutan turun tanpa di suruh.
"Terimakasih,pak!" Ucap Rey pada pak sopir. Pak sopir lalu mengangguk dan mempersilahkan Rey berjalan di depan di ikuti oleh Siti.
Ternyata pak sopir membawa mereka ke kafe pinggir pantai. Suasana sangat ramai karena pas malam minggu. Beberapa saat lagi matahari baru akan terbenam,mungkin waktu sudah menunjukkan pukul lima sore.
Rey berjalan mencari kursi kosong yang terletak paling dekat ke arah pantai masih dengan Siti yang mengikuti dari belakang. Setelah mendapatkan kursi yang dia mau,Rey pun langsung menarik satu kursi. "Duduklah!" Titahnya pada Siti. Siti pun menurut. Lalu Rey duduk di depannya.
Pelayan datang memberikan buku menu untuk mereka berdua. Siti membolak balik buku menu. Tidak ada satu menu pun yang dia tahu. Sepertinya kafe ini menyediakan menu western. Karena memang hampir setengah pengunjung kafe adalah wisatawan asing.
"Hmm,samain saja." Jawab Siti. Dia juga bingung mau makan apa.
Pelayan yang tadi mengantarkan buju menu datang lagi menanyakan pesanan Rey.
"Permisi pak,mau pesan apa?"
Rey lalu menyebutkan semua pesanannya.
"Baiklah pak,pesanan akan siap dalam tiga puluh menit." Ucap pelayan.
"Oh iya pak,kalau begitu bisa saya tinggal ke pantai sebentar?" Tanya Rey. Pelayan pun mengangguk.
"Kita ke pantai sebentar!" Ajak Rey. Dia lalu berdiri di ikuti oleh Siti. Mereka berjalan keluar kafe menuju pantai yang sebentar lagi akan terlihat sunset. Sudah banyak wisatawan asing dan lokal yang sedang menuju ke pantai yang hanya memakan waktu lima menit saja dari kafe. Ada yang sambil berdiri dan ada yang sengaja duduk-duduk di pinggiran pantai tidak peduli pakaian mereka akan basah. Banyak juga yang mengabadikan momen sunset bersama orang terkasih.
"Kamu mau foto-foto,hmm?" Tawar Rey sambil menatap ke arahnya.
"Hmm,foto?" Siti balas menatapnya.
__ADS_1
Rey mengangguk."Ayo berdiri di sana,biar saya fotoin!" Titah Rey sambil menunjuk ke arah yang sejajar dengan sunset.
Siti menurut saja. Dia lalu berdiri tidak jauh dari Rey dengan membelakangi sunset agar dapat hasil foto yang cantik. Setelah beberapa kali mengambil foto Siti,Rey pun bergumam. "Hmm,cantik."
"A apa?" Siti terlihat tersipu.
"Sunsetnya cantik!" Ucap Rey lagi membuat wajah Siti langsung merah karena malu. Dia pikir suaminya itu berkata cantik untuk memujinya ternyata memuji sunset.
Rey tahu rona merah di wajah istrinya itu. Dia hanya mengulum senyum. Kamu memang cantik,Siti. Ucapnya dalam hati. Dia tidak mau memuji istrinya itu terang-terangan.
"Kamu masih mau di sini?" Tanya Rey saat di lihatnya Siti masih menatap sunset tanpa berkedip.
"Sa saya menurut saja." Jawabnya tanpa mau menoleh ke arah suaminya.
"Saya sudah lapar." Ucap Rey lalu membalik badannya kemudian berjalan menjauhi pantai,kembali lagi ke kafe. Siti pun mengikutinya dari belakang.
"Kamu senang sekali berjalan di belakang saya? Kalau ada apa-apa saya tidak tanggung jawab ya!" Seloroh Rey sambil melirik sekilas ke arah Siti. Siti buru-buru berjalan menyejajarkan langkahnya dengan Rey.
Makanan baru saja di hidangkan di atas meja mereka ketika mereka kembali ke kafe. Rey langsung saja menyantap makanannya karena memang sudah lapar. Sedangkan Siti hanya memperhatikan saja. Dia belum terbiasa makan menggunakan pisau.
"Kamu kenapa?" Tanya Rey yang merasa sedang di perhatikan oleh Siti.
"Hmm,ti dak apa-apa." Jawab Siti sambil pura-pura sibuk dengan makanannya sendiri.
Rey tahu apa yang di pikirkan oleh istrinya itu. Dia lalu mengambil piring Siti lalu memotong-motong daging sampai potongan kecil agar istrinya itu bisa langsung memakannya." Makanlah!" Titah Rey setelah menaruh lagi piring di depan Siti.
Dengan malum-malu Siti pun menyantap makanannya. Enak. Ucapnya dalam hati sambil menyunggingkan senyum ingat tadi suaminya yang membantunya memotong daging.
Setelah selesai makan,Rey sibuk memperhatikan handphonenya sementara Siti hanya melihat-lihat sekeliling karena dia memang belum mempunyai handphone.
"Rey? Kamu Rey kan?" Ucap seseorang yang tiba-tiba menepuk bahunya.
"Ka kamu? Ridho ya?" Rey balik bertanya. Tak lama kemudian mereka saling peluk. Kemudian Ridho duduk di sebelah Rey.
"Makin keren saja kamu,Rey? Eeh siapa wanita ini? Jangan bilang kalau istri kamu ya!" Seloroh Ridho. Rey hanya tersenyum menanggapi perkataan Ridho.
"Eeh malah senyum-senyum. Jadi benar istri kamu?" Mata Ridho membulat." Cyndia kamu kemanakan? Buaya juga kamu ternyata!" Dia lalu terbahak. Siti hanya diam memperhatikan dua orang yang ada di depannya dengan tatapan sendu. Pria ini mengenal Cyndia. Batin Siti.
NEXT
__ADS_1
100421/10.55