
Pagi ini Cinta bangun lebih awal. Dia akan kembali sekolah setelah ijin beberapa hari. Tidak seperti biasanya ada Ratna yang akan mengantar jemput Cinta. Hari ini dia kembali di antar oleh sopir keluarganya yang biasa mengantarnya sekolah sebelum mengenal Ratna.
Cinta sedang duduk di meja makan untuk sarapan bersama keluarganya. Setelah selesai sarapan,Cinta segera bersiap untuk pergi ke sekolah.
"Sayang,nanti pak Danu akan nungguin kamu sampai kamu pulang sekolah. Pelajaran selesai langsung pulang,ya?"
"Tapi bunda. Cinta belum lihat adek bayinya om Seno. Cinta boleh ke klinik oma Layli?"
"Hmm,bareng bunda saja ya nak. Bunda juga belum sempat ke sana."
"Ooh,iya deh bun.
"Pak,nanti bapak tunggu saja di sekolah Cinta sampai Cinta pulang,ya." Titah Fadil pada sopirnya. "Oh iya,handphone bapak harus selalu on ya."
"Baik,pak." Jawab sang sopir.
Cinta lalu naik ke mobil. Dia duduk di kursi depan.
"Non,semangat sekolah lagi ya!" Ucap pak sopir.
"Iya pak,Cinta banyak ketinggalan pelajaran nih."
Karena jalan raya belum terlalu ramai kendaraan yang berlalu lalang,Cinta lebih cepat sampai di sekolahnya.
Cinta turun dari mobil. Di luar gerbang sekolah,Cinta bertemu Vina,teman sebangkunya.
"Cinta!" Teriak Vina.
Cinta menoleh ke sumber suara. "Eh,Vin. Kamu baru datang juga?"
"Hmm,kamu sudah sehat ya?"
"Alhamdulillah,aku sudah sehat ,Vin. Oh iya terimakasih ya sudah kasih tau aku tugas sekolahnya."
"Tidak masalah. Yuk kita ke kelas." Ajak Vina.
Mereka berdua berjalan beriringan menuju kelasnya.
"Hai Cinta,lama tidak kelihatan." Sapa salah satu teman sekelas Cinta.
"Hmm,iya nih. Aku sakit." Sahut Cinta.
"Pulang sekolah kita jalan bareng yuk. Kamu sesekali ikut kita donk." Ucap Vina seraya menyenggol bahu Cinta.
"Hmm,aku kan habis sakit. Belum boleh kemana-mana sama papa." Jawab Cinta.
"Papa? Kamu panggil papa apa ayah? Kadang bilang 'ayah'?"
"Hmm,panggil apa saja boleh." Jawab Cinta seraya mengeluarkan buku tulisnya.
"Hmm. . . ."
***
Rey sedang di Rumah Sakit Sahabat untuk konsultasi ke dokter Rudi tentang abangnya Aaron. Saat Rey masuk ke ruangan ICU,ternyata Aaron sedang ada di dalam.
"Aaron?" Sapa Rey.
Aaron menoleh,dia terlihat kaget melihat Rey. Ada apa papanya Cinta ke sini. Batin Aaron.
"Kamu sudah lama di sini? Bisa kita bicara d luar?"
"Ada apa?"
"Ada yang ingin saya bicarakan."
Aaron menatap ke arah abangnya beberapa saat,lalu berdiri kemudian keluar dari ruang ICU. Rey mengikutinya dari belakang.
"Bagaimana keadaan oma?"
__ADS_1
"Hmm,masih sama." Jawab Aaron datar.
"Oh iya,saya ingin menemui dokter Rudi,dokter yang menangani abang kamu. Saya ingin memindahkan abang kamu ke Rumah Sakit Medika agar berdekatan dengan oma kamu. Jadi kamu tidak perlu bolak balik kesini lagi. Apa kamu setuju?"
"Hmm,kenapa pak Rey sampai mau repot-repot mengurusi masalah ini?"
"Saya hanya ingin mempermudah urusan kamu."
"Hmm,"
"Bagaimana,apa kamu setuju?" Tanya Rey.
Aaron diam,seperti sedang berpikir. Apa aku terima saja usul papanya Cinta ya. Repot juga harus bolak balik. Batin Aaron. "Hmm,baiklah." Ucap Aaron kemudian.
"Ya sudah,saya akan menemui dokternya sekarang. Pamit Rey.
Setelah Rey pergi,Aaron kembali masuk ke ruang ICU.
Rey mengetuk pintu ruangan dokter Rudi. Seorang suster membukakan pintu.
"Silahkan masuk,pak." Titahnya pada Rey.
"Terimamasih." Sahut Rey.
"Pak,Rey?"
"Iya saya yang membuat janji bertemu pak dokter." Jawab Rey.
Rey lalu duduk di kursi yang ada di depan dokter Rudi.
"Bagaimana,dok?" Tanya Rey.
"Kondisi organ vital saudara Romi sebenarnya sudah bagus,dia sudah melewati masa kritis hanya tinggal menunggu kesadarannya saja. Nanti kita akan menyertakan suster satu dan alat-alatnya." Terang dokter.
"Alhamdulillah kalau begitu,dok."
"Hmm,terimakasih dokter. Besok saya akan ke sini lagi." Ucap Rey seraya menjabat tangan dokter Rudi.
"Sama-sama pak Rey." Sahut dokter Rudi.
Rey lalu segera pergi dari Rumah Sakit Sahabat,kembali ke kantornya.
Satu jam lebih,Rey baru sampai di kantornya. Dia lalu masuk ke ruangan Seno.
Tok tok. . . Ceklek.
"Mas Rey?" Sapa Seno.
"Hmm,bagaimana keadaan Dinda dan bayinya? Mas belum sempat ke sana lagi." Tanya Rey.
"Dinda sudah mulai bisa aktivitas sedikit-sedikit,mas. Bayi kita juga ada kemajuan kesehatannya."
"Alhamdulillah."
"Hmm,mas. Dari mana tadi? Ada janji sama klien?"
"Mas ada janji bertemu dengan dokter yang menangani si Romi."
Seno mengernyitkan dahinya. "Buat apa,mas?"
"Hhh,kamu tau Aaron temannya Cinta?"
Seno mengangguk. "Iya tau,mas."
"Nah,Romi itu abangnya Aaron."
"Apa,mas?" Seno sangat kaget. "Ternyata dunia ini sempit."
"Omanya Aaron saat ini sedang koma Di Rumah Sakit Medika sementara si Romi di Rumah Sakit Sahabat. Jadi mas berniat memindahkan Romi ke Rumah Sakit Medika juga agar Aaron bisa menjaga mereka berdua tanpa harus bolak balik."
__ADS_1
"Setau Seno Romi itu masih punya bapak,mas."
"Iya,tapi bapaknya sedang di luar negeri."
"Hmm,jadi kasusnya bagaimana?"
"Dokter bilang kalau si Romi itu kakinya lumpuh. Mas kasihan juga sih. Tapi mengingat apa yang sudah dia lakukan,mas juga tidak terima. Enatahlah,kita lihat saja perkembangannya nanti bagaimana."
"Dia kan hendak melarikan diri saat di tangkap. Itu juga bisa memberatkannya,mas."
"Iya,kamu benar. Mas,lebih memikirkan Aaronnya."
"Hmm,jadi Cinta pacaran sama si Aaron itu?" Tanya Seno dengan nada kurang suka.
"Cinta bilang sih mereka tidak pacaran. Mungkin sebatas saling suka saja." Terang Rey.
Hmm,aku juga seneng sih kalau Cinta mulai menyukai orang lain jadi aku tidak perlu merasa bersalah lagi dengannya. Tapi jika yang di sukainya itu adalah Aaron,rasanya aku tidak suka dengan anak itu terlebih dia adiknya si Romi. Batin Seno. "Tapi mereka terlihat begitu dekat,mas."
"Iya,kita harus benar-benar mengawasi mereka."
"Semoga si Aaron itu tidak seperti abangnya."
"Iya,semoga saja."
"Oh iya mas,bagaimana dengan Ratna? Dia menghilang begitu saja. Apa dia terlibat atau justru di sembunyikan juga sama si Romi itu."
"Iya,mas sudah minta polisi menyelidikinya."
"Semoga dia bisa segera di temukan dengan selamat,ya mas."
"Aamiin. Ya sudah,mas ke sini mau ambil berkas yang tadi kamu bawa. Apa sudah selesai kamu kerjakan?"
"Ooh,iya sudah dua berkas yang Seno selesaikan. Satuny selesai Seno pulang dari klinik,ya mas. Dinda minta di belikan sesuatu." Terang Seno seraya memberikan dua berkas pada Rey.
"Oh iya tidak apa-apa. Mas bawa dulu yang ini. Mas tinggal dulu ya." Pamit Rey.
Setelah Rey meninggalkan Seno,Seno bersiap-siap hendak ke Klinik menemui Dinda.
.
.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. ππ
.
.
.
.
.
.
0600
__ADS_1