
Tok tok tok!
Seseorang mengetuk dari dalam kamar mandi. "Buka pintunya!" Titah orang itu.
"Si siapa kamu?" Tanya Siti terbata-bata.
"Rey. Saya Rey,suami kamu Siti!" Teriak Rey dari dalam kamar mandi.
"Rey? Kamu Pak Rey?" Tanya Siti ragu.
"Iya. Buka pintunya!" Ucap Rey tidak sabar.
Hmmmf. Siti menarik nafas lalu perlahan dia membukakan pintu untuk Rey. "Ma maaf" Ucap Siti sambil menunduk,tidak berani melihat ke arah suaminya yang sedang marah.
Rey keluar dengan memasang wajah kesal. "Sampai kapan kamu mau mengurungku di kamar mandi?" Gerutunya dengan memasang wajah galak.
Rey menelan ludah saat melihat ke arah Siti. Dia tertegun melihat Siti yang hanya mengenakan pakaian tidur. Pakaiannya tidak seksi tapi ini pertama kalinya dia melihat Siti tanpa mengenakan hijab. Istrinya itu ternyata berambut panjang dan memiliki kulit kuning yang bersih. Dan tentu saja terlihat cantik. Siti perlahan melihat ke arah suaminya. Dia menatap Rey tanpa berkedip. Suaminya itu hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya.
"Apa yang kamu lihat? Baru pertama ya lihat pria tampan seperti saya?" Ucap Rey dengan nada angkuh.
Siti jadi salah tingkah. "Hmm,saya. . ." Siti lalu menundukkan lagi kepalanya.
"Sana kalau mau pakai kamar mandi!" Tunjuk Rey dengan dagunya.
__ADS_1
Dengan cepat Siti masuk ke kamar mandi dan menguncinya dari dalam. Deg deg. . . Jantungnya berdegup sangat kencang. "Duuhh,tidak punya pakaian ganti nih" Gumamnya." Aahh sudahlah pakai yang ini saja." Siti pun segera mandi.
Tidak sampai setengah jam dia sudah selesai dengan kegiatan mandinya. Dia lalu keluar kamar. Dia celingak celiguk mengitari isi kamar. Suaminya sudah tidak ada lagi di kamar. Siti berjalan ke kasur,lalu duduk. Di goyang-goyangkan badannya di atas kasur. " Kasurnya empuk sekali." Gumamnya sambil tersenyum sendiri. Tiba-tiba dia merasakan perutnya berbunyi. Kriuukk! Dia lalu mengusap perutnya. "Hmm,lapar nih." Gumamnya. "Pak Rey mana ya?"
Siti bangkit dari duduknya lalu berjalan ke arah pintu keluar. Dia ingin mencari makanan atau kalau bisa dia ingin memasak sendiri saja.
Ceklek. Pintu terbuka. Siti lalu keluar kamar perlahan. "I ini di mana?" Ucapnya kaget. Dia melihat lorong yang panjang dan sepi. Apa ini di hotel? Pikirnya. Dia menoleh ke kiri kanan tapi tidak ada seorang pun. Dia lalu cepat-cepat menutup kembali pintu dan menguncinya. "Huuhh,kok seram sih di sini! Pak Rey kemana ya?" Lirihnya dengan wajah cemas.
Siti kembali tiduran di kasur. Karena terlalu lama menunggu,Siti jadi ketiduran.
Entah sudah berapa lama Siti tertidur. Dia terbangun karena mendengar suara orang sedang berbicara. Dia mengerjapkan matanya. Di pandanginya seluruh isi kamar,tidak ada seorang pun. Tapi suara orang sedang berbicara itu masih terdengar di telinganya. Kembali dia merasakan perutnya lapar karena dari acara dia belumlah makan.
Siti bangun. Dia menoleh ke arah balkon. Ternyata orang yang sedang berbicara itu ada di balkon. Siti mengintip dari tirai jendela karena pintu menuju balkon tertutup. "Pak Rey?" Gumamnya. Ada senyum mengembang di wajahnya. Dia merasa senang akhirnya Rey kembali ke kamar.
Lalu Siti melihat ada dua bungkusan di atas meja yang ada di depan sofa. Siti mau melihat tapi dia sungkan,tidak sopan. Batinnya. Siti menunggu saja sampai Rey selesai berbicara di telepon.
Siti hanya menatap nanar kepergian suaminya. Hhmmf. Siti mendesah pelan. Di bukanya bungkusan yang dari tadi ingin dia tahu isinya. Bungkusan yang satu berisi nasi kotak sedang yang satunya berisi cemilan. Siti langsung memakan nasi kotak karena memang sudah sangat lapar. Setelahnya dia berjalan ke balkon.
Di lihatnya pemandangan dari atas balkon ke bawah. Kamarnya berada di dekat kolam renang. Masih ada beberapa orang yang sedang berenang. Entah berada di lantai berapa kamarnya. "Pak Rey,kenapa kamu membawa saya kesini kalau hanya untuk berdiam diri di kamar sendirian?" Gumam Siti dengan wajah sedih.
Tidak terasa malam sudah merambat. Entah saat ini sudah pukul berapa karena dia tidak memiliki jam tangan apalagi handphone. Dia berjalan ke kamar mandi lalu bersuci. Dia berniat sholat malam.
Siti lalu mengadu pada sang pemberi kehidupan. Tentang perasaannya dan harapannya. Dia berdoa sambil menangis.
__ADS_1
"Jika suami hamba tidak bisa mencintai hamba tetap ikhlas dengan pernikahan ini. . ."
Deg. . . Saat kata-kata itu keluar dari mulut Siti,saat itulah seseorang masuk ke kamarnya dengan membuka pelan handel pintu sampai dia tidak menyadarinya.
"Maafkan saya. . ." Ucapnya dengan rasa bersalah.
Selesai berdoa,Siti tidak langsung beranjak. Dia tetap bersimpuh setengah tiduran. Seperti nyaman dengan posisi itu. Hingga lama-lama dia benar-benar tertidur lelap.
***
Perlahan Siti membuka matanya. Dia menggerak-gerakkan tangan dan kakinya ke kiri kanan. Dia merasa tubuhnya menyentuh sesuatu yang sangat lembut dan empuk. Di rabanya. Dia terlonjak kaget dan langsung duduk. Di lihatnya tubuhnya masih berbalut mukena. Dia ingat tadi selepas sholat malam,dia belum beranjak dan belum melepas mukenanya. Tapi saat ini dia sudah tertidur di kasur. Dia menoleh ke kiri kanan. Di lihatnya Rey sedang tertidur di sofa.
Kapan pak Rey datang? Apa dia yang memindahkan saya ke kasur? Kenapa dia tidak mau tidur di kasur bersama saya? Saya kan istrinya.
Kenapa setelah menikah,sikapnya masih dingin walau masih ada sedikit perhatian. Hmm bukan perhatian,mungkin hanya sedikit bertanggung jawab.
Siti membuka tirai jendela,masih sedikit gelap. Mungkin masih ada waktu untuk menunaikan ibadahnya. Siti lalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersuci. Setelah hampir setengah jam,Siti keluar dari kamar.
Dengan khusuk,Siti menunaikan ibadahnya. Karena ada suaminya yang sedang tertidur,Siti hanya berdoa dalam hati saja. Setelah itu Siti berjalan ke balkon untuk menghirup udara segar dan juga menghilangkan kebosanannya yang dari kemarin hanya di kamar saja. Siti berdiri memandang langit yang makin lama makin terang. Hanya ada beberapa kendaraan yang terlihat lalu lalang. Mungkin karena hari masih terlalu pagi.
Hmmff,hari ini apa dia masih akan berada di kamar ini sendirian? Ingin bertanya tapi dia sungkan. Diam saja dia bingung. Aahh,kenapa pernikahan saya seperti ini? Keluhnya.
Karena lelah berdiri,Siti lalu duduk di kursi yang ada di balkon. Tanpa dia sadari ada sepasang mata sedang mengawasinya dari jarak yang sangat dekat. Reynan. Walau sudah menjadi suami Siti,tapi dia masih belum siap menganggap Siti benar-benar sebagai istrinya. Apalagi harus melaksanakan kewajibannya dan meminta haknya. Biar waktu yang akan menjawab. Batin Rey.
__ADS_1
NEXT
010421/19.50