
Rey dan Ratna langsung naik ke mobil karena Ratna ternyata benar-benar belum siap untuk kembali bertemu dengan Romi setelah apa yang terjadi.
"Ratna,sebaiknya kamu tinggal di rumah saya. Ada istri dan ibu saya di rumah,juga anak-anak saya." Pinta Rey lagi.
"Saya tidak mau merepotkan,pak." Sahut Ratna.
"Tidak merepotkan,kok. Justru saya yang merepotkan kamu,memaksa kamu jauh-jauh datang kesini."
"Saya ingin sendiri dulu pak. Di rumah teman saya hanya berdua suaminya." Terang Ratna.
"Hanya berdua suaminya? Dan kamu orang ketiga di rumah itu?" Tanya Rey kaget.
Ratna yang awalnya hanya menatap ke jalanan dengan pandangan kosong,akhirnya menoleh. "Hmm,i-iya pak."
"Kamu tinggal di rumah saya,ada beberapa kamar tamu yang kosong. Jangan menambah masalah dengan tinggal di rumah seorang teman yang hanya tinggal berdua dengan suaminya,Ratna."
Hhm,yang di katakan pak Rey memang benar. Tapi aku malu tinggal di rumahnya. Batin Ratna.
"Hmm,tapi pakaian saya ada di rumah teman saya sekarang,pak."
"Kita ke sana ambil pakaian kamu. Di mana alamatnya?"
"Hmm,baiklah. Rumahnya di jalan Raya XX."
Rey segera melajukan mobilnya ke arah rumah teman Ratna. Setelah mengambil pakaian Ratna,Rey langsung pulang ke rumah.
"Ayo." Ajak Rey setelah mereka sudah sampai di rumah.
Rey mengetuk pintu rumahnya. Tok tok. . .
Ceklek. Pintu terbuka dari dalam.
"Assalammualaikum. . ." Ucap Rey.
"Wa'alaikumsalam. Mas,sudah pulang?" Sahut Siti seraya mencium punggung tangan suaminya.
"Iya yank. Ada Ratna juga ini." Jawab Rey.
"Ratna?" Siti kaget. "Ohh,ayo masuk." Ajak Siti lalu memeluk Ratna.
Ratna yang kaget tiba-tiba di peluk oleh Siti hanya bengong. "Hmm,i-iya bu."
"Yuk,mau langsung istirahat di kamar apa ngobrol dulu?"
"Hmm . ."
"Langsung istirahat di kamar saja yuk." Ajak Siti lalu membawa Ratna masuk ke kamar tamu yang tak jauh dari ruang keluarga.
Ratna menurut saja.
Ceklek. Siti membuka pintu kamar. "Nah,kamu istirahat dulu ya. Kamar mandi di pojokan sana. Nanti kalau perlu apa-apa bisa bilang sama saya atau sama bibi di dapur." Terang Siti.
"Hmm,terimakasih. . .bu." Jawab Ratna.
"Oh iya saya tinggal dulu ya." Pamit Siti seraya menepuk bahu Ratna lembut lalu keluar dari kamar.
Siti lalu naik ke atas menuju kamarnya. Ternyata Rey sedang mandi karena hari juga sudah menjelang sore. Anak-anak sedang tidur siang.
Sepuluh menit kemudian,Rey keluar dari kamar mandi lalu memakai pakaian yang sudah di siapkan oleh Siti.
Rey lalu duduk di sisi tempat tidur di samping Siti. "Kamu tidak keberatan kan mas ajak Ratna tinggal di rumah sementara?"
"Tidak kok,mas. Wajah Ratna kok sayu gitu ya mas? Pucat seperti sedang sakit. Aku kasihan banget lihat dia." Ucap Siti dengan wajah sedih.
"Iya,yank. Makanya mas maksa dia agar mau tinggal di sini dulu. Sekalian menyelesaikan masalahnya dengan si Romi itu."
"Oh iya mas. Jadi mas sudah ajak Ratna ketemu sama Romi?"
"Hhh,dan ternyata orang yang Ratna anggap sebagai Angga itu adalah Romi!"
Siti kaget. "Apa,mas? Jadi?"
"Iya,yank. Baru bertemu beberapa detik,Ratna langsung lari. Dia sepertinya belum siap untuk bertemu Romi. Entah sakit hati atau takut. Kan Romi sempat mengancamnya."
"Ya Allah. . ." Siti makin terlihat sedih. "Malang benar nasib Ratna,mas. Dia pasti sangat terluka."
__ADS_1
"Makanya mas merasa sangat bersalah,yank. Kejadian buruk yang dia alami ada hubungan dengan kita."
"Seno dan Dinda sudah tau,mas?"
"Mas sudah cerita sama Seno. Dia juga merasa sangat bersalah. Karena semua berawal dari dia yang menikahi Dinda."
"Hmm,lalu apa yang akan mas lakukan setelah ini?"
"Mas tunggu sampai Ratna benar-benar siap,yank. Mas tidak mau dia tertekan."
"Iya mas,biar dia istirahat dulu beberapa hari biar hatinya sedikit tenang."
"Hmm. . ."
"Oh iya mas tidak ke kantor lagi?"
"Sekarang sudah jam tiga lebih yank,mas ke kantor ngapain. Mas juga sudah bilang sama Seno kalau mas tidak kembali lagi ke kantor hari ini."
"Hmm,ya sudah. Aku mau ke kamar anak-anak dulu ya mas."
"Ngapain? Jarang-jarang kan mas jam segini sudah di rumah."
"Mau banguni anak-anak,mas. Mandi lalu sholat,sudah sore ini."
"Nanti saja,yank. Mas masih ingin berduaan sama kamu!"
"Iiihh mas. Masih siang gini nanti kalau anak-anak tiba-tiba ke kamar gimana?" Protrs Siti.
"Hehee,pikiran kamu tuh. Mas hanya ingin berduaan kok."
"Hmm,tidak macam-macam kan?"
"Tidak macam-macam kok. Hanya satu macam saja!" Jawab Rey lalu mulai menggoda istrinya.
"Mas. . . Katanya tidak macam-macam?"
"Iya tapi satu macam saja."
"Iihh,dasaar!" Siti mengerucutkan bibirnya.
"Tau ah."
"Yuk?"
"Mas ini. Mas kan sudah mandi."
"Iya kan bisa mandi lagi. Air banyak juga."
"Hhmm,pintu tidak aku kunci loh." Siti akhirnya menyerah.
Rey buru-buru mengunci pintu kamar lalu kembali mendekati istrinya yang sedang menggeleng-gelengkan kepalanya.
***
Keluarga sedang bersiap untuk makan malam bersama. Siti pergi ke kamar Ratna untuk mengajaknya makan malam bersama.
Tok tok. . .
Ceklek. Pintu terbuka.
"Bu,Siti. . .?"
"Ratna,yuk kita makan malam bersama." Ajak Siti.
"Hmm,saya belum lapar bu." Tolak Ratna halus.
"Makan sedikit saja ya. Kamu harus makan biar kuat. Yuk!" Siti sedikit memaksa. Mungkin Ratna malu. Pikirnya.
"Hmm,baiklah bu."
Ratna lalu keluar dari kamar dan berjalan mengikuti Siti dari belakang. Mereka sampai di ruang makan.
"Ayo duduk."
"Hmm,terimakasih." Ratna lalu duduk.
__ADS_1
"Ayo Ratna,makan yang banyak ya." Titah oma.
"Hmm,terimakasih bu." Sahut Ratna.
"Kak Ratna ini yang suka antar jemput kak Cinta ya." Celetuk Putra yang dari tadi memperhatikan Ratna.
"Iya sayang. Kakak dulu suka antar jemput kak Cinta."
"Kok sekarang tidak lagi,kak? Adek sudah lama tidak lihat kak Cinta di antar oleh kak Ratna?"
"Hhmm. . ." Ratna terlihat bingung dengan pertanyaan Putra.
Siti menuang nasi ke piring Putra. "Sayang,kita makan dulu ya. Kasihan kak Ratna sudah lapar. Adek juga sudah lapar kan?"
"Iya,ma."
Mereka lalu makan tanpa ada yang berbicara.
Setelah selesai makan,mereka seperti biasa berkumpul di ruang keluarga. Ratna mau tidak mau ikut berkumpul juga.
"Ratna di desa kerjanya apa?" Tanya oma.
"Hhmm,untuk saat ini saya membantu sodara atau tetangga yang panen,bu. Kebetulan sekarang memang sedang musim panen bawang." Terang Ratna.
"Oohh,begitu. Tidak ingin kerja dimana?"
Ratna hanya menggelengkan kepalanya.
"Hhmm,kamu lulusan apa?"
"Saya hanya lulusan SMK,bu."
"Oohh. Coba kerja di perusahaan kita,mungkin ada yang cocok untuk kamu. Iya kan Rey?" Ucapnya lagi seraya menoleh ke arah Rey.
"Hhmm,nanti Rey lihat pekerjaan yang cocok untuk Ratna,ma." Jawab Rey.
"Hhmm,untuk saat ini saya belum ingin bekerja dulu pak,bu." Tolak Ratna halus.
"Hhmm,iya Ratna. Kamu tenangkan diri dulu ya." Ucap oma lembut. Oma juga sudah tau cerita tentang Ratna dan dia juga merasa sangat kasihan terhadap gadis malang itu. Tanpa tau apa kesalahannya harus menjadi korban.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.NEXT
Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. ππ
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
1441