
Sudah empat hari Dinda dan Seno berbulan madu. Sudah banyak tempat yang mereka datangi untuk mengisi waktu siang mereka sekaligus berfoto ria.
Rencananya mereka akan pulang ke tanah air nanti sore. Pagi ini mereka ada janji dengan dokter Alex. Dokter kandungan rekomendasi dari maminya Dinda.
Saat ini mereka sudah sampai di klinik dokter Alex. Mereka sedang menunggu antrian.
"Mas,aku gugup ketemu dokter Alex." Ucap Dinda.
"Gugup kenapa? Kan mas temani."
"Yah gugup saja. Yang di periksa kan aku bukan mas. Coba mas saja yang di periksa ya."
"Hehee,kamu itu. Yang mau hamil kan kamu."
"Memangnya mas tidak mau aku hamil?"
"Loh,maksud mas tuh yang hamil kan kamu bukan mas. Jadi kamu lah yang di periksa."
"Hmm."
Tak lama nama Dinda di panggil.
"Yuk,mas. Sudah di panggil." Ajak Dinda.
Mereka lalu masuk ke ruang dokter Alex.
"Pagi dokter." Sapa Dinda.
"Pagi juga. Silahkan duduk." Sahut dokter Alex dengan ramah.
Dinda dan Seno lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan dokter Alex.
"Loh,kamu ini Dinda putrinya dokter Layli kan?" Tanya dokter Alex kaget.
"Iya dokter." Jawab Dinda.
"Kamu sudah menikah? Terakhir ketemu kamu masih kecil."
"Iya dokter,saya sudah menikah. Terakhir ketemu dokter sepuluh tahun yang lalu." Jawab Dinda.
"Sepuluh tahun yang lalu ya. Hmm,pantas kamu sudah menikah. Baiklah. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya kan baru saja menikah. Saya di suruh mami konsultasi sama dokter agar bisa segera hamil." Jawab Dinda malu-malu.
Dokter Alex lalu menjelaskan pemeriksaan apa-apa saja yang harus di lakukan. Suami pun bila perlu melakukan pemeriksaan juga agar lebih jelas.
Dinda dan Seno terdiam mendengar penjelasan dokter.
Dinda melirik Seno. Mas pasti tidak setuju nih. Hhh,mami bilang tidak di periksa macam-macam. Kok sampai seperti itu. Batin Dinda.
"Hmm,kita hanya mau konsul saja dulu kok,dok." Ucap Seno.
"Baiklah. Jadi sudah paham,kan?"
"Iya dokter." Jawab Dinda dan Seno.
"Baiklah,kalau kalian ingin pemeriksaan lebih lengkap,kapan-kapan bisa kembali lagi kesini." Ucap dokter Alex dengan ramah.
Setelah berbasi-basi,mereka lalu keluar dari ruang kerja dokter Alex.
"Ya sudah. Sekarang mau kemana lagi? Pulang ke hotel?"
"Hmm,mau jalan-jalan lagi donk,mas. Kan ini hari terakhir di Singapura,aku juga mau beli oleh-oleh buat teman." Jawab Dinda.
"Tapi sebelum pulang,kita istirahat dulu." Ucap Seno.
"Hmm,iya mas."
Mereka lalu pergi ke tempat rekreasi. Dinda terlihat begitu gembira. "Kita foto di sana,mas."
"Waahh,pemandangan dari sini bagus ya mas. Foto lagi,mas."
"Hmmm."
"Mas,masa foto mas dikit banget sih. Minta tolong orang lain lagi ya."
"Semua orang sibuk berfoto,Din." Jawab Seno.
"Hmm,maunya foto berdua sama mas." Ucap Dinda manja.
Seno hanya menggelengkan kepalanya menghadapi tingkah manja Dinda.
"Duduk di sana yuk mas. Aku capek."
"Hmm,bisa capek juga ya."
__ADS_1
"Iiihh,ya bisa lah." Mereka lalu duduk di taman yang berada di sisi jalan.
"Mas,aku mau lihat semua fotoya."
"Nih." Seno memberikan handphonenya pada Dinda.
"Waahh,yang ini bagus ya mas." Tunjuk Dinda pada foto mereka berdua yang terlihat mesra.
Setelah beristirahat hampir setengah jam.
"Aku laper,mas." Ucap Dinda.
"Mau cari makan siang di mana?" Tanya Seno.
"Di dekat sini saja ya mas. Tapi aku belum pernah makan di daerah sini sih."
"Tidak apa-apa,kita cari yang cocok di lidah saja." Ucap Seno.
Mereka lalu berjalan sekitar sepuluh menit ada restoran seafood.
"Kita makan seafood saja ya mas?"
Seno mengangguk. Mereka lalu masuk ke dalam restoran tersebut dan segera memesan makanan. Sepuluh menit,makanan mereka datang.
"Gimana rasanya,mas?"
"Lumayan,tapi mas kangen makanan di kafe depan perusahaan mas Rey." Jawab Seno.
"Hmm,tiap hari makan siang di sana?"
"Sesekali di kantin kalau tidak banyak waktu."
"Oohh."
Setelah selesai makan dan membayar,mereka keluar dari restoran.
"Mau kemana lagi? Pulang ke hotel ya?" Tanya Seno.
"Mas,kita ke pusat oleh-oleh dulu,yuk." Ajak Dinda.
Mereka lalu pergi ke pusat oleh-oleh. Dinda begitu antusias memilih barang apa saja yang ingin dia beli.
"Din,apa tidak terlalu banyak. Repot bawanya." Ucap Seno.
"Hhh,ya sudah terserah kamu saja." Ucap Seno.
Setelah Dinda memborong banyak oleh-oleh,mereka lalu kembali pulang ke hotel dengan taxi.
Sampai di kamar hotel sudah pukul satu siang.
"Mau langsung mandi?" Tanya Seno.
"Mas duluan deh." Jawab Dinda yang sibuk membongkar barang belanjaannya.
"Kok di bongkar lagi?"
"Hhmm,aku mau cek saja,mas."
"Nanti susah loh ngepacknya lagi."
"Lihat atasnya saja." Ucap Dinda.
Seno menggelengkan kepala lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Sepuluh menit dia keluar lalu sholat.
Lima menit. "Din,belum sholat kan. Hampir habis nih."
Dinda menoleh. "Iya mas." Dinda segera masuk ke dalam kamar mandi.
Seno berbaring di tempat tidur,baru lima menit dia sudah tertidur nyenyak.
Lima belas menit Dinda keluar dari kamar mandi.
"Mas sudah tidur. Kecapekan mungkin aku ajak muter-muter." Gumam Dinda sambil tersenyum. Dia kemudian sholat lalu ikut berbaring di tempat tidur.
"Hhhh,enaknya rebahan." Gumamnya.
Dua jam kemudian.
Seno meregangkan otot-ototnya lalu menoleh ke samping. Hhh,si anak mami tidur juga rupanya. Eehh jam berapa sekarang ya. Batin Seno.
Dia lalu mengambil jam tangannya yang dia letakkan di atas nakas. Matanya membulat. Jam tiga dan pesawat berangkat jam lima.
"Din,bangun." Seno mengusap-usap pipi Dinda.
__ADS_1
Dinda mengerjap-ngerjapkan matanya. "Mas?"
"Sudah jam tiga,ayo bangun! Nanti kita di tinggal pesawat." Titah Seno.
Dinda reflek duduk. "Jam tiga mas? Duuhh,kok aku bisa ketiduran sih." Dinda kesal sendiri.
"Sudah tidak usah kesal,mau mandi duluan apa mas dulu?"
"Mas dulu deh. Aku mau beresin pakaian kita yang belum masuk koper." Jawab Dinda.
"Ya sudah. Nanti mas bantu." Seno segera ke kamar mandi.
Sepuluh menit dia keluar lalu sholat.
Lima menit. "Kamu mandi dulu biar mas yang lanjutin!"
"Iya mas." Dinda segera ke kamar mandi.
Setengah jam,mereka sudah di dalam taxi menuju bandara. "Apa masih sempat ya mas?"
"Insya allah sempat." Jawab Seno menenangkan Dinda. Beruntungnya dari hotel menuju bandara hanya memakan waktu setengah jam lebih.
Pukul empat lebih mereka tiba di bandara. Setelah selesai semua urusan di loket,mereka segera menunggu di ruang tunggu.
"Alhamdulillah sempat kan." Ucap Seno.
"Iya mas." Ucap Dinda.
Hanya menunggu sepuluh menit,pesawat mereka terbang kembali ke tanah air.
"Mas,tidak terasa ya empat hari di Singapura." Ucap Dinda.
"Hmm,kamu masih belum mau pulang?"
"Heheee."
"Nanti di rumah lanjut lagi." Goda Seno.
"Iiihh,aku bukan mikir ke situ kok." Ucap Dinda malu.
"Iya juga tidak apa-apa kok."
"Iihh dasar."
Beberapa saat kemudian,pesawat sudah tiba di tanah air.
"Alhamdulillah sampai juga." Ucap Seno.
"Hmm,yuk mas." Ajak Dinda.
"Ke rumah kamu ya?"
"Iya. Memang kenapa,mas?"
"Tidak apa-apa,mas hanya tanya."
Handphone Dinda berdering. Ternyata maminya mengabari kalau sudah ada sopir rumah yang menjemput mereka di bandara.
Setelah menunggu sepuluh menit,sopirnya datang.
Memakan waktu hampir satu jam,mereka sampai juga di rumah Dinda.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca.
.
.
.
.
.
0408/2020
__ADS_1