
Dua minggu sejak Siti habis rawat,nafsu makannya meningkat. Tentu saja seisi rumah jadi bahagia. Wajah dan tubuhnya kelihatan makin segar dan bugar. Wajahnya pun ceria.
Kadang suaminya jadi kerepotan setiap kali dia mengidam sesuatu saat tengah malam atau saat Rey sedang sibuknya bekerja. Jika sudah menginginkan sesuatu harus cepat jika tidak,dia akan ngambek dan Rey tentu saja akan pusing di buatnya. Istrinya itu akan mendiamkannya beberapa hari walau Rey sudah merayunya.
"Yank,kamu makan lagi?" Tanya Rey dengan wajah kaget. Sampai sore ini sudah lebih empat kali dia lihat istrinya itu makan. Makan dalam porsi yang tak biasa.
Siti menoleh dengan mulut yang penuh makanan. "Lapar." Jawabnya singkat lalu kembali mengunyah dengan lahab makanannya.
Rey menarik kursi lalu duduk di samping istrinya. "Hmm,pelan-pelan makannya yank!" Ucap Rey sambil mengusap makanan yang menempel di pinggir bibir istrinya.
Siti menutup mulutnya karena bersendawa. "Hehee,enak banget mas. Mas mau makan juga,aku suapin ya?"
Sudah bersendawa masih lanjut juga makannya. Batin Rey. "Hmm,mas tidak lapar yank. Nanti malam saja mas makan."
"Yasudah. Mama bilang aku di suruh sering-sering makan,mas. Tapi memang aku sekarang laper terus kok mas. Pas makanannya juga lezat.
Mama memang sengaja masakin yang lezat-lezat untuk kamu. Batin Rey.
Siti menenggak airnya lalu mengelap mulutnya dengan tissu. "Hooaamm! Ngantuk banget sekarang."
Rey hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Hmm."
Siti berdiri lalu hendak meninggalkan meja makan. "Ke kamar dulu yuk mas,ngantuk!" Ajaknya,tanpa menunggu jawaban dari suaminya,Siti berlalu begitu saja.
"Yank." Panggil Rey. Rey segera menyusul istrinya yang masih menaikin anak tangga.
Sampai di kamar,Siti langsung duduk di sisi kasur. Rey lalu duduk di samping istrinya. Merangkul bahunya lalu hendak mendekatkan wajah mereka tapi tiba-tiba Siti berdiri.
"Aku mau mandi,mas. Gerah abis makan." Ucapnya lalu berjalan meninggalkan suaminya yang hanya bisa menatapnya dengan wajah kesal.
Rey lalu segera menyusul istrinya itu ke kamar mandi.
"Iih mas,kok ikut masuk sih? Gantian mandinya." Ucap Siti ketus.
"Di sini juga tidak masalah." Bisik Rey. Dia mulai menggoda istrinya lagi.
Siti hendak menolak. "Mas,males ah."
"Yank,sudah lebih satu minggu kan." Ucap Rey dengan nada memohon.
"Hmm,aku sedang males nih." Siti masih menolak. Bau mas tidak enak. Ucap Siti dalam hati.
Karena suaminya terus menggoda,Siti akhirnya menyerah juga.
Kamu kok beda sih yank. Batin Rey. Tapi dia tidak terlalu mempedulikannya yang penting keinginannya terpenuhi.
Setengah jam lebih,Rey keluar dari kamar mandi,tak lama Siti pun keluar. "Mas nyebelin deh!" Gerutunya pelan.
"Jamaah yuk yank!" Ajak Rey. Siti pun mengangguk.
Setelah sholat bareng,mereka sama-sama turun ke bawah. Dari kamar sudah terdengar suara tangisan Putri.
__ADS_1
"Putri kenapa,ma?" Tanya Rey lalu mengambil alih menggendong Putri dari mamanya.
"Baru bangun,mungkin lapar." Jawab mama. "Siti masih keluar kan ASInya?"
"Masih ma." Jawab Siti.
"Ya masih ma,kan makannya sudah banyak sekarang." Rey ikut menimpali lalu memberikan Putri pada istrinya. Siti lalu membawa Putri duduk di teras di ikuti oleh Rey yang duduk di sebelahnya. "Dia lapar banget yank." Ucap Rey.
***
Sudah hampir satu bulan berlalu. Usia Putri sudah memasuki bulan ke lima dan sudah mulai pandai tengkurap.
Dan kehamilan Siti memasuki minggu ke empat belas dan itu artinya awal trimester kedua. Perutnya justru sudah terlihat seperti usia dua puluh minggu. Itu karena Siti setiap hari kegiatannya hanya makan dan tidur saja selain memberikan ASI untuk Putri. Memberi susu formula tambahan dan menjaga Putri ada mama yang di bantu sama bibi.
"Siti,dua minggu lagi kandungan kamu kan empat bulan. Kita adakan acara empat bulanan ya." Ucap mama.
Siti menoleh ke arah suaminya. "Hmm,ma. Rey pikir tidak perlu deh. Kita santuni anak yatim saja."
"Loh kenapa?"
"Kan sama saja ma,minta tolong di doain anak yatim malah lebih bagus." Terang Rey.
"Hmm,yasudah terserah kamu saja." Ucap mama. Mama hanya ingin bersikap adil pada cucu-cucunya.
***
Satu minggu berlalu. Kini Siti sedang bersiap untuk kontrol kandungan di klinik dokter Layli di antar oleh Rey.
"Iya ma. Kita pergi dulu ya!" Pamit Rey.
"Ma,titip Putri ya. Kita pergi sekarang." Siti pun pamit setelah mencium Putri.
Rey membukakan pintu mobil untuk istrinya. "Pelan-pelan saja,yank."
"Hmm,perutku agak sesak mas." Keluh Siti.
"Nanti kita tanyakan sama dokter Layli ya."Ucap Rey sambil mengusap lembut perut istrinya. Perutmu seperti sudah masuk lima bulan saja yank. Batin Rey.
Setengah jam kemudian mobil Rey memasuki area parkir klinik. Setelah menunggu hampir setengah jam,nama Siti pun di panggil.
"Pagi,dokter." Sapa Siti dan Rey.
"Pagi juga. Silahkan duduk." Titah dokter Layli.
Siti dan Rey lalu duduk di kursi yang ada di depan dokter Layli. "Bagaimana mbak Siti?"
"Alhamdulillah baik,dok. Sekarang makin kuat makannya." Jawab Siti.
"Ayo kita lihat dulu janinnya." Titah dokter Layli. Siti lalu berbaring di kasur. "Bayinya lumayan besar untuk usia yang belum genap empat bulan." Terang dokter.
"Hmm,Siti makannya sudah banyak dok. Sehari bisa enam kali dan porsinya pun banyak."
__ADS_1
Dokter Layli mengernyitkan dahinya. "Sekarang makannya sedikit di kurangi ya mbak Siti. Takutnya janinnya besar di dalam perut."
"Loh bukannya bagus,dok?" Tanya Rey heran.
"Tapi kalau terlalu besar juga tidak bagus. Mengingat rahim mbak Siti yang habis operasi,Rey."
"Oohh iya dok."
"Jadi makannya di kurangi ya mbak,porsinya."
"Hmm,baiklah dokter." Jawab Siti. Padahal sekarang perut rasanya lapar terus. Batin Siti.
"Ini saya buatkan resep vitamin dan penguat kandungan ya." Ucapnya yang segera menuliskan resep lalu di berikan pada Rey. Rey pun menerima resapnya.
"Kalau begitu,kita pulang dulu dokter." Pamit Rey dan Siti.
"Iya,hati-hati di jalan." Jawab dokter Layli.
Mereka lalu menebus obat di apotek. Setelahnya kembali ke parkiran. Rey membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Yank,kamu dengar kan apa kata dokter Layli tadi?"
"Hmm,iya mas."
"Sekarang kita beli susu hamil untuk kamu dan juga susu formula untuk Putri dulu ya. Kamu ada yang mau di beli?"
"Hmm,aku kepingin makan brownis,mas."
"Ya sudah kita beli brownis. Mama juga titip buah." Ucap Rey.
Mereka lalu mampir ke swalayan yang menjual susu dan juga buah agar tidak bolak balik. Setelah mendapat apa yang mereka cari,mereka langsung pulang.
"Mana brownisnya mas?" Tanya Siti.
"Kenapa yank,ada di kursi belakang." Jawab Rey.
"Aku lapar."
"Loh sebelum ke klinik kan kamu sudah makan?"
"Laper lagi,mas." Ucap Siti. "Dikit saja ya mas." Ucapnya lagi dengan nada memohon.
Rey menghela nafasnya. Masa istri lapar di larang makan sih. Batinnya. Di mengambil brownis yang tadi di beli lalu di berikan pada istrinya.
Dengan wajah berbinar,Siti memakan brownisnya dengan lahab. "Enak banget,mas." Ucapnya riang.
Kamu sekarang apa saja di bilang enak kok yank. Batin Rey. Dia mulai khawatir dengan ucapan dokter Layli tadi.
NEXT
19062355
__ADS_1