Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 82 ( S2 )


__ADS_3

Pagi ini Dinda baru selesai mandi. Mama muda itu mulai terlihat segar. Dia sedang duduk di depan cermin kaca,menyisir rambut panjangnya yang basah.


Seno mendekat lalu memeluknya dari belakang. "Kamu makin cantik,sayang!" Pujinya seraya mengecup pipi Dinda dari samping.


"Hmm,mas bisa saja." Dinda tersenyum malu.


"Memang istriku makin cantik kok!"


Dinda membalik badannya hingga mereka saling berhadapan. "Badanku lebih gendut ya mas. Jelek."


"Kata siapa? Bukan gendut tapi lebih berisi. Lebih seksi." Seno lagi-lagi memberi pujian untuk istrinya itu.


"Iiihh,mas bisa saja."


"Loh bener kok. Dan yang pasti makin cantik dan makin menggoda!" Puji Seno lagi sambil menatap Dinda dengan tatapan penuh arti.


"Hmmm,mas." Wajah Dinda makin bersemu merah.


Seno lalu memegang bahu Dinda,memintanya untuk berdiri. Setelah mereka sama-sama berdiri,Seno mendekatkan wajah mereka berdua. Dinda memejamkan matanya lalu Seno menarik tengkuk Dinda agar lebih dekat. Seno mulai menyatukan bibir mereka berdua. Sedetik dua detik. . . Dari ciuman biasa menjadi lebih menghanyutkan seakan mereka sudah lama memendam rindu.


"Hmm,mas. . ." Dinda menjauhkan wajahnya. Seno mengusap bibir Dinda yang basah.


"Oh iya kita kapan pulang,yank?"


"Kita tetap di sini sampai Syafira boleh pulang ya mas? Aku tidak mau jauh dari dia. Lagipula ini kan ruang pribadi mami bukan ruang ranap biasa."


"Iya sayang,mas nurut saja sama kamu! Di mana ada istri dan anak mas,di situ juga mas ada."


"Terimakasih ya mas. Aku bahagia punya suami seperti mas Seno yang pengertian."


"Mas juga bahagia punya istri kamu,yank. Wanita lembut dan penyayang. Dan mas paling suka manjanya kamu!" Ucap Seno seraya memeluk Dinda. Dinda pun membalas pelukan Seno.


"Oh iya mas,sudah ada kabar belum siapa yang nabrak mobil kita?" Tanya Dinda.


"Mas Rey nelpon,dia bilang sudah tau dan polisi sedang mengejarnya. Dan yang bikin semua keluarga kaget,ternyata orang itu juga yang sudah menculik Cinta. Entah apa motifnya."


"Apa mas,Cinta di culik? Astagfirullah. Kasihan banget dia,mas!" Dinda menatap Seno sedih.


"Iya,kasihan Cinta. Sekarang dia masih demam dan takut keluar rumah."


"Dia pasti trauma,mas. Belum kejadian wakti itu. Semoga mentalnya kuat."


"Iya yank." Sahut Seno. Cinta sekarang makin menjauh sejak aku nikah. Sudah seperti orang lain. Batin Seno.


"Mas? Kok melamun?"


"Tidak kok. Kamu sudah siap? Yuk kita jenguk Syafira." Ajak Seno.


"Hmm,iya mas."


Dengan memakai kursi roda,Dinda dan Seno ke ruang NICU untuk menjenguk bayi mereka.


Sampai di ruang NICU,mereka segera masuk.


"Hmm,putriku lucunya. . ."


"Cantik seperti mamanya." Puji Seno membuat hati Dinda berbunga.


"Tidak sabar ya mas,bawa dia pulang."


"Iya yank. Semoga Syafira makin sehat dan kuat."


"Aamiin."


Ceklek. Pintu ruang NICU terbuka.


"Kalian di sini? Mami tadi dari ruangan kamu tapi terkunci,mami pikir kalian masih tidur."


"Mi,aku tidak sabar bawa Syafira pulang."


"Iya mami juga. Tapi sabar,tunggu dia benar-benar kuat. Kasihan kalau di paksakan!" Sahut mami Dinda seraya mengecek kondisi cucunya.

__ADS_1


"Hmm,iya mi."


"Kamu sebenernya sudah bisa pulang,Din. Tidur di lantai bawah saja dulu."


"Hmm,aku mau pulang bareng Syafira mi. Biar aku bisa nengok dia kapan saja. Kalau aku pulang kan repot mau bolak balik."


"Hmm,ya terserah kamu saja. Mami pikir kamu sudah ingin pulang."


"Iya memang sudah ingin pulang tapi kalau tanpa Syafira rasanya berat,mi!"


"Bagaimana rasanya jadi ibu,hmm?"


"Bahagia sih,mi. Seperti mimpi. Tapi juga sedih lihat Syafira begini. Banyak selang di tubuhnya."


"Iya,ini ujian. Semoga ada hikmahnya. Kalian sudah sarapan?"


"Sudah mi,tadi pagi mas Seno beli di luar."


"Hmm,mami tinggal ya. Seno." Pamit dokter Layli.


"Iya mi." Mami Dinda lalu keluar dari ruang NICU sementara Seno dan Dinda masih lama di sana.


***


Cinta baru saja keluar dari kamar mandi,setelah demamnya turun. Di meja sudah tersedia sarapannya beserta segelas susu hangat. Cinta langsung menenggak susunya hingga tinggal setengah.


"Hmm,kepalaku masih sedikit pusing." Keluhnya pada diri sendiri.


Tiba-tiba handphonenya berbunyi. Aaron. Cinta menyunggingkan senyumnya.


"Hallo. . ." Cinta.


"Sedang apa Cintaku?" Aaron.


"Cinta baru selesai mandi." Cinta.


"Hmm,pantes harumnya sampai sini." Aaron.


"Bagaimana keadaan kamu,hmm?" Aaron.


"Cinta sudah enakan kok. Hanya masih sedikit pusing." Cinta.


"Hmm,pusing karena kangen sama aku mungkin." Aaron.


"Iihh siapa juga yang kangen sama kamu!" Cinta.


"Ya Cintaku lah! Aku juga kangen kok." Aaron.


"Hmm,gombal deh." Cinta.


"Cin,boleh aku main ke rumah kamu?" Aaron.


"Cinta tanya bunda sama ayah dulu ya." Cinta.


"Hmm,iya deh. Semoga saja boleh. Kalau tidak boleh ya terpaksa kangen ini terpendam lagi." Aaron.


"Iiihh. Kamu tidak kuliah?" Cinta.


"Kuliah sebentar lagi. Tapi sebelum kuliah mau denger suara Cintaku dulu biar kuliah makin semangat." Aaron.


"Hmm." Cinta.


"Oh iya,Cintaku sudah sarapan belum?" Aaron.


"Belum. Baru mau sarapan. Kalau kamu?" Cinta.


"Aku sudah sarapan. Ya sudah kamu sarapan dulu,yang banyak ya!" Aaron.


"Hmm,iya." Cinta.


"Bye Cintaku." Aaron.

__ADS_1


"Bye. . ." Cinta.


Cinta lalu memutuskan sambungan telponnya. Dia tersenyum-senyum sendiri sambil. "Aaron. Cinta juga kangen." Gumamnya.


Cinta lalu memakan sarapannya.


***


Tok tok Rey sedang sibuk di kantornya saat ada yang mengetuk pintu.


"Masuk!" Titahnya.


"Mas Rey."


"Toni?"


"Maaf mas,aku baru sempat ke desa anak ini semalam dan tadi pagi aku baru sampai lagi.(


"Bagaimana?"


"Kemarin sore saya ke rumahnya yang di sini. Ternyata itu bukan alamat rumah orang tuanya tapi alamat kost-kostan. Dia hanya kost di sini. Dan sejak beberapa bulan ini sudah tidak lagi kost di sana. Bilangnya mau pulang lagi ke desa." Terang Toni.


"Hmm,"


"Dan semalam saya ke desanya kurang lebih tiga jam perjalanan. Di desa itu rumah keluarganya termasuk mewah di antara rumah tetangganya. Itu rumah keluarga dari ibunya. Dulu dia memang tinggal di sana sejak ibunya meninggal lima tahun lalu. Tapi sejak lulus sekolah dia pindah ke kota dan sampai sekarang masih di kota." Terang Toni lagi.


"Hmm,sampai sekarang masih di kota. Dan orang di kost-kostan bilang dia mau pulang lagi ke desa. Ada yang di sembunyikan oleh anak itu."


"Iya mas. Saya akan menyelidikinya lagi hari ini kalau sempat."


Hhh. Rey menghela nafas berat. Siapa dia sebenarnya. Dan ada motif apa dia mendekati Cinta. Mungkinkah dia hanya berpura-pura saja menyukai Cinta. Hhh,putriku. . . Batin Rey.


"Mas,Rey?"


"Oohh,iya."


"Saya permisi dulu,mas!" Pamit Toni.


"Baiklah,terimakasih Ton."


"Sama-sama mas."


"Aku akan bawa Cinta pergi dari kota ini sebelum terjadi apa-apa!" Gumamnya.


.


.


.


.


.


NEXT


Selamat membaca,semoga suka ya. Maaf kalau masih ada typo. Terimakasih.


.


.


.


.


.


.


1700

__ADS_1


__ADS_2