
Pukul sembilan pagi. Dokter kandungan baru saja keluar dari kamar ranap Ratna. Ratna pun segera membereskan barang-barangnya. Dia akan langsung pulang ke desa tanpa pulang lebih dahulu ke rumah Romi.
"Non Ratna,apa sudah benar-benar kuat melakukan perjalanan jauh?" Tanya bibi khawatir.
"In sya Allah bi. Doain aku ya,bi."
"Hhmm,non tidak lama kan ke desanya? Kasihan den Romi kalau di tinggal lama."
Ratna hanya tersenyum. Hhmm,mungkin bang Romi malah seneng aku tidak ada,bi. Batin Ratna.
Tok tok.
"Bibi bukain pintu dulu." Bibi lalu berjalan ke arah pintu.
Ceklek. "Den Aaron."
"Bi,mana kak Ratna?"
"Ada,sedang bersiap-siap." Jawab Bibi.
Aaron lalu masuk ke ruangan ranap Ratna. Dahinya berkerut. "Kok sudah siap-siap,kak?"
"Aaron. Iya,kakak sudah boleh pulang hari ini. Tadi dokter sudah bilang." Terang Ratna.
"Hhhmm,pulang ke rumah dulu ya kak?" Bujuk Aaron.
Hhh,Ratna menarik nafasnya berat. Dia ingin. Rasanya dia ingin pulang ke rumah suaminya tapi egonya melarang. "Kakak langsung saja pulang ke desa,biar tidak bolak balik." Ratna memberikan alasan.
"Hhh,kak. Maafin bang Romi ya." Ucap Aarob lirih.
Ratna tersenyum. "Tidak ada yang perlu di maafkan,Aaron. Kakak mengerti kok keadaan bang Romi. Tidak masalah." Sahut Ratna lirih.
"Hhmm. Kakak sudah sarapan?"
"Sudah,tadi bibi beli nasi di kantin."
Ratna mendekati Aaron lalu menyerahkan kartu ATM yang Aaron berikan hari sebelumnya. "Kamu simpan saja,ya. Kakak takut nanti hilang kalau kakak bawa ke desa. Lagipula di desa tidak ada mesin ATM. Desa kakak di pelosok."
"Tidak,kak. Kakak bawa saja." Tolak Aaron.
"Toh kakak tidak bisa memakainya. Kakak takut nanti hilang. Tolong kamu simpankan saja." Pinta Ratna lagi.
"Hhhmm,kalau kakak butuh uang bagaimana?"
Ratna tersenyum." Kakak ada simpanan,kok." Jawab Ratna berbohong padahal uang di dompetnya tidak sampai satu juta.
Aaron lalu mengambil ATMnya lalu menyimpannya ke dalam dompet.
Mereka lalu keluar dari kamar ranap Ratna. Sampai di luar,bibi di pinta Aaron pulang menggunakan taxi. Aaron dan Ratna segera naik ke mobil.
"Apa kamu tidak ada kesibukan? Desa kakak jauh loh."
Aaron menggelengkan kepalanya. "Hhmm,kak. Aku tinggal sebentar ya." Pamit Aaron.
"Kamu mau kemana?"
__ADS_1
"Ada yang ketinggalan." Aaron bergegas turun dari mobil.
Tak sampai lima menit Aaron sudah kembali. Lalu mengeluarkan amplop coklat dari saku celananya lalu menyodorkan ke Ratna. "Kakak ambil ini." Titah Aaron.
Ratba mengernyitkan dahinya. "Apa ini,Aaron?"
"Ambil,kak! Kita berangkat sekarang!" Aaron menyimpan amplop itu ke tangan Ratna lalu segera menyalakan mesin mobil.
"Kakak masih punya uang,kok. Kakak kan pernah kerja sama keluarga Cinta." Tolak Ratna.
"Beda,kak. Ini dari suami kakak! Kakak tidak boleh menolak!" Tegas Aaron.
"Hhh,ya sudah kakak terima. Terimakasih,ya." Ucap Ratna lirih lalu memasukkan amplopnya ke dalam tas.
Mereka lalu diam sepanjang perjalanan.
***
Selama hampir tiga jam,akhirnya mereka sampai di kota kecil perbatasan dengan desa Ratna. "Itu ada ATM,kak!" Tunjuk Aaron ke sebuah minimarket yang ada ATMnya.
"Rumah kakak masih jauh,hampir satu jam lagi dari sini dengan mengendarai sepeda motor." Terang Ratna.
"Hhmm."
Beberapa saat kemudian,mereka tiba di depan rumah Ratna. Rumah yang sangat sederhana dengan pagar kecil yang terbuat dari bambu. Aaron terdiam menatap rumah Ratna.
"Kamu tidak mampir dulu ke rumah kakak?" Tanya Ratna saat menyadari Aaron seperti tidak berniat turun dari mobil.
"Eh iya,aku mampir kok."Jawab Aaron yang segera mematikan mesin mobil lalu menyusul Ratna.
Ceklek. Pintu rumah Ratna terbuka. Ayahnya Ratna berdiri di depan pintu. "Wa'alaikumsalam. Ratna?" Wajahnya terlihat kaget.
"Ayah,apa kabar?" Ratna lalu mencium punggung tangan ayahnya.
"Alhamdulillah kita semua di sini baik-baik saja. Kenapa kamu pulang,nak?" Tanya ayah Ratna heran lalu melirik ke arah Aaron.
Aaron tersenyum lalu mencium punggung tangan dari mertua abangnya itu.
Ayah Ratna mengernyitkan dahinya. "Kamu,bukan suaminya Ratna kan?"
"Saya adiknya,pak. Kan abang saya di kursi roda." Terang Aaron.
"Oohh,iya. Pantas mirip. Ayo silahkan masuk." Ajaknya kemudian. Ada apa ya Ratna di antar pulang oleh adik suaminya. Batin ayahnya Ratna.
"Terimakasih,pak."
Mereka lalu masuk ke dalam rumah. Tak lama kemudian ibunya Ratna keluar dari kamarnya. "Ratna? Kamu kenapa,nak? Semalam ibu mimpiin kamu manggil-manggil ibu terus."
Ratna langsung memeluk orang yang telah melahirkannya itu. "Aku kangen,bu." Matanya mulai berkaca-kaca.
"Ibu juga kangen banget sama kamu,nak. Beberapa hari ini ibu selalu kepikiran sama kamu. Kamu baik-baik saja,kan?" Tanya ibunya Ratna khawatir.
"Aku baik kok,bu." Jawab Ratna lalu melepaskan pelukan ibunya. Mereka lalu duduk bersama ayahnya dan juga Aaron.
"Hhmm,kak Ratna. Aku pulang sekarang,ya." Pamit Aaron.
__ADS_1
"Loh,kok buru-buru?" Tanya ayahnya Ratna.
"Iya,pak. Saya ada kerjaan nanti sore." Terang Aaron.
"Hhmm,iya Aaron." Jawab Ratna.
Mereka lalu mengantarkan Ratna sampai ke depan pintu.
"Saya pulang dulu ya pak,bu,kak Ratna. Assalammu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Sahut Ratna dan ayah ibunya.
Aaron segera naik ke mobilnya.
Setelah mobil Aaron sudah menghilang di simpang jalan,Ratna dan ayah ibunya kembali masuk ke dalam rumah.
"Nak,kenapa kamu pulang tanpa suamimu? Kamu bertengkar dengannya?" Tanya ayah curiga.
"Hhmm,kita tidak sedang bertengkar kok,yah. Suamiku kan kerja. Dia juga pakai kurai roda jadi tidak bisa mengantarku pulang. Kalau adiknya tadi sedang tidak ada pekerjaan." Jawab Ratna berbohong.
"Tapi keluarga suami kamu baik kan,nak? Yah,mereka kan orang berada tidak seperti kita."
"Mereka baik,yah. Buktinya adiknya mau jauh-jauh antar Ratna kan."
Ayahpun menganggukkan kepalanya.
"Tapi suami kamu sayang kan,sama kamu? Sama anak yang sedang kamu kandung?" Tanya ibu seraya mengusap-usap perut Ratna.
Wajah Ratna memerah. "Hhmm,Ratna. Ratna baru saja keguguran,bu."
"Innalillahi wa'inailaihi rojiun." Ucap ayah dan ibu Ratna hampir berbarengan.
Ibu Ratna langsung memeluk anak perempuannya itu seraya mengusap-usap punggungnya. "Kamu yang sabar ya,nak." Ratna mengangguk seraya mengusap pipinya yang mulai basah.
"Hhmm,suami kamu bagaimana tau kamu keguguran?" Tanya ayah.
Deg. Aku harus jawab apa sama ayah. Aku harus bohong lagi. "Suamiku tentu saja sedih,yah."
"Hhmm,semoga kalian segera di berikan momongan lagi. Anak itu bisa sebagai penguat ikatan antara suami dan istri."
Aku tidak tau,yah. Bang Romi pun dingin padaku,bagaimana bisa aku hamil lagi. Atau malah nanti dia akan menceraikan aku. Aku harus siap kapanpun dia akan menceraikanku. . . .
.
.
.
.
.
.
13
__ADS_1