
Pagi-pagi sekali Rey sudah siap hendak pergi ke rumah Aaron.
"Mas,sarapan nasi gorang saja ya? Sudah aku siapin." Ucap Siti.
"Terimakasih sayang. Kamu sudah tidak mual lagi kan?" Tanya Rey seraya memeluk istrinya dari belakang.
"Sudah berkurang mualnya,mas."
"Alhamdulillah,yank. Mas turun dulu ya mau sarapan. Nanti anak-anak biar papa yang antar ke sekolahnya."
"Hmm,iya mas. Aku mandiin Putra dulu ya. Mas tidak apa-apa kan sarapan sendirian?"
"Iya sayang,tidak apa-apa kok. Cup." Rey mencium dahi Siti sebelum turun ke bawah.
Di bawah ada papanya Rey sedang membaca koran di ruang keluarga.
"Pa,Rey minta tolong nanti anak-anak di antar ke sekolahnya ya. Rey mau ke rumah Aaron pagi ini." Pinta Rey sama papanya.
"Iya Rey. Kasihan anak itu kalau keluarganya tidak ada yang datang membantu."
"Iya pa,Rey juga merasa bersalah."
"Tapi semua sudah takdirnya,Rey. Kamu jangan merasa bersalah terus. Yang perlu kamu lakukan sekarang hanyalah memberikan dukungan untuk anak itu."
"Iya,pa. Sebisa mungkin Rey akan bantu dia."
"Hhmm,kok papa mikir kalau Cinta pacaran sama anak itu ya?"
"Cinta bilangnya hanya berteman,pa. Mungkin mereka saling suka,tapi Rey sudah bilang kalau Cinta tidak boleh pacaran dulu."
"Tapi tetap harus kamu awasin Rey. Papa tidak mau Cinta salah jalan. Kamu paham kan maksud papa?" Ucap papa Rey dengan penekanan.
"Hhh,iya pa. Rey tau!" Jawab Rey. Memang sejak kejadian Rey saat masih sekolah dulu,Rey dan orang tuanya jadi begitu posesif terhadap Cinta dan juga adik-adiknya.
"Hhhm,ya sudah. Kamu sarapan dulu,tadi istri kamu sudah masak nasi goreng." Titah papa Rey.
"Iya pa." Rey lalu pergi ke ruang makan untuk sarapan nasi goreng yang sudah di siapkan oleh Siti.
Sepuluh menit,Rey sudah menghabiskan sarapannya.
"Pa,Rey pergi dulu ya." Pamit Rey sama papanya yang masih asik membaca koran.
"Hmm. Ya sudah pergilah ke rumahnya. Hati-hati di jalan!"
"Hhmm,iya pa. Assalammualaikum."
Rey naik ke mobilnya dan langsung menyalakan mesin mobil. Dia melajukan mobilnya ke arah rumah Aaron.
Pukul tujuh,Rey sudah sampai di rumah Aaron. Di rumahnya sudah terlihat beberapa orang yang sedang mempersiapkan keperluan untuk pemakaman. Ada beberapa mobil yang sudah terparkir. Mungkin keluarga Aaron dari luar kota sudah datang. Batin Rey.
"Bapak,ayo silahkan masuk." Ajak satpam rumah yang sudah mengenali Rey.
"Terimakasih,pak. Sudah banyak keluarga yang datang?" Tanya Rey penasaran.
"Iya,pak. Tadi subuh,papinya den Aaron baru datang sama keluarga dari luar kota juga."
"Alhamdulillah,jadi Aaron ada yang menemani." Ucap Rey.
"Iya,pak."
"Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Rey.
"Ooh,saya panggilkan den Aaron saja ya pak. Masalah persiapan pemakaman sudah di bantu oleh warga dan pak RT." Jawab pak satpam.
"Alhamdulillah. . ." Ucap Rey.
Rey lalu duduk di dalam bersama beberapa orang yang baru saja datang. Rey sambil memperhatikan orang-orang yang sedang membantu di rumah Aaron.
Tak lama kemudian Aaron datang. "Pak,Rey? Sudah lama datang? Maaf tadi saya sedang di kamar." Aaron mencium punggung tangan Aaron.
"Iya tidak apa-apa. Kalau kamu sibuk,lanjutkan saja. Saya tunggu di sini."
__ADS_1
"Saya tidak sibuk,kok. Alhamdulillah ada warga yang mau membantu dan juga keluarga mulai berdatangan."
"Alhamdulillah. Papi kamu sudah datang juga kan?"
"Iya sudah tadi subuh,pak. Sebentar lagi oma akan di mandikan." Terang Aaron.
"Oh iya mau di makamkan di mana?"
"Di pemakaman keluarga tidak jauh dari sini." Jawab Aaron.
"Ooh,di sana." Rey mengangguk-anggukan kepalanya.
Tak lama kemudian Cinta dan ayahnya datang. Cinta tampil lebih anggun dan dewasa dengan mengenakan hijab. Aaron sampai terpana melihatnya.
"Sayang,kamu benaran bolos hari ini?" Tanya Rey.
"Iya,katanya mau ikut melayat." Fadil yang menjawab. Cinta hanya tersenyum malu sambil sesekali melirik Aaron yang terus menatapnya lekat-lekat.
"Aaron." Sapa Fadil. "Saya turut berduka,ya."
"Terimakasih,pak." Sahut Aaron seraya mencium punggung tangan Fadil.
"Aaron." Tiba-tiba ada yang memanggil Aaron. Semua menoleh ke sumber suara. Laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun menatap bergantian ke arah mereka.
"Iya,om. Oh iya, kenalin ini pak Rey,pak Fadil dan putrinya Cinta." Ucap Aaron.
"Saya Adit,adiknya papi Aaron." Ucap omnya Aaron. Mereka pun saling berjabat tangan.
"Ada apa,om?" Tanya Aaron.
"Oh iya,kamu di panggil papi kamu."
"Oh,baiklah om. Pak Rey,pak Fadil,saya tinggal sebentar ya. Cinta. . ." Pamit Aaron.
Sepeninggal Aaron,mereka keluar rumah. Duduk-duduk di teras bersama beberapa orang lainnya. Ada beberapa tamu juga yang baru datang.
Satu jam kemudian,jenazah oma sudah siap untuk di makamkan. Cinta hendak masuk ke dalam rumah mencari Aaron untuk mengatakan kalau dia bersama ayah dan papanya akan berangkat lebih dulu ke pemakaman.
Aaron yang juga melihat ke arahnya buru-buru melepaskan pelukan gadis itu. Lalu hendak menyusul Cinta tapi tangannya di tarik oleh gadis itu.
"Papa,ayah,ayo katanya kita mau berangkat duluan ke pemakaman.." Ajak Cinta.
"Kamu sudah pamit sama Aaron?"
Cinta mengangguk ragu "Ehhmm,sudah kok pa. " Ucapnya berbohong.
Cinta buru-buru ke mobilnya di ikuti Rey dan Fadil dari belakang.
Ternyata Aaron juga menyusulnya di belakang
"Kok sudah mau pulang?" Tanya Aaron heran.
"Loh,bukannya Cinta sudah berpamitan sama kamu?" Rey balik bertanya.
Aaron mengernyitkan dahinya. Jadi tadi Cinta mau berpamitan. Batin Aaron. " Hhh,iya."
"Kita ke pemakaman duluan ya." Pamit Rey .
"Hhmm,iya pak." Jawab Aaron seraya melihat ke arah Cinta yang tidak mau melihat ke arahnya.
Setengah jam kemudian semua proses pemakaman sudah selesai. Semua orang satu persatu meninggalkan pemakaman. Begitupun Rey,Fadil dan Cinta.
"Cinta?" Panggil Aaron.
Semua menoleh. "Ada apa,Aaron?" Tanya Rey.
"Hmm,pak. Saya boleh bicara sebentar dengan Cinta?"
Rey menoleh ke arah Cinta yang berpura-pura menoleh ke arah lain. "Cin,Aaron mau bicara sama kamu tuh."
"Hhmm,Cinta capek mau pulang pa." Tolak Cinta.
__ADS_1
"Sayang,bukannya kamu bolos sekolah demi menemani Aaron? Ayo sana bicara sebentar,kita tunggu." Titah Rey.
Cinta cemberut. Iiihh,gara-gara Aaron nih. Batinnya. "Hmm,i-iya pa."
Cinta lalu mendekati Aaron. "Ada apa?" Tanyanya ketus.
"Yang kamu lihat tadi itu sodara jauhku yang baru datang. Makanya dia peluk aku." Terang Aaron.
"Terserah kok,mau sodara apa bukan."
"Hmm,Cinta cemburu ya?"
"Iiihh,siapa juga yang cemburu?"
"Kok marah?"
"Cinta tidak marah,Cinta mau pulang."
Aaron lalu tersenyum untuk pertama kalinya sejak omanya di nyatakan sakit lalu meninggal.
"Nanti aku telpon ya? Jangan cemberut terus nanti cantiknya hilang. Kamu cantik banget pakai hijab."
Wajah Cinta seketika memerah. "Sudah belum ngomongnya,Cinta mau pulang!"
"Iya Cintaku. Hati-hati di jalan ya. Terimakasih sudah mau bolos demi aku. . ."
"Iiihh. . ." Cinta segera berlalu dari hadapan Aaron.
"Terimakasih,Cintaku. . ." Gumam Aaron seraya tersenyum menatap Cinta yang mulai berjalan menjauh.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. ππ
..
.
.
.
.
.
.
.
0000
__ADS_1