
"Ronald!" teriak Ratna dari dalam kamar mandi namun yang di panggil tidak mau menyahut bahkan suaranya sudah tidak lagi terdengar.
Ratna lalu keluar dari kamar mandi, "Kemana perginya? Belum memakai pakaiannya tapi sudah lari entah kemana."
Ceklek. Tiba-tiba ada yang membuka pintu kamarnya.
"Sayang,mana pakaiannya kenapa belum di pakaikan? Kan kasihan kedinginan," tanya Romi yang sedang menggendong bocah yang bulan depan akan merayakan ulang tahunnya yang kedua.
"Biasa,bang. Baru selesai mandi,dia sudah lari keluar. Huuuhh,aku capek mengejarnya!" keluh Ratna seraya mengusap perutnya yang mulai terlihat buncit.
"Hhmm,bang Ronald tidak boleh nakal,ya! Kasihan mami kamu capek," ucap Romi pelan ke arah bocah yang kini sedang duduk di pangkuannya.
"Bialin! Abang dak mau mandi sama mami!" celotehnya.
"Hhmm,jadi abang maunya di mandinya sama siapa?"
"Papii!" teriaknya.
"Tuh kan bang. Dia maunya di mandiin sama papinya. Aku capek. Satu jam lagi jadwal aku periksa kandungan loh. Jangan sampai telat lagi!" ucap Ratna kesal seraya mengusap dahinya.
"Pinggang kamu masih suka sakit?"
"Kadang-kadang saja,bang."
"Kita sekalian beli perlengkapan bayi,ya. Mumpung abang libur hari ini."
"Kenapa libur,bang?"
"Ada Aaron. Biarkan saja dia sekarang yang urus perusahaan,kan minggu depan dia sudah mau libur panjang.
"Dia baru libur pas hari H,bang?"
Romi menggeleng, "Dua hari sebelum hari H,dia sudah minta libur."
"Oh gitu. Tidak apa-apa,bang."
Ratna dan Romi beserta putranya segera berangkat ke dokter kandungan langganan Ratna.
"Alhamdulillah janinnya sehat. Sekarang sudah berusia dua puluh tujuh minggu," terang dokter.
"Alhamdulillah," ucap Ratna penuh syukur.
Setelah mengambil obat dan vitamin di apotek,mereka lalu pergi ke toko yang menjual perlengkapan bayi.
Ratna sibuk memilih-milih pakaian untuk bayinya yang ada di rak-rak juga yang tergantung di dinding. Sementara Romi sibuk mengawasi putranya yang sedang aktif-aktifnya lari kesana kesini. Dia terlihat kewalahan.
"Sayang,kita duduk dulu ya. Nanti tante yang di sana marah loh kalau kita lari-larian di tokonya!" ucap Romi seraya menunjuk ke arah mbak-mbak kasir. Sang putra hanya melongo sambil mengangguk pelan. Mereka lalu duduk di sofa yang ada di dalam toko sambil menunggu Ratna selesai belanja.
Tak lama kemudian Ratna menghampiri mereka dengan membawa trolly berisi semua barang belanjaannya.
"Bang,pulang yuk aku capek!" ajak Ratna yang masih mendorong trollynya.
"Biar abang yang dorong," ucap Romi lantas menganggkat putranya lalu dia dudukkan di atas barang yang ada di trolly. Putranya tertawa-tawa sambil menendang-nendangkan kakinya ke barang yang ada di depannya. Ratna dan Romi hanya menggelengkan kepala melihat tingkah putra mereka.
***
Satu minggu kemudian,Siti sedang berada di kamar putrinya Cinta. Satu jam lagi akan di laksanakan akad nikah antara putrinya Cinta dengan Aaron.
__ADS_1
"Ma,Cinta takut," keluh Cinta seraya menoleh sesaat ke arah mamanya.
"Takut kenapa,sayang? Aaron tidak akan gigit,kok," sahut Siti sambil tersenyum.
"Iiihh,mama!" Cinta cemberut. Jantungnya berdebar tidak beraturan dari semenjak dia terbangun dari tidurnya.
Dia ingat ucapan Aaron satu bulan yang lalu saat melamarnya.
Flashback
"Setelah kita menikah,aku tidak akan melarang kamu kuliah,kok. Kamu tetap bebas melakukan yang kamu mau tapi tetap dalam pengawasanku!" ucap Aaron.
"Bukan bebas itu namanya kalau selalu kamu awasin!" sahut Cinta kesal.
"Ya kan aku suami kamu. Aku harus jagain kamu!"
"Hhmm,tapi janji ya kalau kita tidak tinggal di rumah kamu! Aku tidak mau!"
"Loh,kan ada kak Ratna?"
"Pokoknya Cinta tidak mau! Kamu boleh tinggal di rumah kamu dan aku tinggal di rumah papa atau bunda!" tegasnya.
Aaron menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Memangnya ada ya suami istri yang seperti itu. Batinnya.
"Tapi,Cin?"
"Kalau kamu tidak mau ya sudah. Kita tidak jadi nikah bulan depan! Aku juga baru saja lulus sekolah masih mau main sama teman-teman aku!"
"Apa? Tidak-tidak! Pernikahan kita sudah di tetapkan tadi oleh papa kamu. Keputusannya bulan depan!"
"Loh. Aku sudah nunggu dua tahun lebih. Masa di suruh nikah sama orang lain?" protes Aaron.
"Siapa yang suruh kamu nunggu!"
"Cintaku,tolong jangan bicara seperti itu. Kamu-kamu seneng ya kalau aku nikah sama orang lain?"
"Cinta belum siap menikah,tau! Kamu yang maksa cepet-cepet!" Cinta terlihat makin kesal.
Hhh,Aaron menarik nafasnya kasar, "Aku hanya tidak ingin berlama-lama nunggu nanti kamu keburu sama orang lain." suara Aaron terdengar sedih.
"Huuhh,alasan. Pokoknya Cinta mau tinggal di rumah papa dan kamu tinggal saja di rumah kamu!"
"Mana bisa begitu,Cin! Masa sudah nikah,tinggalnya terpisah?"
"Hhmm,ya sudah kalau gitu kamu boleh tinggal di rumah papa tapi di kamar tamu!"
"Cin. . .Aku mohon mengertilah. Kamu kan sudah besar sudah tau gimana orang menikah."
"Yang pasti Cinta tetap tidak mau satu kamar sama kamu! Cinta belum mau hamil seperti kak Ratna! Titik."
Huuhh,jadi karena belum mau hamil. Aaron tersenyum-senyum sendiri.
"Apa senyum-senyum?"
"Iya-iya Cintaku! Terserah kamu saja! Yang penting bulan depan kita nikah!"
Flashback off
__ADS_1
Cinta baru saja mendengar semua orang di ruang tamu mengucapkan kata 'Syah" berbarengan. Tiba-tiba tubuhnya terasa lemas.
"Sayang,ayo turun. Suami kamu sudah nungguin di bawah," ajak Siti.
"Hhmm,ta-tapi ma?" Cinta terlihat gugup.
"Tapi kenapa,sayang? Ayo,semua orang juga sudah nungguin pengantin wanitanya."
"Cinta malu,ma."
"Kenapa malu,hhmm? Putri mama terlihat sangat cantik gini kok malu. Semua orang pasti akan terpesona melihat penampilan kamu. Apalagi suami kamu,pasti dia makin cinta deh."
"Iihh mama." wajah Cinta bersemu merah.
Dengan di gandeng oleh Siti,Cinta turun ke bawah. Bundanya sudah menunggu di ujung tangga.
Saat dia sedang menuruni anak tangga,semua mata tertuju padanya. Dia tidak berani menatap ke arah orang-orang. Pandangannya lurus ke bawah,ke anak-anak tangga yang dia lewati.
"Ayo nak,kamu duduk di sebelah suami kamu!" titah bundanya Cinta seraya menuntun putrinya menuju meja yang di pakai untuk akad nikahnya.
Semua keluarga yang menyaksikan pernikahan Cinta menjadi terharu. Rey mencoba menahan titik air matanya karena bukan dia yang menikahkan putrinya itu. Tapi dia tetap berbahagia atas pernikahan putrinya dengan laki-laki yang sangat menyayanginya.
Setelah acara akad nikah selesai,semua keluarga bergantian mengucapkan selamat pada kedua mempelai. Rey memeluk putrinya begitu lama hingga matanya berkaca-kaca. Ada bahagia,sedih,terharu,bercampur jadi satu.
Cinta yang awalnya malu-malu karena jadi pusat perhatian jadi ikut menangis dalam pelukan papanya.
.
.
.
TAMAT
Alhamdulillah,akhirnya bisa tamat juga karya saya yang recehan ini. Terimakasih buat yang setia menunggu dan memberikan dukungannya. Semoga suka dengan karya saya ini. Maaf jika ada salah kata. Maaf jika othor lama upnya. Maaf jika othor jarang menyapa. . .
Terimakasih
Terimakasih
Love u all πππ
Jika ada waktu,othor akan tambahkan ekstra part.
Sekali lagi terimakasih banyak buat para pendukung. πππ
.
.
.
.
.
15
__ADS_1