
Dua hari kemudian saat Rey baru saja selesai mengantar anak-anaknya ke sekolah,tiba-tiba handphonenya berdering. Ratna.
"Hallo,Ratna?"
"Kamu mau datang?"
"Kapan?"
"Hari ini?"
"Hmm,baiklah. Kamu naik kendaraan apa biar saya jemput."
"Lalu kamu mau tinggal dimana?"
"Kamu punya teman di sini?"
"Hmm,baiklah."
"Kalau mau ketemu saya,telpon dulu jangan langsung datang ke kantor takutnya saya sedang di luar."
"Ok ,baiklah."
Rey memutuskan panggilan telponnya. Hhh,akhirnya Ratna mau juga datang. Semoga bisa ketahuan siapa Angga itu sebenarnya. Batin Rey.
Rey kembali melajukan kendaraannya ke kantor. Setelah sampai,Rey segera memarkirkan mobilnya di tempat biasa.
Rey melangkahkan kakinya dengan bersemangat.
Saat baru saja kelùar dari lift,ada Seno yang hendak ke ruangannya.
"Seno?" Panggil Rey.
"Mas Rey? Aku pikir sudah datang." Sahut Seno.
Rey membuka pintu ruangannya.
"Ayo masuk!" Titahnya. Rey lalu menaruh jas hitamnya di sandaran kursi. "Ada apa?" Tanya Rey.
Seno lalu duduk di kursi yang ada di hadapan Rey.
"Hmm,mas? Bagaimana perkembangan kasus si Romi?"
"Mas bingung. Polisi menyerahkan keputusan di tangan kita,mau lanjut apa tidak melihat kondisi Romi yang lumpuh. Kalau lanjut ya polisi akan memprosesnya." Terang Rey.
"Hmm,apa dia tidak bisa di sembuhkan,mas?"
" Menurut kamu?" Rey balik bertanya.
"Menurut Dinda seandainya sembuhpun butuh waktu lama dan yah sedikit keajaiban."
"Karena itu,mas juga bingung. Tapi dia sepertinya tidak takut di penjara."
Seno mengernyitkan dahinya. "Jadi dia mau di penjara?"
"Dia sepertinya masih syok mendapati kenyataan kakinya yang lumpuh. Jadi seperti sudah tidak peduli mau di penjara apa tidak."
"Hmm,sebetulnya aku kasihan. Tapi entahlah aku juga bingung. Aku ikut cara mas saja lah. Terlalu mendendam juga tidak baik. Toh dia sudah mendapatkan hukuman dengan kelumpuhannya.
"Iya,kamu benar. Oh iya,kamu ingat Ratna kan?"
"Ratna. Yang seharusnya menjaga Cinta dari apa pun tapi justru pergi saat Cinta dalam bahaya?"
"Hhmm,kamu tidak tau alasan dia sebenarnya. Justru mas merasa kasihan padanya."
"Kenapa kasihan,mas?"
"Dia juga korban,Seno! Seandainya dia tidak ikut kerja sama mas,dia tidak akan mengalami kejadian terburuk dalam hidupnya." Terang Rey lirih. Ada penyesalan dari nada bicaranya.
"Hmm,maksud mas Rey apa?" Tanya Seno heran.
Rey lalu menceritakan apa yang terjadi pada Ratna hingga Ratna terpaksa menghilang dan tidak bisa menolong Cinta.
Mata Seno membulat. "Astagfirullah. . ."
"Makanya mas merasa bersalah. Mas masih penasaran siapa itu Angga. Tapi mas ngerasa kalau Angga itu adalah Romi."
"Sepertinya iya,mas. Dia memperalat Ratna dan juga Cinta. Hhh,semua karena aku." Ucap Seno lirih. Dia pun jadi ikut merasa bersalah. Karena semua berawal dari dia menikahi Dinda.
"Jadi bagaimana sekarang,mas?"
__ADS_1
"Ratna hari ini mau datang,sekarang sedang dalam perjalanan. Mas akan pertemukan dia dengan Romi."
"Hmm,Ratnanya mau?"
"Ya awalnya tidak mau tapi setelah mas yakinkan,akhirnya dia mau juga."
"Hmm,seandainya Romi itu benar Angga. Apa yang akan mas lakukan?"
"Mas akan paksa dia bertanggung jawab atas Ratna. Dia tidak bisa begitu saja lari dari tanggung jawab!"
"Kalau dia tidak mau bagaimana mas? Karena dia masih mencintai Dinda."
"Mas akan pikirkan nanti."
"Hmm,semoga ada jalan terbaik untuk Ratna."
"Iya. Mas akan berusaha membantu Ratna."
***
Siang hari saat Rey baru saja makan siang,ada pesan dari Ratna kalau dia sudah sampai di kota dan sedang menuju kantor Rey.
Satu jam kemudia.
Tok tok. . .
"Masuk!" Sahut Rey.
Ceklek. Pintu terbuka. Ratna berdiri di depan pintu.
Rey menoleh. "Ratna,silahkan masuk!" Titah Rey.
Ratna masuk lalu berjalan menghampiri Rey.
"Silahkan duduk."
Ratna lalu duduk di kursi yang ada di hadapan Rey.
"Maaf pak,saya baru bisa datang hari ini." Ucap Ratna.
"Tidak apa-apa. Terimakasih,kamu sudah mau datang."
Ratna mengangguk." Iya,pak."
"Hmm,sudah pak."
"Apa kamu siap jika saya pertemukan dengan orang yang bernama 'Angga'?"
Ratna diam seperti sedang berpikir. "Hmm,iya pak." Jawabnya pelan.
Rey berdiri lalu memakai lagi jas hitamnya.
"Ayo!" Ajak Rey kemudian keluar dari ruangannya di ikuti Ratna di belakangnya.
Mereka berjalan beriringan menuju parkir mobil. Rey membukakan pintu mobil untuk Ratna lalu dia pun segera naik ke mobil.
"Kita akan menemui seseorang." Terang Rey.
Ratna hanya diam sambil menatap ke jalanan.
Satu jam kemudian,Rey memarkirkan mobilnya.
"Kenapa kita ke Rumah Sakit,pak? Siapa yang sakit?" Tanya Ratna heran.
"Nanti kamu akan tau sendiri. Ayo ikut saya:" Ajak Rey kemudian masuk ke Rumah Sakit di ikuti oleh Retna.
Mereka naik ilft menuju kamar ranap Romi..
Tok tok. . .
Ceklek.
Pintu terbuka dari dalam. Aaron berdiri di depan pintu. "Pak Rey? Kak Ratna?"
"Aaron? Abang kamu sedang apa?"
"Abang? Abang ada pak. Baru selesai makan siang." Jawab Aaron bingung melihat Rey yang datang bersama Ratna. "Silahkan masuk."
Rey lalu masuk di ikuti Ratna dari belakang.
__ADS_1
Saat Romi menoleh,matanya langsung membulat demi melihat Rey yang datang bersama Ratna. Ratna pun tak kalah kaget demi melihat sosok yang amat dia kenal tengah terbaring di ranjang Rumah Sakit.
"Ka-kamu?" Wajah Ratna langsung memerah. Detik berikutnya Ratna langsung membalik badannya dan lari keluar kamar.
"Ratna?" Panggil Rey.
"Àda apa,pak?" Tanya Aaron heran.
Rey buru-buru keluar dari kamar menyusul Ratna
Aaron lalu menoleh ke arah Romi. "Abang kenal dengan kak Ratna?
Tapi Romi diam saja.
Sementara Rey sudah berhasil menyusul Ratna.
"Ratna,tunggu!" Panggil Rey.
Ratna berhenti berlari.
"Kenapa kamu lari? Kamu kenal sama orang ya g di dalam tadi?" Tanya Rey heran
"Saya. . .." Ratna hanya menunduk saja.
"Ratna jawab saya?"
Mata Ratna mulai berkaca-kaca. "Dia,dia Angga. Pak Rey." Jawab Ratna lirih.
"Apa? Jadi dia yang kamu bilang bernama Angga?"
Ratna mengangguk. "Dia Angga."
Rey mengusap wajahnya kasar. "Dia Romi. Nama aslinya Romi bukan Angga.
"Apa,pak Rey? Jadi namanya Romi bukan Angga?" Ratna kaget.
"Mungkin dia menyamar menjadi Angga saat berkenalan dengan kamu." Terang Rey.
Ratna mengusap sudut matanya yang mulai ada titik air.
"Ayo kita kembali ke sana." Ajak Rey.
Ratna menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak,pak. Saya tidak mau." Tolak Ratna.
"Kalian harus bertemu,Ratna. Dia harus bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan terhadap kamu!"
"Tidak,pak. Biarkan saja. Saya akan menjalani hidup saya jauh dari dia."
"Tapi Ratna?"
"Tolong,pak. Saya benar-benar tidak bisa saat ini. Beri saya waktu lagi." Pinta Ratna.
"Hmm,baiklah. Sekarang saya antar kamu ke rumah saya. Kamu menginap di rumah saya malam ini!" Titah Rey.
"Terimakasih,pak. Tapi saya menginap di rumah teman saya saja." Ratna masih menolak.
.
.
NEXT
Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. 😍😍
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
0000
.