
Rey lalu masuk ke ruang ICU untuk memberikan apa yang tadi di suruh beli oleh suster.
"Sus,ini barangnya." Ucap Rey lalu menyerahkan kantong plastik pada suster. Setelahnya dia menemui istrinya.
"Yank,kok belum tidur?" Tanya Rey yang melihat istrinya itu sedang bengong.
"Mas? Mas sekarang jam berapa ya?"
"Sekarang hampir jam sebelas malam,yank. Kenapa?"
"Hmm,tidak apa-apa mas."
"Kamu sudah makan,hmm?"
"Tadi sudah makan bubur sama minum teh. Mas,aku ingin lihat anak kita." Ucap Siti memohon.
"Oh iya,mas tanya suster dulu ya." Ucap Rey. Baru saja dia ingin menemui suster jaga,ternyata suster jaganya sudah datang.
"Bu Siti,tadi ASInya sudah keluar dikit kan. Coba ibu pompa pakai ini. Tapi di bersihkan dulu PDnya ya bu,pakai ini!" Titah suster sambil memberikan alat pompa,botol susu,ember kecil berisi air hangat dan juga kain lap bersih.
Rey yang mengambil lalu di taruh di depan Siti. Siti lalu mulai membersihkan PDnya dengan lembut sambil di tekan-tekan. Setelah di rasa bersih,Siti mulai memompa ASInya perlahan. Setelah hampir setengah jam,terkumpul beberapa CC ASI di dalam pompa lalu Siti menyimpannya ke dalam botol yang sudah di siapkan oleh suster.
Siti lalu memberikan pada suaminya. "Mas,tolong ini kasihin ke susternya!" Pinta Siti.
Rey mengambil botolnya lalu di berikan pada suster. "Sus,ini." Ucap Rey.
"Oh iya terimakasih,pak." Ucap suster sambil mengambil botolnya lalu keluar dari ruang ICU dari belakang.
Rey kembali menemui istrinya. "Bagaimana kondisi kamu sekarang,yank?"
"Makin ngerasa segar,mas. Sudah kenyang jadi sedikit bertenaga. Nafasku juga sudah tidak sesak lagi." Jawab Siti.
"Alhamdulillah,yank. Mas senang dan lega melihat kamu makin baik. Moga kamu bisa cepat pulang ya!"
"Aamiin. Aku tidak sadar berapa hari mas?" Tanya Siti.
"Dua hari yank!" Jawab Rey.
"Hmm,lama juga ya mas." Ucap Siti lirih.
"Iya yank,tapi waktu kamu melahirkan Putri,kamu tidak sadar lebih satu minggu." Terang Rey.
"Hmm,oh iya mas. Bayi kita laki-laki apa perempuan,mas?"
"Laki-laki,yank! Terimakasih ya,kamu sudah memberikan mas sepasang anak." Ucap Rey lalu memeluk dan menciumi wajah istrinya.
"Hmm,mas sudah ah! Malu nanti di lihat suster. Aku juga kan bau!" Ucap Siti malu-malu.
"Hehee,siapa bilang kamu bau,yank?"
"Ya kan aku sudah tidak mandi dua hari." Jawab Siti.
"Sama saja mandi tidak mandi."
"Hmm,jadi walaupun aku sudah mandi sama saja seperti tidak mandi ya?" Siti cemberut.
"Eehh,bukan begitu yank! Kalau mandi tentu saja ķamu terlihat lebih segar."
"Hmm,mas ini bisa saja"
"Hehee. Yank,kamu tidurlah mas tungguin!" Titah Rey.
__ADS_1
"Aku belum ngantuk,mas. Mas mau istirahat ya?"
"Mas mau tungguin kamu. Tapi mas juga harus bolak balik melihat bayi kita,yank. Sekarang ada Seno dan Radit berjaga di depan ruang NICU." Terang Rey.
"Hmm,mas aku mau lihat bayi kita! Kok mas belum tanya susternya."
"Ini sudah malam yank,kamu lebih baik tidur dulu. Besok pasti mas tanyakan sama dokter Layli langsung deh!"
"Hmm,aku kan sudah tidur dua hari mas. Sekarang tidak terasa ngantuk." Ucap Siti.
"Iya sih."
"Mas?"
"Hmm,kenapa yank?"
"Mas sudah ada nama untuk bayi kita?"
"Hmm,bagaimana kalau kita panggil Putra saja yank? Nanti panjangnya kita cari lagi. Hehe."
"Hmm,mas tidak kreatif ah!" Protes Siti.
"Yah,kan kakaknya perempuan di panggil Putri,nah adiknya laki-laki kita panggil Putra,yank!"
"Hmm,iya deh. Mas pikirin panjangnya ya. Jangan hanya Putra Wibowo!" Ucap Siti dengan penekanan.
"Hehehee,iya istriku yang manja!"
"Iiihh mas ini. Masa aku manja sih?"
"Hehhe,memang kamu manja yank. Tapi mas suka. Mas kangen berapa hari tidak lihat manjanya kamu!"
"Hmm,dasar."
"Hmm,aku memang tidak manja kok!"
"Manja kalau sama mas." Rey menatap mesra istrinya itu. "Mas akan manjain kamu terus,yank!" Dia lalu mencium tangan istrinya dengan mesra.
"Mas. . ."
"Hmm?"
"Terimakasih sudah menyayangi aku dengan tulus!"
"Sama-sama,yank. Mas juga berterimakasih kamu sudah mau menyayangi mas."
"Aku tuh kadang ngerasa hidupku ini seperti mimpi,mas. Menikah dengan mas walau mas belum mencintai aku dan akhirnya bisa mendapatkan cinta dari mas."
"Mimpi yang jadi nyata,ya!"
Siti mengangguk. "Iya,mama papa juga mau menerima aku,menantunya yang tidak ada apa-apanya ini."
"Hmm,yank. Mas tidak suka kamu bicara seperti itu!"
"Hmm iya maaf mas."
"Sudah tidak usah di bahas. Kamu tidurlah yank,mas mau lihat Putra."
"Iya mas. Mas nanti habis lihat Putra,langsung tidur ya. Mas pasti capek banget ngurusin aku dan juga Putra."
"Yang capek tu dokter sama suster,yank. Mas tidak ngapa-ngapain kok."
__ADS_1
"Iya tapi mas jadi kurang istirahat."
"Tidak masalah,yank. Lagipula mana bisa istirahat dengan tenang lihat istri dan anak dalam kondisi yang tidak baik."Terang Rey.
"Hmm,aku tidur ya mas." Ucap Siti.
"Iya tidurlah,yank!"
Siti mulai memejamkan matanya.Rey mengusap-usap pucuk kepala istrinya itu. Hanya lima menit,Siti sudah tertidur. Setelah yakin istrinya sudah tidur,Rey keluar dari ruang ICU.
Di luar masih ada paman dan juga papa yang belum pulang. "Pa,kok belum pulang ini sudah malam?" Tanya Rey sambil menatap papanya.
"Iya,Rey. Papa baru saja lihat bayi kamu. Papa pulang sekarang ya!" Pamit papa.
"Sudah malam,tidak apa-apa papa pulang sendirian?"
"Ooh papa sama pak Maman,Rey." Jawab papa.
"Oohh,Rey pikir sendirian. Ya sudah pulanglah pa. Hati-hati di jalan,bilang pak Maman jangan ngebut!" Ucap Rey dengan penekanan.
"Iya Rey. Pak Supri,saya pulang dulu ya." Pamit papa.
"Rey antar sampai parkiran,pa. Paman,aku antar papa dulu." Pamit Rey.
"Iya Rey." Jawab paman.
Rey lalu meninggalkan paman Supri untuk mengantarkan papanya ke parkiran.
"Rey,kamu jadi memberikan uang pada paman Supri kan?" Tanya papa.
"Iya pa. Rey kan sudah janji pasti akan Rey tepati! Jawab Rey dengan penekanan.
"Kamu memang anak papa!" Ucap papa bangga.
"Hehe."
"Paman Supri kan sudah bantu kamu. Tidak ada salahnya kamu juga bantu beliau. Papa perhatikan sepertinya beliau sedang kesusahan terlihat dari raut wajahnya."
"Iya papa benar. Rey sudah bilang mau memberikan uang yang Rey janjikan tapi paman tidak mau pa. Jadi rencananya Rey akan memberikan saja uangnya untuk modal usaha paman." Terang Rey.
"Nah,seperti itu juga bagus nak! Kalau usaha kan bisa berputar uangnya."
"Iya pa. Si Radit juga sepertinya tidak betah di desa. Jadi Rey berencana uangnya untuk modal usaha sembako,minimarket kecil-kecilan gitu. Gimana menurut papa?"
"Papa setuju nak. Usaha yang tidak akan mati ya sembako sih. Di butuhkan orang setiap hari." Ucap papa.
"Iya pa."
Tak terasa mereka pun sudah tiba di parkiran. Pak Maman sedang menunggu di dalam mobil.
"Papa pulang dulu nak!" Pamit papa.
"Iya pa,hati-hati di jalan pa. Pelan-pelan saja bawa mobilnya." Ucap Rey.
"Iya. Kamu jangan lupa istirahat biar tidak sakit,nak!" Pesan papa.
"Iya pa."
Papa segera naik ke mobil dan Rey kembali ke ruang tunggu ICU.
NEXT
__ADS_1
2506/2222