
Rey buru-buru membawa Siti ke bilik ganti sederhana yang ada di ujung jalan setapak. Beruntung tidak ada yang sedang mengantri. Rey menunggu tepat di depan pintu. Setelah lima menit,Siti keluar dengan memakai pakaian yang Rey bawa.
"Kamu tidak apa-apa kan?" Rey masih khawatir demi melihat wajah istrinya yang masih pucat. Siti hanya menjawab dengan anggukan. " Tunggu di sini sebentar,saya ganti pakaian dulu!" Titah Rey. Rey pun gantian masuk ke dalam bilik ganti.
"Yuk kita kembali ke mobil!" Ajak Rey sambil menggandeng Siti dan membawa tas ranselnya di punggung.
Mereka berjalan sangat pelan karena jalan setapak yang berliku dan menurun. Setelah menempuh lebih setengah jam,barulah mereka sampai di pos jaga.
"Loh pak kok hanya sebentar? Itu istrinya kenapa?" Tanya bapak penjaga pos yang mereka temui pertama kali.
"Iya pak,sebentar saja! Istri saya hanya kelelahan." Jawab Rey. " Mari pak. . ." Pamit Rey kemudian.
Rey membukakan pintu mobil untuk Siti terlebih dahulu baru kemudian dia naik. "Kamu minum dulu ini!" Rey memberikan sebotol air mineral pada Siti. Setelahnya dia ikut minum. "Kamu tiduran saja."
Rey mulai menghidupkan mesin mobil. Mobil melaju dengan perlahan. Siti bersandar di sisi kiri mobil dengan mata terpejam dan tangan di lipat di dada. Seperti orang yang kedinginan.
Rey menyentuh wajah Siti. "Kamu kedinginan,hmm?" Tanyanya dengan wajah cemas. Tidak biasanya istrinya seperti itu. Siti hanya mengangguk lemah.
Rey memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Dia mematikan AC mobil lalu mengambil jaketnya yang dia simpan di dalam ransel dan memberikannya pada Siti. " Pakailah! Ac nya sudah saya matikan." Titahnya.
Siti mengambil jaket dari tangan Rey lalu memakainya. "Terimakasih." Ucapnya lirih.
Rey kembali melajukan mobilnya perlahan. Di liriknya Siti yang telah tertidur. Setelah hampir dua jam perjalanan,mereka tiba di villa. Mobil berhenti tepat di teras. Setelah mematikan mesin mobil,Rey turun lalu membuka pintu untuk Siti. Karena Siti masih tertidur,Rey langsung membopong Siti masuk ke villa.
"Pak tolong tas saya di mobil!" Titah Rey pada penjaga villa yang kebetulan sedang duduk di ruang tamu.
"Baik pak. . ."
Rey membaringkan Siti di kasur. Di usapnya dahi Siti,Rey pun kaget. Demamnya tinggi sekali. Gumamnya. Rey segera keluar dari kamar menemui penjaga villa.
"Pak,apa ada dokter dekat sini?" Tanya Rey.
"Wah kalau dokter tidak ada pak,jauh dari sini. Adanya di desa D,satu jam lebih dari sini." Terang penjaga villa. "Siapa yang sakit pak?"
Rey memijit dahinya." Istri saya pak." Jawabnya lirih." Oh ya,tolong belikan saya nasi sama ayam bakarnya bu Sari seperti biasa ya pak. Sekarang!" Titahnya sambil menyerahkan beberapa lembar uang dan segera kembali ke kamar.
Rey mengusap lagi dahi istrinya yang masih tertidur. Masih panas. Gumamnya. Bagaimana ini? Rey bingung. Ah ya telepon mama. Di ambilnya handphone lalu menekan nomor handphone mamanya. Tuuuttt. . .
"Hallo Rey. ." Sapa mama dari seberang.
"Ma,Siti sakit. Tubuhnya demam tinggi." Terang Rey tanpa basa-basi lagi.
"Loh kok bisa? Memang kalian kemana saja?" Tanya mama.
"Kita habis dari danau W,ma."
__ADS_1
"Apa? Kan jauh sekali itu dari villa kita Rey." Mama kaget.
"Rey bingung mau ajak Siti kemana ma. Rey bosan ke pantai."
"Sejak kapan dia panas?"
"Sejak dari danau ma. Habis Rey ajak renang." Jawab Rey lirih. " Lalu bagaimana ma? Di sini susah mencari dokter?"
"Hmm,coba dahinya kamu kompres pakai air hangat. Jangan lupa makan dan minum air mineral yang banyak!" Titah mama.
"Oke ma. Sudah dulu ya ma." Pamit Rey.
Rey segera ke dapur untuk memasak air. Dia lalu kembali ke kamar dan mulai mengompres dahi Siti dengan handuk kecil yang sudah di basahi air hangat. Siti menggeliat lalu mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia menatap suaminya yang juga sedang menatapnya.
"Hey. . ." Sapa Rey lembut sambil tersenyum. Dia menatap Siti dengan wajah cemas sambil tangannya tetap mengusap dahi Siti dengan handuk basah. Siti tersenyum salah tingkah. Dia gugup di tatap sedemikian rupa oleh suaminya. Tidak pernah suaminya itu menatapnya dengan tatapan seperti itu.
"Apa kamu haus? lapar? hmm?"
"Ha us. . ." Ucap Siti lirih. Rey segera mengambil air mineral dan menuangnya ke dalam gelas lalu di berikan pada Siti." Kamu duduk dulu!" Rey pun membantu Siti untuk duduk bersandar di kasur. Siti langsung menenggak airnya sampai habis tak tersisa.
"Kamu kehausan ya?" Rey tersenyum lembut. "Mau lagi?" Siti menggeleng sambil tersenyum malu.
"Ayo tiduran lagi! Kamu demam sejak pulang dari danau." Siti menurut. Dia juga merasakan pusing.
Tok tok. . . Ada yang mengetuk pintu kamar. Rey bangkit berjalan untuk membuka pintu kamar.
Rey mengambil bungkusan yang di berikan padanya. " Terimakasih. Satu bungkus untuk bapak!"
"Terimakasih,den!" Ucapnya kemudian segera berlalu.
Rey menutup pintu lalu menaruh bungkusan ke atas nakas. " Kamu lapar kan? Saya suapin ya!" Ucapnya pada Siti.
"Sa ya makan sendiri saja." Tolak Siti halus.
"Hmm,saya suapin!" Rey menggelengkan kepalanya lalu mulai membuka bungkusan nasi beserta lauknya. "Tidak usah pakai sambal ya,kamu sedang demam!" Ucapnya sambil mulai menyuapi Siti.
Siti menurut saja. Dia juga merasa tubuhnya lemas. "Enak,hmm?" Siti mengangguk.
"Ya jelas enak kan saya yang suapin!" Goda Rey.
Siti tersenyum malu. Kamu perhatian sekali Rey. Saya rela sakit terus kalau kamu begini. Ucap Siti dalam hati.
Tidak sampai sepuluh menit,Siti sudah merasakan kenyang. Makanannya belum habis setengahnya. "Kenyang. . ." Tolak Siti saat Rey menyuapinya lagi.
"Masih banyak ini! Tidak baik membuang makanan!" Ucap Rey sambil terus menyuapi Siti.
__ADS_1
"Hmm,perut saya tidak enak." Keluh Siti.
"Hmm,baiklah." Rey menyimpan lagi makanannya. " Minum dulu!" Titahnya kemudian memberikan Siti segelas air mineral.
Rey mengambil lagi bungkusan makanan yang tadi di makan Siti,lalu dia mulai menyantapnya. Siti memandangnya dengan wajah kaget.
"Kenapa makan sisa saya?" Tanyanya.
"Tidak baik membuang makanan!"
"Nanti lagi saya akan habiskan."
Rey tidak menggubris ucapan Siti. Dia tetap memakan makanan Siti sampai habis. Siti menatapnya tak percaya.
"Aahh masih lapar." Ucap Rey saat makanannya telah habis. Siti tersenyum melihatnya.
"Kenapa tersenyum,hmm? Kamu mau lagi?" Siti dengan cepat menggeleng.
Rey mambuka bungkusan yang satu lagi lalu mulai menyantapnya. Makannya banyak sekali. Batin Siti sambil tersenyum.
"Umm,ini baru kenyang!" Ucap Rey lalu menenggak minumnya.
Siti bangun dari tidurnya lalu duduk bersandar. "Saya belum sholat." Ucapnya lirih.
"Kamu kan sakit!" Rey coba mencegah Siti yang hendak berdiri.
"Tetap harus sholat!" Ucap Siti.
"Hmm,baiklah. Ayo saya bantu ke kamar mandi!" Rey langsung memapah Siti ke kamar mandi. Setelah sampai pintu,Siti melepaskan tangan Rey. "Saya masuk sendiri saja!" Tolaknya halus.
"Saya antar!"
"Sa ya bisa sendiri."
Rey menatapnya tajam. Siti tidak berani lagi membantah. Dia membiarkan saja suaminya ikut masuk ke kamar mandi. "Jangan lihat kesini!"
"Kenapa? Saya sudah lihat beberapa kali kok!" Ucap Rey membuat Siti malu. Siti tetap berdiri di tempatnya.
"Kenapa?"
Siti diam saja sambil tangannya berpegangan di dinding kamar mandi.
"Iya iya,saya tidak lihat." Ucap Rey lalu membalikkan badan.
Siti tersenyum lalu mulai dengan aktifitasnya. Dia segera mengambil wudhu. Setelah selesai,dia berjalan ke arah suaminya yang menunggu di depan pintu kamar mandi masih dengan membelakanginya.
__ADS_1
NEXT
120421/20.30