Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 49


__ADS_3

Sepulangnya,Siti langsung tiduran sementara Rey sedang mengobrol dengan Seno di teras tentang perbaikan rumah. Tak lama kemudian,terlihat pak Erte dan tiga orang bapak-bapak sedang berjalan menuju ke rumah. Obrolan Rey dan Seno pun terhenti.


"Assalammualaikum. . ." Sapa pak Erte.


"Wa alaikumsalam. . ." Jawab Rey dan Seno hampir berbarengan.


"Nak Rey,Seno ini bapak tukang yang saya bilang tadi pagi. Kenalin ini pak Cipto,pak Ari dan pak Rudi." Ucap pak Erte.


Setelah berkenalan,mereka langsung membahas masalah perbaikan rumah. Di sepakati dari harga hingga berapa lama waktu yang di butuhkan hingga selesai.


"Apa tidak terlalu mahal mas?" Tanya Seno kurang setuju.


"Tidak kok,yang penting mereka menjamin hasilnya memuaskan dengan jangka waktu yang kita minta. Lagipula mereka kan tidak bekerja tiga orang saja."


"Hmm,saya sih tidak terlalu mengerti masalah ini mas. Hanya kok sampai harga segitu hanya untuk perbaikan saja."


"Tapi kan memang banyak yang di ganti. Mereka juga sanggup dan mampu mengerjakan seperti contoh yang kita tunjukan tadi."


"Iya sih lebih separuh yang di ganti. Yang penting bentuk bagian dalam tidak berubah mas!"


"Iya."


***


Perbaikan rumah keluarga Siti sudah berjalan lebih satu mingguan dan hampir selesai separuhnya.


"Alhamdulillah ya mas,sudah selesai bagian ruang tamunya." Ucap Siti saat menjelang sore dan para tukang sudah pulang semua.


"Iya sayang. Kalau sudah selesai mas tenang!" Ucap Rey.


Tiba-tiba handphone Rey berdering. " Mas terima telepon dulu ya!" Pamit Rey.


Sementara Rey sedang berbicara di telepon,Siti dengan di bantu oleh Seno merapikan ruang tamu.


Tak lama,Rey selesai berbicara di telepon dan duduk di sebelah Siti.


"Siapa yang telepon mas?" Tanya Siti.


"Hmm,papa yank! Orang yang kerjasama sama kita waktu itu ingin bertemu dengan mas!"


"Apa? Jadi mas mau kembali ke kota?"


"Mas bingung!" Ucap Rey sambil menatap kosong kedepan."


"Kalau mas mau kembali ke kota tidak apa-apa kok! Mas sudah lama di sini. Perusahaan membutuhkan mas!" Ucap Siti sambil memengang tangan suaminya.


"Kamu tidak apa-apa mas tinggal,hmm?" Rey menatap manik mata istrinya lekat-lekat.


Siti tersenyum. "Mas,saya sudah sangat bahagia mas temani di sini sampai hari ini. Kan tidak mungkin mas di sini terus."


"Tapi mas sudah terbiasa ada kamu yank!" Ucap Rey dengan wajah sedih.

__ADS_1


"Kita hidup kan harus ada pilihan mas! Dan mas harus memilih kembali ke kota demi masa depan perusahaan. Demi masa depan kita juga!"


"Hmm,tapi mas tidak tenang meninggalkan kamu di sini!"


"Kan ada Seno yang jagain saya!" Ucap Siti meyakinkan.


"Ya kalau Seno sedang tidak di rumah?"


"Paling pas sekolah saja Seno tidak di rumah!"


"Hmm,kamu ikut mas ya!" Pinta Rey dengan wajah memohon.


Siti menatap wajah suaminya. "Kan kita bisa videocall,mas!"


"Kamu tidak sedih ya mas tinggal?" Ucap Rey dengan nada kecewa. Dia pikir istrinya tidak mau berpisah dan akan ikut juga ke kota.


"Siapa yang bilang? Ya pasti sedih mas! Tapi saya tidak mau egois!" Ucap Siti. "Malam ini saya akan bahagiakan mas!" Ucap Siti mencoba menggoda suaminya dengan wajah merona.


"Hmm,mau coba menggoda mas ya!"


Siti tersenyum malu.


"Kamu setiap hari sudah membuat mas bahagia kok sayang!"


"Tapi malam ini akan lebih bahagia! Saya akan jadikan mas raja!" Sikap Siti makin menggoda.


Rey tersenyum. Dia penasaran apa yang akan di lakukan istrinya. " Berapa kali?" Tanya Rey sambil menatap istrinya dengan tatapan penuh gairah.


"Terserah mau mas!"


Siti menarik tangan suaminya lalu mengajaknya ke kamar.


***


Hari sudah pagi. Seno sudah bersiap ke sekolah.


"Seno,kamu nanti langsung pulang ya,soalnya mas mau ke kota nanti siang!" Titah Rey.


"Loh mas mau ke kota?" Tanya Seno kaget.


"Iya,ada urusan yang harus mas selesaikan. Kamu jagain mbak kamu ya!" Pesan Rey.


"Hmm,iya mas. Berapa lama mas di kota?"


"Belum tahu. Nanti mas kabari. Soal bahan bangunan kalau ada yang kurang,kamu beritahu mas,nanti mas kirim uang untuk membelinya."


"Oh iya mas. Saya berangkat dulu!" Pamit Seno yang di beri anggukan oleh Rey.


Tak lama setelah Seno pergi,para tukang mulai berdatangan. "Pak,bahan apa saja yang tinggal sedikit dan harus di beli?"Tanya Rey.


"Oh nanti saya cek dulu pak!"

__ADS_1


Setelah bapak tukang memberikan daftar bahan yang harus di beli,Rey segera menelepon toko bangunan lalu memesan bahan-bahan yang di perlukan.


"Sayang,mas berangkat habis zuhur." Ucap Rey. Dia lalu membuka dompetnya lalu menyerahkan sebuah kartu ATM pada Siti. "Kamu pegang ini ya,kalau ada perlu apa-apa! Passwordnya tanggal lahir mas!" Ucap Rey.


"Hmm,ini buat saya mas?"


"Iya sayang,mas sudah lama membuatkan untuk kamu! Oh iya ini ada sedikit uang cas untuk pegangan kamu! Kalau mau apa-apa kamu tunggu Seno ya!" Pesan Rey.


"Iya mas. Mas hati-hati di jalan ya!


"Iya sayang. Kamu jangan telat makan ya! Handphonenya di aktipin terus dan kamu bawa kemana pun kamu pergi!" Pesan Rey lagi.


"Iya suamiku sayang!" Ucap Siti lalu memeluk suaminya. Rey balas memeluk dengan erat.


Hari pun sudah siang. Tiba waktunya Rey harus berangkat. Dia sengaja tidak membawa pakaian. Siti mengantarkan suaminya sampai ke mobil.


"Kamu jangan dekat-dekat sama tukang bangunan ya! Kalau tidak benar-benar perlu,tidak usah ngobrol!" Pesan Rey dengan penuh penekanan.


"Kalau bukan tukang bangunan boleh ya?" Goda Siti.


Rey menatap tajam istrinya. "Kamu itu!"


Siti tersenyum lalu memeluk suaminya dengan erat. "Sudah punya suami begini,apa lagi yang kurang?"


Rey mencium pucuk kepala istrinya dengan mesra. "Mas sangat menyayangi kamu! Mas sangat mencintai kamu!" Bisiknya.


"Saya lebih dari itu mas! Cepat pulang ke sini ya!" Ada titik bening yang jatuh. Berat tapi dia harus bisa.


Rey melepaskan pelukannya. " Tuh malah nangis! Mas jadi tidak tega! Kamu ikut ya!" Ucap Rey sambil menghapus air yang telah jatuh ke pipi istrinya.


"Mas,wajar donk saya sedih! Tapi mas jangan khawatir ya! Mas baik-baik di sana! Jangan ngebut bawa mobilnya! Ingat ada saya dan anak mas yang menanti!" Pesan Siti sambil mengusap perutnya.


Rey lalu mengusap perut Siti lalu menciumnya. "Sayang,jagain mama ya! Makan tidak boleh rewel. Papa tidak lama kok! Papa menyayangi kamu dan mama!"


"Iya papa! Kami juga sangat menyayangi papa!" Jawab Siti menirukan suara bayi.


"Kamu makin gemesin,sayang! Mas rasa tidak sanggup jauh dari kamu! Oh ya semalam kamu hebat! Kalau seperti itu terus bisa-bisa mas nempelin kamu terus deh tiap hari!" Goda Rey.


"Iihh mas ini masih saja di inget!" Ucap Siti dengan wajah memerah.


"Hehehee."


"Sudah mas berangkatlah!"


"Hmm,baiklah sayang demi masa depan kamu dan calon anak kita,mas akan berusaha semaksimal mungkin!"


"Iya mas. Saya akan selalu mendoakan mas!"


"Hmm,ya sudah kalau begitu mas berangkat dulu. Kamu pulanglah mas lihat dari sini,langsung masuk kamar,kunci!" Titah Rey.


"Iya iya! Mas hati-hati di jalan!" Siti pun meninggalkan suaminya. Rey memperhatikan setiap langkah istrinya. Setelah melihat Siti sudah masuk ke dalam rumah,Rey segera masuk ke mobil lalu melajukan mobilnya meninggalkan rumah Siti.

__ADS_1


NEXT


040521/23.10


__ADS_2