Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 74


__ADS_3

Siti sedang bersiap untuk pulang ke rumah. Dia terlihat bahagia. Senyum tak lepas dari bibirnya.


"Mas,urus administrasi dulu yank,sambil ambil obat kamu. Mas tinggal dulu ya!" Pamit Rey.


"Iya mas."


Sambil menunggu suaminya,Siti keluar balkon. Ternyata Rumah Sakitnya cukup besar,Siti berada di lantai tujuh. "Ternyata pemandangan dari sini tuh indah juga." Gumamnya.


Tak lama kemudian Rey kembali ke ruang rawat Siti.


"Yuk yank,kita pulang!" Ajak Rey.


"Sudah selesai mas?"


"Iya yank. Yuk!"


"Bu Siti,ini kursi rodanya." Ucap suster yang sudah ada di luar kamar.


"Hmm,saya jalan saja sus." Tolak Siti.


"Jangan bu,ibu kan belum pulih benar! Nanti ibu kecapekan!" Terang suster.


"Iya yank,kamu pakai kursi roda biar mas yang dorong!" Titah Rey. Siti pun menurut saja.


"Terimakasih sus." Ucap Rey.


Rey lalu mendorong kursi roda Siti sampai keluar dari rumah sakit.


Sampai di parkiran,Rey membukakan pintu untuk Siti lalu dia segera mengembalikan kursi roda ke lobi Rumah Sakit kemudian kembali lagi ke mobil. Dia mulai menghidupkan mesin mobil.


"Sayang,kamu mau mampir kemana dulu?" Tanya Rey.


"Langsung pulang saja ,mas. Kangen sama Putri!" Jawab Siti.


"Oke sayang!"


Selama lebih setengah jam mereka baru sampai di rumah. Rumah terlihat sepi karena baru pukul sembilan pagi. Papa dan Seno tentu sedang bekerja saat ini.


"Ayo yank mas gendong!" Ajak Rey setelah membukakan pintu mobil untuk istrinya.


"Hmm,bisa jalan sendiri kok mas!" Tolak Siti.


"Sayang,ayo kamu masih lemes gitu kok!" Paksa Rey. Siti tidak bisa menolak.


"Sepi mas?" Tanya Siti saat masuk ke rumah tidak ada siapa-siapa,hanya satpam yang berjaga di depan. "Putri tidur di mana mas?"


"Mas tidak tau yank. Kita langsung ke atas saja ya!" Ajak Rey yang di beri anggukan istrinya.


Rey lalu membuka pintu kamarnya. Tiba-tiba. . .


"Selamat datang!" Seru orang-orang dari dalam kamar. Ada spanduk kecil bertuliskan. 'SELAMAT DATANG MAMA SITI' yang menempel di samping tempat tidur. Ada mama,papa,Cinta,Seno,dua asisten rumah tangga dan tentu tak ketinggalan Putri yang berada dalam gendongan mama.

__ADS_1


Rey segera menurunkan istrinya yang tengah terharu sampai meneteskan air matanya. Siti masih berdiri terpaku.


"Mas. . .?" Lirihnya.


"Ayo sayang,Putri sudah menunggu mamanya!" Titah Rey.


Siti lalu berjalan mendekati mereka. Satu-persatu maju memberikan ucapan selamat.


"Selamat datang ma,Cinta kangeen! Dede Putri juga kangen mama!" Serunya sambil mengangkat kedua tangannya hendak memeluk,Siti pun langsung memeluk putrinya itu.


"Mama juga kangen Cinta sama dede Putri!" Ucap Siti lalu menciumnya.


"Oooeee. . ." Tangisan bayinya mulai terdengar.


Siti melepas pelukannya dari Cinta. "Mama gendong dede Putri dulu ya nak!" Ucapnya pada Cinta. Cinta pun mengangguk-anggukan kepalanya.


"Nih mama kamu sudah datang,de!" Ucap mama pada cucunya,lalu cucunya itu di berikan pada mamanya,Siti.


Siti langsung memeluk dan menciumi putrinya dengan penuh kasih sayang. Rasa rindu yang tertahan membuatnya tak bisa menahan airmata. "Sayang,maafin mama ya!" Ucapnya. Bayinya pun seketika diam dan menatap ke arahnya seolah sudah bisa melihat dengan jelas.


"Ayo kita keluar,biarkan Siti dan bayinya beristirahat!" Titah mama.


Satu persatu orang-orang yang berada di kamarnya keluar,Cinta dan Rey yang masih menemani di kamar.


"Mas,apa saya masih bisa memberi ASI pada Putri ya?" Tanya Siti ragu.


"Kamu coba saja yank!" Usul Rey.


"Insya Allah bisa yank. Sini pelan-pelan saja!" Ucap Rey yang langsung menggendong Putri dengan penuh hati-hati.


"Saya coba saja ya semoga bisa memberikan ASI untuk Putri!" Harapnya. "Saya bersihkan diri dulu!"


Siti lalu ke kamar mandi untuk membersihkan diri sementara Rey menggendong bayinya.


"Papa,dede Putri cantik ya mirip sama Cinta!" Seru Cinta.


"Iya sayang,kan dede Putri adiknya Cinta!" Ucap Rey.


Memang Cinta dan Putri mempunyai kemiripan karena wajah Cinta pun mirip dengan papanya seperti halnya Putri. Kedua wanita yang telah memberikannya dua orang putri itu sama sekali tidak mirip dengan putri mereka.


Siti keluar dari kamar mandi. Dia terlihat lebih segar.


"Kamu mandi lagi yank,kan di rumah sakit sudah?" Tanya Rey.


"Iya mas. Kan mau memberikan ASI untuk Putri." Jawab Siti. "Sini saya gendong dulu,mas!" Siti lalu mengambil Putri dari gendongan papanya.


Siti lalu mencoba memberikan ASI untuk Putri. Putri terlihat mulai meraba-raba dengan mulutnya. Setelah lekat,dia pun mulai dengan antusias. Setelah beberapa menit,Putri melepaskan diri dan langsung menangis dengan kencang sampai Siti dan Rey jadi panik dan kebingungan.


"Mas,kok tiba-tiba nangis gini ya?"


"Iya yank! Mas tanya mama dulu ya!" Rey segera keluar kamar mencari mamanya.

__ADS_1


"Dede Putri kenapa nangis?"Cinta pun terlihat bingung.


"Mama juga tidak tau,sayang." Jawab Siti yang berusaha menenangkan bayinya.


Tak lama Rey kembali ke kamar bersama mamanya.


"Putri kenapa nangis kencang gitu?" Tanya mama yang juga ikutan panik. Dia segera mengambil Putri dari gendongan Siti.


"Tadi saya coba kasih ASI,ma. Tapi baru beberapa menit dia langsung nangis kencang gini!" Terang Siti dengan wajah sedih.


"Kamu sudah bisa kasih ASI?" Tanya mama.


"Baru mau di coba ma."


"ASInya keluar?"


"Hmm,sepertinya tidak keluar ma." Siti mengecek PDnya yang ternyata kering.


"Hmm,mungkin karena itu Putri jadi nangis gini. ASImu tidak keluar Siti!" Terang mama. "Sepertinya dia lapar. Mama kasih susu formula saja,kasihan!" Ucap mama. "Kamu gendong dulu,mama mau siapin susunya!"


Siti lalu menggendong lagi bayinya. Tak lama mama datang membawakan susu botol untuk Putri.


"Ini,kamu kasih ke Putri." Titah mama.


Putri pun terlihat begitu rakus meminum susunya.


"Putri lapar ya nak." Ucap Siti lirih sambil mengusap wajah bayinya yang mulai tertidur setelah menghabiskan susunya.


"Kamu masih ingin memberikan ASI untuk Putri,Siti?" Tanya mama.


"Iya ma. Saya ingin memberikan ASI untuk Putri selama dua tahun seperti ibu-ibu lain."


"Hmm,ya sudah kalau kamu mau kita bisa konsultasi sama dokter Layli ya. Mungkin beliau tau solusinya." Usul mama. "Mama juga akan belikan kamu pompa ASI,siapa tau kalau sering di pompa,ASI kamu akan bisa keluar."


"Iya ma,saya mau!" Jawab Siti antusias.


"Ya sudah nanti kalau kamu sudah benar-benar sehat,kita ke dokter Layli!" Ucap mama. "Kamu istirahatlah! Mama tinggal dulu."


Setelah mama keluar,Siti menaruh bayinya di kasur.


"Kenapa tidak di taruh di box bayi saja,yank?" Tanya Rey.


"Tidak usah mas,saya mau tidur dekat sama dia!" Jawab Siti.


"Hmm,ya sudah. Kamu istirahatlah ya. Mas turun dulu ada yang ingin mas bicarakan sama papa." Pamit Rey.


"Iya mas."


Siti lalu tidur di sebelah bayinya. Dia menatap wajah bayinya lekat-lekat. Semua yang ada di wajah bayinya memang sama persis dengan papanya. Dari mata,hidung,mulut dan bentuk wajah. "Kamu memang putrinya papa Rey,nak!" Gumam Siti lirih. Dia terus menatap putrinya itu dengan perasaan bahagia,dan penuh cinta.


NEXT

__ADS_1


260521/22.10


__ADS_2