
Siti sesering mungkin mencoba menyusui bayinya,berharap bisa merangsang ASInya keluar. Tapi kalau sudah merasa lelah dan ASInya tidak juga keluar,bayinya pasti akan menangis.
"Kasihan kamu,nak." Lirihnya sambil mengusap lembut pipi Putri.
"Sabar ya yank,besok saja ajak mama ke dokter Layli,siapa tau beliau bisa membantu." Usul Rey.
"Iya mas. Makin cepat makin baik!" Jawab Siti. "Mas jagain Putri dulu ya,saya mau bikin susu buat Putri,dia pasti lapar."
Siti lalu menyerahkan Putri untuk di gendong suaminya sementara dia menyiapkan susu formula untuk Putri.
Setelah selesai,Siti menggendong lagi bayinya. "Sini mas,Putri biar saya yang gendong!" Pinta Siti yang langsung mengambil alih menggendong bayinya lalu memberikan susu botol pada Putri.
"Sssttt,sayang laper ya nak?" Lirih Siti sambil menggendong bayinya dengan sedikit di ayun-ayun.
"Dia kelaparan yank,pantas nangis. Capek juga dari tadi nyoba ASI kamu tapi tidak keluar juga." Ucap Rey sambil memperhatikan bayinya yang dengan cepat menghabiskan susu dalam botol.
"Iya mas." Jawab Siti dengan wajah sedih. Keinginannya melahirkan normal sudah tidak tercapai dan sekarang keinginannya memberikan ASI eksklusif pun terhalang.
"Kamu jangan sedih terus yank,itu justru bikin ASI kamu makin susah keluarnya. Cobalah rileks dan berpikir positip,Insya Allah hasilnya pun akan positip." Hibur Rey.
"Hmm,iya mas. Mas Putri tidur sama kita ya! Jangan di box." Pinta Siti.
"Iya sayang."Jawab Rey yang ikut tidur di sebelah bayinya. "Yank,masa nifasmu tetap empat puluh hari ya walaupun caesar?"
"Hmm,tidak tau mas. Kan baru sekali ini melahirkan." Jawab Siti. "Memangnya kenapa mas?" Tanya Siti heran.
"Hmm,tidak apa-apa yank,mas hanya tanya saja. Tapi kamu kan melahirkan satu minggu yang lalu jadi sudah tidak sampai empat puluh hari lagi kan ya."
"Hmm,besok kita tanya sama dokter Layli saja ya mas. Daripada salah."
"Iya yank,besok kamu tanyakan ya! Jangan lupa." Titah Rey.
"Iya mas. Memangnya kenapa sih mas?"
"Hmm,cuma tanya kok yank!"
"Hmm. Oh iya mas,mana Cinta? Dia tidur dimana?"
"Cinta tidur di kamarnya yank!" Jawab Rey.
"Oh gitu. Tidur yuk mas,ngantuk mumpung Putri sedang tidur." Ajak Siti.
Baru satu jam Siti tertidur,bayinya terbangun. "Hmm,sayang kamu kok sudah bangun? Lapar lagi ya?"
"Hoooaamm,Putri bangun yank?" Tanya Rey dengan mata yang masih terpejam.
__ADS_1
"Iya mas,tapi tidak nangis kok."Jawab Siti. "Hmm,coba cek popoknya dulu." Gumamnya. Siti lalu mengecek popok bayinya,ternyata bayinya buang air makanya bangun.
Setelah membersihkan popok bayinya,Siti kembali mencoba menyusui bayinya. Tapi setelah setengah jam tetap saja ASInya belum keluar.
***
Pagi-pagi sekali Siti di temani mamanya membawa Putri ke klinik dokter Layli. Rey juga tidak mau ketinggalan. Siti berjalan sambil di gandeng oleh Rey sementara mama menggendong Putri.
Tiba di klinik,mereka tidak perlu mengantri lama nama Siti sudah di panggil.
"Hallo,gimana kabarnya mama baru?" Tanya dokter Layli ramah.
"Alhamdulillah baik dokter." Jawab Siti.
"Padahal Siti rencana melahirkan di sini,eh malah ada musibah." Terang mama.
"Tidak apa-apa As,namanya musibah kita tidak akan tau. Bersyukur mama dan bayinya selamat!" Ucap dokter.
"Iya dokter,saya sampai mau pingsan lihat Siti yang bersimbah darah."
"Tapi mamanya kuat ya berkali-kali kena musibah masih bisa menjaga kandungannya dengan baik." Ucap dokter Layli yang mulai memeriksa bayinya terlebih dahulu. "Si kecil sehat ya,tidak ada masalah apa-apa." Ucap dokter lalu memberikan lagi Putri untuk di gendong mama.
"Sekarang mbak Siti,silahkan berbaring di sini."Titah dokter. Siti lalu berbaring dan mulai di periksa. "Bekas jahitannya bagus,tapi tetap jangan terlalu banyak gerak dulu ya mbak Siti. "Terang dokter.
"Hmm,iya kurang lebih begitu. Bisa juga lebih cepat." Jawab dokter Layli.
Mama langsung menatap putranya,sementara yang di tatap hanya garuk-garuk kepala.
"Oh gitu ya dok. Hmm,dok saya kan mau memberi ASI eksklusif untuk Putri tapi sampai sekarang ASI saya tidak bisa keluar. Apa memang sudah tidak bisa lagi ya kan saya sempat tidak sadar satu mingguan."
"Insya Allah bisa kok. Sering-sering skin to skin dengan si kecil,sering di susui,itu bisa merangsang produksi ASI. Bisa juga di bantu dengan memompa ASI dan minum susu untuk ibu menyusui." Terang dokter lagi.
"Oh iya dok,saya akan beli pompa ASI juga." Ucap Siti.
Setelah selesai di periksa dan konsultasi,mereka lalu ke apotek yang ada di klinik untuk membeli pompa ASI. Setelahnya baru mereka pulang. Mama masih yang menggendong cucunya.
"Kamu kerja hari ini,Rey?" Tanya mama.
"Kerja sebentar ma,banyak berkas yang harus Rey periksa." Jawab Rey.
"Kita mampir ke minimarket dulu Rey,susu formula Putri tinggal dikit,buat jaga-jaga kalau ASI Siti masih belum keluar sama beli susu untuk Siti juga."
"Iya ma." Jawab Rey yang langsung membelokkan mobilnya ke arah minimarket.
Mereka mampir ke minimarket membeli semua kebutuhan bayi dan mamanya.
__ADS_1
"Kamu mau beli apa lagi yank? Cemilan?" Tanya Rey.
"Hmm,hampir lupa mas. Mau beli pembalut juga." Jawab Siti.
"Yasudah kamu ambil yang kamu butuhkan yank,untuk Putri juga!" Titah Rey.
Setelah berbelanja,mereka baru pulang ke rumah.
Baru sampai di rumah,Putri tiba-tiba menangis. Mama segera membawa Putri ke kamar.
"Mungkin lapar ma,saya siapkan dulu susunya." Ucap Siti yang di beri anggukan oleh mama.
"Den Rey,ada polisi yang nyari." Pak satpam tiba-tiba memanggil Rey.
Dahi Rey berkerut. "Polisi,kok ke sini sekarang?" Gumamnya heran. Dia lalu turun ke bawah menemui polisi yang sudah menunggu di ruang tamu.
"Pak polisi." Sapa Rey lalu menyalami kedua polisi tersebut. "Ada yang bisa saya bantu?"
"Begini pak Reynand. Ini tentang kasus istri bapak. Kita telah mendalaminya dan ternyata ada dua tersangka di sini!" Terang polisi.
"Dua tersangka pak? Bukannya yang nabrak istri saya hanya satu orang saja?" Tanya Rey kaget.
"Yang melakukan tabrak lari itu hanya orang suruhan pak. Ada dalang di baliknya. Dan orang itu juga sama-sama masih di bawah umur. Perempuan."Terang polisi.
"Perempuan? Di bawah umur?" Rey makin kaget.
"Iya pak Reynand. Jika bapak ada waktu mari ikut kita ke kantor polisi." Ajak pak polisi.
"Kira-kira siapa pak?"
Pak polisi lalu menyerahkan amplop berwarna coklat pada Rey. Rey lalu membuka amplop itu yang ternyata berisi foto dari kedua tersangka.
Mata Rey membelalak. "Ini? Ini tidak salah pak?" Tanya Rey.
"Tidak pak Reynand. Mereka juga sudah mengakuinya." Terang pak polisi.
"Tidak! Itu tidak mungkin!" Ucap seseorang di belakang Rey yang ternyata istrinya.
Brruuuk! Siti pun jatuh pingsan. "Sayang?" Pekik Rey yang segera berlari mendekati istrinya yang sudah terjatuh di lantai.
Hay . . . jangan lupa beri dukungan untuk othor yaa. Terimakasih. ☺☺
NEXT
270521/20.30
__ADS_1