
Romi buru-buru menghampiri Aaron. "Nih,segera bawa gadis itu jauh-jauh dari sini sebelum abang berubah pikiran!" Titah Romi seraya meletakkan kunci di tangan Aaron dan segera berlalu dari sana.
Aaron buru-buru pergi ke faviliun dengan langkah lebar dan setengah berlari. Sampai di sana,dia langsung membuka pintu faviliun dengan tidak sabar.
Matanya langsung membulat saat melihat seseorang sedang terbaring di tempat tidur dengan kondisi tangan dan kaki terikat,mulutpun di tutupi lakban.
Aaron mendekat ke tempat tidur.
"Cintaku?" Aaron menatapnya dengan nanar. Dadanya terasa sakit melihat orang yang dia sayang yang akhir-akhir ini sangat dia rindukan dalam keadaan seperti itu.
Aaron lalu melepaskan semua ikatan di kaki dan tangan Cinta juga lakban di mulutnya. Cinta perlahan membuka matanya.
"Aaron?" Ucapnya lemah. Airmatanya langsung mengalir deras.
"Iya,ini aku." Aaron mendudukkan Cinta yang terlihat lemas. Wajah gadis di hadapannya itu terlihat sangat kacau dengan raut kesedihan mendalam.
"Cinta takut. . ." Ucapnya sambil terisak. Aaron replek memeluknya. Cinta pun membalas pelukannya erat sambil terus terisak.
"Cintaku tidak usah takut lagi ya. Ada aku di sini." Hibur Aaron seraya mengusap lembut kepala Cinta.
"Aaron belum mandi ya? Bau iihh!" Cinta memukul-mukul bahu Aaron.
"Hmm? Bau kok mau di peluk?" Goda Aaron.
Cinta lalu melepaskan pelukannya. " Lupa." Jawabnya lirih sambil mengusap airmatanya yang terus mengalir.
Aaron tersenyum. "Kamu belum mandi masih harum. . " Aaron mengusap air mata di sudut mata Cinta.
Mereka saling memandang. Aaron mendekatkan wajah mereka. Cinta diam saja dengan mata yang masih terus menatap Aaron. Saat hampir tanpa jarak tiba-tiba Aaron memalingkan wajahnya lalu mengusap wajahnya kasar. Astagfirulah,hampir saja terjadi lagi. Batinnya.
Tiba-tiba, kriiuuukkkk. Perut Cinta berbunyi. Aaron langsung menoleh lagi ke arah Cinta.
"Kamu lapar,ya?" Tanya Aaron yang di berikan anggukan oleh Cinta.
"Kita pergi dari sini,yuk!" Ajak Aaron.
Cinta menurut lalu turun dari kasur. Saat hendak berjalan tiba-tiba dia terjatuh. "Aduuhh!" Keluhnya.
"Kamu kenapa,hmm?" Tanya Aaron penuh khawatir lalu membantu Cinta duduk lagi di tempat tidur.
"Kaki Cinta lemes." Jawabnya lirih.
"Hmm,aku gendong ya?"
Cinta menggelengkan kepalanya. "Tidak mau!"
"Hhh,kan lemes. Nanti kita cari makan,ya?"
"Tapi Cinta jalan sendiri!"
"Hhh,yasudah kalau bisa jalan sendiri. Ayo,nanti cacing dalam perut kamu tidak cuma teriak tapi juga demo karena tidak di kasih makan." Guraunya.
"Aaron. . ."
"Ayo. Apa masih mau di sini,hmm?"
Cinta menggeleng. "Pulang!"
"Yasudah,ayo!" Mereka langsung keluar dari faviliun dengan Aaron memapah Cinta karena gadis itu masih terlihat lemas.
"Kita lewat sini saja!" Ajak Aaron. Aaron mengajak Cinta lewat pintu samping yang jarang di lewati. Mereka lalu naik taxi.
__ADS_1
Wajah Cinta terlihat sedikit pucat dengan mata bengkak karena kebanyakan nangis. Cinta memegangi kepala dan perutnya bergantian.
"Kepalanya pusing ya?"
"Hhh,pusing banget." Suaranya masih terdengar lemah.
"Kita cari makan dulu ya?" Tanya Aaron. Cinta hanya mengangguk lemah.
Mereka berhenti di sebuah restoran tidak jauh dari rumah Aaron. Aaron langsung memesan nasi dengan bermacam lauk. Lima menit pesanan mereka datang. Cinta makan dan langsung habis satu porsi nasi beserta lauk dalam waktu singkat,minumpun dia habiskan dua gelas.
"Kamu lapar banget,ya?" Tanya Aaron heran melihat cara makan Cinta.
"Cinta dari pulang sekolah belum makan. Di sekolah juga hanya beli roti." Jawab Cinta.
"Apa?" Aaron kaget. Rahangnya mengeras. Bang Romi memang keterlaluan. Masa Cinta tidak di kasih makan. Dasaaar. Batinnya. Dia mengepalkan tangannya.
"Hmm,nasinya nambah lagi?" Tawar Aaron.
Cinta menggelengkan kepalanya. "Kenyang." Jawabnya lirih.
Setelah membayar,mereka kembali naik taxi. "Aku antar pulang ke bunda apa papa,hmm?"
"Bunda."
"Hmm. Boleh aku pegang tangan kamu?"
Cinta menoleh lalu mengangguk. "Tanganmu panas. Kamu demam." Ucap Aaron yang kemudian memegang dahi Cinta yang terasa panas.
"Kepala Cinta masih pusing."
Maafin aku yang terlambat nolong kamu. Batin Aaron.
***
Menjelang pagi,Rey pergi ke kantornya untuk mencari data Aaron. Rey masih berpikir kalau Aaronlah yang sudah membawa putrinya. "Awas saja kamu kalau ketemu." Gumamnya penuh emosi.
"Aaron Rafael." Rey membaca data pribadi Aaron. Ada dua alamat yang berbeda. Alamat di surat lamaran berbeda dengan alamat di kartu identitas dan ijasahnya.
"Hmm,kartu identitas dan ijasahnya memakai alamat di luar kota. Jadi aku cari alamat yang tertera di surat lamaran saja. Mungkin itu alamat barunya." Gumam Rey.
Rey bergegas keluar dari kantornya. "Pak Rey,sudah datang." Sapa satpam kantor yang heran melihat Bosnya datang sepagi itu.
"Hmm,." Rey hanya tersenyum dan segera berlalu dari sana.
Rey naik ke mobilnya dengan membawa alamat tempat tinggal Aaron. Tiba-tiba handphonenya berdering.
"Ayahnya Cinta. Ada apa ya?" Gumamnya. Perasaannya tidak enak.
"Hallo?"
"Saya sedang di jalan,masih mencari Cinta."
"Apa? Cinta baru saja pulang?"
"Baik. Saya kesana sekarang. Terimakasih,pak Fadil."
Rey mematikan telponnya.
"Alhamdulillah Cinta sudah pulang. Moga dia baik-baik saja." Gumamnya. Ada rasa bahagia mengetahui putrinya sudah pulang,tapi juga ada rasa cemas membayangkan apa yang sudah terjadi pada putrinya itu. Rey pun melajukan mobiilnya dengan kecepatan tinggi karena tidak sabar.
Satu jam dia baru sampai di rumah ayahnya Cinta. Rey memarkirkan mobilnya di halaman.
__ADS_1
"Assalammualaikum." Sapa Rey.
"Wa alaikumsalam. Masuk pak Rey." Ucap asisten rumah tangga di sana.
"Hmm,terimakasih." Rey lalu masuk dan duduk di ruang tamu.
"Pak,Rey." Sapa Fadil.
"Pak Fadil. Bagaimana Cinta?" Rey sudah tidak sabar.
"Cinta ada di kamarnya. Dia demam. Pak Rey silahkan langsung saja masuk ke kamarnya." Terang Fadil.
"Hmm,terimkasih." Rey bergegas naik ke lantai atas dimana letak kamar putrinya.
Tok tok. Rey mengetuk pintu lalu langsung membukanya. Di dalam kamar terlihat putrinya sedang tidur. Rey lalu duduk di sisi tempat tidur.
"Sayang. . ." Panggil Rey sambil mengusap lembut kepala putrinya. Cinta membalik badannya menghadap ke papanya.
"Papa. . ." Ucapnya lirih dan langsung duduk untuk memeluk papanya. Dia terisak.
"Sayang. . ." Rey membiarkan putrinya meluapkan kesedihannya dalam pelukannya.
Setelah tangisan Cinta mereda,Rey melepaskan pelukannya lalu menatap putrinya lekat-lekat.
"Kamu sudah makan dan minum obat,hmm?"
Cinta mengangguk. "Sudah." Ucapnya lirih.
"Kalau Cinta sudah tenang,boleh cerita sama papa." Ucap Rey seraya mengusap airmata yang masih mengalir di sudut mata Cinta.
"Cinta takut."
"Hmm,ada papa di sini,nak. Papa dari semalam nyariin kamu. Maafin papa ya tidak bisa jagain kamu.
Cinta kembali memeluk papanya dan menangis sesenggukan.
Apa yang terjadi dengan anakku? Batin Rey. Pikirannya sudah membawanya ke hal-hal yang membuatnya makin takut.
.
.
.
.
.
Next
Selamat membaca,semoga suka ya. Maaf kalau masih ada kesalahan kata atau tanda baca. Terimakasih. ππ
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
1700