Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 70


__ADS_3

Siti baru saja selesai senam hamil di temani mama mertuanya. Karena suaminya masih sibuk jadi mereka hanya di antar sopir.


"Kita mau kemana lagi ma?" Tanya Siti saat sudah di lobi,dimana mamanya sedang duduk menunggunya.


"Kamu mau kemana?" Mama balik bertanya.


"Saya ingin pulang saja ma." Jawab Siti lirih.


"Ya sudah ayo kita pulang saja."


Saat Siti dan mamanya sedang menuju parkiran,tiba-tiba ada pengendara sepeda motor yang ngebut dan menabrak Siti tepat di belakang mamanya karena Siti berjalan di belakang mamanya hingga mamanya tidak menyadari sampai terdengar teriakan orang-orang yang melihat.


Siti langsung terhempas tanpa sempat menjerit. Matanya menatap kosong dan mulutnya terbuka tapi tidak bersuara. Dia hanya bisa memegangi perutnya.


"Tolong,toloongg!" Teriak orang-orang di sekitar Siti. Mama menoleh ke sumber suara yang terdengar berada di belakangnya.


Betapa kagetnya saat melihat menantunya telah tergeletak di jalan dengan bersimbah darah.


"Sitii. . .!" Jerit mama yang langsung menghampiri menantunya itu. " Tolong,ini menanti saya! Tolong!" Jerit mama yang histeris melihat menantunya yang sudah tidak berdaya. Dia menangis memanggil-manggil Siti yang sudah setengah sadar dengan mata yang kadang terbuka kadang terpejam.


Beberapa orang pria yang lewat berusaha membawa Siti ke mobil. Sopir keluarga Rey segera melarikan mobilnya.


"Siti! Siti. . !" Jerit mama berulang-ulang.


"Kita bawa ke Klinik dokter Layli,nyonya?" Tanya sopir yang terlihat cemas dan kebingungan.


"Cari yang terdekat saja!" Titah mama di tengah tangisnya. Sementara Siti sudah tidak sadarkan diri. "Tolong kamu telpon Rey!"


Sepuluh menit,mobil pun tiba di Rumah Sakit yang terdekat dari tempat kejadian. Siti segera di bawa ke IGD. Karena kondisi Siti yang parah,dari IGD Siti di pindah ke ruang operasi.


"Tolong keluarganya urus administrasi bu,pasien harus segera di operasi!" Titah suster pada mama.


Mama yang panik langsung saja menandatangani surat persetujuan tindakan untuk Siti tanpa membaca lagi isinya.


Tidak sampai setengah jam,Rey datang bersama Seno. Mama langsung berlari dan memeluk putranya sambil terisak.


"Siti kenapa ma?" Tanya Rey dengan tubuh bergetar.


"Siti,di tabrak motor Rey!"


Tubuh Rey lemas. Dia lalu mengusap kasar wajahnya.


"Keluarga pasien Siti?" Seorang suster memanggil.


Rey dan mama bergegas mendekat.


Karena kalut,Rey tanpa sadar mencengkeram bahu susternya. "Bagaimana istri saya suster?" Tanya Rey.


"Tolong lepaskan tangan bapak!" Titah suster.


"Hmm,ma maaf!" Rey langsung melepaskan tangannya.


"Bapak suaminya?"


Rey mengangguk. "Iya suster. Bagaimana istri saya?"


"Istri bapak kehilangan banyak darah,dan stok darah yang di butuhkan istri bapak stoknya tinggal satu. Dia butuh tiga kantong darah!" Jawab suster. " Tolong segera cari darah dengan golongan darah A- !"

__ADS_1


"A- ?" Gumamnya.


Tubuh Rey makin lemas dan gemetar. Darah A-? Kemana mencarinya? Batin Rey. Dia seperti tidak bisa lagi berpikir.


"Seno? Darah kamu sama kan sama mbak kamu?" Rey mengguncang tubuh Seno.


Seno diam,dia pun ikut lemas lalu menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak! Tidak mungkin darah kalian beda? Kalian kan kakak adik!" Rey makin mengguncang kuat tubuh Seno.


"Mbak Siti darahnya sama dengan bapak. Sama dengan keluarga bapak!" Terang Seno.


"Keluarga bapak kamu?"


Seno mengangguk. "Paman Supri,kita ke rumah paman Supri mas!" Ajak Seno.


Tanpa pamit lagi ke mamanya,Rey langsung menarik tangan Seno.


Rey mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Di dalam mobil,mereka hanya diam. Selama lebih setengah jam,mereka baru sampai di rumah paman Seno.


"Paman! Paman!" Teriak Seno setelah mereka sampai di rumah paman.


"Heehh,jangan teriak-teriak di rumah orang!" Bentak Radit,putra sulung paman Supri.


"Mana paman Supri?" Tanya Seno.


"Mana saya tau! Cari saja sendiri!" Jawab Radit ketus.


"Rania! Rania!" Seno akhirnya memanggil Rania. Rania keluar dari kamar masih menggunakan mukena,mungkin dia baru selesai sholat.


"Seno?" Tanya Rania kaget. "Ada apa?"


"Papa? Papa sedang pulang ke desa sama mama!" Jawab Rania.


"Rania,golongan darah kamu apa?"


"Golongan darah saya B-. Kenapa?"


"Tidak mungkin kamu B-! Mbak Siti kecelakaan dan membutuhkan darah A-!"


"Mbak Siti kecelakaan? Darah saya sama dengan mama."Jawab Rania lemas.


"Sedang butuh baru datang ke sini? Selama ini kemana saja? Sudah lupa mentang-mentang sudah jadi orang kaya!" Ucap Radit sinis.


"Mas Radit! Tidak boleh seperti itu!" Ucap Rania.


"Kamu itu sodara siapa heh,kok membela mereka!"


"Mereka juga sodara kita mas!"


"Sodara? Sodara yang memenjarakan sodaranya sendiri?"


"Tapi mereka kan sudah membebaskan mama,mas! Kenapa mas tidak berterimakasih?"


"Berterimakasih? Mama di penjara selama dua bulan kamu suruh saya berterimakasih?"


"Harusnya mama kan di penjara satu tahun lebih mas!"

__ADS_1


"Sudah-sudah kalian jangan bertengkar! Radit,apa golongan darah kamu!" Tanya Seno.


"Kenapa? Mau darah saya,heehh? Berani bayar berapa?"


Rey mendekati Radit. "Kalau darah kamu sama dengan Siti,saya akan bayar kamu 1 milyar!" Ucap Rey.


Radit tertawa. "1 milyar? Jadi harga Siti hanya 1 milyar?" Ejeknya.


"Kamu mau berapa?" Tanya Rey dengan wajah frustasi. Dia sudah tidak sabar lagi.


"Mas Radit! Satu milyar itu sudah sangat banyak! Bertahun-tahun kamu tidak akan bisa dapat uang sebanyak itu!" Ucap Rania kesal. "Ayo sana ikut mas Rey ke Rumah sakit!" Titah Rania.


"Bayar dulu sekarang!" Pinta Radit.


"Saya tidak bawa uang sekarang! Saya pasti akan bayar asal kamu mau mendonorkan darah kamu pada istri saya secepatnya! Saya tidak bohong!"


"Bener nih tidak akan bohongi saya?" Tanya Radit sambil membayangkan uang 1 milyar.


"Saya janji!" Rey berusaha meyakinkan. "Ayo sekarang ikut saya!" Rey langsung menarik paksa tangan Radit. Demi uang 1 milyar,Radit pun menurut.


***


Di rumah sakit,mama makin kalut. Papa sudah tiba di Rumah Sakit juga,sedang berusaha menenangkan istrinya dengan memeluknya.


"Bagaimana ini pa? Mama takut!" Ucap mama lirih.


"Kita berdoa saja ma!"


"Kasian Rey! Mama tidak bisa membayangkan bagaimana kalau terjadi sesuatu sama istri dan anaknya pa."


Tak lama Rey,Seno dan juga Radit tiba di rumah sakit.


"Ma,bagaimana istri Rey ma?" Tanya Rey begitu di dekat mamanya.


"Siti. . ."


Ceklek. Pintu ruang OK terbuka dan seorang suster keluar. "Keluarga pasien ibu Siti?" Serunya.


"Saya suaminya sus!" Jawab Rey yang langsung mendekati suster.


"Sudah dapat darahnya,kok lama? Oh iya bayi bapak sudah lahir secara caesar dan istri bapak belum sadar dan segera butuh transfusi darah sekarang juga!" Terang suster.


"Bayi saya? Bayi saya sus?" Tanya Rey seakan tidak percaya.


"Iya. Silahkan ikut saya! Oh ya pendonornya sudah dapat belum?"


Rey langsung menarik tangan Radit. "Dia yang akan mendonorkan darahnya sus!"


"Ayo kalian berdua ikut saya!"


"Mama ikut Rey! Mama mau lihat cucu mama!" Seru mama yang langsung mengikuti Rey dari belakang di ikuti oleh papa. Sementara Seno tetap menunggu di depan ruang OK.


"Ya Allah,selamatkan mbak saya dan bayinya!" Gumam Seno. Tak terasa ada bulir bening di sudut matanya. Ya Allah,hamba mohon jangan ambil mbak saya. Doanya dalam hati.


NEXT


Double up hari ini,jangan lupa likenya dan juga votenya donk! Agar othor makin semangat. Terimakasih ☺

__ADS_1


230521/19.55


__ADS_2