
Siti di kamar sendirian,suaminya Rey sedang mengurus administrasi karena Siti akan pulang hari ini juga.
Tak lama Rey sudah kembali ke kamar. "Semua sudah beres. Obat yang harus kamu minum di rumah juga sudah di ambil. Kita bisa pulang sekarang." Terang Rey.
"Hmm,iya. Barang-barang juga sudah saya simpan di tas." Ucap Siti.
"Yuk,kamu bisa jalan sendiri apa mau pakai kursi roda?"
"Bisa sendiri kok!" Jawab Siti. Rey menggandengnya sepanjang jalan menuju parkiran. Mereka lalu meninggalkan Rumah Sakit.
Mereka tiba di kediaman Rey satu jam kemudian. Rumah masih sepi. Mereka langsung naik ke atas menuju kamar mereka. Rey berlalu menuju ruang ganti. Dia keluar sudah berganti pakaian dengan stelan jasnya. Sepertinya hendak ke kantor. Siti memandangnya lekat-lekat. Kamu tampan sekali. Mau kemana? Tanya Siti dalam hati.
"Kamu istirahat saja! Kamu pakai handphone ini. Kalau ada apa-apa telpon saya,sudah ada nomor kontaknya di sana!" Rey menyerahkan sebuah handphone lengkap dengan kotaknya. Terlihat masih baru.
"I ini untuk saya?" Tanya Siti sambil menerima handphone dari tangan Rey.
"Iya untuk kamu! Oh iya obat ada di atas meja rias. Saya tinggal dulu!" Rey bergegas keluar dari kamarnya dengan Siti yang masih terus menatap kepergiannya.
"Hmm,mulai di tinggal sendirian lagi." Gumamnya.
Siti menimang-nimang handphone yang tadi di berikan Rey. Dia mulai membuka dan mengotak atiknya. Hanya ada satu nomor kontak di sana dengan nama 'Suamiku' di sertai emoticon kiss. Siti senyum-senyum sendiri membacanya lalu replek mencium handphonenya dan menaruhnya dalam dekapan seolah itu adalah suaminya. Siti pun akhirnya tertidur.
Beberapa jam kemudian dia terbangun oleh suara dering telepon. "Ya Allah,sampai kaget" Gumamnya. Di lihatnya di layar handphone nama 'Suamiku' sedang memanggil. Dengan cepat dia jawab.
"Ha hallo. . ." Siti.
"Ya hallo. . . Kamu sedang apa?" Rey.
"Saya sedang tiduran saja." Siti.
"Sudah makan? Minum obat?" Rey.
"Hmm,makan? Be lum. Tadi saya,saya ketiduran." Siti.
"Sudah jam satu siang ini! Hmm,mau makan di kamar apa di ruang makan? Kalau di kamar,nanti saya suruh bibi antarkan makanan untuk kamu." Rey.
"Hmm,saya ambil sendiri saja." Siti.
"Ya sudah sana makan sekarang terus minum obat! Nanti saya telepon lagi." Rey.
Tuuutt. Siti menatap handphonenya dengan senyuman. Dia masih perhatian. Ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Siti pun keluar dari kamar lalu turun menuju ruang makan. Di ruang makan tidak ada siapapun. Meja makan pun kosong. Siti lalu ke dapur dan tidak ada siapa pun juga.
"Non Siti." Sapa bi Sri yang biasa memasak mengagetkannya.
"Hmm,bi apa ada yang bisa di makan? Kalau tidak ada,boleh saya masak sendiri?" Tanya Siti.
"Oohh ada non,di lemari. Non tunggu saja di meja makan biar saya siapkan!" Ucap bi Sri.
"Hmm,terimakasih bi." Siti lalu duduk mengunggu di meja makan.
Tidak sampai lima menit,bi Sri datang membawakan makanan untuk Siti. Nasi beserta lauk dan sayurnya. "Silahkan non,hanya ada ini." Ucap bi Sri.
"Iya terimakasih bi." Siti mengangguk sambil tersenyum. Siti lalu segera makan karena memang sudah lapar.
Setelah makan,Siti kembali ke kamar. Minum obat lalu sholat. Setelahnya Siti menuju ke balkon untuk sekadar duduk-duduk sambil mengotak atik handphonenya. Dia masih belum mengerti cara memakai handphone karena memang dia belum pernah sekali pun memiliki benda yang di anggap mahal olehnya itu. Dia senyum-senyum sendiri melihat nama kontak suaminya .
Tiba-tiba handphonenya berdering lalu muncullah nama 'Suamiku' dengan emoticon kiss. Wajah Siti langsung berbinar bahagia.
"Halloo." Siti.
"Hmm,sudah makan? Obatnya sudah di minum?" Rey.
"Sudah semua." Siti.
Hmmff,Siti menghela nafas. Walau hanya pertanyaan sederhana tapi itu sudah lebih dari cukup bagi Siti.
***
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam tapi Rey belum juga pulang. Siti berniat turun ke bawah untuk makan malam bersama.
Di ruang makan belum ada siapa-siapa. Siti duduk di kursi yang biasa dia duduki.
"Non Siti sudah mau makan malam?" Tanya Ria,asisten rumah tangga yang masih berusia belasan tahun.
"Iya,tapi tunggu yang lain saja." Jawab Siti.
"Nyonya dan tuan besar tadi telepon bakal pulang malam,non."
"Hmm,yasudah kalau begitu saya makan sendiri saja bi." Ucap Siti.
Selesai makan,Siti kembali ke kamar. Sambil menunggu suaminya pulang,Siti mencoba mengotak atik handphonenya. Tiba-tiba dia jadi ingat Seno. Adik semata wayangnya yang ada di desa. "Sedang apa kamu Seno?" Gumamnya.
__ADS_1
Saat Siti sedang tiduran di kasur,sayup dia dengar suara-suara dari bawah. Ada suara anak kecil juga. Tiba-tiba pintu kamarnya ada yang mengetuk,lalu terbuka.
Ceklek. Pintu terbuka. Siti menoleh. "Ah mungkin Rey sudah pulang." Gumamnya.
"Mama. . .!" Suara anak kecil memanggilnya.
Siti langsung duduk di pinggir kasur. "Cinta. . .?" Serunya.
Cinta berlarian mendekat ke arahnya. "Papa bilang mama sakit ya? Kok Cinta baru di kasih tahu!" Cinta cemberut sambil memeluknya.
Siti mengusap kepala gadis kecil itu. "Yang penting sekarang mama sudah sehat. Mama kangen!"
"Cinta juga kangen mama! Cinta sekarang sibuk sama bunda." Curhatnya.
"Sibuk apa Cinta sama bunda?"
"Sibuk ngurusin adik Faqih,ma! Makin nakaal!" Suaranya di tekankan.
"Hehehee,adik bayi nakalnya kan lucu!"
"Iya ma,gemeesiiinn!" Selorohnya. " Oh iya mama kapan kasih Cinta adik? Cinta mau adik perempuan ya!"
Rey hanya tersenyum begitu pun Siti.
"Cinta doain ya sayang!" Ucap Siti. " Cinta malam ini menginap di sini kan?"
"Iya,Cinta mau tidur sama mama. Mau jagain mama kan habis sakit!"
"Uuhhh,anak mama baik sekali! Terimakasih ya,mama jadi tidak kesepian lagi."
"Cinta kan sayang sama mama! Sama bunda,ayah dan papa! Tapi yang paling Cinta sayang tuh adik Faqih. Habisnya dia gemesiiin!" Cinta sambil tertawa. "Kapan-kapan mama sama papa ketemu adik Faqih deh!"
"Iya sayang!"
Siti dan Cinta makin terlibat obrolan berdua. Rey meninggalkan mereka dan berlalu ke kamar mandi. Setelahnya dia pun sholat. Sejak menikah dengan Siti,dia mulai rajin beribadah. Dia merasakan ketenangan setelahnya yang selama ini tidak dia dapatkan. Mungkin Siti adalah jodoh yang terbaik. Saya akan berusaha mencintainya. Toh dia juga gadis baik-baik. Batin Rey.
Walau cinta lama belum hilang sepenuhnya tapi mencoba untuk memulai cinta yang baru tidak ada salahnya. Terlebih pada seseorang yang jelas-jelas sudah halal untuknya. Dan tentu saja seseorang yang mencintainya.
Rey tersenyum bahagia melihat keakraban yang terjadi antara istri dan anaknya. Siti terlihat tulus pada Cinta bahkan sebelum mereka menikah. Mungkin itu yang di rasakan oleh putrinya Cinta hingga dia menginginkan Siti menjadi mamanya menjadi pendamping hidup bagi papanya.
Rey merebahkan dirinya di atas sofa sambil melihat-lihat tv. Suara istri dan anaknya yang sedang mengobrol mulai terdengar pelan,mungkin mereka mulai lelah. Rey pun tak sadar mulai memejamkan matanya.
__ADS_1
NEXT
180421/13.00