
Siti terbangun saat menjelang siang. Dia terbangun karena merasa perutnya lapar. Paman sedang tidur di sofa dan suaminya sedang nonton tv dengan volume kecil.
"Mas." Panggil Siti.
Rey menoleh,lalu mendekati istrinya itu. "Kamu sudah bangun,yank."
"Aku lapar,mas." Jawab Siti.
"Mas suapin ya? Baru setengah jam lalu suster mengantarkan makan siang untuk kamu." Tawar Rey.
"Hmm,iya mas." Jawab Siti.
Rey lalu menyuapi istrinya makan. Makanannya sedikit lunak dengan sayur dan sup ikan gabus. Setelah tinggal setengahnya,Siti merasa cukup kenyang.
"Sudah mas." Tolaknya saat Rey menyuapinya lagi.
"Kamu harus makan yang banyak yank!" Titah Rey.
"Haus." Ucap Siti.
Rey lalu mengambilkan minum untuk Siti. Siti meminumnya beberapa teguk.
"Makan dikit lagi ya,agar ASI kamu banyak." Titah Rey.
Siti mengangguk dan Rey mulai menyuapinya lagi.
Setelah selesai,Rey menyimpan piring dan mangkuk kotor di atas meja.
"Mas,kapan aku boleh jenguk Putra?"
"Oh iya yank,mas ke ruang NICU bentar ya? Kamu tunggu di sini sama paman." Jawab Rey.
Rey segera keluar dari kamar Siti. Hanya lima menit,dia sudah sampai di ruang NICU.
"Sus,saya mau jenguk bayi saya." Ucap Rey.
"Silahkan,pak." Jawab suster.
Setelah memakai pakaian khusus dan masker,Rey masuk ke ruangan di mana bayinya sedang di rawat. Rey menatap lekat-lekat bayinya yang sering tidur itu. Dia merasa kangen mendengar tangisannya. Setelah memastikan keadaannya masih seperti sebelumnya,Rey keluar dari kamar.
"Sus,istri saya mau lihat bayinya boleh?" Tanya Rey pada suster jaga.
"Boleh saja pak,kalau ibunya sudah sehat." Jawab suster.
"Terimakasih,sus. Saya akan bawa istri saya kesini." Ucap Rey.
Rey lalu kembali ke kamar inap istrinya sambil membawa kursi roda.
"Yank,yuk kita lihat Putra sekarang." Ajak Rey.
Wajah Siti langsung berbinar. "Boleh,mas?"
__ADS_1
"Iya,yank. Yuk kamu pakai kursi roda."
Rey lalu menggendong istrinya lalu mendudukkannya di kursi roda. Dia lalu pamit sama paman yang sudah bangun dan sedang nonton tv.
"Paman,kita ke ruang NICU dulu ya." Pamit Rey.
"Iya Rey." Jawab paman.
Rey lalu mendorong kursi roda Siti menuju ruang NICU.
Setelah memakai pakaian khusus dan juga masker,mereka lalu masuk ke ruang NICU. Bayinya masih tertidur.
"Ya Allah,bayiku." Ucap Siti sedih,tak terasa matanya berkaca-kaca demi melihat kondisi bayinya. Dadanya terasa sesak,rasa sesal menyeruak di relung hatinya. Bayinya yang begitu mungil harus di pasang begitu banyak selang. Lebih banyak dari selang yang pernah dia gunakan selama di ICU.
"Ssstt,sudah yank. Kita doakan dia cepat sehat dan makin baik kondisinya." Hibur Rey.
Siti mengangguk dan terus memandang bayinya. Ingin rasanya memeluk dan menggendongnya.
Setelah setengah jam. "Kita kembali ke kamar kamu,yuk!" Ajak Rey.
Siti menggeleng. "Aku masih mau di sini,mas." Jawab Siti.
Rey menurut saja,dia membiarkan istrinya itu berlama-lama menatap bayi mereka.
***
Sudah lima hari Siti di rawat di ruang rawat inap biasa. Dia sudah makin sehat dan wajahnya pun sudah lebih segar. Pagi ini dokter Layli visit ke kamar inap Siti.
"Mbak Siti besok sudah boleh pulang,ya." Ucap dokter Layli.
"Alhamdulillah. Bayi saya kapan,dok?" Tanya Siti.
"Kalau dede bayinya belum bisa dalam waktu dekat ini,ya mbak. Butuh waktu kurang lebih satu bulanan kan, jadi In sya Allah mungkin tiga minggu lagi." Terang dokter Layli.
"Tapi kondisinya makin baik kan dok?" Tanya Rey.
"Alhamdulillah setiap hari ada kemajuan. Oh ya walaupun mbak Siti sudah boleh pulang,tetap harus siapkan ASI ya! Setiap hari bayinya di kirimin ASI." Terang dokter.
"Oh iya dokter. Tiap hari saya akan ke sini menjenguknya." Jawab Siti.
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar inap Siti. Karena pintu memang sedang terbuka,Seno langsung masuk bersama papa. Dia membawa beberapa paperbag dan juga keranjang buah.
"Assalammualaikum." Ucap Seno dan papa.
"Wa alaikumsalam." Sahut semua yang ada di kamar.
Seno lalu menaruh paperbag dan keranjang buah yang dia bawa dari rumah ke atas meja di samping sofa.
"Seno,bagaimana kamu sudah di belikan laptop sama Dinda?" Tanya dokter Layli saat melihat Seno.
Seno kaget lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hmm,Seno rasa tidak perlu dok. Sudah pakai laptopnya mas Rey. Lagipula salah saya juga yang tidak hati-hati membawanya." Jawab Seno.
__ADS_1
"Loh,kenapa? Nanti Dinda mau ke klinik,saya suruh kesini ya biar bisa beli laptopnya sama kamu." Ucap dokter Layli dengan penekanan.
"Tapi dok?" Seno ingin menolak.
"Tidak apa-apa. Kita harus bertanggung jawab jika sudah berbuat salah! Ya sudah saya permisi dulu." Pamit dokter Layli kemudian.
"Laptop kamu kenapa,dek?" Tanya Siti setelah dokter Layli keluar dari kamar.
"Hmm,rusak mbak. Waktu anaknya dokter Layli lari-lari sampai nabrak Seno. Lagipula salah Seno juga tidak hati-hati dan tidak lihat saat dia lari ke arah Seno." Jawab Seno.
"Hmm,tidak usah di ganti saja ya kan mas?" Siti menatap suaminya. Rey pun mengangguk.
"Iya mbak. Seno tidak minta ganti kok,tapi dokter maksa." Jawab Seno.
"Hmm,yasudah. Kita sudah bawakan kalian sarapan. Ayo Rey,pak Supri sama Radit sarapan dulu." Titah Papa. "Ini buat Siti." Papa juga memberikan satu untuk Siti.
Siti mengambil dan membuka isi paperbag itu. Di dalamnya ada kue-kue kesukaan Siti saat hamil.
Siti mulai memakan kuenya di temani Rey yang memakan sarapannya di samping Siti,sedangkan paman dan Radit juga makan sarapan mereka yang di bawakan oleh Seno dan papa di sofa. Seno tiduran di kasur yang satunya. Sementara papa ikut duduk di sofa sambil nonton tv.
Setelah selesai makan,Rey menyimpan bekas tempat makannya kedalam paperbag lagi.
"Makan yang banyak,yank!" Titah Rey yang melihat istrinya makan kue yang di bawakan papanya dengan malas-malasan padahal saat hamil,dia sering ngemil kue itu hampir tiap hari.
"Mas kupasin buah,ya?" Tawar Rey.
"Hmm,nanti saja mas." Tolak Siti.
"Aku ingin lihat Putra lagi,mas." Pinta Siti dengan wajah memohon.
"Iya,bentar lagi kita kesana ya." Jawab Rey sambil mengusap lembut kepala istrinya itu dengan penuh kasih sayang.
"Aku juga kangen Putri." Ucap Siti. Matanya mulai berkaca-kaca mengingat anak-anaknya yang masih bayi terpaksa harus terpisah dari mamanya.
"Ssstt,yank kamu jangan sedih gitu. In sya Allah semua akan baik-baik saja dan kita akan segra berkumpul." Rey coba menghibur istrinya.
"Aamiin." Ucap Siti. "Putri baik-baik saja kan,mas?" Tanya Siti.
"Alhamdulillah Putri baik-baik saja,yank. Mama telaten kok ngurus cucunya." Jawab Rey agar istrinya itu tidak terus kepikiran putri mereka di rumah.
Tak berapa lama,ada yang mengetuk pintu kamar inap Siti.
"Biar Seno yang buka." Ucap Seno.
Ďia turun dari kasur lalu berjalan ke arah pintu. Saat membukanya. . .
Ceklek. "Kamu?" Ucap Seno kaget.
Orang di balik pintu juga kaget tau siapa yang membukakan pintu untuknya. Lalu dia menatap dengan pandangan tidak suka. Lama mereka saling diam dan tetap berdiri mematung di tempatnya dengan masih saling menatap.
NEXT
__ADS_1
Terus ikuti dan dukung cerita Siti ya readers sayang. Terimakasih.
2706/1717