
Setelah kepergian Rey ke rumah Cinta,Seno kembali duduk di kursinya.
"Apa aku juga harus membujuk Cinta kembali sekolah ya. Hhh,Cinta." Gumam Seno.
Seno pun segera memeriksa pekerjaannya.
Saat jam makan siang,ada yang mengetuk pintu ruangannya. Tok tok. . .
Hmm,siapa yang datang jam segini. Batinnya.
Pintu kembali di ketuk.
"Masuk." Ucap Seno sambil terus membaca berkas di hadapannya tanpa menoleh ke arah pintu.
Ceklek. Pintu terbuka. Beberapa detik ada seseorang yang duduk di kursi yang ada di depannya. Seno menoleh.
"Dinda?" Ucap Seno kaget. "Kok tidak bilang mau datang?" Tanya Seno sambil tersenyum.
Dinda tersenyum. " Kejutan."
"Kamu dari Rumah Sakit langsung ke sini?" Tanya Seno.
"Iya,mas." Jawab Dinda.
"Naik apa ke sini,hmm?"
"Aku naik taxi,mas. Aku sedang ingin makan di kafe depan itu loh mas. Yuk mas." Ajak Dinda.
"Makan di kafe depan?" Tanya Seno kaget. Haduh pekerjaan sedang banyak ini. Batin Seno.
"Ayo,mas." Dinda setengah memaksa.
"Ayo apa?"
"Ke kafe depan."
"Hhmm,kirain ayo apa." Seno tersenyum menggoda.
"Iihh,pikirannya." Ucap Dinda malu.
"Ya sudah. Ayo." Seno tidak enak menolak ajakan istrinya itu.
Mereka lalu keluar dari ruangan Seno. Sepanjang mereka berjalan menuju kafe,banyak mata yang menatap ke arah mereka,khususnya Dinda.
"Hmm,mas. Kok karyawan sini lihatin kita terus ya." Ucap Dinda yang merasa salah tingkah.
"Biarkan saja. Tidak usah di lihatin."
"Hmm,iya mas"Jawab Dinda.
Sampai di kafe,mereka memilih duduk di dekat jendela.
"Loh mas,setiap kita ke sini meja ini pasti kosong ya." Ucap Dinda senang.
"Iya,emg sudah jadi meja buat kita." Gurau Seno.
"Hehee,mas bisa saja."
"Pesan yang biasa kan?" Tanya Seno.
"Iya mas. Makan di sini emang ingin menu itu." Jawab Dinda.
Lima menit pesanan mereka datang.
"Hmm,lezatnya." Ucap Dinda sambil menyantap makanannya dengan lahab.
"Nih,mas suapin." Ucap Seno sambil mennyendokkan makanan ke mulut Dinda.
__ADS_1
Dinda membuka mulutnya. Walau mereka sudah lebih dekat tidak seperti saat awal menikah,tapi tetap saja jika Seno bersikap mesra,Dinda akan merasa deg-degan dan tersipu malu.
Sepuluh menit,mereka sudah selesai makan.
"Mas,hari ini pulang jam berapa?"Tanya Dinda.
"Mas belum tau,Din. Pekerjaan mas banyak. Mas Rey sedang ada urusan." Jawab Seno.
"Hmm,aku pulang jam tiga. Aku boleh jemput mas pulang dari rumah sakit?" Tanya Dinda.
"Boleh kok. Kalau gitu kamu bawa mobil ya. Jangan naik taxi lagi." Jawab Seno.
"Iya,mas."
"Mau langsung pulang apa ke kantor mas lagi?"
"Aku langsung ke Rumah Sakit saja,mas."
"Oh ya sudah. Yuk sekarang saja biar kamu tidak telat." Ajak Seno.
Setelah membayar,mereka lalu kembali ke kantor Seno dan Dinda kembali ke Rumah Sakit dengan membawa mobil yang tadi pagi Seno bawa.
***
Jam empat sore,Dinda sudah berada di ruangan Seno. Sepertinya dia ingin dekat-dekat terus dengan suaminya itu.
"Mas,mau pulang jam berapa? Tadi aku lihat karyawan sudah ada yang pulang."
"Pekerjaan mas belum selesai nih. Masih ada satu berkas lagi yang harus mas selesaikan karena besok pagi mas Rey ada meeting." Terang Seno yang masih fokus dengan berkas di hadapannya.
"Hmm,aku ganggu donk mas."
Seno menoleh. "Hmm,kamu tidak ganggu kok. Mas seneng kamu datang menemani mas."
"Hmm,iya mas." Dinda tersenyum.
"Pak,saya masih di kantor ini. Belum tau pulang jam berapa."
"Iya,terimakasih."
Seno menutup telponnya.
"Aku duduk di sofa saja deh." Ucap Dinda yang langsung menuju ke sofa.
"Tidak apa-apa kan kamu tunggu sebentar lagi ?." Ucap Seno.
"Iya mas,tidak apa-apa kok."
Lima menit. "Kita nanti langsung pulang?" Tanya Seno.
Aku tidak tau apakah aku sudah mulai mencintaimu. Yang aku tau,jantungku berdetak lebih cepat tiap di dekatmu. Aku merasa sangat bahagia setiap ada di dekatmu. Aku ingin setiap waktu berada di dekatmu. Apakah kamu juga merasakan itu? Dinda.
"Din?" Panggil Seno,melihat Dinda yang diam saja.
"Eh iya mas?"
"Kamu melamun ya?"
"Hmm,"
"Nanti langsung pulang kan?"
"Iya mas,langsung pulang saja." Jawab Dinda.
Pukul lima sore,dinda tertidur di sofa dengan posisi duduk. Seno sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dia melihat ke arah Dinda sambil menggelengkan kepalanya. Jam segini kok tidur. Batinnya.
Meja kerjanya sudah rapi. Semua berkas dia susun jadi satu di sisi meja. Seno lalu berjalan ke arah sofa mendekati istrinya yang tengah tertidur lelap. Menatapnya lekat-lekat.
__ADS_1
Walau di hatiku masih ada orang lain,tapi kamu mulai memasuki pikiranku. Semoga kamu akan bisa menempati hatiku.
Seno mengusap pipi putih itu,membayangkannya saat sedang merona benar-benar menggemaskan. Dia mendekatkan wajahnya.Cup.
Dinda mengerjap-ngerjapkan matanya. Matanya membulat saat tau suaminya duduk tanpa jarak dengannya. "Mas?"
Seno tersenyum. Dia kembali mendekatkan wajah mereka berdua. Dinda merasa jantungnya mulai berdetak lebih cepat. Dinda yang sudah mengerti langsung memejamkan matanya. Sedetik dua detik Dinda menunggu. Lalu dia membuka lagi matanya. Ternyata Seno hanya memandanginya dengan senyum yang terus tersungging di wajahnya.
"Iiihh mas ini." Dinda kesal bercampur malu. Wajahnya merona. Dia lalu menunduk.
Seno makin tersenyum lebar. Dia sangat suka melihat wajah istrinya jika sedang malu. Kemudian dia mendekatkan lagi wajahnya dengan wajah Dinda yang cemberut. Dinda memalingkan wajahnya. Seno lalu memegang dagu Dinda dan memandangi bibir yang narum itu. 'cup'. Mata Dinda membulat. Seno lalu mengulanginya lagi hingga sedetik,dua detik. . .
Lima menit. "Pulang yuk,di rumah saja." Bisiknya lembut membuat Dinda merinding. Seno lalu berdiri dan mengambil jasnya.
"Din?" Panggil Seno,melihat Dinda yang tidak bergerak dari posisinya.
"Hmm,i iya mas." Dinda lalu berdiri dan berjalan menghampiri Seno.
"Mau sekarang ya?" Bisik Seno.
Dinda terunduk malu. "Pulang." Jawabnya lirih.
"Ayo!" Seno mengajak Dinda keluar dari ruangannya.
Sepanjang jalan menuju mobilnya yang sepi karena sudah pukul lima sore,mereka berjalan bergandengan tangan dengan mesra.
Sampai di parkiran,Seno membukakan pintu mobil untuk Dinda.
"Tidak mau mampir kemana dulu,hmm? Mungkin ada yang mau di beli?" Tanya Seno saat mereka sedang dalam perjalanan.
Dinda menggeleng. "Langsung pulang saja." Jawab Dinda.
"Hmm,tidak sabar mau cepat sampai di rumah ya?" Goda Seno sambil mengusap pipi Dinda.
Dinda tersenyum malu lalu mengalihkan pandangannya ke arah jalan. Jalanan yang penuh kendaraan sampai mobilnya hanya bisa bergerak perlahan.
"Hmm,jam segini kok masih macet sih." Kesal Seno lalu melirik ke Dinda yang masih asik melihat jalanan.
.
.
.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca. ππ
.
.
.
.
0708/1414
__ADS_1