
Sore ini Seno tidak pulang ke rumah. Entah dia merasa ingin ke Rumah Sakit. Dia begitu merindukan istrinya. Sampai di Rumah Sakit,keluarga besar istrinya masih menunggu di depan ruang tunggu ICU. Saat Seno hendak masuk,dia di hadang oleh neneknya Fia.
"Seno,saya mau bicara penting sama kamu!" Pinta nenek Fia dengan wajah tak ramah.
"Hmm,iya nek." Seno pun mengalah. Dia menurut saja saat nenek membawanya ke sudut ruangan yang sepi.
Setelah mereka hanya tinggal berdua,nenek Fia mulai berbicara dengan ancaman.
"Saya minta kamu ceraikan cucu saya. Tidak ada gunanya juga kalian masih bersama. Kamu tidak bisa jadi suami yang siaga. Ke Rumah Sakit saja jarang!"
"Hmm,nek. Bukannya saya jarang ke Rumah Sakit,tapi ibu selalu ingin menunggui Fia di dalam setiap kali saya ingin menjaganya." Terang Seno.
"Alasan saja. Kamu bisa kan menunggu di ruang tunggu sama kita semua."
"Lagipula sudah lebih dua bulan nek,saya juga harus kerja."
"Kamu memang pandai mencari alasan. Kita sekeluarga sudah sepakat,kalau kamu harus menceraikan cucu saya!"
"Nek,toh Fia belum sadar. Tunggu dia sadar,baru kita tanyakan apa dia mau bercerai dari saya."
"Baiklah!"
"Lagipula,kalau dia sudah sadar lalu di paksa bercerai,apa itu tidak makin membuatnya terpuruk? Apa kalian tidak kasihan?"
"Justru karena kita kasihan sama dia punya suami seperti kamu!"
"Hhh,terserah nenek saja. Saya mau jenguk istri saya!" Seno lalu meninggalkan neneknya Fia yang terlihat makin benci pada Seno.
Tanpa menghiraukan keluarga Fia yang ada di ruang tunggu,Seno langsung mengenakan pakaian khusus dan maskernya lalu segera masuk ke ruang ICU di mana istrinya masih di rawat secara intensif.
"Sayang,kamu cepatlah sadar,jangan lama-lama tidurnya." Lirih Seno sambil menggenggam tangan istrinya yang dingin. "Kita belum sempat bulan madu kan!"
Seno terus mengajak istrinya berbicara apa saja. Dari perkenalan pertama mereka hingga mereka bisa dekat dan akhirnya memutuskan untuk berpacaran dan menikah. Semua mengalir begitu saja sampai Seno pun tertidur sambil memeluk tangan istrinya.
Setelah hampir satu jam dia menemani istrinya,Seno merasakan gerakan-gerakan kecil dalam genggamannya. Awalnya Seno tidak menyadari tapi makin lama gerakan kecil itu makin sering hingga Seno tersadar jika tangan istrinya yang bergerak-gerak.
Seno langsung menatap wajah pucat istrinya. Ternyata kedua mata istrinya itu bergerak-gerak juga.
"Sayang,kamu sudah sadar? Sayang. . ." Seno terus saja memanggil istrinya.
Melihat istrinya makin sering bergerak,Seno lalu memanggil suster jaga.
"Suster-suster. Istri saya sepertinya sudah sadar!" Teriak Seno.
Suster langsung datang mendekati mereka."Pak,sebaiknya bapak keluar dulu ya!" Titah suster jaga.
Seno pun menurut,dia segera keluar dari ruang ICU.
"Ada apa,Seno?" Tanya ayah Fia.
"Fia mulai sadar,pak." Jawab Seno dengan wajah penuh harap.
"Apa,Shofia sadar?" Semua keluarga Fia mendekati Seno.
"Hmm,iya tadi tangannya bergerak-gerak." Terang Seno.
Nenek dan ibunya Fia berniat masuk tapi di larang oleh suster jaga.
"Maaf ya ibu,pasien sedang di tangani oleh dokter. Silahkan tunggu ya." Titah suster.
Mereka akhirnya kembali duduk dengan harap-harap cemas.
Tak berselang lama,salah satu suster keluar.
"Bagaimana cucu saya,sus?"
"Bagaimana putri saya,sus?"
"Maaf,yang namanya mas Seno yang mana ya? Pasien ingin bertemu." Tanya suster.
"Saya sus,saya Seno suaminya!" Seno langsung maju mendekati suster.
"Ooh anda. Silahkan masuk,pak!" Titah suster.
"Sus,saya neneknya!" Protes nenek Fia.
"Saya ibunya,sus! Saya ingin bertemu putri saya!" Ibunya Fia juga protes.
"Maaf ya nanti gantian. Sekarang pasien menanyakan suaminya." Terang suster yang langsung mengajak Seno masuk.
Seno bergegas memakai pakaian khusus dan juga maskernya. Dia segera masuk ke ruang ICU.
__ADS_1
"Sayang. . ." Seno segera memeluk istrinya dengan erat,seperti memeluk seseorang yang lama tidak di jumpainya.
"Hmm,mas. . . Sakit." Keluh Fia mendapatkan pelukan yang terlalu erat dari suaminya.
"Oohh,maaf sayang." Seno merenggangkan pelukannya. " Mas sangat merindukanmu!" Seno menciumi wajah istrinya dengan lembut penuh kasih sayang.
"Hmm,mas. Mas tidak menceraikan aku kan?" Tanya Fia terbata-bata.
"Tentu saja mas tidak menceraikan kamu! Kamu istri mas!" Jawab Seno yang membuat senyum tersungging di wajah pucat Fia.
"Mas,Fia cinta mas!"
"Mas juga cinta kamu,sayang! Sudah jangan banyak pikiran! Bagaimana kondisi kamu? Mana yang sakit,hmm?"
"Mas,dadaku terasa sakit." Keluh Fia.
"Hmm,iya sayang. Karena bagian itu yang tertusuk." Terang Seno.
"Hmm,mas. Berapa lama aku di Rumah Sakit? Badanku lemes."
"Kamu di rawat sudah dua bulan lebih. Tepatnya tujuh puluh dua hari." Terang Seno.
"Tujuh puluh dua hari,mas?" Mata Fia membulat,kaget.
"Iya,sayang. Sudah tidak apa-apa yang penting sekarang kamu sudah sadar. Sebentar lagi kamu akan benar-benar sembuh!"
"Hmm. . ."
Mereka lalu ngobrol berdua dengan mesra. Tidak berapa lama,suster datang. "Maaf mengganggu,yang jenguk gantian ya. Di luar banyak yang mau masuk!"Terang suster.
"Ooh,baiklah sus." Seno bangkit dari duduknya.
"Tapi aku masih mau ngobrol sama suamiku,sus!" Tolak Fia.
"Iya mbak,tapi keluarga mbak sudah tidak sabar mau jenguk mbak!" Terang suster lagi.
"Hmm,iya deh." Fia pun menurut.
"Nanti mas kesini lagi. Mas tunggu di luar ya." Hibur Seno yang di beri anggukan oleh Fia. Seno lalu segera keluar karena tidak ingin membuat keluarga Fia kesal.
Setelah Seno keluar,keluarga Fia berebut hendak masuk. Akhirnya ibu dan nenek Fia masuk lebih dulu.
Seno hanya diam saja. Dia memilih duduk sedikit jauh dari keluarga besar istrinya. "Maafkan keluarga bapak ya,nak Seno." Ucap ayahnya Fia.
"Ooh,tidak masalah kok,pak." Jawab Seno lembut. Hanya ayahnya Fia yang masih bersikap baik pada Seno.
***
Menjelang tengah malam,sebagian keluarga besar Fia baru pulang dari Rumah Sakit. Setelah semua mendapatkan giliran menjenguk Fia di dalam.
Seno berniat masuk lagi ke dalam,tapi ternyata ibunya Fia juga ingin masuk.
"Bu,biarkan Seno masuk. Ibu kan tadi sudah." Ucap ayahnya Fia.
"Loh,ibu mau lihat putri ibu kok di larang sih,pak?" Protes ibunya Fia.
"Hmm,tidak apa-apa pak. Biar ibu dulu." Ucap Seno lalu kembali duduk di ruang tunggu.
Dengan senyum sinisnya,ibu Fia kembali masuk ke ruang ICU.
"Nak Seno pulang saja sudah malam. Besok kan harus kerja." Saran ayahnya Fia.
"Besok sabtu,pak. Tidak apa-apa tidak kerja." Jawab Seno.
"Oohh,ya sudah bapak tinggal tidur ya. Bapak ngantuk sekali." Pamit ayahnya Fia yang di beri anggukan oleh Seno. Ayahnya Fia menaruh karpet di ujung ruangan untuk tidur sementara Seno tidur di kursi panjang di ruang tunggu.
Pikirannya menerawang. Bagaimana jika keluarga istrinya memaksa mereka untuk bercerai? Lalu Dinda? Apa yang harus dia lakukan pada gadis itu? Menikahinya seperti yang di inginkan ibu gadis itu? Sementara Cinta,gadis itu sudah berhasil memasuki pikirannya walau belum hatinya. Tapi tetap saja,dia masih sangat mencintai istrinya yang telah dia pacari selama tujuh tahun lebih.
Karena kelelahan dan terlalu banyak pikiran,akhirnya Seno tertidur tanpa sempat menemui istrinya lagi.
***
Saat adzan subuh,Seno terbangun. Dia lalu berjalan ke arah masjid yang masih ada di lingkungan Rumah Sakit. Setelah selesai,dia mem beli sarapan untuknya dan juga kedua orang tua Fia yang menjaga di Rumah Sakit.
Sampai di depan ruang tunggu,ayah Fia sudah membereskan karpet tempat dia tidur. Beliau sedang duduk termenung sendirian di bangku panjang.
"Pak,sarapan dulu!" Ajak Seno sambil menyerahkan dua bungkus bubur ayam dan juga teh manis.
"Terimakasih nak Seno. Bapak pikir kamu sudah pulang." Ucap ayahnya Fia.
"Saya belum bertemu Fia,pak. Khawatir dia nanyain." Jawab Seno.
__ADS_1
"Ooh iya,sebentar lagi ibunya Shofia keluar,kamu bisa temui istri kamu." Terang ayahnya Fia.
"Iya,pak." Jawab Seno.
Sepuluh menit kemudian,ibunya Fia keluar dari ruang ICU. Seno buru-buru masuk.
"Sayang. . ." Sapa Seno pada istrinya.
"Mas,kemana saja? Kenapa baru ke sini?" Tanya Fia dengan wajah cemberut.
"Maaf,semalam kan yang jenguk kamu banyak,mas ketiduran." Terang Seno.
"Mas,kapan aku boleh pulang?"
"Kamu kan baru saja sadar,nanti mas tanyakan sama dokternya ya."
"Mas,mas benar-benar sayang sama Fia,kan?"
"Tentu saja! Kenapa kamu nanyain itu?"
"Hmm,tidak berniat ceraikan Fia kan?"
"Kamu ngomong apa sih,sayang?"
"Hmm,nenek."
"Nenek? Kenapa nenek?"
"Nenek maksa Fia minta cerai." Ucap Fia lirih. Matanya mulai berkaca-kaca.
Keterlaluan. Fia baru saja sadar sudah di suruh berpikir berat. Batin Seno kesal.
"Sayang,kenapa kamu nangis? Hey,dengar. Jangan berpikir macam-macam,ok!"
"Tapi mas,nenek sama ibu maksa Fia minta cerai dari mas! Mereka bilang,mas tidak benar-benar sayang sama Fia."
"Astagfirullah." Seno mengusap kasar wajahnya.
***
Sudah dua hari Fia sadar dari komanya. Seno baru saja menemui istrinya. Rencananya sore,Fia akan di pindahkan ke ruang ranap biasa.
Menjelang siang keluarga Fia mulai berdatangan ke rumah sakit.
"Seno,kamu sudah bilang kan sama cucu saya kalau kamu akan menceraikan dia?" Tanya nenek Fia yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Seno.
"Maksud nenek?"
"Setelah Fia sembuh,dia akan kita bawa pulang ke desa. Dan dia tidak boleh kemana-mana lagi. Dia akan tetap tinggal di desa bersama kita. Jadi kamu lebih baik ceraikan cucu saya. Dia akan saya jodohkan dengan laki-laki lain!" Terang neneknya Fia panjang lebar.
"Hmm,selama Fia tidak minta cerai,saya tidak akan ceraikan dia!"Jawab Seno tegas.
"Huuhhh,lihat saja nanti. Cucu saya yang akan minta sendiri kamu menceraikan dia! Saya tidak main-main. Kamu tunggu saja!" Ancam nenek Fia kemudian segera berlalu meninggalkan Seno yang menatapnya dengan nanar.
"Apa hanya sebatas ini aku berjodoh dengan Fia?" Gumam Seno yang hanya terdengar olehnya sendiri.
.
.
.
.
.
.
NEXT
Terimakasih buat reader yang masih menanti kelanjutan cerita othor yang biasa ini. ππ
.
.
.
.
2507/2030
__ADS_1