Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 64


__ADS_3

Hari ini Siti ikut suaminya kerja,sudah satu minggu dia merasa bosan di rumah. "Mas,pakai ini cocok kan?" Tanya Siti sambil memperlihatkan pakaian yang akan dia pakai.


"Cocok kok yank,di sesuaikan saja kamu kan sedang hamil! Biar orang-orang tau kalau istri bosnya sedang hamil!" Jawab Rey.


"Mas tidak malu?"


"Loh kenapa mesti malu yank? Justru mas bangga donk!" Jawab Rey dengan penekanan.


Siti tersenyum mendengarnya.


Mereka pun segera pergi setelah sarapan dan berpamitan dengan mama dan papanya.


"Mas hari ini ada meeting atau mau ke lapangan?" Tanya Siti saat mereka sedang dalam perjalanan.


"Tidak yank,hari ini banyak berkas yang harus mas periksa jadi tidak kemana-mana! Kenapa yank?"


"Tidak apa-apa kok mas! Hanya tidak enak saja kalau di tinggal sendirian!"


"Kalau mas ada urusan di lapangan,kamu tidak usah ikut mas ya yank,soalnya kan pasti setengah hari di sana! Mas tidak ingin kamu capek dan bosan menunggu lama di mobil. Apalagi di sana karyawan laki semua." Terang Rey.


"Hmm,iya mas!"


Sampai di parkiran gedung,Rey segera membukakan pintu mobil untuk istrinya lalu menggandengnya mesra sepanjang jalan menuju ruangannya yang terletak di lantai paling atas.


"Kamu mau di sini apa di kamar saja yank?" Tanya Rey saat mereka telah sampai di ruangan Rey. Rey segera melepas jasnya lalu duduk di sofa di samping istrinya.


"Di sini saja mas! Di kamar,rasanya seperti di penjara tidak bisa melihat dan mendengar apa-apa!"Jawab Siti.


"Itu memang penjara mas untuk kamu yank!" Ucap Rey sambil merangkul istrinya.


"Iiihh !"


"Hehehee,memangnya kamu tidak suka di penjara oleh mas,hmm?"


"Tau aahh!" Jawab Siti malu.


"Mas seneng kalau kamu ikut mas kerja,yank! Jadi kalau mas kecapekan dan stres sama kerjaan,ada kamu yang bisa menghilangkan rasa capek dan stres mas!"


"Hmm,kalau mas sudah capek ya pulang donk!"


"Hmm,


Tok tok. Ada yang mengetuk pintu ruangan Rey.


"Masuk!" Titah Rey.


Pintu pun terbuka dan muncullah seorang wanita seksi membawa setumpuk berkas. Siti dan Rey menatap wanita itu sekilas lalu Rey kembali merangkul mesra istrinya tanpa memperdulikan wanita itu.


"Pak Reynan,ini berkas-berkas yang bapak minta!" Ucap wanita itu dengan suara yang di bikin manja.

__ADS_1


"Taruh saja di atas meja!"Titah Rey.


"Hmm,baik pak." Jawab wanita itu seraya menaruh semua berkas di atas meja. Dia tetap berdiri melihat ke arah Siti dan Rey.


"Kalau tidak ada keperluan lain silahkan keluar!" Titah Rey lagi dengan nada dingin. Wanita itu pun keluar ruangan dengan wajah kesal.


"Mas kok dingin sekali sama karyawan mas?" Tanya Siti dengan dahi berkerut.


"Memangnya mas harus mesra sama dia?" Tanya Rey.


"Iiihh awas saja! Maksudnya ya biasa saja tidak perlu ketus gitu!"


"Mas tidak suka sama wanita itu,sudah berapa kali mas peringatkan pakai pakaian yang sopan tapi tetap saja seperti itu. Mau mas pecat tapi dia anaknya sahabat papa!" Jawab Rey kesal.


"Mas dulu juga dingin kan sama saya! Kalau bukan karena Cinta yang mendekatkan kita,mungkin sampai hari ini kita tidak akan menikah mas!"


"Hmm,sebenernya mas saat itu sedang tidak ingin mengenal wanita bukan karena mas tidak suka sama kamu,hanya mas belum mau membuka hati saja!" Terang Rey.


"Jadi?"


"Jadi mas sangat berterimakasih sama Cinta,karena dia bisa jadi alasan mas untuk nikahi kamu!"


"Hmm,jadi sejak kapan mas mulai membuka hati dan mau menerima saya?"


"Mas tidak tau yank! Yang pasti saat kamu di culik itu,mas bener-bener stres!"


"Hmm,saat itu justru saya mulai menyerah mengejar cinta mas! Karena saya berpikir kalau mas tidak akan pernah bisa melupakan cinta mas untuknya.


"Hmm,iya mas."


Rey mengecup pucuk kepala istrinya lalu bangkit dari duduknya. "Mas periksa berkas-berkas itu dulu yank!" Ucap Rey yang di beri anggukan oleh Siti.


***


Sudah dua bulan Siti di kota. Kini usia kandungannya sudah jalan tujuh bulan. Suaminya sedang tidak bisa meninggalkan pekerjaannya karena papanya mulai sering mengeluhkan sakit jika terlalu bekerja keras hingga semua pekerjaan harus Rey yang menghandle selain di bantu asistennya.


Siti sudah tidak rewel ingin pulang ke desa lagi karena mama mertuanya makin baik dan perhatian padanya. Selalu menemani kemana-mana jika Siti sedang butuh seperti periksa kehamilan,pergi belanja,terkadang Siti di ajak ikut perawatan di salon membuat ibu hamil itu makin cantik dan terawat. Tentunya makin membuat suaminya cinta dan selalu ingin berdekatan dengan Siti saat sedang tidak sibuk bekerja. Siti pun sesekali ikut suaminya ke kantor.


"Mas,hari ini saya ikut mas ya!" Pinta Siti.


"Sayang,hari ini bukannya Seno mau datang ke rumah?"


"Oh iya ya mas. Ya sudah deh tidak jadi ikut!" Jawab Siti.


Rey mendekati istrinya. "Mas usahakan hari ini pulang lebih awal ya!" Janji Rey.


"Bener ya mas! Jangan nakal di sana!"


"Hehehe,nakalnya sama kamu saja yank!" Jawab Rey sambil menyeringai.

__ADS_1


"Iiihh mas ini!" Ucap Siti malu.


"Turun yuk,kita sarapan. Mas harus berangkat pagi-pagi nih banyak kerjaan!" Ajak Rey.


Setelah sarapan,Siti mengantar suaminya sampai di depan teras. "Sayang,kamu baik-baik ya di rumah! Mas usahakan pulang cepat! Muah! Muah" Rey mencium pucuk kepala istrinya dan juga perutnya yang makin membuncit.


Siti langsung tersenyum semringah. "Iya mas! Mas hati-hati di jalan ya!"


Rey tersenyum lalu mengusap lembut wajah istrinya yang makin bersinar sejak hamil. " Mas sayang kamu!"


***


Hari sudah siang. Siti sedang duduk di teras rumah menunggu Seno adiknya yang sudah sampai di kota dan sedang menuju ke rumah keluarga Rey dengan menggunakan taksi. Tak berapa lama sebuah taxi berhenti di depan pagar. Seno keluar dari taxi.


"Pak,tolong buka pintu pagarnya,itu Seno adik saya!" Pinta Siti pada satpam penjaga rumah.


"Iya non. . ." Ucap pak satpam. Seno pun masuk lalu mencium tangan mbaknya.


"Pak,kenalin ini adik saya namanya Seno!" Ucap Siti. "Seno,ini pak Ari,satpam yang jaga rumah ini."


Seno dan pak satpam pun saling berkenalan.


"Ayo masuk dek,kamu pasti capek kan!" Ajak Siti.


"Mbak,Seno malu tinggal di sini!" Bisik Seno. " Seno kost saja ya mbak!" Ucap Seno sambil matanya menatap sekeliling halaman rumah Rey.


"Loh kenapa malu?"


"Rumahnya segini mewah dan besar,Seno sungkan mbak!" Seno berhenti di depan teras.


"Hmm,mertua mbak suruh kamu tinggal di sini kok! Tidak enak menolak,dek!" Siti setengah memaksa.


"Hmm," Seno masih ragu untuk masuk ke rumah.


"Siti?" Tiba-tiba mama mertuanya sudah berdiri di depan pintu.


Siti menoleh. "Mama! Hmm,ma kenalin ini Seno adik saya. Seno,ini mama mertua mbak!" Ucap Siti.


Seno mengulurkan tangannya lalu membungkukkan sedikit badannya."Saya Seno." Ucapnya malu-malu.


"Ooh Seno adiknya Siti. Sudah sampai kamu. Yuk masuk!" Ajak mama.


Mama masuk lebih dulu di ikuti Siti lalu Seno.


"Siti,kamu ajak adik kamu langsung ke kamar tamu ya!" Titah mama.


"Iya ma!" Jawab Siti. "Yuk dek ikut mbak!" Ajak Siti pada Seno lalu menarik tangan adiknya itu yang masih ragu mengikuti langkah kaki mbaknya.


"Mbak,kamarnya mewah sekali!" Ucap Seno terkagum-kagum melihat isi kamar yang akan dia tempati. Siti hanya tersenyum melihat tingkah adiknya itu.

__ADS_1


NEXT


180521/11.30


__ADS_2