
Setelah mengantar papanya sampai di parkiran,Rey kembali ke ruang tunggu ICU. Paman Supri sudah tertidur.
Rey akhirnya ikut tertidur sampai menjelang subuh,dia di bangunkan oleh suster.
"Keluarga pasien Siti." Panggil suster beberapa kali karena Rey tak kunjung bangun.
Rey mulai menggerakkan badannya setelah suster menepuk-nepuk bahunya.
"Eehh,iya sus. Ada apa?" Tanya Rey panik.
"Istri bapak membutuhkan bapak sekarang." Terang suster.
Rey langsung berdiri dan berjalan masuk ke ruang ICU dengan perasaan tidak enak.
Di lihatnya istrinya sedang duduk melihat ke arahnya. Dan yang membuat wajahnya seketika tersenyum saat di lihatnya sudah tidak ada lagi selang-selang yang menempel di tubuh istrinya.
"Yank?"
"Mas,aku ingin ke toilet." Ucap Siti masih sedikit lemah.
"Kamu bisa berdiri?" Tanya Rey.
"Ada kursi di toiletnya,mas. Mas antar saja aku ke sana." Terang Siti.
"Mas gendong ya?" Tawar Rey.
"Hmm,tidak usah mas. Malu." Tolak Siti halus.
"Kenapa harus malu yank,mereka pasti mengerti! Ayo mas gendong" Ucap Rey sedikit memaksa.
"Mas,pakai kursi roda saja ya?" Siti kembali menolak.
"Hmm,baiklah. Mas ambil kursi rodanya dulu." Ucap Rey lalu mengambil kursi roda yang ada di pojok ruangan.
Setelahnya,Rey mengantar istrinya itu ke kamar mandi. Tidak sampai setengah jam,Siti sudah kembali ke ruang ICU.
"Bu Siti,ASInya di pompa lagi ya!" Titah suster.
"Sus,kapan saya boleh menengok bayi saya?" Tanya Siti.
"Hmm,nanti akan saya tanyakan sama dokter ya bu." Jawab suster.
"Terimakasih,sus." Ucap Siti.
Siti mulai memompa ASInya. Setelah hampir satu botol penuh,dia masukkan ke dalam botol lalu menyerahkan pada suaminya untuk di berikan pada suster. "Mas,tolong kasih ke suster yang tadi ya." Pinta Siti.
"Iya yank." Jawab Rey yang langsung di berikan pada suster.
Rey kembali mendekati istrinya. "Yank,mas belum subuh,nih. Mas ke masjid dulu ya!" Pamit Rey.
"Iya mas. Nanti ke sini lagi ya." Pinta Siti.
"Iya sayang." Rey mencium pucuk kepala istrinya itu kemudian keluar dari kamar.
Di ruang tunggu,paman Supri sudah bangun.
"Paman sudah bangun."
"Eh Rey,bagaimana Siti?"
"Alhamdulillah semua alat bantu sudah di lepas,paman." Jawab Rey.
__ADS_1
"Alhamdulillah." Paman ikut bersyukur.
"Aku mau ke masjid,subuhan. Paman mau ikut?" Ajak Rey.
"Oh iya Rey. Ayo!" Jawab paman.
Rey dan paman Supri lalu pergi ke masjid.
****
Waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Rey baru saja mengajak paman untuk sarapan di kantin sementara bergantian dengan Seno dan Radit berjaga.
Kini mereka sedang berkumpul di ruang tunggu di depan ruang ICU. Seno lebih banyak diam.
"Kamu kenapa,Seno?" Tanya paman.
"Laptopnya rusak,pa." Radit yang menjawab.
Rey lalu menoleh. "Jadi beneran rusak?"
"Hmm,iya mas. Tugas kuliahku sudah harus selesai lusa." Jawab Seno malas-malasan seperti orang yang tidak bersemangat.
"Ya sudah kamu sekarang pulang saja kerjakan tugas kamu tidak usah ke kantor dulu. Kamu pakai laptop mas saja atau kamu mau beli lagi?" Tanya Rey.
"Tidak perlu mas. Aku pinjam laptop mas saja." Jawab Seno.
"Kamu ambil saja di ruang kerja,tanya sama papa." Terang Rey.
"Iya terimakasih,mas. Seno pulang sekarang ya." Pamit Seno.
"Rey?" Tiba-tiba dokter Layli berdiri di dekat mereka.
"Eh dokter. Ada apa,dok?"
"Oh bisa,dok." Jawab Rey. "Paman,aku permisi dulu,tolong titip Siti ya,paman." Pamit Rey.
"Iya Rey. Kamu tidak usah khawatir." Jawab paman.
Rey lalu mengikuti langkah kaki dokter. Perasaan Rey jadi tidak enak. Apa ya yang ingin di sampaikan oleh dokter Layli. Batin Rey.
Sampai di ruangan dokter Layli,Rey di persilahkan duduk.
"Hmm,begini Rey. Tadi saya sudah cek semua organ vital mbak Siti,semua sudah stabil hanya tinggal pemulihan dan besok mbak Siti akan kita pindahkan ke ruang rawat inap biasa." Terang dokter Layli.
"Alhamdulillah." Ucap syukur Rey.
"Dan mengenai bayinya,masih tetap harus di inkubator." Terang dokter Layli lagi.
"Hmm,apa bayi saya kedepannya tidak akan ada masalah kesehatan,dok? Jantung dan paru-parunya? Tanya Rey.
"Jantungnya memang sedikit lemah,jadi dia tidak bisa kelelahan dan juga kaget. Pertumbuhan paru-parunya juga belum lengkap ketika di dalam kandungan. Tapi semoga satu bulan dalam inkubator bisa meminimalisir semua resikonya. Jadi kebutuhan gizinya harus selalu terpenuhi dgn baik." Terang dokter.
Hhh. Rey menarik nafas berat.
"Nanti setelah bayinya sudah bisa di bawa pulang,sebulan sekali kita kontrol perkembangan dan pertumbuhannya."
"Hmm,baiklah dok."
Rey lalu kembali ke ruang ICU. "Seno,kok belum pulang?" Tanya Rey melihat adik iparnya yang masih duduk-duduk bersama paman di ruang tunggu.
"Iya mas. Mau pulang sekarang." Pamit Seno. Dia lalu meninggalkan paman dan juga Rey dengan menenteng tas laptopnya.
__ADS_1
Ketika sampai di dekat ruangan dokter Layli,Seno tidak sengaja bertemu lagi dengan Dinda,putri dokter Layli.
"Kamu lagi!" Ucap gadis itu ketus.
Seno hanya menatapnya sekilas. Dia tidak mau membuat keributan apalagi dengan putri pemilik klinik bersalin tempat mbak dan keponakannya di rawat. Dia hendak berlalu tapi terlambat,dokter Layli sudah melihatnya.
"Hei!" Panggil dokter.
Seno pura-pura tidak merasa kalau dia yang sedang di panggil oleh dokter,jadi dia terus saja berjalan.
"Hey,kamu adiknya Rey." Panggil dokter Layli lagi.
Seno terpaksa menoleh karena tidak mau di anggap sombong. "Hmm,dokter manggil saya?" Tanya Seno untuk memastikannya.
"Iya kamu. Kamu adiknya Rey dan Siti kan?" Tanyanya lagi.
"I,iya dok." Jawab Seno.
"Ayo masuk ke ruangan saya!" Ajak dokter.
Seno bingung tapi tetap menuruti ajakan dokter Layli. Dia lalu mengikuti langkah dokter Layli ke ruangannya.
"Silahkan duduk!" Titah dokter.
Seno pun duduk. "Ada apa ya dok?" Tanya Seno.
"Kamu yang waktu itu di rusak laptopnya sama putri saya kan?" Tanya dokter.
"Hmm,tidak apa-apa kok dok." Jawab Seno tidak enak hati.
"Putri saya akan ganti laptop kamu." Terang dokter.
"Loh kok Dinda sih,mi?" Dinda protes.
"Kamu harus belajar bertanggung jawab,Dinda!" Tegas dokter Layli.
"Huuhh!" Dinda terlihat kesal.
"Ini kartu nama Dinda,kamu bisa hubungi dia kapan kamu mau beli lagi laptopnya.
"Hmm,terimakasih,dok. Tapi saya rasa tidak perlu,saya mau pakai laptop mas Rey saja." Tolak Seno halus.
"Tidak apa-apa,Dinda akan ganti laptop kamu. Kalau sudah di beli kasih tau saya,ya!" Tegas dokter.
Seno lalu keluar dari ruangan dokter Layli denban membawa kartu nama putrinya.
***
Rey masuk ke ruang ICU,karena Siti mau di pindahkan ke ruang rawat inap biasa. Setelah mendapatkan kamar yang mereka minta,Siti langsung di pindahkan.
Siti sedang tiduran setelah makan dan memompa ASInya. Rey,paman dan Radit sedang ngobrol di depan kamar,membiarkan Siti istirahat agar tidak terganggu.
"Ruangan Siti makin jauh dari ruang NICU,ya." Ucap paman.
"Iya paman. Nanti aku akan bolak balik melihat ke sana." Sahut Rey.
"Kita bergantian saja jagain mereka,Rey." Usul paman.
Karena hari sudah menjelang siang,Rey mengajak paman untuk makan siang sementara Radit menunggu di depan kamar.
NEXT
__ADS_1
Dukung terus Siti yaaa... ! Maaf jika ada kesalahan kata maupun typo-typo . ๐ค
2606/2050