
Usia kehamilan Dinda memasuki bulan kedua. Sudah hampir satu bulan Dinda merasakan ngidam berat hingga dia jadi sering ijin tidak bisa kerja. Tapi hari ini karena sudah merasa lebih baik,dia ingin kembali kerja setelah dua hari yang lalu dia ijin lagi.
"Hari ini kamu beneran kuat?" Tanya Seno saat mereka baru sampai di Rumah Sakit tempat Dinda bekerja.
"Iya mas,ada dokter yang ijin hari ini jadi aku harus masuk karena ada dua operasi besar dan tiga operasi kecil. Aku juga merasa enakan hari ini. Kalau sudah selesai semua,aku akan pulang." Jawab Dinda.
"Kenapa kamu tidak kerja di klinik mami saja!? Kan mami juga butuh dokter bedah buat operasi Caecar?"
"Nanti juga aku yang nerusin,mas. Tapi aku mau cari pengalaman dulu di Rumah Sakit lain." Jawab Dinda.
"Hmm,ya sudah. Kalau mau pulang kabarin mas ya biar mas jemput."
"Tidak apa-apa ganggu pekerjaan mas?"
"Tidak apa-apa kok ijin sebentar sama mas Rey. Kamu harus tunggu mas ya,jangan naik taxi!" Ucap Seno dengan penekanan.
"Iya mas." Hhh,sekarang posesef banget. Kemana-mana harus sama dia,kalau perlu aku tidak usah kerja biar di rumah terus. Batin Dinda.
"Sini peluk dulu!" Ucap Seno yang mempunyai kebiasaan baru. Setiap salah satu mau pamit,harus peluk dan cium dulu.
Dinda mendekat lalu memeluk dan mencium mesra Seno. Kemudian Seno turun membukakan pintu mobil untuk Dinda.
"Hati-hati ya!" Pesannya.
"Iya mas. Mas juga hati-hati ya. Daahh!" Ucap Dinda setelah mencium punggung tangan Seno.
Setelah Dinda masuk ke dalam Rumah Sakit,barulah Seno melajukan mobilnya ke perusahaan Rey.
Sampai di ruangannya,Seno langsung menelpon Dinda. Tapi sudah beberapa kali tidak juga di angkat. "Kamu kemana sih?" Gerutunya.
"Seno?" Panggil Rey dari pintu ruangannya.
"Hmm,iya mas aku kesana sekarang." Jawab Seno. Huuh jadi lupa kalau ada meeting.
Meeting tenyata baru selesai menjelang istirahat siang. Seno buru-buru menelpon Dinda.
Setelah beberapa panggilan,Dinda baru mengangkat telponnya.
"Hallo?"
"Kamu dari mana? Tidak kecapekan kan?"
"Hmm,mau makan siang di mana mas anter?"
"Kantin Rumah Sakit? Beneran makan ya!"
"Nanti pulang jam berapa?"
"Iya,nanti mas jemput jam tiga. Tunggu mas di dalam saja."
"Hmm,ya sudah. Mas mau makan siang juga."
"Mas makan di kantin kantor."
"Hmm. Ya sudah. Daahh. . ."
Hhh,meeting sampai tidak konsen kepikiran dia terus. Batinnya.
Seno lalu pergi ke kantin,ternyata di kantin dia bertemu Cinta. Gadis itu sedang ngobrol bertiga. Yang satunya laki-laki muda,karyawan di sana dan yang satunya lagi Ratna. Cinta tampak ngobrol akrab dengan karyawan laki-laki itu. Dia terlihat ceria.
Kok Cinta bisa berteman sama karyawan sini ya? Akrab banget lagi. Batin Seno.
Seno memesan makanannya. Lima menit,makanannya sampai. Dia makan sambil sesekali memperhatikan Cinta.
Sepuluh menit,dia sudah menghabiskan makanannya. "Mas,saya bayar sama yang di meja ' G' itu ya." Ucap Seno pada pelayan kantin sambil menunjuk ke meja di mana Cinta sedang makan.
Seno segera kembali ke ruangannya.
***
Sebelum pukul tiga,Seno sudah bersiap pulang sekaligus menjemput istrinya,Dinda.
Ting. Seno keluar dari lift. Saat dia hendak menuju pintu keluar,dia kembali melihat Cinta sedang mengobrol dengan kaลyawan yang tadi dia lihat di kantin. Gadis itu berbicara dengan wajah semringah,sesekali tersenyum malu sambil menundukkan kepalanya. Ada hubungan apa Cinta dengan anak itu? Batin Seno.Dia terus berjalan ke arah Cinta.
"Cin?" Sapa Seno saat sudah di dekat Cinta.
__ADS_1
Cinta menoleh dan langsung kaget melihat keberadaan omnya. "Om Seno?" Ucapnya dengan wajah memerah,malu. Sementara karyawan laki-laki itu tak kalah kaget lalu membungkukkan kepalanya sambil senyum tidak enak hati.
"Sedang apa? Belum mau pulang?"
"Hmm,ini Cinta sudah mau pulang kok." Jawab Cinta gugup.
"Om antar ya?"
"Hmm,Cinta sama kak Ratna." Jawab Cinta cepat.
"Ya sudah pulanglah." Titah Seno.
"Hmm,iya om. Cinta pulang dulu." Cinta bergergas meninggalkan Seno dan juga karyawan laki-laki yang ternyata adalah Aaron.
"Hmm,nama kamu siapa?"
"Saya Aaron,pak." Jawab Aaron sambil menunduk.
"Kamu sudah lama kerja di sini?" Tanya Seno berusaha bersikap ramah.
"Hmm,saya baru empat bulan,pak." Jawab Aaron.
"Hmm,tapi sudah tau keponakan saya tadi kan?"
"Iya pak,saya sudah tau."
"Bagus. Berteman yang baik ya. Dia masih sangat muda! Belum mengerti apa-apa!" Ucap Seno dengan penekanan.
"Baik,pak." Jawab Aaron yang masih terlihat gugup.
"Kamu juga bekerja yang baik. Oke!" Seno menepuk bahu Aaron beberapa kali kemudian segera berlalu dari sana.
Seno bergegas naik ke mobilnya. Huuhh,sudah lebih jam tiga. Batinnya. Seno segera menghidupkan mesin mobil dan langsung melajukan mobilnya ke arah Rumah Sakit tempat Dinda bekerja.
Setengah jam dia baru sampai. Seno segera masuk ke dalam rumah sakit.
Dari jauh,Seno melihat Dinda sedang mengobrol dengan seorang dokter laki-laki seusianya.
"Saya tidak merasa di repotkan kok mengantar dokter Dinda pulang." Ucap dokter laki-laki itu pada Dinda.
"Saya suaminya yang akan mengantar dokter Dinda pulang!" Seno tiba-tiba sudah berdiri di antara mereka dan memotong pembicaraan mereka.
Dinda kaget. "Mas?" Wajahnya memerah.
"Ayo pulang!" Ajak Seno yang langsung meraih tangan Dinda dan mengajaknya keluar.
"Hmm,ada yang mau mengantar pulang ya?" Tanya Seno saat mereka sudah di dalam mobil.
"Hmm,mas. Dia hanya menawarkan saja." Jawab Dinda.
"Menawari mengantar istri orang pulang?"
"Mas,tadi aku mau nolak kok!"
"Iya! Apa pantas mengantar istri orang pulang? Apa di Rumah sakit itu sudah kehabisan wanita single hingga mau mengantarkan istri orang?"
"Hmm,mas. Sudah donk. Mungkin dia belum tau kalau aku sudah nikah."
"Apa? Ada yang belum tau kalau kamu itu ada yang punya?"
"Dia baru datang dari luar kota,mas. Sudah donk marahnya. Aku kan tidak tau kalau dia tiba-tiba mau antar aku pulang."
"Nanti di kasih label saja,kalau kamu sudah nikah!"
"Iihh mas ini,jangan berlebihan gitu donk." Dinda mulai ngambek.
"Lalu bagaimana biar semua orang tau kalau kamu itu punya mas,hmm?"
Huuhhh,segitunya sih orang baru nawarin juga. Batin Dinda kesal.
"Iya sudah mas kasih label saja kalau aku ini istri mas!" Ucap Dinda kesal. "Mau kasih label di mana?"
Hhh,Seno menarik nafas berat. Kenapa rasanya kesal sekali lihat Dinda ngobrol sama laki-laki. Darahku seperti naik ke atas.
Mereka lalu sama-sama diam sampai tiba di rumah Dinda. Sebelum Seno membukakan pintu mobil,Dinda sudah keluar lebih dulu lalu segera meninggalkan Seno masuk ke dalam rumah. Loh kok dia yang marah? Harusnya kan aku. Batin Seno.
__ADS_1
Seno langsung menyusul Dinda di kamarnya. Ternyata istrinya itu sedang di dalam kamar mandi. Dia buka kamar mandinya tidak terkunci lalu dia ikut masuk. Dinda sedang berdiri di depan wastafel.
"Mas. Bikin kaget saja." Protes Dinda.
"Kok malah kamu yang marah sama mas sih? Kan harusnya mas yang marah."
"Mas marah sama aku padahal aku kan tidak tau kalau tiba-tiba dia mau antar aku pulang. Aku juga mau nolak kok. Aku tadi sedang nunggu mas!"
"Hmm,mas tidak marah sama kamu. Mas kesal sama teman kamu itu,seperti tidak ada wanita lain saja di Rumah Sakit."
"Tidak marah sama aku? Tadi jelas-jelas marah. Sampai aku mau di labelin. Terlalu berlebihan!" Gerutu Dinda.
"Hehee,mas becanda yang mau kasih kamu label itu." Ucap Seno lalu memeluk Dinda dari belakang.
"Sana deh." Usir Dinda yang masih kesal.
"Gerah nih,mandi biar dingin." Ucap Seno.
"Ya mas mandi sana biar dingin kepalanya."
"Sama kamu!"
"Iiihh males! Kan mas yang gerah bukan aku."
"Kamu juga gerah tuh,wajahnya cemberut dari tadi."
"Iihh,aku tidak merasa gerah."
"Loh,kan memang waktunya mandi sore. Masa kamu tidak mau mandi pulang kerja juga."
"Iya tapi nanti!"
"Hmm,ya sudah kalau gitu." Seno melepaskan pelukannya lalu berjalan ke arah pintu. Dinda tersenyum tipis.
Tapi ternyata suaminya itu malah mengunci pintu kamar mandi dari dalam lalu berbalik ke arahnya.
"Mas?"
"Ayo mandi biar dingin,biar segar!"
"Aku bisa mandi sendiri."
"Tapi mas mau sama kamu. . ."
"Hmm. . .mas."
Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Terimakasih ๐๐๐
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
1331