Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 122 ( S2 )


__ADS_3

Tiba-tiba handphone Aaron berdering. Bang Romi.


Aaron mengambil handphonenya yang dia simpan di saku celana. "Cin,aku jawab telpon dulu ya."


Cinta mengangguk.


"Hallo bang."


"Aku masih di luar."


"Iya bang,sebentar lagi aku pulang."


"Hhmm,abang minta di bawain apa?"


"Apa bang? Malam-malam begini bang. Aku cari kemana?"


"Hhh,ya sudah aku belikan bahan mentahnya saja nanti minta bikinin sama bibi saja ya. Masa aku harus muter-muter malam-malam begini."


"Hh,bukan begitu bang. Ini sudah malam. Apa bedanya sih bikinan bibi juga enak kok. Atau aku yang bikinin deh."


"Iya bang,aku pulang sekarang."


Aaron memutuskan sambungan telponnya. "Ada-ada saja." Gumamnya seraya menggelengkan kepala.


Aaron lalu menatap Cinta. "Bang Romi yang telpon. Minta aku segera pulang."


"Hhmm. . ."


"Cintaku masih kangen tidak sama aku,hhmm?"


Cinta memutar bola matanya jengah. "Siapa juga yang kangen? Kamu kali."


"Hehee,kalau aku memang kangen. Kangen banget malah. Jadi kamu beneran tidak kangen sama aku,hmm?"


Cinta menggeleng sambil membuang muka.


"Kasihan banget sih aku tidak di kangeni." Aaron memasang wajah sedih.


Sementara Cinta hanya tersenyum tipis.


"Ya sudah kalau tidak kangen,aku pulang saja deh."


"Memang sudah di suruh pulang kan."


"Iya sih. Tapi kalau masih ada yang kangen bisa di tunda beberapa menit lagi kok."


"Hhh. Pulang saja sana nanti ada yang marah."


"Bang Romi minta di beliin makanan. Sejak sakit,dia mendadak jadi manja. Suka ngambek seperti anak perempuan saja."


"Apa?"


"Hhhmm,apa? Apanya?"


"Tau ah. Pulang sana!"


"Kok sudah di usir sih?"


"Nanti ada yang ngambek."


"Nah itu. Kalau telat pulang ada yang ngambek. Kalau buru-buru pulang ada yang ngambek juga. Jadi bingung kan."


"Iihh,Cinta tidak ngambek ya! Kalau mau pulang ya pulang saja kok."


"Beneran ya?"


"Bener lah!"


"Hmm,besok aku jemput di sekolah ya?"


"Tidak perlu. Cinta sudah ada yang anter,di tungguin sampai pulang kok!"


"Loh kan berangkat sekolah dari sini jadi kan di antar papa. Pulangnya aku jemput ya?"


Cinta menggeleng cepat. "Cinta minta di jemput sopir saja." Tolaknya.


"Hhhmm,Cintaku takut ya sama aku?"

__ADS_1


"Takut? Kenapa harus takut?""


"Kenapa tidak mau aku jemput?"


"Hhmm,Cinta tidak boleh berduaan sama laki-laki. Dari yang masih kecil sampai yang dewasa."


"Sopirnya Cinta kan dewasa,kok boleh?"


"Iihh,beda donk. Keluarga Cinta sudah kenal lama dan sudah lama juga kerja sama ayah."


"Keluarga Cinta kan juga sudah kenal sama aku. Hhmm. . ."


"Pokoknya Cinta tidak mau!"


"Hhhh,Cintaku masih takut dan belum percaya ya sama aku?"


Cinta diam bingung mau menjawab apa. Karena memang dia masih takut jika harus berduaan dengan Aaron.


"Kalau mau ketemu Cinta di rumah saja."


"Hhhmm,ya sudah kalau gitu." Aaron terlihat kecewa. "Besok sore aku kesini lagi ya?"


Mata Cinta membulat. "Besok sore?"


"Iya,kenapa? Tidak boleh ya?"


"Hmm,iya boleh."


"Jadi kita sudah baikan,kan?"


"Iiihh belum!"


"Hhmm,tidak apa-apa deh. Yang penting besok masih boleh ketemu." Aaron tersenyum tipis.


"Ya sudah pulang sana."


"Ngusir terus."


"Cinta ngantuk!"


"Tidak janji."


"Ya sudah kalau gitu,aku mau pamitan dulu sama papa."


"Papa? Sejak kapan panggil papanya Cinta 'papa'?"


"Sejak malam ini?" Ucap Aaron sambil tersenyum menggoda ke arah Cinta.


"Iiihhh,tidak boleh! Enak saja!" Cinta segera berlalu meninggalkan Aaron.


"Iiihhh,makin gemesin kamu!"Gumam Aaron. Aaron lalu ikut masuk ke dalam rumah menyusul Cinta.


"Pa,tuh Aaron mau pulang katanya." Ucap Cinta yang langsung berlalu begitu saja. Cinta menghampiri Ratna yang sedang memperhatikan Putri mengerjakan tugas sekolahnya.


"Pak,saya pulang dulu." Pamit Aaron.


"Sudah selesai ngobrol sama Cinta?"


"Iya pak. Hhmm,bang Romi minta aku pulang sekarang." Terang Aaron.


"Hhmm,iya. Kasihan dia kalau kamu tinggal lama-lama."


"Iya pak,tadi pulang kuliah langsung ke sini."


"Oh,makanya dia minta kamu pulang sekarang."


"Hmm,iya pak. Pak,terima kasih ya sudah mau memaafkan bang Romi dan juga masih mau mengijinkan saya dekat dengan putri bapak."


"Saya hanya memberikan dia kesempatan kalau mau berubah dan juga semua demi Ratna. Yah walau saya belum terlalu lama mengenal Ratna tapi semua kejadian yang dia alami berhubungan dengan keluarga saya. Jadi saya tidak mau egois hanya memikirkan dendam pribadi. Saya tetap lebih mementingkan masa depan Ratna dan bayi dalam kandungannya. Dan saya minta kamu untuk memberi pengertian pada abang kamu. Dia memilih mempertanggung jawabkan perbuatannya dengan menikahi Ratna atau dengan proses hukum." Terang Rey.


"Iya,pak. Saya akan berusaha terus untuk membuat bang Romi mengerti."


"Hhmm,itu lebih baik."


"Kalau begitu saya permisi dulu pak." Pamit Aaron.


"Saya panggil Cinta dulu."

__ADS_1


"Hhmm,saya langsung pulang saja pak. Tadi sudah banyak bicara sama Cinta." Tolak Aaron halus.


"Ohh ya sudah kalau begitu."


"Assalammualaikum." Pamit Aaron lalu mencium punggung tangan Rey. Dia lalu mengambil motornya yang terparkir tidak jauh dari pagar rumah.


"Terimakasih,pak." Ucapnya pada pak satpam yang berjaga di rumah Rey.


Aaron melajukan motornya membelah malam di temani sinar bulan yang hanya setengah.


Aaron lalu mampir ke minimarket,membelikan pesanan abangnya. "Abang ada-ada saja sih maunya. Malam-malam kepingin makan salad buah. Huhh. " Gumam Aaron.


Setelah mendapatkan apa yang dia cari,Aaron segera pulang. Satu jam kemudian dia baru sampai ke rumah hampir pukul sembilan malam.


Ceklek. Aaron membuka pintu. Rumah terlihat sepi. Aaron lalu pergi ke dapur menyiapkan sendiri salad buah yang di minta abangnya.


"Aaron,kamu baru pulang?" Tiba-tiba pakde Arman sudah berdiri di sebelahnya.


"Pakde iih,bikin aku kaget saja." Kesal Aaron.


"Romi dari tadi nanyain kamu terus."


"Iya maaf pakde. Tadi aku kuliah lalu mampir ke rumah teman sebentar." Terang Aaron.


"Iya. Kamu sedang bikin apa?"


"Bang Romi tuh,minta salad buah. Mau minta bibi yang bikin tapi sudah tidur. Biasanya oma yang suka bikin."


"Hhmm,kamu harus sabar menghadapi abang kamu ya."


"Iya,pakde. Mau bagaimana lagi,kalau tidak sabar kasihan juga."


"Hhmm,iya kasihan. Dia sepertinya masih belum bisa menerima kondisinya yang sekarang. Pakde maklum,pasti dia syok."


"Iya pakde. Aku ke kamar abang dulu ya. Pakde istirahatlah sudah malam." Pamit Aaron yang segera berlalu meninggalkan pakdenya.


Aaron masuk ke kamar Romi yang tidak terkunci. Ternyata abangnya itu sudah tertidur dengan masih menggenggam handphone di tangannya.


Aaron lalu mengambil handphone dari tangan Romi lalu menyalakannya. Ternyata di layar handphonenya ada gambar seorang gadis.


"Ini foto kak Dinda sewaktu masih sekolah dulu. Cantik dan lucu. Pantas bang Romi sampai cinta banget." Gumam Aaron. "Eehh,tapi masih cantik dan lucu Cintaku donk." Aaron senyum-senyum sendiri.


.


.


.


.


.


.


NEXT


Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. 😍😍


.


.


.


.


.


.


.


.


2121


.

__ADS_1


__ADS_2