Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 12 ( S2 )


__ADS_3

Pesta pernikahan Seno dan Fia baru selesai menjelang jam sebelas malam,itu pun masih ada beberapa orang bapak-bapak yang masih asik berkaroke.


Seno dan Fia sudah masuk ke dalam kamar sejak pukul sepuluh. Seno sedang tiduran di kasur setelah makan malam.


Fia masih sibuk membereskan semua kado. Ada banyak kado sampai kamarnya penuh.


"Hmm,Mas sudah tidur. Nanti saja deh beresin kado-kado ini. Aku juga ngantuk,capek." Keluh Fia.


Fia lalu tidur di sebelah Seno tanpa bersuara,dia tidak mau sampai orang yang baru saja resmi jadi suaminya itu terbangun.


"Akhirnya kita berjodoh juga ya mas. Aku bahagia banget bisa jadi istri kamu." Gumam Fia sambil melirik ke arah suaminya yang sedang terlelap. Tak lama dia pun ikut terlelap.


Menjelang subuh,Fia terbangun. Dia langsung ke kamar mandi. Saat keluar dari kamar mandi,dia berpapasan dengan saudaranya yang menginap di rumahnya.


"Waahh pengantin baru cepet banget bangunnya." Goda sodaranya, Fia hanya senyum-senyum.


"Tapi kok mandinya kering gitu?" Goda sodaranya yang lain lagi.


"Habis mandi ya di handukin biar kering." Seloroh Fia.


"Eehh seriusan,kamu. . ." Mereka manarik tangan Fia.


"Paan sih,usil saja kerjanya." Fia lalu menepiskan tangan mereka dan buru-buru masuk kembali ke kamarnya. "Hhh,begini jadi pengantin baru,mesti jadi olokan sodara." Gumamnya. Dia lalu segera sholat subuh.


Setelah sholat subuh,Fia berniat membangunkan suaminya tapi dia ragu. "Hmm,banguni tidak ya? Tapi mas Seno kan belum sholat subuh." Gumamnya.


"Hmm,banguni saja deh daripada nanti mas tidak sempat sholat subuh." Fia lalu mengusap-usap bahu suaminya.


"Mas,mas bangun. Sudah subuh ini." Bisik Fia di telinga suaminya.


Seno meregangkan otot-ototnya lalu mulai membuka kedua matanya.


"Fia?" Seno menatap heran ke arah istrinya.


"Sudah subuh,mas. Bangun dulu mandi terus sholat ya. . ." Titahnya lembut.


Seno lalu duduk masih sambil menatap heran ke istrinya. Dia lalu menepuk dahinya.


"Astagfirullah. . . Semalam mas ketiduran ya. Hmm,maafin mas ya. Semalam kamu tidak nungguin mas kan. . .?"


Fia hanya tersenyum malu. "Hmm,aku semalam juga tidur kok mas."


"Hmm,kamu kok sudah harum? Sudah mandi ya?" Tanya Seno sambil mengusap rambut Fia.


Fia mengangguk sambil menunduk.


"Hmm,maafin mas ya. Mas bener-bener ngantuk dan capek banget. Huhhh,cukup sekali deh nikah,bikin capek saja." Ucap Seno asal.


"Lah iya cukup sekali. Memangnya mau dua kali?" Fia cemberut.


"Heheee,lah iya kan tadi mas bilang cukup sekali."


"Kalau tidak capek mau dua kali kan?"


"Heheee,iya kali."


"Iihh,mas nyebelin! Awas saja !" Fia makin cemberut lalu memalingkan wajahnya.


"Hahaa,mas becanda kali. Masa iya mau dua kali. Abis juga nanti duit mas buat biaya nikah." Seno mendekati istrinya yang masih memalingkan wajahnya.


"Jangan cemberut terus nanti jelek,mas beneran nikah lagi loh." Seno makin membuat wajah istrinya merah padam.


"Ya sudah sana nikah lagi!" Fia lalu bangkit dari duduknya hendak keluar kamar. Seno buru-buru merangkulnya dari belakang.


"Mas becanda,sayang."


"Becandanya tidak lucu!" Fia masih dongkol.


"Hehee,iya tidak lucu memang. Hmm,sekarang saja yuk!"


"Iihh sana! Belum mandi,bau!!"


"Hmm,suaminya sendiri di bilang bau!"


"Memang bau. Nyebelin lagi!"


"Hmm,mas mandi dulu. Kamu tungguin ya!" Ucap Seno sambil senyum menyeringai ke arah istrinya membuat Fia bergidik. Dia lalu segera mengambil handuk lalu ke kamar mandi.


"Dasar nyebelin!" Kesal Fia. Dia lalu membereskan tempat tidurnya dan juga menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya.


Lima belas menit,Seno sudah kembali dari kamar mandi. Dia lalu sholat subuh. Setelah selesai sholat di lihatnya istrinya tidak ada di kamar.


"Hmm,Fia kemana sih? Suaminya malah di tinggal." Gerutu Seno. Dia lalu mengambil handphonenya dan melihat-lihat isi galerinya yang ada beberapa foto pernikahannya.


"Cinta,kenapa wajahnya begini? Apa aku benar-benar membuatnya sampai sesedih ini! Hmm,"


"Mas,sedang bicara sama siapa?" Tanya Fia yang tiba-tiba sudah ada di sebelahnya.


"Oohh ini,mas sedang lihat foto nikahan kita semalam,yang di kirimkan oleh Radit." Terang Seno.


"Oohh. Keluarga mas sudah pulang apa masih di rumah mas?"


"Keluarga kamu juga sayang!"


"Hehhe,iya mas. Mereka masih di desa apa sudah pulang ke kota,mas?"


"Sepertinya pagi ini mereka baru mau pulang ke kota."


"Hmm,kita kapan ke kota mas?"


"Besok pagi ya. Malamnya acara resepsi di hotel." Terang Seno.


"Hmm,iya mas. Aku ajak siapa saja,mas?"


"Ajak semua keluarga kamu tidak masalah kok. Nanti,mas Rey suruh sopir jemput kita." Seno lalu menyimpan lagi handphonenya. "Kamu dari mana tadi?"


"Hmm,aku habis dari dapur tadi mau cari sarapan buat mas tapi belum mateng." Jawab Fia.


"Hmm,mas belum lapar kok. Mas mau sarapan kamu saja." Goda Seno.


"Iihh mas ini." Fia terlihat malu-malu. Seno mulai mendekati istrinya itu. Hembusan nafas mereka mulai menyentuh satu sama lain.


"Hmm,mas aku susah nafas." Fia menjauhkan sedikit wajah mereka yang sudah tanpa jarak.


"Hmm,kamu takut?" Tanya Seno sambil menatap lekat-lekat ke arah istrinya.


Fia mengangguk tanpa berani membalas tatapan suaminya.


Seno kembali menyentuh wajah istrinya,kali ini mereka mulai bisa mengatur nafas mereka.


Saat Seno hendak melanjutkan lagi ke hal yang lebih,tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar Fia.

__ADS_1


Tok tok tok. . .


"Hmm,mas. Ada yang ketuk pintu." Fia menjauhkan wajahnya.


"Hmm,biarin. Ganggu orang saja." Bisik Seno.


Tok tok. .


"Fia,ada keluarga suami kamu datang." Teriak seseorang dari luar.


"Hmm,mas?"


"Huuhhh," Seno lalu mengusap wajah istrinya dengan jarinya.


"Mas keluar dulu." Pamit Seno. Dia lalu membereskan bajunya yang sedikit berantakan lalu segera keluar dari kamar,di ikuti oleh Fia dari belakang dengan wajah tersenyum-senyum sendiri.


"Mbak Siti." Sapa Seno lalu menyalami mbaknya.


"Dek,kita mau pulang ke kota. Kamu besok ke kota kan,acara resepsi kamu." Terang Siti.


"Iya mbak,kita besok pasti nyusul ke kota kok."


"Gimana semalam lancar?" Goda Rey.


"Aahh mas Rey." Seno senyum-senyum. Boro-boro,kalian nih ganggu saja. Batin Seno.


"Ya sudah lanjutkan. Kita ke sini cuma mau pamitan kok. Yang lain sudah jalan duluan,sudah mau kerja." Terang Rey.


"Ooh iya mas."


"Ya sudah dek,kita pulang dulu ya. Jangan malas di rumah mertua." Pesan Siti.


"Iya mbak." Seno lalu menyalamai Siti dan Rey,di ikuti oleh Fia. Mereka juga berpamitan dengan keluarga Fia.


Setelah Siti dan Rey pergi,Seno kembali masuk ke dalam kamar.


"Huuhh,ada-ada saja gangguan. Hmm,sepertinya malam deh yang bebas gangguan." Gumam Seno sambil senyum-senyum sendiri.


Tak lama Fia masuk ke dalam kamar.


"Mas,habis acara resepsi nanti,kita langsung tinggal di kota ya?"


"Mas mau ajak kamu bulan madu. Kamu mau kemana?"


"Serius mas?" Tanya Fia seakan tidak percaya.


"Iya,tapi tidak sampai satu minggu karena sudah kepotong libur pas acara."


"Iya mas. Hmm,aku inginnya ke kota L,mas. Banyak pantainya kan?"


"Hmm,yakin ke situ?"


Fia mengangguk antusias.


"Ya sudah nanti kita ke sana."


"Hmm,iya mas."


"Sini donk,kok duduknya jauh-jauhan gitu. Belum nikah maunya dekat-dekat terus."


Fia tersenyum malu. Dia begitu gugup berdekatan dengan suaminya itu,seperti terkena aliran listrik berapa watt. Batinnya sambil tersipu. Dia lalu duduk mendekati suaminya.


"Hmm,mas."


"Hmm,ada ayah,ibu,paman,bibi,sepupu,adik. . ."


"Stop stop!"


"Kenapa mas?" Tanya Fia heran.


"Itu satu Erte kamu sebutin semua."


"Hehee,tadi mas kan tanya."


"Kita keluar saja,yuk!" Ajak Seno.


"Keluar kemana mas? Rame loh di luar."


"Keluar dari rumah. Kita jalan-jalan!" Terang Seno.


"Hmm,ya sudah,yuk."


"Loh mas, kenapa bawa buku nikah segala?" Tanya Fia heran melihat Seno memasukkan buku nikah mereka ke dalam tas Fia.


"Ya biar orang-orang tau kalau kita sudah nikah." Jawab Seno.


"Hmm,gitu ya. . . Aku sudah rapi kan mas?"


"Sudah. Oh iya bawa baju ganti satu." Titah Seno.


"Hmm,i iya mas." Walau pun bingung,Fia menurut saja apa kata suaminya.


Mereka lalu berpamitan dengan keluarga Fia.


"Kita mau keluar sebentar,pak,bu." Pamit Seno dan juga Fia.


"Iya,hati-hati di jalan ya nak. Ingat,besok kita harus ke kota." Pesan ayahnya Fia.


"Iya,yah." Jawab Fia.


Dengan mengendarai sepeda motor,mereka pergi jalan-jalan.


"Kita mau kemana,mas?" Tanya Fia saat mereka sedang dalam perjalanan.


"Kita mau bulan madu." Terang Seno.


"Hmm,bulan madu? Bukannya nanti habis resepsi di kota?" Tanya Fia heran.


"Itu bulan madu lanjutan. Sekarang bulan madu yang pertama." Jawab Seno sambil tersenyum menyeringai di balik helmnya.


"Iihh mas ini." Fia memukul bahu suaminya dari belakang.


"Kamu siap-siap saja!" Titah Seno.


Fia justru makin mempererat rangkulannya.


Tak lama Seno memarkirkan sepeda motornya di depan sebuah hotel.


"Mas,kenapa berhenti di sini?" Tanya Fia heran.


"Kan kita mau bulan madu." Jawab Seno.

__ADS_1


Dia langsung menggandeng tangan istrinya,mengajaknya masuk ke dalam hotel.


Seno lalu memesan sebuah kamar yang paling bagus di sana dengan menunjukkan buku nikah mereka pun sukses cek in tanpa halangan.


Mereka bergandengan tangan sepanjang koridor hotel yang lumayan sepi.


Seno lalu membuka pintu kamar. Kamarnya cukup luas untuk sebuah hotel yang terletak di desa. Dengan balkon menghadap ke jalanan. Kamar mandi pun di lengkapi dengan bathup dan juga shower. Sebuah tv dan juga Ac melengkapi fasilitas yang ada di dalam kamar hotel.


"Mas,kamarnya bagus juga ya." Ucap Fia sambil berkeliling kamar. "Pemandangan dari sini juga bagus." Pujinya.


Tiba-tiba Seno sudah melingkarkan kedua tangannya di perut Fia membuat gadis itu merinding. " Mas bikin aku kaget saja,deh." Protesnya.


"Mas ajak kamu kesini bukan buat mengagumi isi kamar dan pemandangannya."


"Hmm,mas."


"Kamu sudah siap belum,hmm?" Fia hanya diam saja. Aku sudah siap dari semalam kok mas. Batin Fia.


Seno pun mulai melancarkan niatnya yang sempat tertunda. Dia menggendong Fia lalu membaringkannya di tempat tidur. Fia hanya pasrah saja dengan apa yang di lakukan oleh suaminya.


Hembusan nafas mereka saling memburu saat Seno mulai menempelkan wajah mereka. Baru beberapa menit,tiba-tiba Fia berteriak dan mendorong tubuh Seno.


"Fia?" Tanya Seno kaget dengan apa yang di lakukan oleh istrinya itu.


"Sa-sakit,mas." Ucap Fia lirih, meringis menahan sakit sambil memegang tubuh intinya.


"Sayang,belum apa-apa." Ucap Seno frustasi.


"Ta-tapi sakit." Fia bahkan meneteskan air mata di sudut pipinya.


"Hhh,maafkan mas." Seno langsung memeluk istrinya yang gemetaran. "Maafkan mas ya." Ucapnya lagi sambil mengecup dahi Fia.


"M-mas. Maafin aku ya." Ucap Fia lirih. "Kalau mas mau lagi,aku-aku. . ."


"Sssttt!" Seno menutup mulut istrinya dengan jari telunjuknya.


"Kita istirahat dulu ya.!" Titah Seno. Mereka lalu berbaring dengan sama-sama menghadap langit-langit kamar.


"M,mas?" Panggil Fia.


"Hmm,kenapa?"


"Aku,aku mau." Ucap Fia ragu-ragu.


"Hmm,kamu yakin?"


Fia pun menggangguk.


Seno kembali mengulangi kemesraan mereka. Tapi Seno tidak ingin langsung melakukannya karena tidak ingin membuat istrinya kembali kesakitan. Mereka lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermesraan.


Dan untuk kedua kalinya saat setelah bermesraan selama hampir satu jam,Fia kembali berteriak tapi tidak lagi sambil mendorong suaminya. Hingga membuat Seno menghentikan aktifitasnya.


"Ma-maafin aku." Ucap Fia frustasi.


Seno hanya diam. Mungkin aku memang tidak pandai melakukannya sampai belum apa-apa Fia sudah kesakitan. Batin Seno. Aahh.! Seno menarik rambutnya sendiri.


Melihat suaminya seperti itu,Fia makin menangis.


"Mas,maafin aku." Fia memeluk suaminya sambil menangis. Dia takut suaminya akan marah dan kecewa.


"Mas,tidak apa-apa kok." Hibur Seno.


"Hmm,tapi?"


"Kita tunggu pas bulan madu saja,bagaimana,hmm?"


"Mas tidak mau sekarang?"


"Kamu kan belum siap sekarang? Mas juga bingung bagaimana biar kamu tidak sakit."


"Hmm.iya mas."


Akhirnya mereka tertidur di hotel sampai menjelang siang.


***


Seno dan Fia baru saja keluar dari kamar hotel.


"Mas,maafin aku."


"Ssstt,sudah jangan di bahas lagi. Nanti saja pas kita bulan madu ya!" Hibur Seno.


"Hmm,terimakasih ya mas." Ucap Fia lirih. Beruntung sekali mempunyai suami yang pengertian. Batin Fia.


Mereka lalu kembali lagi ke rumah setelah makan siang di luar.


Fia mulai mengemasi barang-barang yang akan mereka bawa ke kota sekaligus untuk berbulan madu di kota L.


"Jangan banyak-banyak bawanya,kalau kurang,kita beli saja." Titah Seno.


"Hmm,iya mas."


"Mas tiduran dulu ya,nanti pas ashar tolong banguni mas." Titah Seno.


"Iya mas. Mas istirahatlah." Jawab Fia yang masih sibuk memilih pakaian yang akan dia bawa ke kota.


Setelah selesai,Fia pun ikut tertidur di sebelah suaminya.


.


.


.


.


Terimakasih buat reader yang masih setia dan penasaran dengan lanjutan cerita othor yang biasa ini. Masih banyak rahasia dan sesuatu yang akan terjadi di kehidupan para tokohnya. Di tunggu terus lanjutannya ya. Moga othor makin sehat dan bisa up tiap hari. Terimakasih buat yang mendoakan othor dan keluarga.


.


.


NEXT


.


.


.


2207/1717

__ADS_1


__ADS_2