
"Ayo kamu tunggu apa lagi,Seno? Ceraikan istri kamu sekarang juga! Aku hitung nih ya. Satu! . . .
"Fia lebih baik kamu cerai daripada kenapa-kenapa nak! Ibu tidak mau!" Teriak ibunya Fia.
"Fia tidak mau cerai,bu." Tolak Fia yang makin frustasi sampai-sampai dia tidak bisa lagi menopang tubuhnya sendiri.
"Ayo,dua. . .!"
"Fi,Fia maafkan mas. . ."
"Tidak mauu. . ." Ucap Fia lirih sambil terisak.
"Aku,aku ceraikan istriku. Istriku yang bernama Shofia a . . " Ucap Seno terbata-bata.
Tiba-tiba seorang satpam hotel sudah berada tepat di belakang Fia dan juga orang yang menyanderanya. Orang itu ternyata Anita. Dia juga yang membawa Fia ke atas gedung saat semua orang sibuk mencarinya.
Mungkin sudah nasib Fia,gadis itupun akhirnya tumbang. Saat satpam berusaha merebut pisau yang ada di tangan Anita,gadis itu nekat sekuat tenaganya menusukkan pisau ke dada Fia. Breeesss! Pisau tajam itu sukses menembus kulit Fia yang bahkan masih berlapis pakaian pengantinnya.
Melihat kejadian singkat itu,semua orang berhamburan mendekati Fia yang sudah berlumuran darah. Sementara Anita berhasil di lumpuhkan oleh beberapa satpam hotel.
"Fiaaa. . .!" Teriak histeris orang-orang yang ada di sana.
Seno langsung bersimpuh memeluk istrinya. Tubuhnya berguncang.
"Fia. . ."
"Fia. . "
Banyak yang meneriakkan nama pengantin baru itu.
"Bawa ke Rumah Sakit! Ayo,Seno!" Titah Rey sambil hendak membopong tubuh Fia. Sesaat Seno tersadar dari keterkejutannya,dia lalu segera membopong istrinya dan membawanya ke dalam mobil. Rey dengan sigap,mengemudikan mobilnya ke arah Rumah Sakit terdekat.
Semua keluarga ikut menyusul ke Rumah Sakit.
Sampai di Rumah Sakit,Fia langsung di bawa ke ruang OK untuk langsung di operasi karena luka tusuknya yang parah.
"Keluarga pasien tunggu di luar,ya!" Titah suster.
Seno terduduk di depan pintu ruang Ok. Ibunya Fia langsung pingsan saat baru saja tiba di Rumah Sakit.
"Mbak,maafin Seli." Teriak histeris adiknya Fia,Selia. Wajahnya telihat begitu menyesal dan hancur. Dia begitu merasa bersalah atas apa yang menimpa mbaknya karena saat itu dia yang di minta untuk menemani Fia ke toilet hotel.
Selama dua jam lebih,semua keluarga menunggu di depan ruang OK. Tiba-tiba dokter keluar.
"Bagaimana istri saya,dokter?" Seno buru-buru bangkit dari duduknya ketika melihat dokter.
"Luka tusuknya sudah kita jahit,tapi maaf pisaunya tembus sampai mengenai sedikit paru-parunya. Dan pasien juga kehilangan banyak darah. Dia masih membutuhkan tiga kantong darah lagi." Terang dokter.
"Tapi dia baik-baik saja kan dokter?" Tanya Seno.
"Maaf,pasien tidak dalam keadaan baik-baik saja. Dia masih dalam masa kritis. Empat kantong darah hanya membantunya bertahan,untuk selanjutkan kita serahkan pada sang pemberi kehidupan." Terang dokter lagi,lalu dokterpun meninggalkan mereka.
Suster keluar dari ruang OK untuk menjelaskan tipe darah yang di butuhkan oleh Fia. Setelah semua mengetahuinya,sebagian dari mereka segera mencari orang yang bisa mendonorkan darahnya untuk Fia.
"Mbak,Siti? Ada apa ini?" Tanya seseorang yang baru saja keluar dari ruang OK.
"Hmm,kamu? Kamu kerja di sini?" Siti balik bertanya.
"Saya sedang magang di sini,mbak." Jawab orang itu.
"Oohh,kamu magang di sini?"
"Iya mbak. Kebetulan saya ambil spesialis bedah." Terang gadis itu yang ternyata adalah Dinda. Putrinya dokter Layli.
"Oohh,kamu ambil spesialis bedah ya. Begini,istrinya Seno baru di tusuk orang di bagian dadanya dan baru saja selesai di operasi." Terang Siti.
"Oohh,pasien di dalam itu istrinya Se - Seno?" Tanya Dinda.
"Iya."
"Hmm,tadi saya ikut operasinya mbak."
"Oh ya? Bagaimana kondisinya sekarang?"
"Hmm,maaf mbak. Saya tidak berhak bicara karena saya hanya dokter yang baru magang." Ucap Dinda sambil melirik ke arah Seno.
"Ooh,begitu ya. Sekarang istrinya Seno sedang membutuhkan empat kantong darah lagi." Terang Siti.
"Ooh iya mbak. Apakah sudah dapat darahnya?"
"Belum,Din. Kita masih berusaha."
"Oh begitu. Baiklah,Dinda tinggal dulu ya mbak." Pamit Dinda.
Waktu berjalan dengan cepat. Beruntung golongan darah ayahnya Fia sama dengan anaknya,tapi hanya bisa mendapatkan dua kantong darah saja.
Menjelang pagi,Fia segera di pindahkan ke ruang ICU.
__ADS_1
"Kapan istri saya akan sadarnya,sus?" Tanya Seno cemas.
"Kita tunggu saja ya pak. Karena luka di paru-parunya." Terang suster lagi.
Seno hanya bisa diam. Dia lalu mendekat ke brangkar istrinya. Tubuh istrinya yang penuh alat-alat penopang hidup dengan suara nut nut nut bergema di dalam ruangan.
"Bagaimana dengan kekurangan darahnya,sus?"
"Oh kalau soal darah yang kurang sudah bisa kita atasi,pak. Ada yang berbaik hati mendonorkan darahnya untuk pasien." Terang suster.
"Siapa,sus?"
"Maaf,kalau soal itu saya tidak tau pak. Saya permisi dulu." Pamit susternya.
***
Dua hari sudah berlalu begitu cepat. Namun Fia belum juga sadarkan diri dan masih dalam masa kritis. Seno tidak sedetikpun beranjak dari sisi istrinya.
"Seno,ibu mau melihat anak ibu!" Ucap ibunya Fia. Dia menatap Seno dengan penuh kebencian.
"I,ibu. Iya silahkan,bu." Seno pun membiarkan ibunya berada di sisi putrinya yang masih enggan untuk membuka matanya. Seno perlahan keluar dari ruangan ICU.
Di luar ruangan,ada ayah dan adiknya Fia sedang duduk di kursi ruang tunggu ICU.
"Pak,maafkan saya." Ucap Seno lirih.
"Kamu tidak salah. Mungkin sudah takdir putri saya." Jawab ayahnya Fia sementara Selia masih sesenggukan.
"Gara-gara Seli,yah. Seli tinggalin mbak di toilet sendirian." Ucap gadis itu sambil mengusap air matanya.
"Sudah,tidak perlu saling menyalahkan. Kita berdoa saja." Ucap ayah Fia,bijak.
Mereka pun diam,sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Seno?" Sapa Rey yang baru saja tiba di Rumah Sakit.
Seno menoleh. " Hmm,mas Rey." Sahutnya lemah.
"Bagaimana istri kamu?"
"Belum ada perubahan,mas."
"Hmm,sabar ya. Bagaimana kalau kita bawa keluar negri,hmm?"
"Keluar negri?"
"Iya,kamu konsulkan dulu sama dokter yang menanganinya. Kalau memungkinkan untuk kita bawa berobat keluar negri,kenapa tidak?" Terang Rey.
"Kamu tidak perlu memikirkan biayanya. Mas akan tanggung jawab. Mas juga merasa bersalah atas kejadian yang menimpa istri kamu!" Ucap Rey.
"Hmm,mas. Mungkin sudah begini jalannya. Mas tidak perlu merasa bersalah. Justru aku sebagai suami tidak bisa menjaga istriku sendiri dengan baik." Ucap Seno lirih.
"Baiklah. Ayo mas temani kamu menemui dokternya Fia." Ajak Rey.
"Hmm,baiklah mas." Demi kesembuhan istrinya,Seno akhirnya mau bertemu dengan dokternya Fia.
Di dalam ruangan dokter.
"Maaf,bukan saya tidak mengijinkan tapi kondisi pasien yang masih sangat tergantung dengan alat-alat penopang kehidupannya. Apalagi kalau sampai di bawa ke USA,itu sangat jauh. Kalau hanya Singapura,mungkin saya masih mengijinkan." Terang dokter.
"Hmm,ya sudah kita bawa ke Singapura saja bagaimana?" Usul Rey.
"Hmm,tidak apa-apa,dok? Saya hanya ingin yang terbaik saja untuk istri saya." Terang Seno.
"Iya,sebaiknya tidak membawa pasien terlalu jauh." Jawab dokter.
"Baiklah kalau begitu kita permisi dulu dokter." Pamit Rey dan Seno.
"Apa? Keluar negri?" Tanya ibunya Fia kaget. "Saya tidak setuju! Kalau ada apa-apa di jalan kamu mau tanggung jawab? Bukannya kemarin ceraikan saja anak saya,pasti dia sekarang masih baik-baik saja!" Ucap ibunya Fia dengan emosi.
"Bu,jangan seperti itu. Toh Shofia juga tidak mau di ceraikan sama suaminya kan!"
"Huuhh,ayah tau apa? Ibu yang mengandung Shofia,ibu sakit melihat keadaannya seperti ini!" Ucap ibunya Fia yang mulai terisak.
"Sabar bu,ayah ngerti." Ucap ayah Shofia yang berusaha menenangkan istrinya sambil memeluk istrinya yang terus menangis.
***
Dua bulan berlalu,kondisi Fia masih belum ada kemajuan berarti. Keluarga Fia sampai memutuskan untuk pindah tinggal di kota demi bisa selalu dekat dengan putri mereka.
Karena rasa bersalah,Seno akhirnya membelikan keluarga istrinya sebuah rumah yang rencananya untuk tempat tinggalnya bersama Fia setelah pernikahan mereka.
"Terimakasih ya nak Seno." Ucap ayahnya Fia.
"Tidak masalah,pak. Anggap saja ini rumah hadiah pernikahanku untuk Fia. Semoga dia bisa segera pulih dan bisa ikut tinggal di sini." Terang Seno.
"Iya nak. Kamu juga jangan di ambil hati ya atas sikap ibunya Shofia."
__ADS_1
"Iya pak,saya mengerti." Ucap Seno. "Saya pulang dulu,pak." Pamit Seno.
Dia segera meninggalkan rumah yang di tempati keluarga istrinya itu.
Dengan mengendarai mobilnya,Seno berkeliling kota sendirian. Entah kemana tujuannya. Dia mulai jarang pulang ke rumah Rey. Kadang dia tidur di ruang ICU bersama istrinya. Tapi jika ada ibu mertuanya,dia akan tidur di ruang tunggu Rumah Sakit.
Tapi malam ini,entah apa yang membuatnya melangkahkan kakinya ke tempat hiburan malam. Karena belum pernah minum,baru satu teguk,dia sudah tidak bisa menguasai diri lagi. Dia terus saja menenggak minuman memabukkan itu hingga dia mulai meracau.
"Apa ada yang kenal anak muda ini?" Tanya managernya.
"Oohh ini kan pernah masuk berita saat tragedi di hari resepsi pernikahannya beberapa waktu lalu. Dia orang kepercayaan bosnya!" Terang salah satu pegawai.
"Lalu kita antar kemana orang ini?"
"Hmm,saya tidak tau!"
Saat tubuh Seno sedang limbung,ada seseorng yang meraih tubuhnya lalu membawanya keluar.
"Kamu mabuk-mabukan di sini,Seno!" Ucap seseorang itu yang ternyata Farid,teman sekantornya yang juga teman sekolahnya dulu.
Farid hendak membawa Seno naik ke sebuah taxi karena dia tidak bisa menyetir mobil. Baru saja dia hendak memesan taxi,tiba-tiba ada seseorang yang menyapanya.
"Loh,ini Seno kan?"
"I-iya mbak. Mbak kenal?"
"Saya kenal. Dia adiknya mbak Siti kan? Yang baru menikah beberapa waktu lalu?" Terangnya.
"Oh iya mbak benar." Jawab Farid.
"Kenapa bisa mabuk begini?"
"Saya tidak tau mbak. Untung saya pas masuk ke dalam,eh ketemu dia yang sudah teler begini."
"Dia tidak bawa mobil?"
"Sepertinya bawa,mbak. Tapi saya tidak bisa nyetir jadi saya berniat pesan taxi saja." Jawab Farid.
"Ooh begitu. Bawa saja ke mobil saya. Saya parkir di depan toko kue itu. Biar saya yang antarkan dia pulang."
"Apa tidak merepotkan,mbak?"
"Tidak kok. Kamu antarkan ke mobil saya,ya! Saya tidak bisa sendirian."
"Baiklah kalau begitu." Farid lalu membawa Seno masuk ke dalam mobil wanita itu.
"Terimakasih." Ucapnya. Dia lalu mengemudikan mobilnya membelah malam.
Baru saja setengah jam perjalanan,tiba-tiba Seno terbangun. Dia muntah di dalam mobil.
"Duuuhh,gimana ini?" Keluh wanita itu. Dia lalu memarkirkan mobilnya di pinggir jalan yang mulai sepi karena memang waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Seno terus-terusan muntah di dalam mobil sambil meracaukan sebuah nama. Fia.
"Kamu begitu mencintai istri kamu ya sampai mabuk-mabukan begini." Gumamnya. "Tapi tidak begini caranya." Ucapnya lagi.
"Fia,kamu sudah sembuh sayang?" Seno menatap nanar wanita di sebelahnya.
.
.
.
.
.
Terimakasih untuk yang masih setia menunggu kelanjutan cerita othor yang sangat biasa ini. Terus beri dukungan dan doa untuk othor ya. Sekali lagi,Terimakasih
π π π
.
.
.
.
.
.
NEXT
.
.
__ADS_1
.
2307/1838