
Romi masuk ke dalam kamar kost Ratna,lalu menutup pintunya membuat Ratna kaget. Kenapa pintunya di tutup. Batin Ratna.
"Kenapa tidak pulang ke rumah?" tanya Romi langsung seraya terus menatap Ratna yang masih berdiri di hadapannya.
"Hhmm,aku. . ." Ratna menggantung ucapannya,bingung harus mengatakan apa. Dia lalu menundukkan kepalanya.
"Abang nunggu kamu pulang. . ."
Deg. Ratna mendongakkan kepalanya. Benarkah? Dia sulit untuk percaya dengan pendengarannya sendiri.
Romi mendekatkan lagi kursi rodanya ke depan Ratna lalu kedua tangannya terulur meraih tangan Ranta membuat Ratna terlonjak kaget atas sikap suaminya itu.
Ratna masih diam seribu bahasa. Dia benar-benar kaget hingga lidahnya terasa kelu. Tapi tanpa terasa ada bulir hangat mengalir di pipinya.
"Pulang,yuk." Romi kembali bersuara.
Apa? Bang Romi mengajakku pulang? Apa aku tidak salah dengar. Batin Ratna.
"Ratna. . .?"
"Hhmm,aku. . ."
"Apa kamu tidak mau pulang ke rumah kita?"
Rumah kita? Ada apa dengan bang Romi? Kenapa dia bersikap manis seperti ini? Aahh,pasti Aaron yang memintanya bersikap begini.
"Se-seharusnya Aaron tidak perlu memaksa abang begini." ucap Ratna lirih.
Romi mengernyitkan dahinya, "Maksud kamu?"
Ratna melepaskan pegangan tangan Romi lalu berbalik membelakagi suaminya itu.
"Abang tidak seharusnya melakukan semua karena terpaksa. Aku cukup tau diri,bang. Aku sudah tidak punya lagi sesuatu yang bisa membuat abang terikat denganku. Aku siap kapanpun abang akan melepaskan aku."
"Ratna? Kenapa kamu bicara seperti itu? Aaron sama sekali tidak memaksa abang!" tegas Romi.
Ratna menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin abang bisa berubah secepat ini? Atau abang ingin aku pulang ke rumah abang supaya ada yang membantu aktifitas abang setiap hari?" tuduh Ratna. Rasanya sulit sekali mempercayai kalau suaminya itu bisa berubah semanis itu padanya.
"Ratna,kenapa kamu berpikir seperti itu?"
"Abang pikir saja sendiri!" ucap Ratna setengah berteriak. Dia mencoba menahan isak tangisnya. Mengingat semua perlakuan Romi selama ini terhadapnya.
Hhh,Romi menarik nafasnya berat. "Abang tau,kamu pasti sulit untuk mempercayai abang,kan? Abang. . . Abang bener-bener ingin kamu pulang. Bukan karena di paksa oleh siapapun! Bukan juga karena hanya butuh bantuan kamu! Abang tau,abang hanya laki-laki cacat yang tidak berguna. Yang hanya merepotkan semua orang."
"Aku tidak pernah menganggap abang seperti itu. Aku ikhlas membantu abang selama ini. Aku cinta sama abang! Tapi abang tidak pernah peduli perasaanku! Abang menikahiku karena di paksa semua orang!" Ratna terisak.
"Ratna,tolong maafkan abang. . ." Romi hendak meraih lagi tangan Ratna tapi istrinya itu langsung menghindar.
"Aku sudah lama memaafkan abang. Aku hanya tidak ingin abang terus memaksakan diri menerima aku sebagai istri abang."
"Ratna,abang memang banyak salah sama kamu selama ini. Tolong,beri abang kesempatan lagi. Abang akan memperbaiki hubungan kita. Abang bener-bener butuh kamu. Butuh kamu sebagai teman hidup abang. Abang mulai terbiasa ada kamu,Ratna."
Ratna lalu membalik badannya menghadap ke arah suaminya. Pandangan mereka bertemu. "Abang tidak perlu mengatakan itu hanya karena ingin aku kembali ke rumah abang."
"Abang harus bagaimana supaya kamu percaya sama abang?"
"Perubahan sikap abang begitu cepat. Rasanya seperti mimpi saja. . ."
"Ini bukan mimpi. Setiap orang pasti bisa berubah. Kita pulang,ya? Rasanya aneh saat bangun tidur tidak ada kamu di samping abang."
Romi lalu memajukan lagi kursi rodanya. Tangannya menggapai-gapai tangan Ratna hingga tubuhnya ikut maju. Namun tiba-tiba,Romi terjatuh. Brraaakkk!
"Bang!" Ratna kaget dan langsung membantu Romi duduk. Mereka lalu duduk berhadapan dengan Ratna merangkul tubuh Romi sementara suaminya itu meringis kesakitan.
"Yang mana yang sakit,bang?" tanya Ratna khawatir.
Romi lalu menatap lekat ke arah Ratna.
__ADS_1
"Abang ingin kamu pulang." ucap Romi lirih masih dengan menahan sakit di tubuhnya.
"I-iya. Aku akan pulang ke rumah abang."
"Beneran?" tanya Romi dengan senyum semringah.
Ratna mengangguk cepat. "Iya."
Cup. Tiba-tiba Romi mencium pipi Ratna, membuat istrinya itu kaget lalu memegangi pipinya yang baru saja di cium. "Terimakasih." ucap Romi.
Ratna tersenyum dengan wajah memerah.
"Pulang malam ini ya?"
"Hhmm,tapi aku baru saja mulai kost hari ini. Aku sudah bayar tadi siang." tolak Ratna halus.
"Berapa bayarnya? Nanti abang ganti."
"Bukan masalah ganti. Rugi donk aku sudah bayar tapi tidak di tempati." Ratna cemberut.
"Anggap saja beramal. Nanti abang ganti berkali-kali lipat,ya." ucap Romi seraya mengusap lembut wajah Ratna.
Mereka lalu saling pandang. Aku kangen banget sama kamu. Batin Romi.
Ratna terlihat salah tingkah. Kenapa bang Romi lihatin aku seperti itu ya. Bikin jantungku mau copot saja. Batin Ratna.
"Aku-aku minta ganti yang banyak!" celetuk Ratna untuk menutupi kegugupannya.
"Hhmm,seberapa banyak?"
"Aku. . . Hhmm,satu milyar."
"Cuma satu milyar?"
"Satu milyar,cuma?" Mata Ratna membulat.
"Iiihh,sombong!"
Romi tersenyum. "Abang akan kasih berapa pun yang kamu mau tapi ada syaratnya."
"Hhh,jadi pakai syarat? Tidak jadi deh."
"Kamu tidak tanya,syaratnya apa?"
"Apa?"
"Abang mau di sini tumbuh lagi calon anak abang!" pinta Romi seraya mengusap perut Ratna. Wajah Ratna langsung memerah.
"Hhmm,memangnya abang mau kalau aku hamil lagi anak abang?" tanya Ratna malu-malu.
"Mau banget!" tegas Romi.
"Hhmm,masa? Aku hamil waktu itu kan abang tidak suka." Ratna jadi terlihat sedih.
"Maafin abang. Abang bukan tidak suka. Abang hanya kaget dan bener-bener belum siap. Maafin abang ya. Abang akan tebus semua kesalahan abang sama kamu." ucap Romi tulus.
"Hhmm,tapi aku tidak janji!"
"Iya,tidak apa-apa. Yang penting sekarang pulang,ya. Rasanya tidak enak,tempat tidur di sebelah abang kosong,biasanya ada kamu."
"Abang kan bisa cari pengganti aku."
"Hhmm,abang sih mau saja. Tapi tempat tidur di sebelah abang itu sudah ada aroma tubuh kamu. Sudah banyak iler kamu." ucap Romi dengan senyum seraya menatap lekat istrinya itu.
"Iiihh,masa sih sampe gitu?" protes Ratna dengan wajah malu.
"Makanya pulang,yuk. Abang kangen tidur sama kamu."
__ADS_1
Ratna mengangguk,"Hhmm."
***
Di rumah Romi.
"Ayo,silahkan masuk." Romi memegang tangan Ratna.
Ratna menurut. Kamar yang dulu dia tinggalkan tidak berubah sedikitpun. Bahkan spreynya pun masih sama.
"Bang,kok spreynya belum di ganti?" tanya Ratna yang langsung duduk di sisi tempat tidur.
"Abang sengaja tunggu kamu yang ganti."
"Hhmm,kan sudah lama bang. Ya sudah,aku ganti sekarang ya."
"Iya,kamu ganti saja." sahut Romi.
Ratna lalu membuka lemari pakaian untuk mengambil sprey yang baru lalu segera mengganti dengan sprey yang lama.
"Loh,abang mau ke kamar mandi? Kok tidak bilang?" Ratna buru-buru menyusul Romi yang sudah di depan pintu kamar mandi.
"Abang bisa kok. Abang tidak mau membuat kamu capek."
"Aku bantu,bang." paksa Ratna lalu mendorong kursi roda Romi masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai,Ratna membantu Romi untuk berbaring di tempat tidur. Lalu dia pun berbaring di sebelahnya.
"Abang di bantu siapa selama aku tidak ada?"
"Abang di bantu sama Aaron,kadang sama pakde."
"Kalau mau mandi?"
"Abang berusaha sendiri."
"Hhmm,maafin aku ya,bang."
"Kenapa minta maaf? Abang memang harus belajar melakukan sendiri,tidak merepotkan kamu terus."
"Hhmm,jadi aku tidak ada gunanya di sini."
"Siapa bilang? Kamu di sini sebagai istri abang!"
"Tapi aku juga mau bantu abang seperti biasa."
Romi menggeleng cepat. "Kamu tidak boleh terlalu capek. Abang ingin kamu bisa cepat hamil lagi!" tegas Romi.
"Hhmm,tapi bang?"
Romi lalu berbisik di telinga Ratna membuat wajah Ratna memerah.
"Kamu mau,kan?"
Ratna menunduk lalu mengangguk pelan.
.
.
.
..
.
.
__ADS_1
23