
"Yuk kita masuk lagi!" Ajak Siti pada Cyndia.
Mereka kembali masuk ke dalam rumah. Duduk bersantai di ruang keluarga sambil mengobrol. Siti berusaha bersikap santai dan terbuka walau dia tau Cyndia terlihat tidak nyaman berada di rumah mertuanya.
"Jadi kegiatan tiap hari kita hanya urus si kecil ya mbak." Ucap Siti. "Kalau sebelum Putri lahir,aku tuh suka bosen di rumah tidak bisa ngapa-ngapain,mau ikut suami kerja kok malas." Tambahnya lagi.
"Iya mbak,kalau aku waktu hamil suka ikut suami kerja,nanti pulang bareng sama Cinta. Jadi tidak terlalu bosan." Ucap Cyndia.
"Apalagi sudah ada Cinta ya mbak jadi sudah ada temannya. Cinta kalau menginap di sini tidak pernah lama."
"Heheee,iya. Dia kadang suka mengusap-usap perutku kalau pas lagi gerak-gerak. Dia merasa takjub." Ucap Cyndia sambil mengawasi putranya yang mencoba berjalan walau kadang terjatuh.
"Iya bener mbak,Cinta juga suka mengusap perutku."
Tiba-tiba bayi Siti menangis. "Hmm,Putri lapar ya nak? Mbak aku kasih Putri ASI dulu ya!" Pamit Siti lalu duduk di pojokan sofa agar bisa memberikan ASI dengan nyaman.
Sementara Siti sedang sibuk memberikan ASI untuk bayinya,mama mertuanya ikut bergabung di sana. Cyndia jadi lebih banyak diam dan hanya fokus bermain bersama putranya.
"Cyndia." Sapa mama.
Cyndia pun menoleh lalu tersenyum. "Hmm,tante apa kabar?" Tanyanya berbasa basi.
"Alhamdulillah baik. Putra kamu sudah besar ya?"
"I iya tante." Jawab Cyndia. Dia terlihat tidak nyaman lalu sengaja mengikuti kemana putranya berjalan.
"Cyndia,kamu panggil mama saja kan kamu bundanya Cinta. Hmm,bisa mama bicara sebentar?"
"Hmm,bicara apa tante?"
Cyndia memaksakan tersenyum mendengarnya. Dia masih belum bisa berakrab-akrab dengan oma dari putrinya itu jadi dia tetap fokus bermain dengan putranya. Sesekali dia melirik ke arah pintu.
"Mama belum sempat minta maaf atas kesalahan mama dulu. Semoga kamu mau memaafkan mama." Ucapnya lirih tapi masih bisa terdengar oleh Cyndia dan juga Siti yang duduk di pojok sofa.
"Ehmm,semua sudah berlalu tante. Sudah lama saya maafkan." Jawab Cyndia lirih. " Oh iya,sudah waktunya Faqih minum ASI. Aku kasih ASI dulu untuk Faqih,tante!" Ucapnya kemudian lalu berjalan sedikit menjauh ke kursi single yang memang terletak di pojok ruang keluarga. Mama hanya tersenyum tipis. Penyesalan memang selalu terjadi di belakang.
Siti selesai memberikan ASI untuk Putri dan menidurkannya di bouncher karena Putri sudah tertidur. Dia kembali bercengkrama dengan Cinta.
"Siti,mama tinggal dulu." Pamit mama yang langsung berlalu dari sana,mungkin ingin memberi ruang bagi Cyndia agar merasa nyaman di rumahnya.
"Hmm,iya ma." Jawab Siti.
Tak berapa lama Cyndia bergabung lagi bersama Siti. Putranya sudah tak seaktif tadi,mungkin mulai mengantuk.
"Sepertinya Faqih ngantuk,mbak." Ucap Siti sambil menatap putra Cyndia.
"Hehehee,iya mbak. Memang jam segini dia biasanya tidur." Jawab Cyndia.
"Kita ke kamar Cinta saja,mbak. Sekalian Faqih bisa istirahat." Ajak Siti.
"Tidak perlu mbak,sebentar lagi ayahnya jemput." Tolak Cyndia dengan halus. Dia masih merasa sungkan dan berharap suaminya cepat datang menjemput. Dia kembali menoleh ke arah pintu.
__ADS_1
Tiba-tiba Faqih menangis. Cyndia berusaha menenangkannya dengan menggendongnya tapi dia tetap saja menangis.
"Ngantuk mungkin mbak? Yuk kita ke atas saja ke kamar Cinta!" Ajak Siti lagi. Berharap Cyndia mau menerima usulnya karena putranya itu makin kencang menangisnya,mungkin merasa tidak nyaman juga sama seperti bundanya.
"Hmm,yasudah kalau gitu. Tapi tidak apa-apa kan mbak Siti?"
"Tidak apa-apa kok mbak kan di kamar Cinta juga." Jawab Siti.
Akhirnya Cyndia mau juga di ajak ke atas,istirahat di kamarnya Cinta. Mereka lalu naik ke atas menuju kamar Cinta.
Karena di kamar Cinta lebih sejuk dan tenang tanpa suara,Faqih jadi cepat tertidur.
"Tuh mbak,Faqih susah tidur kalau di bawah kan ada suara bibi yang sedang sibuk beres-beres." Ucap Siti.
"Iya mbak! Dia kalau tidur memang harus suasana tenang."
"Kalau mbak mau ikut istirahat silahkan,aku tinggal dulu ya." Pamit Siti yang di beri anggukan oleh Cyndia.
Siti keluar dari kamar Cinta lalu masuk ke kamarnya untuk menidurkan Putri. Karena lelah,dia pun ikut tertidur.
***
Tak terasa hari sudah sore. Pintu kamar Siti ada yang membuka.
Ceklek. Rey muncul di depan pintu. Siti kaget langsung menoleh.
"Mas,sudah pulang?"
"Oh ya? Mbak Cyndia dan putranya ada di kamar Cinta,mas."
"Iya,mereka sudah turun ke bawah. Kita turun yuk,sepertinya mereka mau pulang." Ajak Rey.
Siti lalu turun bersama suaminya sambil menggendong Putri. Dari atas terlihat Cyndia sedang menggendong putranya sambil mengobrol dengan suaminya.
"Mbak,maaf ya tadi aku tinggal lama soalnya ketiduran." Ucap Siti sambil tersenyum.
"Iya tidak apa-apa mbak,aku juga sempat tertidur sebentar tadi."Jawab Cyndia.
"Syukurlah kalau mbak bisa tidur. Capek gendong Faqih yang rewel."
"Hehee,iya mbak. Oh ya kita sekarang mau pulang dulu mbak,sudah sore."Pamit Cyndia.
"Oh iya mbak. Kapan-kapan main lagi ke sini."
"Insya Allah. Mbak juga kapan-kapan main ke rumah."
Setelah berbasa basi sebentar,Cinta dan ayah bundanya lalu pulang.
***
Siti dan Rey masuk kembali ke kamarnya. Siti masih menggendong bayinya yang tidur.
__ADS_1
"Tadi ngobrol apa sama bundanya Cinta,yank?"
"Ngobrol biasa kok mas,masa hamil,menyusui." Jawab Siti.
"Mas seneng kalau kamu bisa berteman dengan bundanya Cinta. Kalian kan juga butuh teman yank. Mas juga sama ayahnya Cinta suka ngobrol,bahas tentang pekerjaan. Apa saja yang buat kita nyambung." Terang Rey. "Kita sudah punya masa depan sendiri-sendiri."
"Hmm,iya mas. Aku akan berusaha menjadi teman yang baik untuk Cyndia."
"Terimakasih ya sayang. Kamu sudah mau mengerti." Ucap Rey sambil menatap mata istrinya.
Siti mengangguk lalu balas menatap mata suaminya. "Hmm,mas aku mau tanya tapi mas jangan marah ya?"
"Kenapa harus marah? Memangnya kamu mau tanya apa,hmm?"
"Hmm,tadi mama mau ajak Cyndia bicara tapi Cyndia seperti mencoba menghindar. Dia terlihat tidak enak hati gitu. Maaf ya mas bukan aku mau tau urusan orang. Tapi Cyndia seperti tidak nyaman di sini. Dia bolak balik menatap ke arah pintu seperti ingin pulang,makanya aku ajak dia ke kamar Cinta saja. Bayinya juga rewel." Terang Siti.
"Hmm,yah masa lalu yank. Memang mama dulu tidak suka sama Cyndia." Jawab Rey lirih.
"Hmm,maaf mas kalau aku mengulik masa lalu mas. Mas sudah ngantuk belum?"
"Tidak apa-apa yank! Sini duduk lebih dekat mas!" Titah Rey. Siti lalu duduk lebih dekat lagi dengan suaminya. "Mas belum ngantuk,masih ingin ngobrol sama kamu. Kamu sudah ngantuk ya? Apa capek?"
"Capek sedikit sih,acaranya lama juga."
"Yank,kapan-kapan kita liburan mau? Tadi mas dan pak Fadil berencana untuk liburan bersama."
"Mau donk! Memangnya mau liburan kemana mas? Tapi Putri kan masih kecil."
"Yah tidak dalam waktu dekat ini kok yank. Baru rencana kita saja kok."
"Hmm,yang pasti tunggu Putri besar sedikit,mas. Dua atau tiga bulan." Ucap Siti.
"Iya donk yank. Kita ngobrol sambil tiduran saja yank! Badan mas terasa pegal-pegal nih!"
"Mau aku pijat mas?"
"Tapi kamu kan capek?"
"Bentar saja pijatnya mas. Ayo mas tengkurap biar aku pijat punggungnya.!" Titah Siti.
Rey menurut. Dia lalu tengkurap dan Siti mulai memijat punggungnya dengan di olesi minyak telon biar sedikit hangat.
"Pijatan kamu enak yank! Mas bisa-bisa ketiduran nih!"
"Oh ya? Ya jangan mas,sebentar lagi maghrib ini." Ucap Siti sambil terus memijat punggung suaminya.
"Iya yank. Hmm,tapi mas benar-benar di buat ngantuk oleh pijatan kamu yank!" Ucap Rey lirih. Siti hanya tersenyum mendengarnya.
Jangan lupa dukungannya buat othor ya ☺☺
NEXT
__ADS_1
030621/15.35