
Memasuki usia kehamilan empat bulan. Hari minggu pagi, Dinda mengadakan syukuran di kediaman orang tuanya. Dengan mengundang keluarga,tetangga dan juga kenalan dekat saja. Rumah di sulap jadi sedikit mewah.
Semua persiapan acara sudah rampung. Dinda sedang berias di kamarnya. Aura keibuan mulai tampak di wajahnya. Dia makin cantik saja sejak hamil membuat Seno makin posesif saja setiap harinya.
"Kenapa mesti di rias seperti itu,terlalu terbuka juga pakaiannya." Gumam Seno sambil melirik istrinya. Undangan banyak juga pasti dia jadi pusat perhatian. Huhh. Seno mondar mandir di kamar.
Setelah yang membantu Dinda keluar,Seno mendekati Dinda.
"Sayang,memang harus seperti ini ya pakaiannya? Bahumu kemana-mana?"
"Kemana-mana gimana,mas?"
"Terbuka gini."
"Hmm,nanti aku tutupi pakai selendang kok,mas."
"Beneran ya! Mas tidak rela di lihat orang!"
Dinda tersenyum. Dia memang merasa sangat bahagia dan tersanjung melihat sikap suaminya sekarang tapi kadang dia juga pusing kalau suaminya itu sudah berlebihan. "Bilangnya tidak cinta tapi posesif banget,hhh."
Seno memeluknya dari belakang sambil tersenyum. "Itu artinya lebih dari cinta!" Bisiknya mesra.
"Apa namanya yang lebih dari cinta?"
"Hmm,apa ya?"
"Hnm,bingung kan. . ."
Tok tok tok. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar Dinda.
"Din?" Suara mami Dinda.
"Iya mi."
"Mami,mas. Mungkin kita sudah di suruh turun." Ucap Dinda.
"Pakai dulu kerudungnya!" Titah Seno.
Dinda mencari kerudung di lemari pakaiannya lalu segera memakainya.
Mereka turun bersama-sama. Di lantai bawah,tamu sudah mulai berdatangan. Keluarga besar juga sudah banyak yang datang.
"Sayang,selamat ya sudah mau jadi seorang ibu." Ucap tantenya Dinda.
"Terimakasih tante."
"Keponakan tante yang paling manja akhirnya mau jadi seorang ibu. Makin cantik juga sekarang ya."
"Aura kebahagiaannya keluar."
Dinda hanya tersenyum mendengar komentar-komentar dari keluarga besarnya.
Dinda lalu mengikuti arahan dari maminya untuk mengikuti rangkaian demi rangkaian acara empat bulanan kehamilannya. Seno selalu berdiri di sampingnya dengan sikap over protektifnya. Setiap kali kerudung yang menutupi bahu Dinda terbuka,Seno dengan sigap menutupinya lagi.
Setelah semua acara selesai,tamu di persilahkan menikmati hidangan yang sudah di siapkan oleh tuan rumah.
Menjelang siang,tamu sudah pulang semua termasuk keluarga mbaknya,Siti. Dinda dan Seno kembali ke kamar dan langsung berganti pakaian.
"Capek juga berdiri lama-lama,mas. " Keluh Dinda sambil menyelonjorkan kedua kakinya di atas kasur.
"Mas pijat kakinya ya."
__ADS_1
Dinda mengangguk,matanya sudah terlihat mengantuk. Baru sepuluh menit Seno memijat kakinya,Dinda pun tertidur.
"Hmm,sudah tertidur." Gumam Seno. Seno lalu mengusap-usap perut Dinda yang sudah terlihat sedikit buncit. "Kamu sehat-sehat di sana ya nak." Bisiknya lembut sambil mencium perut Dinda. Seno lalu naik ke tempat tidut dan ikut tidur di samping Dinda.
***
Keesokan harinya. Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Seno buru-buru membereskan meja kerjanya. Dinda sudah menunggu untuk di jemput dari Rumah Sakit.
Seno mencoba menghubungi istrinya itu tapi tidak juga ada jawaban. "Kamu kemana sih?" Gerutu Seno. Hampir tiap jam,Seno akan menghubungi Dinda hanya untuk menanyakan sedang apa.
Seno keluar dari ruangannya. Dia bertemu Rey yang juga hendak pulang.
"Kamu kenapa kok buru-buru sekali?" Tanya Rey.
"Seno mau jemput Dinda,mas. Dia sudah mau pulang dari jam dua tadi." Jawab Rey.
"Hmm,kenapa tidak di jemput dari tadi? Lain kali cepatlah jemput,masalah pekerjaan kalau tidak terlalu penting kan bisa lanjut besok."
"Hmm,iya mas."
Mereka lalu berpisah di parkiran,naik mobil masing-masing.
Seno melajukan mobilnya sedikit lebih cepat. Yang ada di pikirannya hanya Dinda,Dinda. Dia begitu khawatir istrinya itu kelelahan.
Setengah jam,mobil baru sampai di parkiran Rumah Sakit. Seno bergegas turun lalu mencari istrinya di dalam. Dia coba menghubungi tapi tidak juga ada jawaban. "Sayang,kamu di mana sih?" Gumam Seno kesal sekaligus cemas.
"Maaf,sus. Mau tanya. Tau dokter Dinda kan?" Tanya Seno saat ada suster lewat di dekatnya.
"Dokter Dinda? Tadi saya lihat menunggu di depan,pak." Jawab suster itu.
"Kapan itu sus?"
"Setengah jam yang lalu? Tapi tidak ada di depan,sus."
"Iya. Mungkin kembali ke ruangan nya lagi pak. Itu di belakang ruang OK." Jawab suster.
"Terimakasih,sus."
Seno segera menuju ruang OK. Setelah bertanya,dia sampai juga di ruang OK. Tapi kata suster di sana,Dinda sudah pulang lima belas menit yang lalu.
Hhh,Seno mengusap wajahnya kasar. "Dindaa!" Jeritnya tertahan.
Seno kembali menghubungi Dinda. Sama saja,tetap tidak ada jawaban. Seno makin frustasi. "Awas kamu ya kalau ketemu." Gumamnya.
Dengan langkah lebar,Seno kembali mencari Dinda. Jantungnya mulai tidak beraturan. Seno lalu keluar dan berjalan memutar Rumah Sakit. Di samping Rumah Sakit ada taman untuk orang-orang yang ingin bersantai dan menikmati udara segar saat pagi dan sore hari. Mungkin istrinya itu sedang jalan-jalan di sana sambil menunggu jemputannya.
Tiba-tiba dia mendengar suara laki-laki yang sedang mengancam seseorang. Jantung Seno makin berdetak kencang. Pikirannya kemana-mana.
Dari jauh dia melihat seorang laki-laki sedang memegang tangan seorang wanita. Dan wanita itu sangat di kenalnya. Yang sudah memenuhi hati dan pikirannya. "Dinda!" Teriaknya.
Dinda menoleh,begitu juga laki-laki yang memegang tangan Dinda.
"Lepaskan tangan istri saya! Berani kamu menyentuhnya!" Seno langsung meraih tangan Dinda agar terlepas dari cengkeraman laki-laki itu. Terjadi tarik tarikan tapi akhirnya tangan Dinda terlepas karena Seno memukul tangan laki-laki itu.
"Kurang ajar!" Ucap laki-laki itu dengan nada tinggi.
"Mas. Kita pergi saja dari sini." Dinda langsung berdiri di belakang Seno.
"Oohh,jadi kamu yang sudah merebut calon istri saya,hehh!" Ucap laki-laki itu dengan senyum menyeringai.
"Siapa kamu?"
__ADS_1
"Aku calon suami dari wanita yang sudah kamu rebut!" Tuduhnya.
"Apa maksudnya?"
"Dinda itu calon istriku dan aku datang untuk menikahinya."
"Hhh,Dinda istriku! Selamanya akan tetap jadi istriku!" Ucap Seno dengan lantang.
"Hhh,baik. Kita lihat,siapa yang akan memilikinya."
"Romi,hubungan kita sudah berakhir sejak kamu pergi. Aku,aku sekarang sedang hamil. Tolong lupain aku." Ucap Dinda memohon.
Jadi dia mantannya Dinda. Hmm,aku tidak akan membiarkan siapapun merebut istriku. Batin Seno.
"Aku tidak peduli kamu hamil,aku hanya ingin kamu menikah denganku!"
"Mas,kita pergi saja dari sini." Bisik Dinda. Dia sudah ketakutan. Dia tau Romi itu seseorang yang bertemperamen tinggi. Dulu pernah berkelahi dengan kakak laki-laki Dinda yang bernama Danis.
"Hadapi aku jika kamu ingin membawa dia!" Tantang Romi.
"Jangan mas! Kita pergi saja dari sini. Aku mohon!" Ucap Dinda dengan wajah takut dan cemas. Dinda mulai menarik tangan Seno agar meninggalkan tempat itu. Tapi tiba-tiba Romi menghadangnya lalu mulai memukul Seno.
Seno pun membalas pukulan Romi. Mereka terlibat perkelahian. Seno terlihat lebih unggul karena semasa sekolah,dia sempat mengikuti taekwondo.
Tiba-tiba datang seorang laki-laki yang ikut menyerang Seno. Dinda ketakutan. Dia lalu berlari masuk ke dalam rumah sakit melalui pintu belakang. Lima menit Dinda kembali bersama dua orang satpam Rumah Sakit. Seno sudah terlihat tidak mampu mengimbangi lawannya yang ternyata sudah berjumlah tiga orang.
Karena kedatangan satpam yang membawa pemukul,akhirnya mantan Dinda dan teman-temannya pergi dari sana meninggalkan Seno yang sudah banyak luka di wajah dan tubuhnya.
"Aku masih akan kembali!" Ancam Romi sambil menunjuk ke arah Seno.
.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca semoga suka. Terimakasih. ππ
.
.
.
.
.
.
.
1515
__ADS_1