Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 64 ( S2 )


__ADS_3

Dinda masih memegangi perutnya sambil menahan sakit. "Mas. . ."


"Masih sakit yank? Sebentar lagi kita sampai klinik mami. Kamu tahan ya." Seno berusaha menenangkan istrinya.


Sepuluh menit akhirnya mereka sampai juga di klinik mami Dinda.


"Mas gendong ya?" Tanya Seno yang di berikan anggukan oleh Dinda.


Mereka lalu masuk ke dalam klinik. Beruntung klinik cukup sepi dari pasien,hanya ada beberapa orang pasien rawat inap.


Dinda langsung membuka pintu ruang praktek maminya.


"Mi. . ." Panggilnya lirih.


Maminya yang sedang duduk sambil menulis pun menoleh ke arah pintu.


"Sayang,kamu sudah datang?" Sahut maminya Dinda.


"Mi. . ."


"Loh kamu kenapa,nak?" Tanya mami Dinda saat melihat putrinya yang seperti menahan sakit.


"Perutku,mi." Keluh Dinda yang langsung berbaring di tempat tidur.


Mami Dinda segera memegang perut putrinya. "Kenapa keras begini? Sejak kapan?"


"Tadi,hmm sejak dalam perjalanan ke sini." Jawab Dinda. Seno berdiri di sampingnya seraya menggenggam tangan istrinya yang terasa dingin.


"Biar mami periksa." Ucap mami Dinda lalu mulai memeriksa putrinya.


Hhh,untung saja mami yang periksa Dinda. Batin Seno.


"Kamu tadi ngapain nak,bisa kram begini perutnya?"


"Tidak ngapa-ngapain kok mi. Hmm,tadi sewaktu kita dalam perjalanan ke sini,mobil kita ada yang nabrak. Jadi dinda ketakutan." Terang Dinda.


"Apa? Ada yang nabrak mobil kalian?" Tanya mami kaget. "Kalian tidak apa-apa kan?" Tanya mami khawatir.


"Nabraknya tidak kuat mi,tapi beberapa kali seperti sengaja gitu,bikin aku ketakutan dan perutku tiba-tiba jadi kram."


"Hhahh? Siapa orang itu? Kalian tidak lihat orangnya?"


Dinda menggeleng. "Mobilnya gelap,mi. Dari belakang juga nabraknya jadi kita tidak bisa lihat. Mas Seno fokus menyetir."


"Hmm,aneh. Sengaja nabrak mobil kalian begitu apa sengaja cuma mau nakut-nakutin kalian?


"Hmm,sepertinya begitu mi." Jawab Seno.


"Hmm,calon bayiku tidak apa-apa kan mi?" Tanya Dinda khawatir karena perutnya masih terasa kram.


"Tuh kamu lihat di monitor. Alhamdulillah baik-baik saja. Mungkin karena kamunya tegang jadi dia ikut tegang. Jaga emosi kamu,Din!"


"Alhamdulillah." Ucap Seno.


"Hmm,iya mi. Tadi tu aku takut banget kalau tiba-tiba orang itu nabraknya kuat,bisa kecelakaan kita." Terang Dinda.


"Iya mami mengerti nak. Kalau merasakan tidak enak jangan lupa berdoa dan istigfar ya."


Dinda menganguk." Iya mi."


"Kalian pulang naik taxi saja. Mami khawatir orang itu masih mengawasi kalian!"


Dinda menoleh ke arah suaminya. "Iya,kita naik taxi saja." Ucap Seno.


Setelah yakin kandungannya baik-baik saja,Dinda dan Seno pun pulang dengan memesan taxi.


"Mas,aku takut." Ucap Dinda saat mereka sudah di dalam taxi.


"Kenapa takut,hmm? Kan ada mas."


"Kalau orang itu sengaja,gimana?"

__ADS_1


"Sssstt,jangan mikir macam-macam yank. Pikirkan saja yang di dalam sini!" Ucap Seno sambil mengusap lembut perut Dinda.


Dinda lalu bersandar di bahu kokoh suaminya sambil merangkulnya erat.


***


Dinda dan Seno baru selesai makan malam. Seno sedang berbicara dengan papi Dinda di bawah sementara Dinda duduk-duduk di balkon kamarnya.


"Sayang,mas pikir kamu masih di bawah. Ayo masuk,udara malam tidak baik!" Titah Seno.


Dinda menurut,dia lalu bangkit dan mendekati suaminya.


"Mas. . ."


"Hmm,?"


"Kira-kira orang yang sengaja nabrak kita itu siapa ya?"


"Sayang,kenapa mikirin orang itu lagi? Cukup mas yang ada di pikiran kamu!"


"Tapi mas,kemungkinan orang itu kenal kita makanya sengaja. Mobil lain tidak ada yang di ganggunya selain mobil kita,kan?"


"Hhhh,biar mas yang pikirin masalah itu! Kamu pikirin saja kehamilan kamu ya. Makan yang bergizi,minum susu hamil dan jangan lupa minum vitaminnya juga!"


Kini mereka sudah duduk di sofa. Dinda bersandar di bahu suaminya.


"Mas,aku tidak mungkin tidak memikirkan itu. Apalagi mas sering di jalan setiap hari. Kalau orang itu kembali . . ."


Seno menutup mulut Dinda dengan kedua jarinya sebelum istrinya itu selesai bicara.


"Mas minta,berhenti memikirkan sesuatu selain calon anak kita." Tegas Seno.


Dinda hanya menunduk sambil mengusap perutnya yang sudah tidak sekeras tadi siang.


"Tolong jaga calon anak mas dengan baik ya!" Pinta Seno lalu menatap lekat-lekat manik mata istrinya yang masih sedikit murung.


"Hmm. . ."


"Hmm,mas. Aku bahagia sama mas! Aku hanya masih kepikiran!"


"Lalu apa yang harus mas lakukan agar kamu tidak terus memikirkannya ,hmm?"


"Maaf mas. Aku janji tidak akan memikirkannya lagi."


"Bener ya? Mas tidak ingin kamu jadi stres karena terus memikirkan masalah itu. Ingat,kamu sedang hamil.


"Iya mas."


"Mas tau wanita hamil itu lebih sensitif tapi kamu tetap harus bisa menjaga emosi kamu."


Hhh,Dinda menghela nafas beras. "Entahlah mas,mungkin karena kejadiannya baru jadi masih kepikiran. Semoga besok aku sudah bisa melupakannya."


"Mas sangat mencintai kamu yank,juga calon anak kita!"


"Hhmm,cintaku lebih dari apapun mas! Aku tidak akan sanggup tanpa mas!"


Seno memeluk erat Dinda yang juga membalas pelukannya.


"Mas,aku dulu tidak pernah berpikir mau nikah sama mas. Malah aku tuh sebel banget sama mas."


"Hhm,memangnya mas kepikiran mau nikah sama kamu? Kamu itu cewek galak yang pernah mas temui! Mas tidak suka sama cewek galak!"


"Hmm,aku tau kok kalau dulu mas tidak suka sama aku. Makanya aku jadi makin galak sama mas! Tapi mas harus tau loh,aku sama teman-temanku,sama orang lain tidak galak kok. Semua teman suka menjadi teman aku."


"Oh ya? Kenapa cuma galak sama mas?"


"Ya karena mas itu menyebalkan!"


"Menyebalkan apa karena memang sudah suka sama mas,hmm?


"Iiihh,aku kan dulu sudah punya pacar."

__ADS_1


"Hmm,bangganya yang sudah punya pacar."


"Mas juga dulu sudah punya pacar kan. Calon istri malah!"


"Hmm,dah ah. Mas tidak suka bahas yang dulu-dulu. Enakan bahas tentang kita berdua saja! Eh sekarang jadi bertiga."


Dinda mendongakkan kepalanya. "Bertiga,siapa mas?" Tanya Dinda dengan nada cemburu.


"Ini!" Jawab Seno sambil mengusap lembut perut Dinda. "Nah,dia gerak-gerak. Mau ikut ngobrol juga ya nak?" Seno lalu mendekatkan wajahnya ke perut Dinda yang terlihat ada gerakannya.


"Dia nendang-nendang,mas." Sahut Dinda.


"Iya,sepertinya dia kangen papanya!"


"Iiiihh,masa kangen terus? Kemarin malam sudah!" Protes Dinda dengan wajah mulai memerah.


"Ya tidak masalah anak selalu kangen sama papanya. Papanya juga kangen terus kok! Cup!" Seno mencium perut Dinda yang ada tonjolannya,mungkin kaki sang janin yang sedang menendang.


"Mas."


"Hmm,?"


"Besok mas ijin dulu ya sama mas Rey."


"Kenapa?"


"Hmm,tidak apa-apa sih." Jawab Dinda padahal dia masih kepikiran kejadian tadi sore takut terulang lagi besok saat suaminya berangkat dan pulang kerja.


"Besok pagi mas banyak pekerjaan,yank. Kasihan mas Rey sendirian." Tolak Seno.


"Hmm. Mas naik taxi saja ya?"


"Kamu masih kepikiran yang tadi ya?"


"Mas,naik taxi saja ya!" Pinta Dinda dengan wajah memohon.


"Uuhh,kamu itu!" Seno mencubit gemas kedua pipi Dinda.


"Hmm,mas. Mau ya?"


"Mau apa? Mau jenguk dede bayinya?" Tanya Seno dengan senyum menggoda.


"Iiihh mas. Mau naik taxi saja,ya?"


"Iya sayangku!" Jawab Seno lalu membawa Dinda dalam pelukannya."Jangan khawatir ya." Bisiknya lembut.


.


.


.


.


.


.


NEXT


Selamat membaca,semoga suka ya! Jangan lupa terus dukung othor. Terimakasih. 😍😍


.


.


.


.


.

__ADS_1


1515


__ADS_2