Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 48


__ADS_3

Setelah ibu-ibu itu pulang,Siti langsung menutup pintunya rapat-rapat. "Maaf ya mas,mas jadi tidak nyaman karena masalah tadi. Kalau mas sudah tidak betah di sini,tidak apa-apa. " Ucap Siti dengan penuh penyesalan.


Rey langsung memeluk istrinya. "Kenapa kamu yang minta maaf,sayang? Kenapa juga mas tidak betah,hmm? Mas ada di sini karena kamu bukan karena orang lain!" Jawab Rey.


Siti mendongakkan kepalanya. "Terimakasih mas. Saya jadi merasa tersanjung setiap hari,setiap saat! Karena mas!" Ucap Siti. Dia lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


"Mas hanya ingin membahagiakan kamu! Mas ingin menebus semua waktu kita yang dulu terbuang!" Ucap Rey lalu mencium pucuk kepala istrinya. " Kita keluar yuk,sekalian jemput Seno lalu makan siang,terus kita cari bahan bangunan sama-sama. Mas boleh kan membuat rumah ini jadi indah? Seindah kamu!"


"Seno masih lama pulangnya mas. Ini masih pukul sembilan pagi. Seno pulang jam satu siang!" Ucap Siti.


"Hmm,kalau begitu kita lanjut lagi saja yu yank!" Bisik Rey.


"Lanjut apa mas?" Tanya Siti tidak mengerti.


"Lanjut nengokin anak kita!" Bisik Rey lagi.


Siti langsung melepaskan pelukannya. "Mas ini!" Siti memukul-mukul dada suaminya. "Tadi sudah berapa kali. Nanti anaknya bosan!"


"Hahaha!" Rey tergelak. "Mana ada anak bosan di tengokin papanya. Apalagi papanya yang tampan ini,hmm?"


"Tahu ah! Nyebelin!"


"Ayo yank! Deket terus sama kamu bikin mas tidak sanggup!" Desak Rey.


"Tidak sanggup apa?"


"Tidak sanggup untuk tidak ehmm. . ." Bisik Rey sambil menyentuh telinga Siti.


Wajah Siti langsung memerah. Dia tersenyum malu. Dia pun kalau suaminya menggoda terus tentu tidak sanggup juga untuk menolak.


Melihat istrinya yang malu-malu,Rey segera menggendong dan membawa Siti ke kamarnya dengan bersemangat.


***


Rey dan Siti sudah masuk ke dalam mobil. Banyak tetangga Siti yang memperhatikan mereka. Ada yang terang-terangan dan ada yang secara sembunyi-sembunyi. Apalagi melihat penampilan Siti saat ingin pergi,terlihat modis tidak seperti kemarin. Dan Rey yang dengan penuh perhatian membukakan pintu mobil untuknya.


"Tetangga sekarang banyak yang berubah."Gumam Siti hampir tidak terdengar.


"Kenapa sayang?" Tanya Rey tanpa menoleh. Dia sedang menyalakan mobil.


"Itu mas. Tetangga sekarang tidak seperti yang dulu!" Keluh Siti.


"Memangnya dulu seperti apa?"


"Dulu mereka masa bodoh sama saya dan Seno mas! Yang baik dan perhatian cuma keluarga pak Erte,pak Santo,sama bu Winda,janda yang di sebelah kiri kita itu!"


"Memangnya sekarang mereka bagaimana?"


"Perhatian. Tapi hanya karena keingintahuan saja!"


Rey menatap ke istrinya yang masih sedang berpikir. "Dengar,kamu tidak perlu memikirkan hal yang tidak penting! Apalagi hal itu bisa membuatmu sedih! Pikirkan saja hal yang baik-baik,hal yang menyenangkan! Ingat,kamu sedang mengandung!"


Siti mengusap perutnya. "Iya mas! Saya mau mikiran mas sama anak kita saja!"

__ADS_1


Rey menoleh lalu mengusap pucuk kepala istrinya. "Nah itu baru bener!"


"Kita langsung ke sekolah Seno mas?" Tanya Siti.


"Iya sayang,kan sebentar lagi dia pulang. Mas sekalian ajak dia ke toko handphone. Ada kan di sini?"


"Ada kok mas!"


Mobil Rey telah sampai di depan sekolah Seno. Tak sampai setengah jam,terlihat siswa dan siswi keluar pintu gerbang. Tak lama,Seno bersama teman-temannya terlihat sedang berjalan ke arah mobil Rey. Siti membuka kaca mobilnya.


"Seno!" Panggil Siti.


Seno tersenyum lalu meninggalkan rombongan teman-temannya.


"Buka saja pintunya!" Titah Siti.


Seno segera naik ke mobil. "Kok di jemput segala mas? Merepotkan mas saja!" Ucap Seno.


"Tidak apa-apa Seno,sekalian kita makan siang di luar dan langsung ke toko bangunan." Terang Rey.


"Sudah ke rumah pak Erte?" Tanya Seno.


"Pak Erte tadi datang ke rumah sama ibu-ibu." Jawab Siti.


"Hmm,pak Erte sama ibu-ibu ke rumah kita?" Seno heran.


"Iya." Jawab Siti. Siti lalu menceritakan tentang kejadian tadi pagi.


"Apa? Kurang kerjaan ya tuh ibu-ibu?" Seno menggelengkan kepala.


"Hhmm,handphone? Nanti saja mas!" Seno menolak dengan halus.


"Tidak apa-apa Seno. Untuk kepentingan mbak kamu juga kok biar tidak susah mau hubungi kamu!" Rey beralasan.


"Hmm,iya mas." Seno tidak bisa lagi menolak.


"Kita cari toko handphone di mana?" Tanya Re sambil menoleh ke kiri kanan jalan.


"Di sana ada mas!" Tunjuk Seno.


Mobil Rey segera melaju ke tempat yang di tunjuk oleh Seno. Tak lama mereka sampai.


"Saya cari handphone keluaran terbaru,pak!" Pinta Rey pada pemilik toko.


Pemilik toko pun mengambilkan handphone yang di cari Rey. Setelah melihat-lihat,dia bertanya pada Seno. "Apa kamu suka yang ini,Seno?"


"Saya terserah mas saja!" Jawab Seno.


"Berapa ini pak?"


"Lima juta tiga ratus ribu,mas!"


Seno kaget. "Hmm,yang lain saja mas!"

__ADS_1


"Kalau kamu suka,kita ambil saja!" Ucap Rey.


"Tapi. . .?" Ucapan Seno menggantung.


"Saya ambil yang ini pak. Sekalian kartu dan paketannya ya!" Pinta Rey.


Setelah melakukan transaksi,mereka segera pergi dari toko handphone.


"Ini handphone mahal sekali mas!" Ucap Seno.


"Tidak terlalu mahal kok. Mas sengaja cari yang keluaran terbaru." Terang Rey. "Kita sekarang cari makan dulu yuk,sudah laper ini." Ajaknya kemudian.


Rey lalu memarkirkan mobilnya di sebuah restoran makanan khas jawa yang tak jauh dari toko handphone.


"Jangan yang bersantan ya mas!" Pinta Siti saat mereka sedang memesan makanan.


"Kenapa? Perutmu mual?" Tanya Rey. Siti hanya mengangguk.


Setelah selesai makan siang,mereka pergi ke toko bangunan. Siti memilih sendiri bahan apa yang akan di gunakan untuk memperbarui rumahnya. Setelah di rasa cukup,mereka pun pulang.


"Banyak sekali yang di beli mas?" Tanya Seno saat mereka sudah di dalam mobil.


"Iya sekalian atapnya juga di kasih plafon!" Jawab Rey.


"Plafonnya kenapa mesti pilih yang itu,terlalu bagus untuk rumah kita."


"Kamu tidak ingin rumah terlihat bagus?" Tanya Siti.


"Bukan begitu mbak. Hanya. . ." Seno menggantung kalimatnya. Dia takut Rey tersinggung.


"Tidak apa-apa Seno. Tapi kalau kamu keberatan rumah di perbarui,mas tidak akan maksa." Ucap Rey.


Seno diam. Jujur dia ingin rumah tetap dalam kondisi seperti itu untuk mengenang neneknya tapi kondisi rumah memang sudah rapuh dan banyak yang harus di perbaiki. "Saya tidak keberatan mas! Terserah mbak Siti saja!" Ucap Seno. Demi mbaknya dia setuju karena mbaknya yang sedang hamil butuh kenyamanan.


"Mas,mampir ke toko itu dulu ya!" Pinta Siti. "Saya ingin makan coklat!"


"Oh iya!" Rey lalu memarkirkan mobilnya di depan toserba. Siti membeli banyak cemilan karena Rey memasukkan apa saja yang berbau coklat ke dalam keranjang.


Seno hanya menunggu di dalam mobil sambil memainkan handphone barunya. "Mas Rey begitu sayang dan royal sama mbak Siti. Semoga rumah tangga mereka bahagia selamanya!" Doa Seno.


Setelah selesai dengan membawa dua kantong besar belanjaan,mereka pun pulang. Tidak ada yang bersuara,semua sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri.


Siti terlihat gelisan dan tidak nyaman. Membuat Rey beberapa kali menoleh ke arahnya.


"Kamu kenapa sayang?"


"Capek mas! Enak kalau tiduran!" Jawab Siti.


Rey memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. "Mas atur dulu kursinya ya!" Ucap Rey sambil mengatur posisi kursi Siti. " Nah begini nyaman kan?"


Siti mengangguk. "Iya nyaman mas!"


Rey tersenyum sambil mengusap wajah istrinya dengan lembut. Seno memperhatikan mereka sambil tersenyum. Ada rasa lega di hatinya melihat kebahagiaan rumah tangga mbaknya.

__ADS_1


NEXT


020521/23.10


__ADS_2