
Kandungan Siti sudah memasuki bulan ke delapan. Setelah kontrol di dokter Layli,Siti di temani mama mertuanya langsung mengikuti kelas ibu hamil. Mamanya begitu perhatian dan sabar menunggui Siti yang sedang senam hamil.
Rencananya mereka akan ke toko babyshop untuk membeli perlengkapan bayi,Rey akan menyusul setelah pekerjaannya selesai.
Siti keluar dari ruang senam menemui mamanya yang masih menunggunya. "Bagaimana Siti setelah ikut kelas senam hamil?" Tanya mama saat Siti telah duduk di sebelahnya. Kini mereka sedang menunggu di lobi.
"Badan lebih enak ma. Banyak pengetahuan juga tentang bagaimana melahirkan normal." Jawab Siti.
"Kamu yakin mau melahirkan normal!"
"Insya Allah yakin ma!"
"Kamu harus jaga kondisi tubuh dan jaga emosi kamu ya! Jangan banyak pikiran dan stres!" Nasihat mama.
"Iya ma!" Jawab Siti. Matanya sambil menatap ke arah pintu masuk lobi. "Mas Rey mana ya ma kok belum datang juga?" Tanya Siti yang menunggu suaminya datang menjemput untuk sama-sama ke toko babyshop.
"Mungkin sebentar lagi sampai. Tunggu saja." Jawab mama dengan sabar.
Sepuluh menit kemudian Rey menelpon mamanya jika dia sudah di parkiran.
"Siti,Rey sudah di parkiran sekarang,yuk!" Ajak mama. Siti menuju parkiran bergandengan dengan mama mertuanya. "Itu mobil Rey!" Seru mama.
Rey keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk mama dan istrinya. Rey mulai menghidupkan mesin mobil.
"Bagaimana senam hamilnya yank?" Tanya Rey saat mereka sedang dalam perjalanan.
"Lancar mas,badan lebih enak dan segar." Jawab Siti Antusias.
"Moga lancar ya nanti saat lahiran!" Doa Rey sambil mengusap perut istrinya.
"Ma,kita ke babyshop yang di mana?" Tanya Rey.
"Di jalan Xx saja Rey,itu babyshopnya besar dan sangat lengkap."Jawab mama dari kursi belakang.
Sampai di babyshop mama begitu antusias memilih perlengkapan bayi,sementara Siti yang sudah tidak bisa bergerak cepat memilih perlengkapan bayi sambil bergandengan dengan suaminya.
Sudah hampir satu troly besar mama memasukkan barang. Belum box bayi,stroller dan babyboncernya.
"Ma,apa tidak terlalu banyak ini?" Tanya Rey bingung. "Mobil Rey kecil ma,tidak bisa bawa semua."
"Yang besar-besar nanti tokonya yang antar ke rumah kita Rey,kita bawa yang kecil-kecil saja!" Terang mama.
"Hmm,terserah mama deh!" Jawab Rey. "Sayang kamu beli apa saja?"
"Ini mas,jaket sama pakaian untuk pergi-pergi! Lucu ya mas?" Siti memamerkan pakaian bayi pilihannya.
"Iya sayang,lucu! Kok cuma ambil satu warna yank? Ambil lebih satu warna kan kita belum tau jenis kelaminnya!"
"Hmm,iya mas. Tapi nanti apa tidak kebanyakan?"
"Tidak apa-apa yank,kamu ambil saja mana yang kamu suka!"
Setelah memborong perlengkapan bayi,mereka langsung pulang.
"Mas mahal juga ya belanja di sana sampai habis belasan juta." Ucap Siti.
"Itu termasuk murah,Siti! Masih ada yang belum mama beli,nanti kapan-kapan cari di toko lain lagi."
__ADS_1
"Cari apa lagi ma?" Tanya Rey.
"Sayang,perlengkapan bayi itu banyak,pakaian juga mesti banyak!" Terang mama.
"Hmm,terserah mama saja deh,kita nurut saja!" Rey menyerah.
"Hmm,kita langsung pulang saja Rey!"
"Iya ma,Siti juga sudah kelelahan habis dari senam."
Setelah hampir setengah jam mereka pun sampai di rumah. Dengan di bantu pak satpam dan bibi,mereka membawa semua belanjaan ke dalam kamar Rey.
"Babynya nanti tidur sama kalian?" Tanya mama yang heran melihat Rey memasukkan semua perlengkapan bayi ke kamarnya.
"Iya ma,kasian kalau pisah kamarnya."
"Kamar Cinta kan kosong jarang di pakai, di sana saja!" Usul mama.
"Tidak apa-apa di kamar Rey saja ma."
"Hmm,ya sudah." Mama keluar dari kamar Rey.
Menjelang sore,perlengkapan bayi yang besar-besar baru saja di antar. Berdua,mereka menata semua perlengkapan bayi. Box bayi sengaja di letakkan di sebelah tempat tidur Siti agar mempermudah jika bayinya terbangun. Karena mereka belum tau jenis kelamin bayinya,jadi semua warna mereka pakai.
"Mas sudah tidak sabar ingin menggendongnya yank!"
"Iya mas. Mas sudah ada nama belum untuk anak kita?" Tanya Siti.
"Oh iya kok mas lupa menyiapkan namanya." Rey menggaruk-garuk kepalanya. "Kamu sudah ada nama belum yank?"
"Tidak apa-apa yank. Yang penting arti dari nama anak kita itu bagus!" Jawab Rey.
"Hmm,bagaimana kalau kita coba tanya mama sama papa,mungkin mereka punya usul mas?"
"Hmm,iya nanti mas tanyakan ya. Kita juga sambil cari-cari juga nama yang bagus!"
***
Satu bulan berlalu. Kehamilan Siti sudah memasuki bulan ke sembilan. Hanya tinggal menghitung hari saja,dia akan melahirkan. Siti akan melahirkan di klinik dokter Layli. Siti menginginkan melahirkan secara normal.
"Sayang,kamu caesar saja ya!" Usul Rey yang khawatir membayangkan proses melahirkan yang dia tau sangat menyakitkan. Dia tidak ingin istrinya itu kesakitan.
Siti menggeleng sambil mengernyitkan dahinya. "Hmm,saya mau normal mas!"
"Sayang,normal itu sakit,sangat sakit! Mas takut!"
"Mas ini,yang melahirkan siapa yang takut siapa!"
"Hmm,sayang. Caesar saja ya! Mas takut ada apa-apa sama kalian!"
"Mas,doa yang baik-baik! Insya Allah saya dan bayi kita akan baik-baik saja. Papanya juga harus rileks biar dede bayinya tidak rewel nanti!"
Rey mondar mandir sambil berpikir. "Kita ke dokter Layli sekarang yuk yank! Mas mau tanya apa kondisi kamu dan bayi kita baik untuk lahir normal."
"Baru berapa hari yang lalu kita kesana mas! Semua baik kata dokter Layli. Masa mas lupa kan mas ikut!"
"Perasaan mas tidak enak yank! Plis ya,kamu caesar saja yank!" Rey memohon sambil memeluk dan mencium perut istrinya.
__ADS_1
"Mas,apapun yang terjadi itu sudah garis hidup kita. Kita tinggal jalani dengan ikhlas dan jangan lupa tetap berdoa meminta kebaikan. Jadi tidak ada yang perlu mas khawatirkan!" Terang Siti sambil mengusap lembut kepala suaminya.
"Hhhh!" Rey hanya bisa menghela nafas berat.
"Sudah malam mas tidur yuk!" Ajak Siti.
"Hmm,kamu sudah ngantuk yank?"
"Hehmm mas!"
"Ya sudah yuk!"
Rey naik ke kasur tidur di samping istrinya sambil tangannya di tempelkan ke perut istriya.
"Duuhh,nendangnya kuat juga ya!" Seru Rey saat merasakan tangannya terkena tendangan dari dalam perut istrinya. "Loh pindah-pindah!"
"Itu kadang tangannya kadang kakinya mas. Kalau pas kaki,lebih kuat!" Terang Siti.
"Iya ya yank! Jadi tidak sabar mau peluk dia!"
"Kan tinggal beberapa hari lagi mas!"
"Hmm,yasudah kalau gitu peluk mamanya saja lah!"
"Hmm,maunya!"
"Mau yank?"
"Iihh mau apa mas? Tidur yuk ah!" Siti buru-buru menarik selimut sampai ke lehernya.
"Mau peluk dedenya yank!" Berusaha menarik selimut istrinya.
"Iihh,ngantuk!"
"Eh yank,kamu lupa ya kalau sudah dekat hari lahir itu harus sering-sering biar mudah apalagi kamu kan maunya melahirkan normal!"
"Waktunya belum dekat juga sudah sering kan! Alasan saja deh!" Siti cemberut.
"Hehehe. Makanya makin dekat makin sering yank!"
"Pinter deh kalau cari alasan itu!"
"Yuk yank! Nanti kalau kamu sudah lahiran,kan mas liburnya panjang! Jadi sekarang saja di seringin ya!"
"Iiihh,pinternya cari alasan baru lagi!"
"Hehehee,mas memang pinter yank! Masa kamu tidak tau kalau mas selalu juara kelas,hmm?"
"Tau ah!"
"Yuk ah!"
"Iiihhh,hmmmff. . . .mas!"
NEXT
230521/10.55
__ADS_1