Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 154 ( S2 )


__ADS_3

Sampai di rumah sakit,Ratna turun dari mobil lalu duduk di kursi roda di dorong oleh suaminya. Perutnya makin terasa mulas hingga pakaiannya sudah basah oleh keringat.


Sampai di IGD,Ratna segera di tangani oleh dokter jaga lalu di rujuk ke ruang bersalin. Dia berusaha menahan rasa sakitnya dengan tidak menangis. Hanya menggumamkan doa-doa di sela rasa sakitnya.


Romi justru terlihat begitu gelisah. Apalagi melihat wajah istrinya yang sedikit pucat dengan peluh yang membanjiri wajahnya walau sudah berada di ruangan berAC.


"Sayang,sakit banget ya?" tanya Romi cemas.


Ratna menggeleng seraya tersenyum seolah rasa sakit itu tidak seberapa. Dari hari-hari sebelumnya,suaminya memang memaksa dia untuk caecar saja agar tidak merasakan sakit tapi Ratna menolak.


Tak berapa lama datang bidan memeriksanya, "Sudah mau lahir kan,bu?" tanya Romi.


"Saya periksa dulu ya,sudah bukaan berapa," jawab bu bidan.


Romi hanya bisa pasrah melihat apa yang di lakukan oleh bidan terhadap istrinya.


"Ini baru bukaan empat,ya. Kita tunggu saja," jelas bu bidan.


"Bukaan empat?" tanya Romi bingung karena memang dia tidak mengerti tentang proses melahirkan.


"Iya,bukaan empat,pak. Nanti tunggu sampai bukaan sepuluh,ya."


"Kira-kira berapa lama tunggu bukaan sepuluh,bu?"


"Setiap ibu berbeda ya,pak. Bisa cepat bisa lambat. Semoga bukaannya cepat nambah,ya. Oh iya istrinya jangan di tinggal ya,pak.


"Hhmm iya,bu," Romi mengangguk sambil terus menggenggam tangan istrinya.


"Oh iya,saya tinggal dulu," pamit bu bidan.


Romi menoleh ke arah istrinya, "Sayang,kamu kuat kan? Kalau tidak kuat caecar saja,ya!" bujuk Romi.


Ratna tersenyum, "In Sya Allah aku kuat,bang. Doakan saja,ya," jawab Ratna ingin menenangkan suaminya yang terlihat gelisah.


Semoga istri dan bayiku selamat. Doa Romi dalam hati. Tiba-tiba dia merasa takut kehilangan istrinya.


Dua jam berlalu tapi belum ada tanda-tanda bayinya akan lahir. Bukaan hanya nambah dikit,baru bukaan enam. Kata bidan yang datang lagi untuk memeriksa.


"Abang sayang kamu! Maafkan kesalahan abang selama ini." ucap Romi lirih seraya mengusap lembut wajah istrinya.


Ratna tersenyum, "Aku juga sayang sama abang. Sayang banget! Aku sudah lama memaafkan abang. Terimakasih sudah menerima aku jadi istri abang."


"Terimakasih,sayang. Terimakasih karena sudah sabar menghadapi semua sikap buruk abang."


Ratna tersenyum lalu mengusap lembut wajah suaminya. Mereka saling memandang dengan penuh Cinta. Romi hendak mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya tapi tiba-tiba wajah Ratna menegang dan tanpa sadar dia mencengkeram kuat bahu suaminya.


Hhhh. . . Ratna menarik nafasnya panjang dengan dahi berkerut.


"Kamu kenapa,sayang?" Romi langsung kaget melihat ekspresi di wajah istrinya.


"Hhmm,sa-kit!" jawab Ratna lirih.


"Abang panggilkan bidan tadi,ya?" Romi bangkit dari duduknya.

__ADS_1


"Ratna menggelengkan kepalanya, "Jangan pergi."


Romi lalu kembali duduk di sebelah istrinya,dia tidak tega meninggalkan istrinya sendirian saat sedang kesakitan.


"Baangg!" tiba-tiba Ratna menjerit membuat suaminya makin panik.


"Kamu kenapa? Apa yang sakit?"


Ratna tidak mampu menjawab,dia sibuk mengatur nafasnya yang naik turun.


"Abang panggil bidannya ya!" ucap Romi gegas keluar dari ruangan tanpa menunggu jawaban dari istrinya lagi. Huhh,di suruh caecar tidak mau sih. Jadi kesakitan gitu kan. Rutuknya dalam hati.


Setelah bertanya pada suster akhirnya bidan segera datang dan langsung memeriksa Ratna.


"Air ketubannya sudah pecah ini tapi masih bukaan delapan," terang bu bidan.


"Lalu bagaimana,bu?" tanya Romi panik.


"Kita tunggu dulu ya,pak."


"Tunggu?" Romi makin frustasi di tambah melihat istrinya yang seperti tidak kuat menahan sakit walau sudah tidak menjerit lagi.


"Ini nih akibat tidak mau nurut apa kata suami sih!" gumamnya kesal.


Romi terus menggenggam jemari istrinya sambil terus mencoba memberi kekuatan.


Tak lama kemudian dokter kandungan yang memeriksa Ratna selama masa kehamilan pun datang. Dia mulai bersiap lalu memeriksa Ratna.


"Alhamdulillah bukaan sudah lengkap. Ayo,bu saya bantu dorong bayinya. Tarik nafas dalam-dalam dulu ya. Pinggulnya jangan di angkat!" titah bu dokter.


"Ayo dorong,bu!"


Dengan tenaga yang tersisa,Ratna berusaha mendorong bayinya agar segera lahir. Sementara Romi berdiri di sisi kepala istrinya sambil menundukkan kepalanya, sesekali mencium pucuk kepala istrinya dan juga berdoa. Dia tidak berani melihat langsung karena dia pun merasa gemetar.


Tidak sampai sepuluh menit kemudian, "Oee,ooeekk!" suara tangisan bayi Ratna menggema di dalam ruangan.


Romi replek mengangkat kepalanya sementara Ratna sudah terkulai lemas.


"Alhamdulillah,bayinya sangat tampan," ucap bu dokter.


"Ba-bayi saya laki-laki,ya dok?" tanya Romi dengan wajah bahagia bercampur haru.


"Iya,pak. Bayi bapak laki-laki. Mirip sekali sama bapaknya," terang dokter lalu menaruh bayinya kedalam dekapan Ratna untuk IMD.


Bayiku memang tampan, mirip sekali denganku. Batin Romi dengan senyum terkembang. Dia hanya berani menyentuh sedikit bayinya yang masih merah itu.


"Kenapa,pak. Pegang saja tidak apa-apa," ucap suster yang melihat kebingungan Romi.


Romi menoleh, "I-iya sus." Romi mengusap bayinya perlahan.


Setelah beberapa menit,bayi mereka di bawa suster untuk di bersihkan sementara Ratna masih harus menyelesaikan proses akhir setelah melahirkan. Beruntung Ratna hanya mendapat sedikit jahitan.


Satu jam kemudian setelah Ratna mempunyai sedikit tenaga,dia di pindahkan di ruang rawat inap bersama bayinya yang sudah bersih.

__ADS_1


"Sayang,lihatlah bayi kita sangat tampan. Mirip sekali sama abang," ucap Romi dengan bangga sambil memperhatikan bayinya yang sedang di berikan ASI.


Ratna tersenyum, "Iya,bang. Suami aku emang tampan,makanya aku langsung jatuh cinta waktu pertama kali kenal abang," sahut Ratna seraya mengusap lembut pipi merah bayinya.


"Hehee,iya donk," Romi tersenyum bangga.


Tok tok tok. Pintu di ketuk dari luar. Romi beranjak dari duduknya.


"Abang bukain pintu dulu,ya," ucap Romi yang di berikan anggukan oleh Ratna.


Ceklek.


"Bang? Keponakanku sudah lahir,ya?" Aaron tiba-tiba langsung masuk setelah pintu di buka.


"Salam dulu,apa? Langsung masuk saja!" ucap Romi kesal melihat kelakuan adiknya.


"Hhmm,maaf bang," ucap Aaron sambil garuk-garuk kepalanya. Dia lalu duduk sedikit jauh dari Ratna saat tau Ratna sedang memberikan ASI untuk bayinya.


"Tau dari mana kamu kalau kita di sini?"


"Tau dari pakde,lah. Pakde telpon,bilang kalau kak Ratna mau melahirkan."


"Itu sudah beberapa jam yang lalu. Kenapa baru datang sekarang?"


"Yah,abang bilang pekerjaan abang sedikit ternyata banyak,untung saja aku sudah pintar jadi bisa menyelesaikan pekerjaan abang dengan cepat!" terang Aaron dengan bangga.


"Halah,bukannya karena habis pacaran?" tuduh Romi.


"Yah abang asal saja. Aku tidak seperti itu,bang. Belum sempat ketemu sama Cintaku langsung ke sini!" protesnya.


"Bagus itu. Jangan pacaran terus!"


"Huhh,seperti tidak pernah muda saja. Susah kalau bicara sama orang tua!"


"Eehh,siapa yang sudah tua? Abang masih muda,tampan dan gagah begini di bilang tua!"


"Yah,kalau sudah punya anak itu tandanya sudah tua,bang! Hahaha!" Aaron tergelak.


Ruang ranap Ratna jadi ramai oleh pertengkaran dua kakak adik itu. Ratna hanya tersenyum memperhatikan mereka.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


12


__ADS_2