
Setelah dari sungai,mereka berjalan ke arah pesawahan. Padi yang mulai menguning terlihat indah di pandang dari kejauhan. Siti terlihat bahagia. Dia merasa kembali ke masa dulu. Masa masih ada keluarganya,ayah,ibu,kakek dan nenek. Masa kecil yang penuh kebahagiaan. Masa yang tak akan bisa terulang.
"Sayang,kita foto di sana yuk!" Ajak Rey sambil menunjuk ke arah sawah yang ada pondoknya.
"Yuk mas!" Jawab Siti.
Mereka lalu berjalan ke sana. Karena sudah sore,para petani sudah pulang jadi suasana lumayan sepi.
"Indah ya mas?" Ucap Siti sambil menatap ke arah pesawahan.
"Iya indah. Tapi tidak seindah kamu,sayang?" Jawab Rey sambil merangkul Siti dari belakang.
Siti tersenyum lalu memegang tangan suaminya yang melingkar di perutnya. "Katanya mau foto?" Siti menoleh membuat jarak mereka hanya beberapa inci saja. Pandangan mereka bertemu. Rey memajukan wajah mereka. Tapi tiba-tiba terdengar suara klakson yang cukup keras hingga mengagetkan mereka. Siti langsung memalingkan wajahnya ke arah sawah.
"Ganggu orang saja!" Gerutu Rey. Siti tersenyum geli.
"Kenapa senyum-senyum?"
"Hmm?" Siti menggeleng masih sambil tersenyum.
"Nanti malam ya! Kita mulai bulan madunya!"
"Iihh mas ini! Masa tidak merasa capek?" Protes Siti.
"Urusan yang satu itu tidak akan pernah capek!" Bisik Rey di telinga Siti membuat Siti merinding.
Siti lalu membalik badannya. "Kita jadi foto-foto kan mas?"
"Iya sayang! Kamu berdiri di sana ya. Mas atur dulu handphonenya!" Titah Rey. Rey lalu mengatur handphonenya agar bisa foto berdua berkali-kali. Setelah beres,dia mendekat ke istrinya lalu mulai berfoto dengan gaya mesra.
"Kita pulang yuk sayang! Bentar lagi maghrib." Ajak Rey setelah mereka puas berfoto-foto.
"Iya mas!"
Mereka lalu pulang dengan melewati jalan lain. "Jalan ini sepertinya belum kita lewati,yank?" Tanya Rey heran.
"Iya mas,ini jalan bukan lewat jalan tadi tapi belakang kebun kita yang di samping dapur itu. Jalannya tidak seramai yang tadi. Males ketemu ibu-ibu!" Jawab Siti.
"Yah tidak apa-apa sayang! Itung-itung ngurangi dosa kita kalau di omongin orang,heheee!"
"Iya sih. Tapi capek jawabin pertanyaan-pertanyaan mereka yang tidak ada habisnya itu!" Keluh Siti.
"Hmm,tidak usah di pikirkan."
Tak berapa lama mereka sampai di belakang rumah. Rey baru sempat melihat. "Wah pohon kelapanya setinggi itu siapa yang bisa naik?" Tanyanya sambil mendongakkan kepala.
"Seno bisa kok mas!"
"Wah jangan deh yank,bahaya kalau jatuh!" Rey menggelengkan kepala.
"Seno sudah biasa mas. Dulu bahkan saat Seno masih esde sudah bisa."
"Wah hebat!" Rey mengacungkan jempolnya.
"Yuk masuk mas,mau maghrib!" Ajak Siti lalu membuka pintu belakang.
"Pintunya tidak pernah di kunci?" Tanya Rey saat sudah di dalam rumah tapi adiknya Seno tidak ada.
"Mungkin Seno pergi ke depan jadi tidak perlu di kunci mas. Di sini aman kok! Kalau pun mau pergi jauh kamar yang di kunci."
__ADS_1
"Oh begitu." Rey lalu melangkahkan kakinya ke kamar. "Sayang,kamu mau mandi?"
"Iya mas. Gerah!"
"Ya sudah kamu mandi duluan deh,nanti baru mas."
"Iya mas." Siti lalu masuk ke kamar mandi. Sementara Rey melihat-lihat ke pintu depan. Di lihatnya Seno sedang berjalan menuju rumah.
"Mas Rey,sudah pulang?" Tanya Seno.
"Iya baru saja."
"Saya ke kamar dulu mas!" Seno lalu pamit.
"Oh iya." Jawab Rey.
Tak berapa lama Siti keluar dari kamar mandi,kemudian gantian Rey yang mandi. Tak berapa lama adzan maghrib berkumandang. Mereka sholat maghrib berjamaah.
"Seno sholat di masjid dulu,mas,mbak!" Pamit Seno.
"Iya Seno."
"Mas,saya siapin makan malam dulu ya. Laper nih!" Siti mengusap perutnya.
"Iya sayang. Kamu tidak mual kan kalau masak?"
"Itu sayur Seno yang beli mas."
"Oohh."
Setelah Seno pulang dari masjid,mereka makan malam bersama. Seno kaget melihat mbaknya makan di suapin.
Rey tersenyum sementara Siti jadi tidak enak hati. "Mbak kamu kalau makan mesti di suapin sama mas! Kalau makan sendiri suka mual." Jawab Rey.
Kening Seno berkerut. "Kok bisa?"
"Hehehe,maklum bawaan bayi!" Jawab Rey.
"Hmm." Seno tampak sedang berpikir.
"Sudah kamu makan saja yang banyak!" Ucap Siti sambil menoleh ke arah adiknya.
"Mbak,habis ini Seno mau keluar ada perlu di rumah teman." Ucap Seno saat telah menghabiskan makan malamnya.
"Seno,kamu tidak punya handphone?" Tanya Rey.
"Ehmm,iya mas. Saya belum butuh handphone sekarang!" Jawab Seno.
"Kamu beli saja,biar mbak kamu mudah menghubungi kamu jika ada perlu!" Titah Rey. "Atau mau cari handphonenya sama mas?"
"Eh,Seno cari sendiri saja mas!"Tolak Seno.
"Beneran cari ya! Soalnya beberapa hari lagi mas mau balik ke kota dan mbak kamu tetap tinggal di sini!"
"Loh mas mau balik ke kota? Terus kalian mau berpisah?" Tanya Seno kaget.
"Cuma beberapa hari karena ada pekerjaan penting yang harus mas tangani di sana. Kalau sudah beres,mas ke sini lagi!" Terang Rey.
"Oh begitu." Ada nada lega dalm ucapan Seno. Dia pikir mbak dan suaminya akan berpisah.
__ADS_1
***
Seno sudah dari tadi keluar rumah. Siti dan Rey baru selesai sholat isya. Kini keduanya sedang santai di kamar. Rey sedang tiduran sementara Siti sibuk menata pakaiannya di lemari.
"Lemarinya tidak muat mas! Kebanyakan bawa pakaian." Ucap Siti.
"Apa kita beli lemari lagi?" Rey menawari.
"Hmm,tidak usah mas. Malah kamarnya yang tidak muat nanti kalau nambah satu lagi lemari."
"Lemari yang ini kasihke orang saja!" Saran Rey.
"Jangan mas! Ini lemari kenangan dari almarhum nenek! Lemari ini sudah puluhan tahun jauh sebelum saya lahir! Kuat dari kayu jati asli. Kakek bikin sendiri makanya bentuknya sederhana." Terang Siti.
"Hmm,ya sudah kalau begitu taruh di ruang tamu saja bagaimana? Atau kamarnya Seno?"
"Di ruang tamu tidak bisa naruh barang mas,atap suka bocor kalau hujan deras!"
"Waduh! Ya di benerin donk yank! Nanti kita tidak bisa santai-santai di ruang tamu! Masa di kamar terus pas hujan deras. Nanti kamu bisa kecapekan."
"Hmm? Kenapa kecapekan?" Kening Siti berkerut.
"Ya kalau dingin-dingin di kamar terus berduaan sama kamu,jangan salahkan mas ya kalau minta terus!" Goda Rey sambil tersenyum menyeringai dengan tangan menyilang di dada. Tatapan matanya mulai menjelajahi istrinya.
"Iiihh mas ini! Minta sama guling tuh!" Wajah Siti langsung memerah.
"Loh buat apa? Ada istri ini yang sangat menggoda masa sama guling!" Rey bangkit dari duduknya lalu merangkul Siti dari belakang dengan kedua tangan melingkari perut Siti. "Yuk!" Bisiknya.
Siti langsung merinding. "Mas ini! Orang lagi beberes juga!" Tolaknya.
"Mumpung Seno sedang keluar! Nanti ada Seno tidak bisa bebas! Suara kamu nanti terdengar! Masa harus di tutupi terus. Hmm?"
"Iiih mas ini!" Wajah Siti makin memerah karena malu. Dia memang susah menahan suaranya sendiri. Dan itu membuat Rey makin bersemangat.
Rey melepaskan pelukannya lalu keluar kamar membuat Siti bingung. Katanya mau minta,kok malah keluar. Tidak jadi mungkin. Batinnya. Padahal Siti juga mulai menginginkannya.
Tak lama Rey masuk lagi ke kamar lalu menutupnya rapat-rapat dan menguncinya.
"Pintu dan jendela sudah aman! Yuk yank!" Ajak Rey membuat Siti kaget. Dia pikir tidak jadi.
"Hmm,mas." Siti hanya pasrah dengan apa yang di lakukan suaminya.
Hingga lebih satu jam dan telah lebih satu kali aktivitas panas itu terhenti saat ada yang mengetuk pintu di ruang tamu.
"Mas,ada yang ketuk pintu!" Ucap Siti.
Rey tidak menjawab.
"Mas!" ucap Siti sedikit lebih keras. Tak lama kemudian Rey langsung jatuh di samping istrinya.
Siti tersenyum geli melihat wajah suaminya. "Saya bukain pintu dulu ya mas!" Pamit Siti.
"Eehh pakaian kamu! Hijab!" Titah Rey.
Siti segera mengenakan pakaian dan hijabnya lalu keluar kamar. Dari dalam kamar terdengar suara istri dan adiknya sedang mengobrol.
"Huuhh untung sudah selesai!" Gumam Rey.
NEXT
__ADS_1
020521