Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 47


__ADS_3

Siti,Rey dan Seno tengah sarapan nasi goreng bersama.


"Seno,kalau boleh mas ingin perbaiki ruang tamu yang bocor sekalian lantai dan dindingnya. Kalau kamu setuju." Usul Rey saat mereka telah selesai sarapan dan sedang duduk di ruang tamu.


"Seno sih terserah mbak Siti saja mas!" Jawab Seno. " Rumah ini memang sudah banyak yang rusak."


"Mbak sih setuju saja sama usul mas Rey,Seno. Mbak di desa mungkin agak lama. Biar mbak nyaman saat sendirian,kalau mas Rey kembali ke kota dan kamu sekolah!" Ucap Siti.


"Iya kalau mas Rey tidak merasa repot!" Ucap Seno.


"Iya mas tidak merasa repot. Demi kenyamanan penghuninya juga kan." Rey beralasan." Kamu pulang jam berapa,biar ikut mas ke toko bangunan." Pinta Rey.


"Kalau tukang bangunannya apa sudah ada mas?" Tanya Seno.


"Nanti mas sama mbak kamu akan ke rumah pak Erte untuk menanyakannya!"


"Ya sudah kalau begitu,Seno sekolah dulu. Pulangnya siang seperti kemarin mas!" Seno lalu pamit pada Rey dan Siti.


Sepeninggal Seno,Siti mulai merapikan rumah. Ada barang-barang lama yang tidak terpakai.


"Mau di apakan itu yank? Banyak sekali debunya!" Tanya Rey.


"Di buang sayang,tapi tidak terpakai." Siti terlihat bingung.


"Di bersihkan saja terus simpan di lemari kalau kamu sayang membuangnya!" Saran Rey. "Oh iya kapan kita ke rumah pak Erte menanyakan tukang bangunan?"


"Habis ini ya mas!" Jawab Siti masih sambil menata-nata barang. "Nanti sekalian belanja buat makan hari ini ya mas."


"Kamu mau masak,yank?" Tanya Rey.


"Kalau kita beli yang sudah matang,mas mau?"


"Hmm,kalau kamu belum bisa masak ya beli saja! Mas tidak mau kamu kecapekan!" Jawab Rey. " Kamu masih mual mencium bau bawang,hmm?"


"Masih mual dikit mas! Kalau pakai bawang dikit kan kurang enak!"


"Mas terserah kamu saja!" Ucap Rey sambil mengusap pucuk kepala Siti.


"Mas,terimakasih ya! Mas benar-benar suami yang pengertian!" Siti memeluk Rey mesra.


"Kamu juga istri yang pengertian sayang!" Ucap Rey lalu membalas pelukan istrinya lebih erat.


"Yank,ke kamar yuk!" Ajak Rey dan langsung menggendong istrinya membawanya ke kamar.


"Mas,masih pagi ini!" Tolak Siti yang sudah paham maksud suaminya.


"Malah lebih bagus sayang! Seno juga pulang siang jadi bisa lebih lama!" Ucap Rey sambil tersenyum menyeringai.


"Iihh mas ini!" Siti kembali tidak bisa menolak.


Setelah selesai entah untuk yang keberapa kali,Rey berbaring sambil memeluk Siti dengan senyum bahagia. "Kalau mas nganggur terus seperti ini,kamu yang mas hmm. . ." Bisik Rey tapi dengan kalimat yang menggantung.


"Yang mas apa?"


"Apa saja bolehlah!" Bisiknya sambil menggigit telinga Siti hingga Siti kaget dan reflek berteriak.

__ADS_1


"Aaawww!" Teriak Siti sambil memegangi telinganya.


Tiba-tiba tok tok tok. . .


Siti melepaskan pelukan suaminya. "Ada yang mengetuk pintu,mas. Saya bukain dulu ya!" Ucap Siti lalu segera memakai pakaian dan hijabnya.


Rey mengangguk lalu memakai juga pakaiannya.


"Pak Erte?" Siti kaget. Tidak menyangka pak Erte akan datang ke rumahnya. Dan di belakang pak Erte ada ibu-ibu,mungkin ada tiga orang.


"Boleh kita masuk,Siti? Kamu tidak sibuk kan?: Tanya pak Erte dengan tatapan aneh.


"Tentu saja,pak. Silahkan masuk!" Ajak Siti lalu melirik ke ibu-ibu yang juga ikut masuk.


"Silahkan duduk pak,bu! Maaf duduknya di karpet tidak ada kursi." Ucap Siti dengan sopan.


Tak lama Rey muncul. "Ada pak Erte dan ibu-ibu juga?" Rey lalu menyalami mereka satu-persatu.


"Maaf nak Rey,Siti jika kedatangan kita menganggu." Ucap pak Erte.


"Tidak mengganggu kok pak,bu!" Jawab Rey dan Siti hampir berbarengan.


Pak Erte pun menyampaikan maksud kedatangan mereka. "Begini,saya mengantar ibu-ibu kesini ada yang ingin mereka utarakan." Ucap pak Erte.


"Oh,silahkan pak,bu." jawab Siti.


"Maaf ya Siti. Sebaiknya kamu jujur sama orang desa tentang kamu dan suami kamu!" Ucap salah satu ibu-ibu.


"Jujur? Jujur tentang apa ya bu?" Rey yang menanggapi dengan dahi berkerut.


"Apa??" Siti dan Rey terkejut bukan main mendengar penuturan ibu itu. Rey sampai mengusap kasar wajahnya sendiri.


"Kok ibu bisa nuduh seperti itu?" Tanya Siti dengan nada tinggi. Dia tidak habis pikir dengan warga di desanya. Bisa-bisanya menuduh suaminya seperti itu. Lagipula apapun yang terjadi,itu urusan rumah tangga Siti sendiri.


"Kita bukan nuduh tapi memang kenyataan!" Ucap mereka.


Rey menghela nafas berat. "Pak Erte,jika yang mereka katakan bisa saya buktikan tidak benar,jangan salahkan saya jika ini saya anggap pencemaran nama baik!" Rey mulai mengancam karena sangat kesal.


"Maaf nak Rey,saya pun baru tahu jika ibu-ibu di sini berpikir seperti itu. Mereka meminta saya menemani mereka kemari. Dan saya tidak mau ikut-ikutan!" Ucap pak Erte.


"Loh pak Erte bagaimana sih,kok begitu?" Protes ibu-ibu.


"Ibu-ibu kan yang maksa saya antar kemari? Saya tidak ikut-ikutan! Buktinya istri saya pun tidak mau ikut kemari!" Ucap pak Erte dengan nada tinggi.


Ketiga ibu-ibu itu saling berbisik.


"Bagaimana pak Erte? Saya tidak mau nama baik saya tercemar!" Ucap Rey.


"Kita telepon paman Supri saja pak!" Saran Siti.


"Oh iya benar! Kenapa saya tidak kepikiran ya!" Jawab pak Erte cepat.


"Ok saya yang telepon. Kita dengar langsung dari paman Supri." Ucap Rey lalu.


Tuut tuuutt. Telepon tersambung.

__ADS_1


"Hallo Rey?" Paman Supri.


"Paman Supri di mana?" Rey.


"Paman sedang di kantor polisi,menjenguk istri paman!" Paman Supri.


"Bagaimana kabar bibi,paman?" Rey.


"Bibi sakit,Rey!" Paman Supri.


"Bibi sakit apa,paman?" Siti.


"Siti? Bibi kamu stres dan tidak mau makan! Paman bingung!" Suara paman terdengar sedih.


"Ya Allah!" Siti menutup mulutnya.


"Oh iya paman. Bagaimana kelanjutan kasus penganiayaan atas Siti?" Rey.


"Belum Rey. Paman belum tahu kapan sidang kedua. Tapi masalahnya bibi sakit."


"Paman,ini ada pak Erte ingin menanyakan tentang penganiayaan Siti hingga wajah istri saya itu jadi luka-luka!"


"Pak Erte?" Paman Supri.


"Iya pak Erte di desa,paman. Siti sedang di desa sekarang." Siti.


"Iya paman,orang desa menuduh Rey melakukan KDRT pada Siti! Mereka juga menanyakan tentang Rey yang datang ke desa membawa mobil padahal Rey nganggur!"


"Ya Allah,kenapa bisa seperti itu? Kamu yang sabar ya Rey! Mana pak Erte,paman mau bicara." Paman Supri.


"Ehhmm. Pak Supri,apa kabar?" Pak Erte.


"Kabar saya baik. Kenapa orang desa bisa menuduh suami keponakan saya seperti itu? Rey itu seorang direktur! Jadi dia bebas mau kerja kapan saja! Dan Rey bukan penyebab wajah Siti ada bekas luka!"


"Iya pak Supri. Saya akan jelaskan pada warga desa. Terutama ibu-ibu yang menuduh mereka!" Ucap pak Erte dengan wajah merah karena malu sambil menatap ibu-ibu itu satu-persatu. Ibu-ibu itu malah menundukkan kepalanya.


"Ada-ada saja! Saya tutup dulu pak,masih ada urusan dengan istri saya. Siti,Rey,jangan pedulikan omongan orang ya! Jaga kandungan Siti!" Paman Supri langsung mematikan teleponnya.


"Bagaimana pak Erte,ibu-ibu?" Tanya Rey dengan nada ketus.


"Saya selaku Erte di sini minta maaf nak Rey,Siti. Mau saja meladeni keinginan ibu-ibu ini!" Pak Erte menggeleng-gelengkan kepalany.


"Kita sebenarnya mau ke rumah pak Erte untuk menanyakan tukang yang bagus. Kita mau perbaiki rumah Siti ini." Terang Rey.


"Oh saya ada kenalan beberapa tukang yang bagus nak Rey."Jawab pak Erte. "Kapan nak Rey butuh?"


"Kalau bisa hari ini saya ingin bertemu mereka karena saya ingin besok segera di perbaikin,pak!"


"Baiklah nak Rey. Nanti siang saya kabari ya. Bisa minta nomor kontak nak Rey?"


"Oh iya bisa!" Rey lalu mencatatkan nomor kontaknya di handphone pak Erte.


"Bagaimana ibu-ibu? Apa sudah puas mendengar langsung penjelasan dari pak Supri? Ibu-ibu semua masih kenal pak Supri kan? Apa sudah lupa?" Tanya pak Erte dengan ketus. " Saya sekali lagi mohon maaf sama nak Rey dan Siti. Saya pamit dulu." Pak Erte keluar dari rumah Siti tanpa memperdulikan ibu-ibu itu setelah menyalami Rey dan Siti sementara ibu-ibu itu masih diam di tempatnya duduk.


NEXT

__ADS_1


020521/20.30


__ADS_2