
Seno hanya mematung di depan pintu tanpa mempersilahkan si tamu untuk masuk.
"Seno,siapa yang datang kok tidak di suruh masuk?" Tanya Siti.
Seno langsung tersadar. "Eh,iya mbak." Jawab Seno buru-buru. "Hmm,silahkan masuk." Ucapnya pada orang di depannya tanpa ada senyum sedikitpun. Dia langsung masuk tanpa menunggu lagi jawaban.
"Assalammualaikum." Ucap si tamu yang ternyata putrinya dokter Layli,Dinda.
"Wa alaikumsalam." Jawab mereka hampir berbarengan.
"Dinda?" Seru Rey kaget.
"Dinda? Hmm,siapa mas?" Tanya Siti yang belum pernah bertemu dengan Dinda.
"Dinda,putrinya dokter Layli,yank." Jawab Rey.
"Oohh,Dinda. Yuk masuk!" Ajak Siti dengan ramah.
Dengan malu-malu Dinda pun masuk.
"Sini,duduk di sebelah mbak saja." Tawar Siti. Rey langsung pindah duduk agar Dinda bisa duduk di sebelah istrinya.
Dinda lalu duduk di kursi di sebelah ranjang Siti yang tadi di duduki oleh Rey. "Dinda,kenalin saya Siti,kakaknya Seno. Kamu kenal Seno?"
"Mbak Siti." Dinda tersenyum. " Hmm,saya baru ketemu sekali."
"Nah,kalau yang duduk di dekat mbak tadi itu suami mbak,namanya Rey. Kalau yang habis makan itu paman Supri dan Radit putranya. Yang sedang telponan itu,papa mertua mbak,papanya Rey." Terang Siti mengenalkan satu persatu semua orang yang ada di kamar.
"Iya mbak." Ucap Dinda sambil tersenyum.
Siti pun tersenyum. "Dinda,Seno tidak minta ganti laptopnya kok. Iya kan,dek?" Tanya Siti sambil menoleh ke arah Seno.
"Iya mbak." Jawab Seno singkat.
"Tuh kan. Jadi tidak perlu kamu ganti ya." Ucap Siti lagi.
"Hmm,tapi mami suruh Dinda ganti laptopny,mbak." Terang Dinda. "Kalau tidak,nanti mami marah sama Dinda."
"Hmm,mami kamu maksa banget ya?" Tanya Siti.
Dinda mengangguk." Belajar bertanggung jawab." Ucap Dinda.
Siti tersenyum. Didikan dokter Layli pada putrinya memang sangat bagus. Batin Siti.
"Jadi mami kamu suruh ganti sekarang?"
"Sebenernya dari kemarin-kemarin sih." Jawab
Dinda.
"Seno,kamu mau pergi sama Dinda beli laptopnya?" Tanya Siti.
"Seno terserah saja mau ganti yang gimana,mbak. Seno juga tidak perlu ikut membelinya." Ucap Seno tegas.
Sombong banget sih. Gara-gara mami nih maksa banget. Batin Dinda kesal. Dia menatap Seno dengan wajah cemberut.
__ADS_1
"Seno,masa Dinda pergi sendiri? Dokter Layli minta dia belinya sama kamu makanya Dinda kesini,dek." Ucap Siti sedikit memaksa.
"Hmm,tapi mbak?" Seno melirik ke arah Dinda.
"Seno! Kalau ada apa-apa sama Dinda di jalan gimana? Mbak tidak mau ya!" Siti makin memaksa.
Memangnya enak di paksa? Rasain. Batin Dinda. Dia tersenyum dalam hati.
Hhh. Seno mengusap wajahnya kasar. "Seno kan mau ngerjain tugas kuliah yang belum selesai mbak." Seno menemukan alasan.
"Sebentar saja,cari yang dekat sini ada kan mas Rey?" Siti bertanya pada suaminya.
"Iya,dekat sini ada Mal khusus handphone dan laptop." Jawab Rey.
"Mal? Harus ke Mal?" Seno kaget. Dia paling males ke Mal apalagi sama cewek,belum pernah. Batinnya.
"Iya sekalian jalan-jalan. Kamu kan hampir tidak pernah ke Mal." Ucap Siti.
Haahh,jadi dia tidak pernah ke Mal? Kampungan banget. Batin Dinda.
"Ya pernah kok mbak,sama teman kuliah." Ucap Seno.
"Ya sudah sana,pakai mobil mas. Nih kuncinya." Titah Rey.
"Hmm,makasih mas. Kita naik taxi saja." Tolak Seno.
"Seno,kamu pakai mobil mas Rey! Hati-hati. Jagain anak gadis orang dengan baik!" Titah Siti.
Huuhh,kenapa orang dewasa pada suka maksa sih? Eehh,aku juga sudah dewasa kan,sudah kuliah dan kerja tapi aku tidak pernah maksa orang tuh. Gerutu Seno dalam hati.
"Hati-hati!" Pesan Siti lagi.
"Iya." Jawab Seno singkat.
"Ayo!" Ajaknya pada Dinda setelah melewati gadis itu. Dia langsung keluar tanpa menunggu Dinda lagi. Dinda buru-buru mengikuti Seno dari belakang.
"Dindanya di tunggu,Seno!" Teriak Siti yang melihat adiknya pergi begitu saja tanpa menunggu Dinda lagi.
"Seno kenapa sih,masa Dindanya di tinggal?" Gerutu Siti.
"Mungkin dia kesal karena di paksa." Ucap Rey.
"Yah kan tidak enak mas,dokter Layli juga maksa putrinya kan." Jawab Siti.
Sementara Seno jalan di depan dengan langkah kaki lebar meninggalkan Dinda yang ketinggalan jauh di belakangnya.
Setelah tiba di parkiran,dia menoleh ke belakang,ternyata putrinya dokter Layli itu berhenti berjalan dan masih terlihat jauh di belakangnya.
"Kok malah berhenti di sana,sih?" Gerutu Seno. Dia berdiri sambil menunggu tapi Dinda tetap berdiri mematung di tempatnya.
"Kenapa sih tu anak? Bukannya jalan ke sini? Apa mau aku gendong? Iihh males banget!" Gumamnya dengan wajah kesal.
Dia lalu menghampiri Dinda. Kalau bukan putrinya dokter Layli mah males banget dah! Gerutunya lagi yang hanya dalam hati.
"Kok berhenti,sih?" Tanya Seno setelah dekat dengan Dinda.
__ADS_1
"Kamu mau pergi sendiri apa sama saya? Jalan ngebut banget,capek tau!" Jawab Dinda kesal.
"Iiihh dasar cewek manja. Gitu kok capek." Ucap Seno ketus.
"Eehh malah ngatain lagi? Kalau bukan karena mami yang maksa,males banget pergi sama kamu!" Ucap Dinda sinis.
"Sama donk,saya juga males pergi sama kamu kalau bukan terpaksa."Seno tak kalah sinis.
"Ya sudah kalau males." Dinda berlari dari hadapan Seno.
Seno kaget dan langsung mengejarnya. Ngambek itu anak. Gumamnya.
Setelah berhasil mengejar Dinda,Seno meraih tangannya." Kok lari,sih?"
"Lepasin! Kamu kan bilang males,ya sudah!"
"Lah,kamu duluan yang bilang males kan?"
"Iiihh,dasar!"
"Jadi pergi apa tidak nih? Saya tidak mau tau ya kalau mami kamu marah." Seno menggertak Dinda padahal dia juga tidak enak sama dokter Layli kalau putrinya sampai ngadu macam-macam.
"Hmm,awas ya kalau jalannya ngebut lagi!" Ancam Dinda.
"Iya iya,jalannya pelan seperti pengantin!" Ucap Seno asal.
"Iihh males banget jadi pengantin kamu!" Sahut Dinda.
"Iihh siapa juga yang mau jadiin kamu pengantin saya? Saya sudah punya pacar,tau!" Ucap Seno.
"Iihhh,memangnya cuma kamu yang punya pacar,saya juga sudah punya. Banyak!" Pamer Dinda padahal dia bohong,dia belum pernah pacaran karena di larang oleh maminya. Dinda juga masih kelas tiga sekolah menengah atas.
"Eeh,masa banyak yang mau sama cewek seperti kamu? Saya saja males." Ejek Seno.
"Kamu!" Tunjuk Dinda. Wajahnya memerah. Dia langsung berlari meninggalkan Seno yang bingung campur kaget.
"Loh kok lari lagi sih? Duuh kenapa juga aku mau meladeni omongan anak itu. Baru ini ketemu sama cewek yang nyebelin sih." Gumamnya.
"Dinda!" Teriak Seno sambil mengejar gadis itu yang sudah menghilang dari pandangannya. "Kacau deh." Sesalnya.
Ternyata Dinda sedang duduk di taman samping klinik. Matanya berkaca-kaca.
"Dinda,kamu di sini?"
Dinda menoleh. Dia langsung kaget.
"Maafin saya,ya? Kita pergi sekarang yuk! Nanti mami kamu dan mbak Siti bisa marah kalau kita tidak jadi beli laptopnya." Ucap Seno lembut saat dia melihat wajah gadis di hadapannya memerah dengan mata berkaca-kaca.
Dinda masih diam saja. Seno lalu mengulurkan tangannya. "Maaf." Ucapnya lirih.
NEXT
Tungguin terus lanjutannya ya readers sayang,.Jangan lupa dukungannya.
Makasih ππππ
__ADS_1
2706/2222