
Cinta langsung naik ke mobilnya. "Ayo kak,jalan!" Titah Cinta pada Ratna yang kebingungan melihat sikap Cinta. Gadis itu terlihat sedih sementara dari luar mobil ada seseorang yang terus memanggil-manggil Cinta.
"Cin. Cinta. . .!"
"Itu ada yang manggil kamu,Cin!" Ucap Ratna.
"Biarin saja kak. Ayo jalan sekarang kak."
"Hmm,iya." Ratna langsung melajukan mobilnya keluar dari parkiran.
Kini mereka sudah berada di jalanan. Cinta menatap keluar jendela,matanya mulai berkaca-kaca. Kenapa semua orang yang mendekatiku selalu jahat. Kenapa? Apa salahku. Gumamnya.
"Cin,kamu tidak apa-apa kan?" Tanya Ratna khawatir. Tidak biasanya Cinta diam terus.
"Aku tidak apa-apa,kak."
Sejam kemudian,mereka sampai di kediaman keluarga Cinta. Cinta langsung masuk ke dalam rumah. "Terimakasih kak. Cinta langsung masuk."Pamit Cinta.
Cinta kenapa ya? Yang manggil tadi sepertinya aku kenal suaranya,tapi kurang jelas gara-gara suara mesin mobil. Batin Ratna.
Ratna masuk ke dalam rumah Cinta untuk berpamitan. Setelah berpamitan pada opanya yang kebetulan ada di ruang tamu,Ratna segera mengambil sepeda motornya lalu pulang ke rumahnya.
Di dalam kamar Cinta.
Gadis itu langsung menghempaskan tas sekolahnya di sofa lalu dia duduk di sana. Dari dalam tasnya terdengar dering telpon dari saat dia masih di mobil. Kenapa kamu harus bohong? Kenapa rasanya sakit sekali mengetahui kebohongannya. Apa karena aku yang begitu bodoh?
Hhhh,Cinta menghembuskan nafasnya kasar. "Hmm,lebih baik mandi dulu." Gumamnya tanpa mempedulilan suara dering telpon yang terus saja terdengar.
Selesai mandi,Cinta berbaring di kasur. Dia coba mengingat-ingat kejadian akhir-akhir ini. Tiba-tiba Cinta teringat omnya. Om Seno. Dia selalu mengajarkan Cinta untuk jujur. Walau kadang kejujurannya menyakitkan tapi itulah om Seno. Dalam keadaan apapun,om Seno selalu berusaha jujur. Batin Cinta. Aaahh,kenapa jadi ingat om Seno lagi sih? Kesalnya.
Cinta lalu mengambil handphonenya dari dalam tas. Ada puluhan panggilan telpon dari seseorang yang akhir-akhir ini mampu membuatnya mengalihkan pikirannya akan omnya Seno. Bahkan Cinta pun sudah mulai menyukainya. Dan bukan hanya panggilan masuk saja,ada banyak pesan dari nomor yang sama. Tapi tak satupun di baca oleh Cinta.
"Percuma hubungi aku. Aku sudah denger sendiri tentang kebohongan kamu selama ini. Kamu bener-bener tega bohongin aku. Mungkin kata-kata sayang kamu juga hanyalah kebohongan." Gumam Cinta. Matanya mulai berkaca-kaca.
***
Jam sudah menunjukkan pukul satu siang.Cinta keluar dari gerbang sekolahnya lalu masuk ke dalam mobil. "Ke kantor papa apa pulang ke rumah bunda?" Tanya Ratna saat mereka sedang di mobil menuju pulang.
"Hmm,anter Cinta ke rumah papa ya kak. Cinta malam ini mau menginap di rumah papa. Besok kan minggu." Terang Cinta.
"Hmm,ok." Ratna segera melajukan mobilnya ke arah rumah Rey.
Setelah sampai,Cinta langsung turun. "Kakak bawa saja mobil pulang ke rumah bunda. Senin pagi jemput Cinta di sini ya." Pesannya sebelum Ratna pergi.
"Ok siap. Kakak pulang ya."
"Iya kak,hati-hati di jalan ya."
Cinta lalu masuk ke dalam rumah. Dari luar terdengar suara beberapa orang sedang mengobrol.
"Assalammualakum." Cinta mengucapkan salam sebelum masuk ke rumah.
__ADS_1
"Wa alaikumsalam." Sahut dari ruang keluarga.
Cinta masuk perlahan. "Sepertinya ada tamu." Gumam Cinta.
Dan benar saja,saat Cinta sampai di ruang keluarga ada omnya Seno dan juga istrinya. Ada mama Siti,adek Putra dan Putri,oma dan juga opa. Hanya papanya Rey yang tidak ada mungkin belum pulang kerja.
Deg. Tiba-tiba jantung Dinda berdegup kencang saat bersitatap dengan omnya. Duuuh,kok ada om Seno sih. Gumam Dinda.
Cinta berusaha tersenyum lalu menyalami semua orang yang ada di sana. "Baru pulang,Cin?" Tanya Seno.
"Hmm,iya om." Jawab Cinta tanpa menoleh.
"Hai Cinta." Sapa Dinda.
"Hmm,hai tante. Apa kabar?"
"Alhamdulillah kabar tante baik. Kabar kamu bagaimana? Sekolah lancar?"
"Hmm,alhamdulillah te." Jawab Cinta berusaha menghilangkan kegugupannya. Ayo Cin,berusahalah sedikit santai. Batinnya.
"Sayang,kamu sudah makan siang belum?" Tanya mama Siti.
"Hmm,Cinta belum makan siang ma." Jawab cinta.
"Mama siapkan makan siang kamu ya."
"Hmm,iya ma."
Mata Cinta membulat sempurna dengan mulut terbuka sambil mengikuti mamanya dari belakang. Untung tidak ada yana melihat responnya barusan.
Mimpi apa aku semalam. Batin Cinta.
Setelah mamanya selesai menyiapkan makan siang,Cinta duduk di kursi yang biasa dia pakai. Seno pun segera duduk di susul Dinda di sebelahnya.
"Ibu hamil sudah tidak ngidam lagi kan?" Tanya mama Siti membuat Cinta langsung menoleh ke arah tantenya.
"Alhamdulillah sudah tidak ngidam lagi,mbak." Jawab Dinda.
"Tapi kadang suka manja,makan di suapin baru mau makan banyak. Kalau tidak di suapi,makannya dikit." Terang Seno. Dinda hanya tersenyum malu-malu.
Cinta lalu mengambil nasi dan juga lauknya dengan porsi sedikit. Selera makanku hilang. Batinnya.
"Makan om,tante." Ucap Cinta.
"Iya,Cin." Sahut Dinda.
"Kamu makannya dikit sekali,Cin?" Tanya Seno.
"Hmm,Cinta tadi sudah banyak jajan di sekolah."Jawab Cinta bohong.
Cinta makan dengan terburu-buru. Sementara Seno sibuk menyuapi Dinda makan,terkadang Dinda ikut menyuapi Seno makan. Mereka terlihat mesra dengan Dinda yang terlihat begitu manja.
__ADS_1
"Nambah lagi ya?" Tawar Seno pada Dinda.
"Nambah dikit saja mas." Jawab Dinda.
Seno kembali menyuapi Dinda,terkadang mengusap lembut bibir Dinda yang ada menempel nasi.
Cinta makan dengan menunduk agar tidak melihat kemesraan mereka walau kadang masih bisa terlihat dengan jelas karena mereka duduk berhadap-hadapan.
Tidak ingin jadi seperti obat nyamuk,Cinta menyudahi makannya. "Cinta duluan ya om,tante." Pamit Dinda yang segera berdiri dan meninggalkan meja makan tanpa menunggu sahutan Seno dan Dinda.
"Hmm,Cin. Cepat sekali makannya." Ucap Seno sambil menatap Cinta yang langsung naik ke atas menuju kamarnya. Cinta kenapa ya,wajahnya sedih gitu. Batin Seno.
"Hmm,lagi yank." Ucapnya sambil kembali menyuapi Dinda.
Di dalam kamar Cinta. Cinta menaruh tas sekolahnya di meja. Dia lalu merebahkan dirinya di sofa. Entah apa yang di rasakannya,tiba-tiba bulir bening mengalir begitu saja di pipinya.
"Bunda. . ." Lirihnya.
Tiba-tiba dia mendengar suara dering handphonenya. Cinta membuka tas sekolahnya lalu mengambìl handphonenya. Ada banyak panggilan masuk dari seseorang yang jadi alasannya tidak ingin ke kantor papanya beberapa hari ini.
"Ngapain sih nelpon terus. Dasar pembohong!" Ucapnya yang mulai terisak.
Cinta membuang handphonenya ke atas sofa lalu berjalan ke tempat tidur. Lalu merebahkan diri di tempat tidur yang empuk itu sambil sesekali mengusap pipinya.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca. Moga suka ya. Trims 😍😍
.
.
.
.
.
..
...
__ADS_1
1412