
Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Setelah makan malam,mereka berangkat ke hotel. Setengah jam,Seno dan Dinda sudah sampai di hotel,begitupun semua anggota keluarga. Aula hotel yang luas di sulap begitu indah. Sama seperti saat acara akad nikah di rumah,ruangan penuh dengan bunga mawar segar.
Dinda dan Seno di arahkan naik ke pelaminan. Seperti biasa,wakil dari keluarga Seno adalah Siti dan pamannya Supri. Dokter Layli mengundang artis lokal yang biasa menyanyikan lagu bernuansa islami untuk meramaikan suasana resepsi putri kesayangannya.
Pukul sembilan malam Dinda dan Seno berganti pakaian. Jika tadi pakaian berwarna putih,kali ini mereka mengenakan pakaian hijau lumut. Karena terburu-buru mereka langsung berganti pakaian di satu kamar yang sama hingga Dinda menjadi salah tingkah dan tidak berani melihat ke arah Seno.
Setelah selesai,mereka kembali ke pelaminan. Sambil menunggu para tamu menikmati hidangan,pengantin mulai sesi foto berdua,terkadang bersama keluarga.
Mereka terlihat canggung dan malu-malu.
Menjelang pukul sepuluh lebih para tamu mulai berpamitan.
"Uuhh,capek." Keluh Dinda lirih.
"Kamu duduk saja dulu." Ucap Seno sambil menoleh ke arahnya.
"Hmm,." Sahut Dinda.
Pukul sebelas malam,tamu benar-benar tak tersisa. Keluarga Seno pun sudah pulang semua. Hanya tinggal keluarga Dinda beserta orang-orang dari WO.
"Sayang,kamu mau istirahat sekarang ya?" Tanya dokter Layli pada putrinya.
"Hmm,iya ma. Dinda capek banget!" Ucap Dinda.
"Ya sudah,kalian istirahatlah sekarang!" Titah dokter Layli. "Seno,kamu ajak Dinda ke kamar kalian ya. Ini kuncinya." Dokter Layli menyerahkan kunci kamar pada Seno.
"Mi,kita nginep di sini?" Tanya Dinda kaget.
"Iya sayang!" Jawab dokter Layli sambil tersenyum.
"Tapi mi,Dinda tidak bawa pakaian ganti."
"Mami sudah siapkan pakaian ganti untuk kalian berdua. Koper Seno sudah ada di kamar. Sudah sana!"
"Hhmm,mami kok Dinda tidak di kasih tau?"
"Kejutan,sayang. Oh iya,besok,kalian akan bulan madu. Mami sudah siapkan tiketnya!" Ucap dokter Layli yang membuat Dinda makin kaget.
"Bulan madu? Mami iihh,kok tidak bilang-bilang sih sama Dinda?" Protes Dinda dengan wajah cemberut.
"Sudah sana ke kamar kalian. Seno,ayo ajak istri kamu!" Titah dokter Layli.
__ADS_1
"Hmm,i iya mi." Jawab Seno. " Din,ayo!" Ajak Seno sambil mengulurkan tangannya pada Dinda.
Dinda lalu menyambut uluran tangan Seno dengan malu-malu. Mereka pun bergandengan tangan menuju kamar mereka.
Kamar mereka terletak di lantai sepuluh. Mereka lalu naik lift. Keluar dari lift mereka menyusuri koridor hotel yang sudah sangat sepi. Dinda tanpa sadar menggandeng lengan Seno dengan sangat erat sambil matanya menoleh kemana-mana.
"Sepi banget yak." Gumamnya.
"Kan sudah malem. Memangnya di Rumah Sakit tidak pernah sesepi ini kalau malam?"
Dinda sadar lalu melepaskan gandengan tangannya. " Hmm,pernah sih tapi tidak pernah sendirian."
"Memangnya kamu sekarang sedang sendirian,hmm?"
"Hmm,maksudku rame sama teman-teman." Jawab Dinda. "Masih jauh ya kamarnya?"
"Hmm,itu. Sudah kelihatan dari sini kok."
Sampai di depan pintu kamar,Seno lalu membuka pintu dan menyuruh Dinda masuk lebih dulu.
"Silahkan." Ucap Seno.
Dinda lalu masuk ke dalam kamar lebih dulu. "Hmm,kamarnya bagus banget,kamar suite apa ya?" Gumam Dinda.
Dinda lalu melihat koper Seno di dekat tempat tidur. Koperku mana ya? Batin Dinda sambil matanya menyisir setiap ruangan.
"Kamu cari apa?" Tanya Seno.
"Hmm,aku cari koperku. Koperku,kok tidak ada?"
Seno lalu membuka kopernya. "Hmm,ini? Ini pakaian kamu?" Tanya Seno pada Dinda sambil memperlihatkan isi koper paling atas.
Dinda melirik ke dalam koper. "I,iya itu pakaian aku." Ucap Dinda malu. Wajahnya memerah. Dari pakaian luar sampai pakaian dalam Dinda berada di dalam koper milik Seno.
Hmm,pasti mami nih yang naruh pakaian aku di koper Seno. Gerutu Dinda dalam hati. Dia buru-buru mengambil semua pakaiannya.
Hmm,mami. Kenapa juga masukin pakaian aku yang ini. Ini kan lumayan seksi. Huuhh. Dinda cemberut lalu duduk di depan meja rias sambil mendekap semua pakaiannya. Seno hanya senyum-senyum sendiri melihat Dinda.
Seno masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa pakaian ganti. Lima belas menit dia sudah keluar. Dinda sudah menunggunya di depan kamar mandi. Setelah Seno keluar gantian Dinda yang masuk ke kamar mandi.
Seno sholat sebentar lalu langsung tiduran. Dia benar-benar kelelahan. Kenapa acara nikahan saja mesti seribet ini,tidak cukup akad nikah saja. Batinnya. Hoooaaamm. Seno menutup mulutnya.
__ADS_1
Hampir setengah jam,Dinda belum juga selesai mandi. Seno akhirnya ketiduran.
Ceklek,Dinda keluar dari kamar mandi. Dia terlihat malu-malu dengan pakaian yang dia pakai padahal tidak terlalu seksi hanya saja sekarang sedang berdua dengan laki-laki walau itu suaminya tapi tetap saja ini pertama kali untuknya. Di lihatnya suaminya sudah tertidur. Hmm,sudah tidur dia. Dinda sedikit lega.
Dinda lalu berjalan ke sofa. Ahh,aku tidur di sofa saja deh daripada di tempat tidur nanti dia kebangun. Batin Dinda sambil tersenyum.
Hanya dalam hitungan detik,Dinda sudah terlelap karena sudah sangat kelelahan.
***
Sayup-sayup Dinda mendengar suara gemericik air. Dia membuka matanya lalu melihat sekeliling. Dia kaget menyadari jika sekarang dia sudah ada di tempat tidur. Perasaan semalam aku tidur di sofa deh. Apa aku tidur sambil berjalan? Perasaan tidak pernah deh. Hmm,apa jangan-jangan? Dinda langsung memeriksa keadaannya. Huuhh,pakaianku masih lengkap. Iihh apaan sih Dinda,ada saja pikiranmu. Dia tersenyum-senyum sendiri.
Tak lama pintu kamar mandi terbuka. "Sudah bangun? Maaf ya semalam aku pindahin kamu ke tempat tidur. Jangan khawatir,aku yang tidur di sofa kok." Terang Seno lalu duduk di dekat telpon kamar.
"Oh iya,kita sarapan di kamar saja ya. Aku akan pesankan." Ucap Seno lalu mengangkat telpon dan mulai berbicara dengan seseorang di seberang sana. Selesai menelpon lalu dia sholat subuh.
Dinda mengambil pakaiannya yang dia simpan di meja rias lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah sholat,Seno membuka pintu menuju balkon. Hari belum terang baru pukul lima pagi. Dia berdiri menatap langit lalu ke jalanan. Pikirannya kemana-mana. Ke kehidupannya saat masih di desa hingga ke pernikahannya saat ini.
"Huuhh,semua serba tak terduga." Gumamnya.
.
.
.
.
Next
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
0108/ 0616