
Aaron sungguh dilema,dia tidak ingin mengkhianati abangnya. Dia juga sudah berjanji semuanya akan jadi rahasia antara dia dan abangnya saja.
"Ehhmm. Kita masih menunggu,Aaron. Jika kamu tidak juga mau bicara sama kita,terpaksa kita akan minta bantuan orang lain untuk bicara sama kamu."
Aaron langsung mendongakkan kepalanya kaget sekaligus takut.
"Dan satu lagi,berhenti mendekati putri saya!" Ancam Rey lalu berdiri hendak meninggalkan Aaron di ikuti oleh Fadil.
Aaron buru-buru ikut berdiri."Tunggu pak. Hmm,baiklah."
Rey menoleh begitupun Fadil.
"Tapi saya ada satu permintaan."
Dahi Rey berkerut. "Hmm,permintaan apa?"
"Saya mohon,pak. Saya,hhm. Saya mempunyai oma yang sudah tua dan mempunyai penyakit jantung. Jika beliau tau dan mendengar,penyakitnya bisa kambuh." Ucap Aaron lirih dengan wajah sedih.
"Hmm,kamu tinggal bersama oma kamu juga?"
"Iya pak. Hmm,tempat saya menemukan Cinta itu di paviliun di belakang rumah saya." Terang Aaron pelan seperti sedang bergumam.
"Apa?" Rey dan juga Fadil sama-sama kaget.
"M-maaf pak. Tapi,tapi bukan saya yang bawa Cinta ke sana. Saya hanya melihatnya lalu mengajaknya pergi dari sana."
Rey mendekati Aaron seolah tanpa jarak. "Siapa yang bawa Cinta ke sana?"
"Hmm,saya-saya tidak tau,pak."
"Tidak tau?"
"I-iya pak."
"Hh,baiklah. Kita akan cari tau sendiri di sana! Ayo pak Fadil." Ajak Rey seraya melirik ke arah Aaron yang sedang menunduk. Raut wajahnya memerah.
Setelah Rey dan Fadil berjalan beberapa langkah,Aaron buru-buru menghampiri mereka. "Pak,saya mohon. Ada oma saya di rumah." Aaron seperti ingin menangis.
"Kita tidak akan ganggu oma kamu!"
"Tapi kalau oma melihat polisi mendatangi rumah,pasti oma akan berpikir macam-macam."
Hhh. Rey menarik nafasnya berat. Dia ingin marah tapi berusaha di tahannya.
"Kamu menyembunyikan sesuatu! Hmm jangan-jangan kamu terlihat?"
"Saya,saya tidak telibat,pak. Sumpah,saya.. ."
"Ingat,cepat atau lambat polisi juga akan tau! Dan kamu tidak akan bisa mengelak lagi."
"Hmm,pak."
"Siapa yang membawa Cinta ke rumah kamu?" Tanya Rey dengan penekanan. "Saya janji tidak akan membuat keramaian di rumah kamu kalau kamu mau berkata jujur!"
Hhhh,nafas Aaron sudah mulai tidak beraturan. Dia terlihat sangat gelisah. "Hhh,abang. Abang saya. . ." Ucap Aaron lirih sambil menundukkan kepala.
"Apa? Abang kamu? Abang kamu,siapa?"
__ADS_1
"Hmm,bang Romi.
"Romi? Dia ada di rumah?"
"Kadang di rumah,kadang di kantornya."
"Dimana kantornya?"
"Hmm,di perusahaan Rafael grup. Tapi sekarang hari minggu,abang pasti ada di rumah. Dan oma juga ada di rumah."
"Bawa pergi oma kamu dari rumah sebelum polisi tiba! Bagaimanapun,polisi akan memeriksa paviliun di rumah kamu!" Titah Rey lalu menoleh ke arah Fadil. "Kita ke kantor polisi sekarang,pak Fadi!" Ajak Rey.
Aaron buru-buru menahan tangan Rey. "Saya mohon pak,jangan di apa-apain abang saya." Pinta Aaron dengan wajah memohon.
"Kita hanya akan membawanya baik-baik ke kantor polisi." Terang Rey.
Aaron seketika memeteskan airmatanya. Dia tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini dalam keluarganya.
Rey dan Fadil segera pergi. Setelah Aaron bisa menguasai perasaannya,dia buru-buru menyusul Rey dan Fadil.
Saat melintasi pintu rumah Cinta,gadis itu sedang berdiri memperhatikannya. "Aaron?" Panggilnya.
Aaron hanya menoleh sesaat tanpa menghentikan langkahnya. Dia buru-buru meninggalkan rumah Cinta.
Melihat sesuatu yang tidak beres,Cinta menyusul papanya yang sudah naik ke mobil. "Aaron kenapa,pa?"
"Cinta diam saja di rumah sama mama dan bunda ya!" Titah Rey.
"Tapi Aaron kenapa,pa? Dan kalian mau kemana?" Desak Cinta.
"Tapi,pa?"
"Cinta masuk!" Titah Rey dengan penekanan.
Mau tidak mau Cinta pun kembali rumah. Dia berdiri di depan pintu sambil menatap mobil papanya yang mulai meninggalkan rumah.
Tak lama,Cinta masuk ke dalam rumah. "Aaron,kamu kenapa?" Gumamnya sambil berjalan naik ke atas tangga.
Sampai di kamarnya,Cinta mengambil handphonenya lalu segera menghubungi nomor handphone Aaron. Sudah berkali-kali Cinta menghubungi tapi Aaron tidak juga mau menjawab.
***
Rey dan Fadil sudah tiba kantor polisi. Mereka segera menemui pak Santo. Beruntung walau sedang hari libur,pak Santo ada di kantornya. Rey lalu menceritakan semua yang Aaron ucapkan saat di rumah Fadil tadi.
"Baiklah kalau begitu. Saya akan bawa beberapa anak buah saya ke rumahnya. Pak Rey dan pak Fadil apakah mau ikut?"
"Kita akan melihat dari jauh saja,pak." Jawab Rey.
Beberapa menit kemudian,pak Santo meninggalkan kantor polisi bersama beberapa anak buahnya dengan tidak memakai pakaian dinasnya agar tidak menarik perhatian umum.
Satu jam kemudian,mereka tiba di kediaman Aaron. Rumahnya terlihat sepi. Rumah mewah yang luasnya hampir seperti rumah Fadil. Rey menghentikan mobilnya sepuluh meter dari rumah Aaron. Mobil polisi sudah berhenti di depan pintu pagar rumah Aaron. Ada seorang satpam yang berjaga. Setelah berbicara beberapa saat dengan satpam,polisi yang berjumlah empat orang itu masuk ke halaman rumah Aaron.
"Semoga Aaron sudah membawa omanya pergi dari rumah." Gumam Rey yang masih bisa terdengar.
Lima menit kemudian,terlihat sebuah sedan mewah meninggalkan rumah Aaron dengan kecepatan tinggi. Di susul ke empat polisi yang keluar dari rumah dan buru-buru naik ke mobil lalu segera mengikuti mobil sedan itu.
"Ada apa ya?" Tanya Rey heran.
__ADS_1
"Sepertinya abangnya Aaron yang menaiki sedan itu." Jawab Fadil.
Rey segera menghidupkan mesin mobilnya lalu menyusul mobil polisi di depan mereka.
"Semoga polisi bisa mengejarnya." Gumam Rey.
Sementara di dalam rumah,Aaron berteriak histeris sambil menangis. Dengan di bantu satpam rumah dan asisten rumah tangganya,dia membawa seseorang naik ke dalam mobil dengan kondisi tidak sadarkan diri.
"Tolong bertahanlah!" Pintanya dengan memohon. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sementara seseorang yang sedang pingsan itu ada di kursi belakang bersama asisten rumah tangganya.
Sesekali Aaron menoleh ke kursi belakang untuk melihat kondisi seseorang yang pingsan itu. Pikirannya kalut dan terbagi. Jantungnya makin berdegup kencang dan airmatanya jatuh tanpa bisa dia tahan.
"Ya Allah,lindungi kelurgaku." Gumamnya.
Setengah jam kemudian,mobilnya sudah sampai di depan Rumah Sakit. Aaron segera keluar dari mobil lalu menggendong seseorang yang masih belum sadar itu.
"Dokter,suster tolong saya!" Teriaknya dari luar Rumah Sakit. Seorang suster keluar.
"Sabar pak,sabar! Ayo baringkan pasien di sini!" Titah suster sambil menunjuk ke brangkar.
Aaron segera membaringkannya di atas brangkar. "Tolong selamatkan dia. Aku mohon!" Ucap Aaron dengan suara bergetar. Dia berusaha menahan tangisnya.
"Baiklah,pak. Silahkan bapak ke bagian administrasi. Kita akan menangani pasien sekarang juga." Titah suster..
Aaron keluar dari ruang IGD dengan langkah gontai.
.
.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. ππ
.
.
.
.
.
.
1414
__ADS_1