
Malam pertama tidur bersama bayi mereka,Seno dan Dinda baru bisa tertidur pukul sebelas malam. Malam sudah makin larut. Baru saja dua jam Seno dan Dinda terlelap,tiba-tiba mereka di bangunkan oleh suara tangisan bayinya.
"Oooeeee!" Bayinya menangis dengan kencang.
Dinda dan Seno yang kaget langsung duduk seraya mengucek-ucek matanya. Detik berikutnya mereka saling menatap kemudian sama-sama menoleh ke tengah-tengah mereka di mana bayinya yang tadi tertidur sudah menangis kencang seraya menendang-nendangkan kedua kaki mungilnya.
Dinda buru-buru menggendongnya. "Cup-cup . ." Bisiknya seraya mengayun-ayun lembut bayinya.
"Lapar mungkin,yank." Ucap Seno yang masih duduk memperhatikan.
"Iya mas. Mau kasih ASI dulu." Sahut Dinda. Dinda kembali duduk di sisi kasur lalu segera memberikan ASI untuk bayinya. Bayinya langsung diam.
"Bener kan yank,dia lapar." Ucap Seno sambil memperhatikan tingkah bayinya.
"Iya mas."
Seno melirik jam dinding di dekat pìntu. "Padahal baru dua jam lalu kamu kasih dia ASI,ya. Sudah lapar lagi." Ucap Seno yang kembali memperhatikan bayinya.
"Iya memang mami bilang kasih ASI dua jam sekali,mas. Jangan tunggu dia nangis." Terang Dinda.
"Oohh begitu." Sahut Seno seraya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Yank,mas lanjut tidur ya?"
Dinda menoleh lalu menganggukkan kepalanya. "Iya,mas tidurlah. Besok mas kerja kan."
"Terimakasih ya sayang. Cup,cup!" Seno mencium dahi istri dan anaknya lalu kembali tidur.
Dinda masih terus memberikan ASI untuk bayinya sampai bayinya terlelap kemudian Dinda pun ikut tidur di samping bayinya.
***
Pagi hari di ruang keluarga saat Dinda sekeluarga baru saja selesai sarapan.
"Din,kapan kalian akan mengadakan aqiqah Syafira?" Tanya mami Dinda.
"Hmm,akubelum tau mi. Menurut mami baiknya kapan?" Dinda balik bertanya.
"Bagaimana kalau jumat atau minggu ini? Kalian bisanya kapan?"
"Kalau aku bisa kapan saja kan aku di rumah saja,mi."
"Seno kapan kamu tidak sibuk?"
"Aku tanya mas Rey dulu ya mi. Tapi kalau hari minggu,aku pasti bisa kok." Jawabnya.
Mami Dinda menganggukkan kepalanya. "Hmm,kalau begitu hari minggu saja ya. Mami minggu tidak ada operasi."
"Iya mi. Kalau hari libur kan enak semua pada libur jadi bisa datang ke aqiqah Syafira." Terang Dinda.
"Iya. Minggu ini ya,empat hari lagi masih bisa mami siapkan semuanya. Nanti biar tante kamu ikut bantu-bantu mami."
"Hmm,iya mi."
Seno berdiri. "Aku pergi kerja dulu mi,pi." Pamit Seno.
"Iya,hati-hati di jalan." Pesan papi Dinda.
Dinda lalu mengantarkan Seno sampai ke depan pintu.
"Mas kerja dulu ya sayang. Nanti siang mas usahakan pulang. Kalau siang tidak bisa pulang,mas akan pulang lebih cepat."
"Iya mas. Mas hati-hati di jalan ya." Ucap Dinda seraya mencium punggung tangan Seno. Seno lalu mencium dahi istrinya penuh kasih sayang.
__ADS_1
***
Minggu pagi semua persiapan acara aqiqah Syafira sudah rampung. Acara sederhana yang hanya mengundang keluarga dan teman dekat saja. Dinda dan bayinya sedang bersiap diri di kamarnya di temani Siti.
Siti sedang menggendong bayi Dinda supaya tidak rewel. "Duuhh,lucunya dede Syafira. . ."
"Mbak,nanti tolong temani aku ya. Jangan jauh-jauh takutnya Syafira rewel pas acara." Pinta Dinda.
"Iya din. Tapi kamu sudah kasih ASI sampai dia benar-benar kenyang kan?"
"Iya,mbak. Yuk mbak,kita turun."
Mereka lalu turun bersama. Di bawah sudah banyak tamu dan sodara yang datang. Ada paman dan juga bibi Seno yang turut hadir.
"Waahh,ibu muda kita nih. Makin cantik ya habis melahirkan." Puji teman kerja mami Dinda.
Dinda tersenyum. "Terimakasih,tante."
"Ayo kita kesana. Kita mulai sekarang saja acaranya!" Ajak mami Dinda lalu mengambil Syafira dalam gendongan Siti. "Syafira ikut oma dulu ya."
Siti lalu memberikan Syafira ke neneknya.
Dari arah pintu,Siti melihat Cinta baru datang bersama ayah,bunda serta adiknya.
"Mbak Cyn. . ." Sapa Siti. Mereka lalu berpelukan.
"Mbak Siti,maaf kita terlambat ya?"
"Tidak kok. Acara baru saja di mulai,mbak. Yuk kita ke sana." Ajak Siti ke ruangan di mana acara Aqiqah Syafira di adakan.
Seno sudah menunggu di dampingi oleh papinya Dinda. Rey dan kedua anaknya juga sudah duduk manis di sana.
Acara pun di mulai. Seno yang menggendong Syafira. Dari kata sambutan yang di wakilkan kepada papinya Dinda,,pengajian,pembacaan doa,dan menggunting sedikit rambut syafira.
Tiba-tiba bayi Dinda menangis saat masih dalam gendongan Seno.
"Mungkin dia lapar. Kasih ke mamanya buat di kasih ASI." Titah Siti.
"Hmm,iya mbak. Cup cup. . ." Seno berusaha menenangkan bayinya.
"Sini Dinda gendong Syafiranya,mas. Uuhh,kesayangan mama laper ya." Ucap Dinda seraya mengayun lembut bayinya.
"Kasihn ASI di kamar saja,yank! Tidak enak di sini rame!" Titah Seno.
"Hmm,iya mas."
"Loh mau kemana?" Tanya mami Dinda saat Dinda dan Seno hendak naik ke lantai atas.
"Mau kasih ASI buat Syafira,mi." Jawab Dinda.
"Di kamar tamu saja. Biar tidak bolak balik kalau nanti ada tamu yang pulang hendak melihat Syafira." Titah mami Dinda.
"Hmm,iya mi." Dinda lalu membawa bayinya ke kamar tamu di ikuti oleh Seno.
Setelah masuk ke kamar tamu,Dinda buru-buru memberikan ASI pada Syafira yang makin rewel. "Haus banget ya nak." Ucap Seno saat melihat tingkah bayinya.
"Iya mas. Kuat banget tenaganya."
"Hmm,iya yank."
Lima belas menit,bayinya sudah melepaskan diri dengan mata terpejam dan hembusan nafasnya yang halus.
"Langsung tidur lagi dia sudah kenyang."
__ADS_1
"Iya mas. Yuk kita keluar. Tidak enak kalau ada yang nanyain Syafira.
Seno dan Dinda lalu kembali bergabung dengan para tamu.
"Sudah tidur dede nya." Ucap Siti.
"Iya mbak. Tadi kelaparan." Sahut Seno.
"Din,sini biar mbak gendong Syafira. Kamu makan dulu biar ASI kamu banyak." Titah Siti seraya mengambil Syafira dalam gendongan Dinda.
"Terimakasih ya mbak."
"Seno,kamu temani Dinda makan."Titah Siti seraya menoleh ke arah adiknya.
"Mama,adek mau lihat baby Syafira." Seru Putra seraya melompat-lompat demi bisa melihat bayi Dinda.
"Kita duduk di sana saja,yuk!" Ajak Siti.
Siti lalu duduk di sofa yang di taruh di pojok ruangan di ikuti Putra dan Putri.
"Lucu ya ma. . ." Ucap Putra takjub.
"Iya lucu. Adek sewaktu bayi juga lucu seperti adek Syafira."
"Oh,benarkah ma?"
Siti mengangguk. "Tentu saja,dek. Ada foto-foto sewaktu adek masih bayi di rumah." Terang Siti.
"Kakak juga kan ma?" Tanya Putri tak mau kalah.
"Tentu saja. Kakak sama adek sama-sama lucu dan menggemaskan sewaktu bayi seperti adek Syafira."
"Nanti kita lihat ya ma kalau sudah pulang." Ucap Putra.
"Iya nak." janji Siti.
.
.
.
.
.
NEXT
Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. 😍😍
.
.
.
.
.
....
2300
__ADS_1