
Setelah Seno meninggalkan mereka berdua. Aaron berdiri dari duduknya. "Makan yuk,aku lapar." Ajak Aaron.
"Hhhmm,iya deh."
Mereka berdiri dari duduknya lalu Cinta mengambil piring untuk mereka berdua.
"Nasi dan lauknya ambil di dapur saja ya,di depan pasti tinggal dikit."
"Terserah Cintaku saja." Jawab Aaron.
"Iiihh." Sahut Cinta sebal.
Cinta lalu mengisi piring makannya dan juga Aaron dengan nasi beserta lauk. Setelahnya mereka kembali duduk di meja makan. Kali ini Aaron memilih duduk lebih dekat dengan Cinta.
"Jauhan dikit donk duduknya!" Ucap Cinta yang terlihat salah tingkah karena jarak mereka yang tidak sampai satu meter saja.
Aaron pura-pura tidak mendengar dan langsung makan.
Cinta pun akhirnya mulai makan juga sambil menunduk. Tiba-tiba Aaron menyendokkan makanan ke mulut Cinta. "Aaa. . ."
Cinta mendongakkan kepalanya lalu menatap Aaron dan sendok yang sudah ada di depan mulutnya bergantian.
"Ayo. . ." Ucap Aaron sedikit memaksa.
Dengan malu-malu,Cinta membuka mulutnya lalu. . .
"Hhmm,enak kan?" Tanya Aaron sambil tersenyum menatap Cinta lekat-lekat.
Cinta hanya tersenyum lalu mengunyah makanannya sambil menunduk. Wajahnya sudah memerah.
Sepuluh menit kemudian Aaron sudah menghabiskan makannya sementara Cinta baru menghabiskan setengahnya saja. "Aku suapin ya,lama banget makannya." Tawar Aaron.
Cinta menggeleng cepat. "Cinta bisa makan sendiri kok!" Tolaknya.
Aaron tersenyum sambil memperhatikan Cinta makan. "Sana iiihh,orang sedang makan di lihatin terus!" Usirnya.
Tiba-tiba tangan Aaron bergerak ke arah mulut Cinta lalu mengusap dengan ujung jarinya. "Ada nasi yang nempel!" Ucapnya seraya menunjukkan sebutir nasi di ujung jarinya lalu memasukkan ke mulutnya sendiri.
"Iiihh,kok di makan sih?" Protes Cinta.
"Rasanya lebih enak,karena dari bibir kamu." Goda Aaron membuat wajah Cinta makin merah.
"Eehhmm. . ." Tiba-tiba Rey sudah berdiri di dekat mereka.
Cinta dan Aaron yang sama-sama kaget langsung menoleh. "Hmm,pak Rey." Ucap Aaron.
"Kamu sudah selesai makannya?" Tanya Rey sambil menatap ke arah Aaron.
"Hhmm,i-iya pak. Sudah." Jawab Aaron salah tingkah.
"Saya ingin bicara!" Tegasnya kemudian berlalu meninggalkan Aaron dan Cinta.
Aaron lalu menoleh ke arah Cinta yang sedang menunduk sambil mengaduk-aduk makanan di piringnya.
"Iya,pak." Jawab Aaron cepat lalu berdiri hendak menyusul Rey.
"Cintaku,aku mau bicara dulu ya sama papa mertua." Godanya sambil berbisik.
Cinta melirik sekilas kemudian mengulum senyumnya.
Aaron lalu segera menyusul Rey yang ternyata sedang menunggunya di ruang keluarga. Ada oma,opa,mama dan papa Cinta serta Ratna di sana. Ada juga Seno dan Dinda yang sedang sibuk menenangkan bayinya yang rewel.
"Aaron,ayo duduk!" Titah Rey.
Aaron lalu duduk sedikit jauh dari mereka.
"Aaron,kamu sudah tau kan tanggal berapa rencana pernikahan kak Ratna dan abang kamu?"
__ADS_1
"I-iya,pak."
"Kamu sudah memberitahukan keluarga kamu? Khususnya papi kamu?"
"Hhmm,maaf pak Rey. Saya belum sempat memberitahu papi."
"Hhmm,pernikahannya sepuluh hari dari sekarang. Jadi sebaiknya malam ini atau besok kamu harus memberitahukan pada papi kamu. Kalau terlalu dekat waktunya,khawatir beliau kaget dan bisa jadi tidak bisa datang." Terang Rey.
"Hhmm,iya pak. Saya akan segera memberitahukan pada papi."
"Oh iya,nanti kita hanya akan mengundang sedikit saja tamu. Dan acaranya akan di langsungkan di rumah saya saja."
"Baik,pak."
"Keluarga kamu terima beres saja. Jadi kamu tidak perlu pusing memikirkan segala sesuatunya.
"Hhmm,terimakasih banyak pak Rey." Ucap Aaron.
***
Pagi-pagi sekali Aaron dan Romi sedang mengantri di depan ruang fisioterapi. Hari ini jadwal Romi melakukan fisoterapi bersama terapis yang sudah di tunjuk oleh dokter rehab medik.
"Lama sekali antriannya. Kenapa kamu tidak panggil terapis ke rumah saja sih?" Keluh Romi.
"Memangnya di rumah kita ada alatnya ,bang?" Aaron balik bertanya.
"Berapa sih harga alatnya? Kita beli saja!"
"Hhh,abang ini. Hari ini kan pertama kali abang terapi,kita belum tau alat seperti apa yang di pakai. Hanya menunggu sebentar saja." Gerutu Aaron.
Tak lama kemudian nama Romi di panggil. Aaron lalu mendorong kursi roda Romi masuk ke ruangan terapi.
Romi segera di tangani oleh terapisnya sementara Aaron duduk menunggu sambil memperhatikan.
Satu jam kemudian sesi terapi Romi selesai.
"Maaf pak,saya akan tanya dulu sama dokter yang menangani bapak. Kan setiap satu bulan sekali harus konsultasi ke dokter."
"Hhmm,saya sendiri yang akan tanyakan pada dokternya." Ucap Romi.
Aaron lalu mendorong kursi roda Romi keluar dari ruang terapi.
"Abang mau ketemu dokter rehab medik dulu." Pinta Romi.
"Loh bang,harus daftar lagi."
"Kita konsultasikan di rumahnya saja."
"Hhh,terserah abang deh. Sekarang kita pulang dulu. Aku ada kuliah siang,bang."
"Kuliah sambil pacaran,kan?"
"Abang seperti tidak pernah saja. Lagian dia sedang sekolah,bang."
"Huuhhh."
Mereka sudah tiba di parkiran. Ada pakde yang menunggu lalu membantu Romi naik ke mobil.
Aaron segera melajukan mobilnya ke arah rumah.
Setengah jam mereka sudah sampai ke rumah. Aaron mendorong kursi roda Romi sampai ke kamarnya lalu bersama pakdenya membantu Romi naik ke atas tempat tidur.
"Bang,aku mau kuliah dulu ya. Kalau butuh apa-apa,abang langsung saja hubungi pakde. Pakde tidak kemana-mana kok."
"Pulang jam berapa kamu? Selesai kuliah langsung pulang!"
Bang Romi,sudah seperti istriku saja kelakuannya. "Iya bang. Oh iya bang,aku lupa. Sepuluh hari lagi abang akan menikah dengan kak Ratna."
__ADS_1
"Apa? Sepuluh hari lagi? Kenapa tidak besok sekalian!" Ucap Romi kesal.
"Hhmm,sabar donk. Abang tunggu saja. Aku akan kabari papi secepatnya." Ucap Aaron.
"Tidak perlu memberi kabar pada papi!"
"Perlu bang,supaya kak Ratna di akui dan di hormati di rumah ini sebagai menantu perempuan. Dan aku minta sama abang bersikap baiklah pada kak Ratna. Perlakukan dia layaknya seorang istri. Aku tidak mau keluarga kita meremehkannya!"
"Suka ngatur kamu sekarang!"
"Berjanjilah bang,kalau abang masih ingin aku tetap tinggal di rumah ini sama abang." Ucap Aaron kemudian segera berlalu keluar dari kamar Romi.
"Gila sepuluh hari lagi! Sial bener aku!" Gerutu Romi.
Aaron naik ke lantai atas menuju kamarnya. Dia mengambil handphonenya lalu mulai menghubungi seseorang.
"Hallo,pi."
"Aku hanya mau mengabari kalau bang Romi sepuluh hari lagi akan melangsungkan pernikahan."
"Aku tidak bercanda,pi. Kalau papi ada waktu silahkan datang tapi kalau tidak ada waktu ya sudah. Tidak masalah kalau papi tidak mau datang."
"Aku dan bang Romi sudah terbiasa hidup tanpa papi. Jadi tidak masalah kalau papi tidak datang."
"Dengan seorang wanita yang pasti papi tidak kenal. Ya sudah,aku tutup telponnya. Aku mau kuliah."
Aaron langsung memutuskan panggilan telponnya. Aaron segera mengambil tas dan buku-buku kuliahnya lalu kembali turun ke bawah.
"Aaron?" Sapa tante.
"Ya,ada apa?" Tanya Aaron malas.
"Kamu mau pergi ya. Tante ikut ya?"
"Maaf aku buru-buru!" Jawab Aaron cepat kemudian segera berlalu dari hadapan tantenya. Aaron naik ke mobilnya dan bergeges pergi dari rumah.
"Sombong sekali kamu. Lihat saja nanti!" Ucapnya emosi dengan pandangan tajam.
.
.
.
.
.
.
.NEXT
Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. ππ
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
1313