
Sudah tiga hari Cinta tidak mau lagi ke sekolah. Bundanya jadi bingung sementara dia masih belum mau bicara masalah sebenarnya. Hingga Rey ingin buru-buru pulang menemui Cinta di rumah bundanya.
Rey masuk ke ruangan Seno. "Seno,maaf ya baru sehari kerja kamu sudah di kasih banyak kerjaan. Mas mau ke rumah Cinta dulu." Ucap Rey.
"Tidak apa-apa,mas. Ada masalah apa,mas?"
"Cinta,sudah tiga hari anak itu tidak mau sekolah. Malah tidak mau sekolah lagi." Terang Rey.
"Apa mas? Cinta tidak mau sekolah lagi?" Seno kaget.
"Iya,makanya mas mau ke sana untuk membujuknya sekolah. Kalau perlu pindah sekolah saja asalkan dia tetap mau sekolah."
"Hmm,iya mas."
Rey pun segera meninggalkan Seno yang menatapnya dengan khawatir. "Ada apa denganmu,Cin?" Gumam Seno. Kamu makin jauh saja sekarang. Batinnya.
Hampir satu jam akhirnya Rey sampai di rumah bundanya Cinta.
"Silahkan masuk." Ucap Cyndia. Dia masih sedikit kurang nyaman kalau harus bertatap muka dengan papanya Cinta itu apalagi jika sedang tidak ada suaminya,Fadil.
"Wah ada nak Rey. Silahkan duduk." Tegur orang tua Fadil.
Rey tersenyum. Dia berusaha bersikap santai. "Terimakasih."
"Cinta ada di dalam kamarnya. Tidak mau keluar. Kalau mau,silahkan saja temui Cinta di kamarnya." Ucap orangtua Fadil.
"Saya tunggu di sini saja." Tolak Rey halus. Dia tidak enak hati jika harus masuk ke rumah keluarga Fadil sampai ke kamar.
"Tapi Cinta tidak mau keluar. Pusing katanya." Terang Cyndia.
"Iya nak Rey. Sebaiknya temui saja Cinta di kamarnya. Mungkin dia bisa tenang setelah bertemu papanya."
"Hmm,baiklah kalau begitu." Ucap Rey.
"Kamar Cinta di lantai atas. Di pintu kamarnya ada tulisan ' Kamar Cinta '. Terang Cyndia.
"Hmm,baiklah. Saya permisi dulu,pak,bu,mbak." Pamit Rey.
Sampai di lantai atas,Rey melihat kamar putrinya lalu segera mengetuk pintu. Tidak ada sahutan dari dalam kamar. Rey coba mengetuk kembali pintunya.
"Iya." Sahutan dari dalam.
Ceklek. Rey membuka pintu kamar putrinya. Ternyata putrinya itu sedang berbaring di kasur berbalut selimut dengan membelakangi pintu.
Rey masuk lalu duduk di belakang Cinta. Di usapnya punggung putrinya itu. "Sayang." Panggilnya.
Cinta membalik badannya. "Papa?" Ucapnya kaget.
Rey ingin memeluknya tapi Cinta menolak.
"Sayang,kamu tidak mau papa peluk,hmm? Papa kangen." Ucap Rey dengan penekanan.
"Cinta sedang marah sama papa!" Jawab Cinta dengan suara manja.
"Iya tidak apa-apa marah tapi peluk papa dulu,sini!"
"Cinta tidak mau!"
"Cinta tidak kangen ya sama papa,hmm? Berapa hari tidak main ke kantor papa? Papa tiap hari nungguin."
"Papa bohong! Papa tidak kangen sama Cinta karena papa juga tidak sayang sama Cinta."
"Sayang,siapa yang mengatakan itu semua? Kamu tau papa sayang banget sama kamu,nak. Sama seperti adek-adek kamu. Papa sayang kalian!"
"Papa memang sayang sama adek-adek tapi tidak sama Cinta!"
"Siapa yang bilang seperti itu. Kalian anak-anak papa,tentu saja papa sangat menyayangi kalian."
"Papa bohong!"
Hhh,Rey menarik nafasnya kasar. "Kamu kenapa,ayo cerita sama papa."
"Cinta tidak mau ketemu papa. Papa pulang saja.!"
"Kamu tega usir papa,hmm?"
"Papa lebih tega lagi sama Cinta!"
"Hhmm,sayang ayo cerita sama papa. Papa kan tidak mengerti apa mau putri papa yang cantik ini,hmm?"
"Kenapa papa tinggalin bunda saat bunda sedang hamil Cinta? Kenapa pa? Karena Cinta anak yang tidak di harapkan?"
Deg. Kenapa sekarang Cinta menanyakan itu terus.
__ADS_1
"Hmm,sayang kan waktu di telpon papa sudah bilang ada alasannya."
"Iya alasannya apa,pa? Karena papa tidak sayang sama bunda? Karena Cinta tidak papa inginkan?"
"Kenapa kamu menanyakan itu sih,nak?" Rey mulai bingung.
"Karena Cinta sudah besar. Cinta ingin tau."
"Semua terjadi di masa lalu. Papa sama bunda kamu kan sudah bahagia masing-masing."
"Masa lalu tapi masih di ingat sampai sekarang."
"Tidak perlu kita di ingat."
"Bukan Cinta yang ingat tapi orang lain."
"Orang lain,siapa?"
Cinta diam,matanya mulai berkaca-kaca.
"Sayang,kamu nangis?"
"Cinta adalah anak yang lahir tanpa ayah,tidak seperti anak lain." Ucap Cinta lirih.
Rey memeluknya. "Sayang,maafin papa. Semua memang salah papa."
"Cinta hanya ingin tau kenapa."
"Hhh,saat itu papa sama bunda masih remaja nak. Papa salah paham sama bunda kamu. Saat papa sadar dan mencari bunda kamu,dia sudah pergi. Bertahun-tahun papa cari tapi tidak juga papa temukan. Kamu ingat kan saat kita bertemu, papa bahkan belum menikah. Karena papa masih berharap bisa kembali bertemu kalian. Tapi kenyataan berkata lain. Bunda kamu sudah menikah dengan ayah Fadil." Terang Rey.
Cinta melepaskan pelukan papanya. Dia menatap papanya lekat-lekat.
"Jadi papa cariin kita?"
Rey mengangguk.
"Papa belum menikah karena menunggu kita?"
Rey kembali mengangguk.
"Papa. . ." Cinta memeluk papanya.
"Tapi kenapa papa bisa salah paham sama bunda? Oma opa mana? Nenek Ranti kemana?"
"Hhh,maafin Cinta pa."
"Iya sayang. Pikirkan saja masa depan kamu ya. Papa akan selalu mendukung kamu."
"Tapi pa?"
"Kenapa?"
"Cinta tidak mau sekolah lagi."
"Ada masalah apa sampai kamu tidak mau sekolah? Sampai kamu menanyakan masa lalu bunda sama papa,hmm?"
"Hmm,tapi papa janji jangan marah."
"Papa janji."
Cinta lalu menceritakan kejadian yang dia alami pada papanya. Rey mengepalkan tangannya,rahangnya mengeras.
"Siapa nama anak itu?"
"Papa janji tidak akan marah kan?"
"Hhhh,papa tidak marah. Papa hanya ingin tau saja."
"Cinta mau lupain,pa. Sama seperti papa yang ingin lupain masa lalu papa."
"Sampai kamu tidak mau sekolah lagi?"
"Cinta. Pa,Cinta pindah sekolah ya?" Pinta Cinta dengan wajah memohon.
"Iya nak. Apapun yang kamu mau!" Jawab Rey sambil mengusap lembut kepala putrinya.
"Terimakasih pa."
"Oh iya,kalau dewa penolong kamu papa boleh tau donk?" Goda Rey.
"Iiihh papa. Dia bukan dewa penolong." Jawab Cinta malu.
"Lalu siapa yang sudah menolong putri papa ini? Papa ingin mengucapkan terimakasih."
__ADS_1
"Hmm,rahasia!"
"Main rahasia segala sama papa."
"Pokoknya rahasia!"
"Hmm,ya sudah kalau gitu papa tidak akan paksa. Oh iya,papa akan sewa orang buat jagain kamu dua puluh empat jam."
"Dua puluh empat jam,pa?" Cinta membulatkan matanya.
"Iya. Papa tidak mau itu terjadi lagi. Papa tidak mau lagi merasakan penyesalan!" Tegas Rey.
"Tapi masa dua puluh empat jam sih,pa?" Protes Cinta.
"Waktu sedetik pun sangat berharga nak!"
"Terus ikut sekolah sama Cinta,tidur sama Cinta? Tidak mau." Cinta cemberut. Nanti aku tidak bebas donk ketemuan sama Aaron. Batin Cinta.
"Saat kamu sedang tidak di rumah saja,nak. Kamu paham kan?"
"Tapi pa?"
"Sayang,papa mohon." Pinta Rey dengan penekanan.
"Kalau Cinta ke kantor papa,dia juga ikut?"
"Dia akan mengawasi kamu dari jarak sedikit jauh yang masih bisa dia lihat."
Cinta diam.
"Hmm,kamu takut ya kalau dia lihat kamu ketemu sama karyawan papa yang melambai itu?" Goda Rey.
"Iiihh papa,dia tidak melambai!" Protes Cinta.
"Hahaaa. Lalu kenapa takut di awasi? Jangan-jangan kamu pacaran sama anak itu?" Goda Rey.
"Iihh papa,Cinta tidak pacaran."
"Beneran,nih?"
"Bener,pa. Kita cuma berteman."
"Baguslah. Masa depan kamu masih sangat panjang. Kamu pikirin sekolah dulu ya. Nanti kalau kamu sudah kuliah,baru deh papa ijinkan pacaran."
"Iya pa."
"Sekarang sudah tidak sedih lagi,kan? Besok papa akan ke sekolah kamu,urus kepindahan kamu."
"Terimakasih ya pa. Cinta sayang papa."
"Papa juga sangat menyayangi kamu,nak!" Rey mencium lembut dahi Cinta.
"Papa pulang dulu ya. Tidak enak lama-lama. Apa kamu mau menginap di rumah papa?"
"Cinta belum ingin kemana-mana dulu pa. Nanti kalau Cinta mau,papa jemput ya."
"Iya sayang. Papa pulang dulu. Jangan nangis lagi."
.
.
.
NEXT
Selamat membaca. π
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
0608/1717