Mengejar Cinta Suami

Mengejar Cinta Suami
bab 94 ( S2 )


__ADS_3

Rey baru saja tiba di kantornya setelah terlebih dahulu mengantar kedua anaknya sekolah.


Sampai di ruangannya,Rey langsung melepas jas hitamnya,lalu buru-buru menandatangani berkas yang sudah di kerjakan oleh Seno yang ada di atas meja. Setelah semua selesai,dia rapikan kembali semua map di sudut meja.


Tok tok. . .


"Masuk." Titah Rey.


Seno masuk ke ruangannya. "Assalammualaikum,mas?" Sapanya.


"Wa alaikumsalam."


Seno lalu duduk di depan Rey sambil membawa lagi satu berkas. "Mas tolong tanda tangan dulu yang ini." Pinta Seno.


Rey menerima berkas dari tangan Seno lalu segera menandatanganinya.


"Berkas yang kemarin sudah mas tanda tangani semua. Sekarang mas mau pergi sebentar,ada urusan di luar." Terang Rey.


"Mas ada rapat di luar?"


Rey menggelengkan kepalanya. "Mas mau ke rumah Sakit."


Seno mengernyitkan dahinya. "Rumah Sakit?"


"Iya. Hari ini Romi akan di pindahkan ke Rumah Sakit Medika dimana omanya di rawat supaya Aaron tidak bolak balik Rumah Sakit kalau ingin mengunjungi mereka." Terang Rey.


Mas Rey begitu pedulinya sama mereka. Batin Seno.


"Ya sudah ya ,mas mau pergi sekarang." Pamit Rey kemudian memakai lagi jas hitamnya.


Rey melajukan mobilnya ke Rumah Sakit Sahabat. Dia ambil handphonenya lalu mencoba menghubungi Aaron. Setelah beberapa kali panggilan,barulah Aaron mau menjawab.


"Ya halllo."


"Kamu sedang apa?"


"Bisa ke Rumah Sakit Sahabat sekarang?"


"Saya sedang menuju kesana. Hari ini abang kamu akan di pindahkan ke Rumah Sakit Medika."


"Iya,pagi ini."


"Ok,saya tunggu"


Rey mematikan sambungan telponnya.


Satu jam lebih,Rey baru sampai di Rumah Sakit Sahabat. Rey memarkirkan mobilnya di bassman Rumah Sakit lalu segera menemui dokter yang menangani Romi.


Sampai di ruangan dokter.


"Baiklah,saya sudah konfirmasi ke suster dan dokter yang berjaga di ruang ICU. Nanti bapak urus administrasinya dulu ya." Terang dokter.


"Baiklah,dokter. Saya akan urus administrasinya sekarang. Saya permisi dulu." Pamit Rey.


Rey segera ke bagian administrasi dan membayar semua biaya perawatan Romi selama di rawat di Rumah Sakit beserta biaya kepindahannya.


Setelah urusan administrasi selesai,Rey pergi ke ruang ICU untuk melihat Romi.


Suster dan perawat sedang mempersiapkan kepindahan Romi.


Rey keluar,menunggu di ruang tunggu. Tak lama kemudian,Aaron datang.


"Bagaimana abang saya?" Tanya Aaron.


"Dokter dan suster sedang menyiapkan kepindahannya ke Rumah Sakit Medika. Kalau kamu mau masuk silahkan." Jawab Rey.


Tiba-tiba ada suster menghampiri mereka.


"Keluarga pasien Romi." Seru suster.


"Saya,sus." Sahut Aaron.


"Pak,apa administrasinya sudah di urus?" Tanya suster.


"Sudah,sus." Rey yang menjawab.


"Baiklah kalau begitu,kita akan pindahkan pasien sekarang. Bapak-bapak bisa tunggu di parkiran. Mobil ambulansnya sudah di siapkan di sana." Terang dokter.


"Baik,sus. Kita ke parkiran sekarang." Sahut Rey.


Suster kembali masuk ke ruang ICU.


"Ayo,kita ke parkiran sekarang!" Ajak Rey sambil melihat ke arah Aaron.


"Hmm,bapak yang sudah membayarkan biaya abang selama di rawat di sini? Berapa pak,biar saya ganti." Tanya Aaron.

__ADS_1


"Hmm,nanti saja kita bicarakan. Sekarang kita urus abang kamu dulu." Jawab Rey.


Mereka lalu pergi ke parkiran bersama.


Setelah mobil ambulans yang membawa Romi berangkat,Rey dan Aaron pun menyusul dengan mobil masing-masing.


Tidak sampai satu jam,mereka sampai di Rumah Sakit Medika. Dokter dan suster segera membawa Romi ke ruang ICU dan menempatkannya tidak jauh dari tempat tidur omanya.


"Bagaimana kondisi pasien,dok?" Tanya Rey setelah Romi selesai di periksa dokter.


"Alhamdulillah,kondisi pasien masih stabil. Kita hanya menunggu pasien sadar saja." Jawab dokter.


"Alhamdulillah kalau begitu,dok."


"Kalau begitu saya permisi dulu." Pamit dokter.


Bersyukur selama kepindahan,kondisi Romi masih tetap stabil. Rey merasa lega.


"Aaron,karena semua sudah beres,saya pergi dulu. Semoga oma dan abang kamu segera sadar. Kalau kamu butuh apa-apa,hubungi saya,ya." Pamit Rey seraya menepuk lembut bahu Aaron.


"Hmm,pak Rey. Berapa biaya abang selama di rawat di Rumah Sakit Sahabat?" Tanya Aaron.


"Sudah,tidak usah kamu pikirkan. Sana temani oma dan abang kamu. Saya harus kembali ke kantor sekarang."


"Tapi pak,Rey?"


"Saya pergi dulu ya. Saya masih banyak pekerjaan." Pamit Rey kemudian segera berlalu dari sana.


Kenapa papanya Cinta peduli sekali? Kenapa dia tidak marah dan benci sama aku dan juga sama abang? Tanya Aaron dalam hati.


Aaron lalu masuk ke ruang ICU.


***


Cinta baru saja pulang dari sekolah. Rencananya dia dan bundanya akan ke klinik dokter Layli untuk menjenguk Dinda dan bayinya.


"Bunda,ayo nanti keburu sore loh." Cinta sudah tidak sabar.


"Iya sayang,bunda ambil kadonya dulu." Sahut bundanya.


"Yah bun,Cinta belum beli kado."


"Cinta mau kasih tante Dinda kado juga?"


"Cinta kasih kadonya tunggu tante Dinda dan bayinya pulang saja ya. Biar tante dan om tidak repot banyak yang di bawa."


"Hmm,iya deh bun."


"Yuk,kita pergi sekarang." Ajak Cyndia.


"Adek Faqih tidak ikut ya bun?"


"Adek Faqih ikut donk,kak!" Faqih muncul dari luar.


Cinta mengangguk. "Kirain kakak adek tidak ikut kok ngilang."


"Hmm,adek tunggu di luar dari tadi."


"Ayo. . ."


Mereka lalu naik ke mobil,di antar oleh sopir yang biasa mengantar jemput Cinta ke sekolah.


Kurang lebih satu jam mereka tiba di depan klinik. Klinik tidak begitu ramai menjelang sore,hanya ada beberapa orang yang sedang antri di depan poli dan yang rawat inap.


Setelah bertanya pada suster jaga,mereka lalu pergi ke ruang ranap Dinda.


Tok tok. . .


Ceklek. Pintu terbuka dari dalam.


"Cinta,mbak Cyndia,silahkan masuk. Eehh ada adek Faqih juga." Ucap Dinda seraya tersenyum.


"Assalammualaikum."


"Wa alaikumsalam." Sahut Dinda. Mereka kemudian saling memeluk.


"Maaf ya,kita baru sempat ke sini." Ucap Cyndia seraya menyerahkan kado yang dia bawa.


"Tidak apa-apa kok mbak. Ìni malah ngerepotin di bawain kado segala. Terimakasih ya mbak." Ucap Dinda yang langsung menerima kadonya lalu meletakkannya di atas meja.


"Selamat ya Din,sudah jadi ibu." Ucap Cyndia.


"Terimakasih,mbak."


"Tante Dinda,selamat ya."

__ADS_1


"Terimakasih sayang,cantik." Ucap Dinda seraya mengusap rambut Dinda. "Kamu sehat kan?"


"Alhamdulillah,sehat te."


"Ayo silahkan duduk kok malah berdiri."


Mereka lalu duduk sambil mengobrol.


"Cinta mau lihat adek bayinya,te." Ucap Cinta.


"Oh iya,si kecil sudah ada namanya?" Tanya Cyndia.


"Nama panggilannya Syafira,mbak."


"Baby Syafira." Celetuk Faqih.


"Iya,heheee." Sahut Dinda.


"Mana baby Syafiranya,te?" Tanya Faqih.


"Adek bayinya ada di ruang NICU." jawab Dinda.


"Ruang NICU? Ruang apa itu,bunda?" Tanya Faqih seraya menoleh ke bundanya.


"Ruang NICU itu ruang perawatan untuk adek bayi yang lahir prematur. Sama seperti adek Faqih." Terang Cyndia.


"Loh,adek juga lahir prematur? Prematur itu apa,bun?"


"Prematur itu bayi yang lahir belum cukup bulan,dek."


"Hhmmm. . . "Faqih diam seperti sedang berpikir.


"Kita lihat baby Syafira sekarang saja,yuk!" Ajak Cinta.


"Ayo tante,adek mau lihat baby Syafira juga." Ajak Faqih.


"Ya sudah,ayo."


Mereka lalu pergi ke ruang NICU di mana bayi Dinda mendapatkan perawatan secara intensif.


"Nanti di dalam tidak boleh berisik ya." Ucap Cyndia.


Cinta dan Faqih mengangguk mengerti.


Mereka masuk secara bergantian. Mata Faqih sampai tidak berkedip melihat isi ruang NICU dan juga bayinya Dinda.


Setelah puas melihat bayinya Dinda,mereka pamit pulang karena hari sudah sore.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


NEXT


Selamat membaca,semoga suka. Maaf kalau masih ada typo. Jangan lupa dukungannya untuk karya othor ini ya. Terimakasih. 😍😍


.


.


.


.


.


.


1900

__ADS_1


__ADS_2