
"Siti,kita ke salon dulu ya baru ke klinik!" Ucap mama saat mereka sudah di dalam mobil di antar oleh sopir.
"Iya ma,saya ikut saja!" Jawab Siti.
"Beberapa hari lagi usia kandungan kamu kan tujuh bulan. Nanti kalau mau beli perlengkapan bayi sama mama ya!"
"Iya ma!"
Tak berapa lama mereka pun tiba di salon langganan mama mertuanya.
"Ini menantu saya yang waktu itu saya ajak ke sini. Perlakukan dengan lembut ya,dia sedang mengandung cucu saya!" Pesan mama pada pegawai salon. Salon sekaligus spa dan segala macam perawatan wanita.
"Baik,bu!"
Siti lalu mengikuti pegawai salon itu masuk ke dalam ruangan. Terpisah dari mamanya. Setelah lebih satu jam,Siti pun keluar dengan tubuh dan wajah yang lebih segar.
"Apa mbaknya mau di rias juga,bu?" Tanya pegawai salon pada mama.
"Iya,di rias tipis saja ya,suaminya tidak suka jika dia di rias tebal!" Jawab mama dengan penekanan.
"Menantu kamu juga sudah cantik alami begini jadi di rias tipis pun sudah cukup!" Ucap bu Rini,sahabat mama yang juga pemilik salon.
"Oh iya tentu saja. Putra saya itu kalau tidak yang cantik mana mungkin mau! Hahaa!" Mama dan bu Rini tertawa.
"Tapi putra kamu juga tampan begitu,As. Jadi wajarlah dia cari yang cantik!"
"Yah siapa dulu donk mamanya!" Ucap mama dengan percaya diri.
Setelah sama-sama di rias,Siti dan mama pun pamit sama sahabatnya. "Kita pulang dulu,Rin! Mau cek kandungan!"
"Iya As! Moga calon cucu kamu sehat-sehat ya,mamanya juga!" Ucap bu Rini.
"Aamiin!" Jawab mama dan Siti hampir berbarengan.
Mereka kembali ke mobil menuju klinik dokter Layli. Karena sudah mendaftar lewat telepon,Siti tidak mengantri lama.
"Ibu Siti Khairunissa!" Seru suster. Mama buru-buru menggandeng Siti masuk ke ruang periksa.
Siti lalu berbaring di atas kasur.
"Wah sudah terlihat besar nih si dede!" Seru dokter Layli saat mereka sedang menatap layar monitor. Makin aktip ya,mbak Siti?"
"Iya dok,tendangannya kuat kadang terasa sakit kalau nendang di dekat dada!" Terang Siti.
"Sepertinya bayinya laki-laki nih! Mau tau jenis kelaminnya,mbak Siti?" Tanya dokter Layli.
"Hmm,nanti saja dokter. Tunggu kontrol sama papanya!" Tolak Siti halus.
"Oh iya tumben papanya tidak ikut?"
"Papanya sedang sibuk sekarang!" Jawab mama.
"Ini omanya tidak penasaran?"
"Penasaran sih tapi benar kata menantu saya,tunggu papanya saja nanti kalau kita sudah lihat lebih dulu bisa ngambek tu anak!" Jawab mama yang di balas senyuman oleh dokter Layli.
"Pesannya kalau mau tau jenis kelamin anaknya,harus ada dia,dok!" Jawab mama lagi.
"Ya sudah kalau begitu. Ini sudah bagus semua. Di pertahankan ya! Emosi dan perasaannya di jaga!" Ucap dokter Layli yang sudah paham jika Siti sudah cemburu sama suaminya sering tidak bisa menahan emosinya. Emosi yang justru menyakiti diri sendiri.
"Iya dok." Jawab Siti.
Setelah selesai,Siti dan mamanya menebus vitamin ke apotek.
"Kamu mau kemana lagi,Siti?" Tanya mama saat mereka sudah selesai di klinik.
__ADS_1
"Terserah mama saja,saya tidak ada rencana kemana-mana lagi ma!"
"Susu hamil kamu masih ada?"
"Masih ma,mas baru beli lagi empat kotak!"
"Hmm,tidak ingin ketemu Rey?"
"Mau sih ma tapi mas hari ini banyak pekerjaan dan mau mengajari Seno juga!"
"Ya sudah kita pulang saja ya,lagipula sebentar lagi makan siang,kamu juga tidak boleh capek!" Ucap mama.
Sampai di rumah,papa sudah menunggu di meja makan.
"Langsung makan siang,Siti!" Titah papa.
"Hmm,iya pa." Siti langsung ke wastafel mencuci tangan lalu duduk di meja makan.
"Bagaimana calon cucu papa?"
"Alhamdulillah sehat pa. Makin aktip gerakannya!" Jawab Siti.
"Syukurlah! Kamu jangan banyak pikiran ya!"
"Hmm,iya pa."
"Nanti saja ngobrolnya pa,makan dulu!" Mama sibuk mengambilkan makan untuk papa.
"Kamu makan yang banyak Siti,kalau bisa dua kali lipat dari biasanya!" Titah mama.
"Iya ma."
Setelah makan siang,Siti ke kamarnya. Sholat lalu duduk-duduk di balkon sambil memainkan handphonenya. Melihat-lihat fotonya dan suaminya sambil senyum-senyum sendiri.
Setelah makan malam,Siti menemui adiknya di kamarnya karena Rey sedang di ruang kerja bersama papa mertuanya.
"Seno,gimana tadi ikut kerja sama mas Rey?" Tanya Siti yang langsung duduk di sisi kasur.
"Tadi hanya lihat-lihat saja mbak. Seno mulai besok bantu kerja di perusahaan mas Rey." Jawab Seno.
Siti tersenyum mendengarnya. "Mbak seneng akhirnya kamu mau kerja sama mas Rey. Mas Rey tulus bantu kamu,dek!"
"Iya mbak,Seno tau! Seno hanya malu saja."
"Tidak perlu malu dek,toh mas Rey dan papa yang minta bukan kamu kan!"
"Iya mbak."
"Kamu baik-baik kerjanya,jangan buat masalah dek! Jangan buat mas Rey dan papa malu ya!"
"Insya Allah mbak!"
"Lalu kuliah kamu?"
"Seno ambil kuliah sore mbak,pulang kerja."
"Hmm,yang penting kamu jangan capek-capek! Dan satu lagi dek,kamu jangan pacaran dulu! Pikirin masa depan kamu!"
"Hmm."
"Kenapa hmm? Kamu sudah punya pacar ya?" Tanya Siti penuh selidik.
Seno menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Baru dekat saja kok mbak." Jawab Seno sambil menunduk.
"Hmm,teman sekolah?"
__ADS_1
Seno mengangguk.
"Sekarang kan kalian sudah tidak bisa ketemu jadi tidak usah di pikirin lagi. Fokus kerja dan kuliah dulu! Kalau sudah lulus kuliah baru kamu boleh pacaran! Lagipula untuk apa sih dek pacaran segala?" Ucap Siti panjang lebar membuat Seno pusing.
"Hmm,iya iya mbak!" Seno bersungut.
"Kamu itu! Lihat mbak,apa mbak pernah pacaran,hmm?"
"Yah mbak. Iya Seno fokus kerja sama kuliah deh!"
"Lebih baik begitu! Ya sudah mbak tinggal dulu,ngantuk!"
"Mas Rey mana mbak?"
"Di ruang kerja sama papa."
"Ya sudah nanti mas Rey nyariin mbak lagi!"
"Pastilah nyariin!" Siti senyum-senyum.
"Hmm!" Seno menyebik melihat mbaknya.
Siti keluar dari kamar Seno kembali ke kamarnya.
Tok tok. Ceklek.
Siti membuka pintu kamar.
"Sayang?" Rey menoleh ke pintu.
Siti tersenyum melihat suaminya yang langsung berjalan ke arahnya. "Dari mana,hmm? Mas tungguin!" Rey memeluk istrinya.
"Baru di tinggal berapa menit!" Jawab Siti sambil membalas pelukan suaminya mesra.
"Seharian sibuk,tidak ketemu,eh malam juga di tinggal! Kamu tidak kangen mas ya?"
"Ya kangen!"
"Kamu harumnya kok beda yank? Makin licin lagi ini kulit,di apain hmm?" Dengan ujung jari telunjuk menyapu kulit lengan Siti.
"Masa beda mas? Tadi kan ke salon sama mama."
"Oh iya ya pantes makin gemesin!" Mulai menggoda istrinya.
"Hmm mas ini,ngantuk tidur yuk!"
"Ayo! Tapi seperti biasanya sebelum tidur yaa. . ."
"Libur dulu mas!" Teriak Siti.
"Ssstttt!"
"Ngantuk mas!"
"Sebentar!"
"Memangnya bisa sebentar?"
"Mungkin!"
"Iiihhh!"
NEXT
200521/17.55
__ADS_1